Fenomena Kehidupan Sosial Semut (Selesai)

Keajaiban-keajaiban Semut

Lihat ceritanya sebelumnya: Fenomena Kehidupan Sosial Semut (Bagian 1)

Semut tidak terhutang dan tidak suka berhutang. Sebaliknya, semut gemar mendermakan apa yang dimiliki kepada siapa saja yang membutuhkan makanan. Fenomena ajaib ini dilatarbelakangi adanya satu organ istimewa pada semut. Yakni sebuah kantong ajaib yang terdapat di pintu masuk perut semut. Mungkin kita bisa menyebutnya dengan ‘dompet sosial’. Keberadaan kantong ini menjelaskan aspek psikologi dan akhlak dalam kehidupan semut. Kantong ini bukan lambung semut. Sebab, kantong ini tidak mengandung kelenjar-kelenjar pencernaan, tapi hanya berfungsi untuk menyimpan makanan yang ditumpuk di dalamnya dalam wujud cairan manis supaya tidak membusuk. Karenanya, kita juga bisa menyebut kantong ini dengan ‘teko gula’ atau ‘kaca kulit’.
Kantong ini benar-benar terpisah dari lambung semut dengan cara yang mengundang kekaguman hebat. Makanan dari lambung tidak sampai ke kantong ini kecuali setelah lewat beberapa hari, yakni ketika makanan telah selesai dicerna dan semut tidak membutuhkannya lagi untuk menghilangkan laparnya. Sedangkan yang tersisa, ia simpan dalam kantong ini. Yang menakjubkan, ternyata kantong ini bisa melar dengan cara yang mencengangkan dan mengambil 4/5 luas lambung, serta mendesak seluruh organ yang ain ke samping. Pun kantong ini juga dapat memanjang hingga besarnya bisa mencapai 8 atau 10 kali besar lambung. Apabila ada dongeng bahwa semut tidak berhutang, ini seratus persen benar. Alasannya, semut suka menyimpan makanan yang ia butuhkan untuk kemudian hari.

Solidaritas Sosial dalam Kehidupan Semut

Pakar semut, Maurice Maeterlinck, mengatakan, “Penelitian dan pengamatan telah menunjukkan bahwa tak dapat disangkal semut merupakan makhluk di dunia ini yang paling cerdik, paling dermawan, paling berani, paling tulus dan paling suka mementingkan orang lain. Ia bisa memberikan semua yang dimiliki tanpa perlu merenung atau berpikir panjang. Selain itu, ia juga tak pernah menuntut kesetiaan (baca: balas budi). Semut tidak merasa memiliki sesuatu, bahkan tidak pula isi dalam tubuhnya. “Dompet sosial” yang menempel pada tubuhnya pun sejatinya untuk tabungan berbuat baik. Ia sudah cukup merasa sangat bahagia bila mampu memberi setiap yang membutuhkan makanan dari kantong ini.”

Sudah banyak penelitian dilangsungkan pada perilaku semut terkait “dompet sosial” ini dan bagaimana semut berinteraksi dengan yang/ lain melalui kantong ini. Para ilmuwan sampai pada satu hasil yang mencengangkan akal dan memunculkan kekaguman serta ketakjuban pada makhluk kecil ini yang banyak kita jumpai di sekeliling kita, bertempat tinggal di rumah kita dan mengerubungi kita saat senggang. Pagi dan sore makhluk ini berseliweran di hadapan kita seolah-olah ingin mengarahkan perhatian kita pada sebagian keindahan kreasi Allah, ketelitian-Nya, tanda kemahiran-Nya dalam menciptakan serta bukti keagungan-Nya. Juga pada sebagian akhlak yang disandangnya dan perilaku yang Allah tetapkan padanya, di mana manusia pun tidak sanggup melestarikannya, bahkan juga tidak bisa menyerukannya.

Telah diungkap, semut-semut dalam satu sarang, semuanya makan dari ruang penyimpanan dan dengan jumlah makanan yang selalu disediakan di hadapan penghuni sarang. Tak ada kekhawatiran seekor semut kelaparan, sedang lainnya kekenyangan. Dalam hal makan, semua penghuni sarang mendapat perlakuan sama. Adapun “dompet sosial” tempat semut menyimpan makanan, itu dipersiapkan untuk memberi makanan semut yang bukan penduduk sarangnya, baik dari satu koloni maupun tidak, yang jauh maupun dekat, yang telah dikenal maupun yang masih asing. Bahkan, akhlak baik dan keindahan perilaku semut sampai mendorongnya mendermakan makanan dari “dompet sosialnya” pada semut musuh atau semut yang menyerang.

Ketika semut mendapati semut lain yang datang untuk menyerang, pertama-tama ia mengendus lambung semut ini. Jika penyerang ini kenyang, perang bisa dimulai. Dan, bila tidak, ia memberikan makanan dari kantongnya agar semut penyerang itu makan hingga kenyang dan semut ini yakin musuhnya benar-benar sudah kenyang. Lantas ia baru bertarung dengannya. Tujuannya, agar ia dan musuhnya dalam kondisi sama, sehingga makanan tidak menjadi alasan hasil akhir peperangan. Yakni yang menang karena kenyang, sedang yang kalah lantaran lapar. Sebab, makanan adalah rezeki Allah yang Dia anugerahkan dan tetapkan untuk makhluk-Nya, sehingga tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan tekanan atau peperangan. Selain itu, bila semut mampu membunuh musuhnya, ia yakin musuh tersebut mati dalam kondisi kenyang dan tidak sedang membutuhkan makan. Atau, bila ia tidak sanggup mengalahkannya dan lari, maka ia dapat menyelamatkan diri.

