Sang Penunggang Singa

Renungan RamadhanHari ke-27

Sang Penunggang Singa

Bila anda melihat seseorang sedang menunggangi  singa, dia bisa mengendalikan hewan buas itu sesuka hatinya; dengan perintah suara atau tangannya, si “rambut gondrong” itu akan patuh pada perintahnya. Maka, apakah komentar anda? Saya yakin bahwa kita semua akan terkagum-kagum akan kepiawayannya dalam menundukkan singa.

Semua orang tidak lagi takut pada singa itu, karena tidak liar lagi. Kita merasa yakin singa itu tidak akan menerkam orang sembarangan kecuali atas perintah tuannya. Semua orang akan segan pada si penunggang tersebut, tidak berani menjadi musuhnya, karena gentar bila harus berhadapan dengan singa.

Tapi, coba bayangkan bila ada orang yang punya piaraan seekor singa liar, yang gampang mengamuk, sukanya keliling komplek mengganggu para penduduk. Semua orang pasti akan takut pada singa itu. Terlebih lagi pada pemiliknya, orang-orang akan membenci dan melaknat si empunya singa tersebut. “kalau tidak bisa menjaga dan mengendalikan singa, lebih baik disuntik mati saja, daripada mengganggu dan meresahkan masyarakat”. Mungkin begitulah kiranya komentar orang-orang.

Dua gambaran ilustrasi di atas adalah perwujudan ungkapan “Lidahmu adalah singa bagimu”. Kalau kita bisa menjaga lidah dengan baik, maka kita diibaratkan bagaikan sang penunggang singa. Namun, bila kita tidak bisa menjaganya, maka banyak yang akan membenci dan menjauhi kita, karena khawatir akan jadi korban terkaman singa.

Lidah tak bertulang, itu juga sebuah ungkapan untuk lidah kita. Ia gampang bergerak, berceloteh tiada hentinya. Ia tidak bisa kaku karna tidak ada tulang di dalamnya. Ia hanya akan kaku bila ada suatu energi yang mengendalikannya.

Rasulullah pernah menasehati seorang sahabat bernama Muaz bin Jabal dengan menunjukkan pintu-pintu kebaikan dan menerangkan padanya bangunan Iman, berupa pondasinya, tiang dan puncaknya. Namun, pada akhirnya Rasulullah memberikan ia suatu kunci yang dapat mengendalikan semua kebaikan itu, Beliau memberi isyarat ke lidahnya seraya berkata, “jagalah lisanmu”.

Hal tersebut dikarenakan, banyaknya orang dicampakkan ke dalam neraka karena hasil panen dari lidahnya.

Rasulullah berkata: “yang paling banyak menyebabkan orang masuk neraka adalah dua rongga tubuh manusia, yaitu mulut dan kemaluannya” (HR. Ahmad)

Dengan mudahnya orang berucap, bahkan tak jarang ucapan itu dianggapnya hanya gurauan biasa. Namun, akibatnya sungguh fatal.

Rasulullah bersabda: “Sungguh ada seseorang berkata-kata dengan satu ucapan saja yang tidak dihiraukannya, akan tetapi ucapan itu membuat ia jatuh dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat” (HR. Tirmizi)

Allah Ta’ala telah menafikan kebaikan dalam omongan orang kecuali dalam tiga hal saja. Allah Ta’ala berfirman:

لا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ النَّاس

Maknanya: Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh manusia memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. (QS. An Nisa: 114)

Oleh karena itu, kalau kita tidak bisa melatih singa dengan baik; belum mampu mengendalikannya, jangan dilepas berkeliaran ke sana kemari. Kurung ia dengan rapat dalam kurungan besi.

Kalau kita belum mampu berkata-kata yang bermanfaat, maka lebih baik diam saja. Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang beriman pada Allah Ta’ala dan hari Kiamat, maka hendaklah ia berkata yang baik. Kalautidak bisa, hendaknya dia diam saja. (HR. Bukhari)

Penulis: Ustadz Muhammad Yassir, Lc (Dosen STDI Imam Syafi’i Jember)

. . -.

———-

Sumber: www.pengusahamuslim.com – Jumat,25 Juli 2014

Print Friendly