Di antara kesimpulan yang dicapai penelitian ilmiah dalam masalah ini, bahwa semut tidak pernah menanyai semut lain yang ia temui, baik kawan atau lawan, apakah ia kenyang atau lapar. Pasalnya, bisa jadi pertanyaan ini membuatnya merasa tidak enak. Dan, boleh jadi semut itu malu, sehingga tidak mau mengungkapkan kondisi sebenarnya. Oleh sebab itu, semut berinisiatif mendeteksi lambung kawannya atau musuhnya untuk mengetahui kenyang atau tingkat laparnya. Ini dilakukan dengan sungut, sehingga semut dapat merasa, mencium, melihat, dan memastikan dengan yakin keadaan semut yang ada di depannya.
Saat seekor semut memberi makan kepada semut lain dari “dompet sosialnya”, ia diletakkan di tempat diagnosa ilmiah dan uji laboratorium. Maka, didapati semut ini berada dalam level kebahagiaan dan kegembiraan paling tinggi yang tidak bisa dicapai makhluk lain dalam berinteraksi dengan sesamanya. Ilmuwan Auguste Forel mengatakan, “Ketika semut mengeluarkan makanan dari kantongnya untuk semut lain, nampak perasaan suka cita pada dirinya dan ia merasakan kenikmatan lebih besar dibanding yang dirasakan semut penerima.”

Kebiasaan-kebiasaan Semut

Pertama, tidur. Sebagaimana serangga tingkat tinggi lainnya, semut juga membutuhkan tidur. Terkadang semut tidur pada waktu siang. Jumlah rata-rata waktu tidur yang dibutuhkan semut mencapai sekitar 3 jam. Adakalanya semut memilih tempat tidurnya di lubang yang sesuai di dalam tanah. Ia tidur terlentang dan tidak akan bangung kendati disentuh maupun digoda. Tetapi patukan yang keras dapat membangunkan tidurnya secara tiba-tiba. Apabila semut terjaga dari tidurnya secara alami, ia bangun seperti binatang mamalia dan manusia. Pertama-tama kepalanya bergerak. Kemudian kakinya yang berjumlah enam bergerak membentang dan memanjang hingga batas paling panjangnya. Selanjutnya, seringkali semut bergetar dan mulutnya terbuka lebar persis seperti menguap.
Sebuah catatan dituliskan Malecok seputar pengamatannya pada semut pengetam Amerika, yang memiliki perbedaan bentuk fisik mencolok antara pekerja dan tentaranya. Ia mengatakan, “Semua tentara tidurnya lebih lama. Ketika tidur, semut ini sangat nyenyak sekali dan dalam jangka waktu yang lebih lama dibanding semut pekerja, serta tidak bangun kecuali dengan susah payah dan lambat. Sebagian pengamatan menunjukkan bahwa semut telah mencapai level yang tinggi dalam hal perkembangan akal. Hal ini nampak pada gaya semut dalam senda-gurau dan permainan. Olah raga ini, secara umum, berbentuk permainan perang-perangan yang terjadi antara kelompok semut pekerja dalam satu koloni sebagaimana telah kami uraikan. Tingkah laku semut persis seperti anjing ketika sedang bermain perkelahian di antara sesamanya. Adakalanya semut saling kejar-kejaran sebagaimana dilakukan anak-anak anjing, atau seperti anak-anak yang bermain koboi-koboian.”

Kedua, cara semut menyingkirkan mayatnya. Terakhir, perlu kiranya menyinggung cara yang ditempuh semut untuk menyingkirkan mayat-mayat kawannya. Sebagaian sejarawan alam klasik menyatakan bahwa semut mengadakan acara pemakaman jenazah secara rutim. Dengan formasi dua-dua, semua pekerja memikul mayat dalam sebauh acara arak-arakan yang berakhir di areah pemakaman yang jauh (dari pemukiman). Memang sepertinya ini sedikit terlalu mengkhayal, walaupun kenyataannya sebuah khayalan yang indah. Mayoritas semut sangat antusias untuk menyingkirkan mayat apa pun dari tempat tinggalnya. Jika sekelompok semut tertahan dalam sebuah tempat tinggal buatan dan jatuh banyak korban di antara mereka. Semut-semut yang selamat akan membawa mayat sembari mondar-mandir di semua penjuru tempat tinggal itu. Tak jarang, perbuatan ini memakan waktu berhari-hari hanya untuk mencari tempat pemakaman yang sesuai.

Adapun di alam terbuka, lokasi makam yang biasa digunakan semut adalah tumpukan kotoran dan sampah tertentu yang ada di koloni. Atas dasar ini, mungkin semut menganggap bangkai mayat kawannya sebagai sisa-sisa saja. Dengan begitu, acara pemakaman jenazah yang sakral berganti menjadi sekedar proses menjaga kebersihan tempat tinggal yang didorong semangat semut untuk memelihara kelestarian koloni. Tidak diragukan, semangat ini adalah semacam hasil seleksi alam yang diperoleh semut. Namun begitu, telah terbukti bahwa semut yang suka mencuri, dikenal dengan nama semut sanguinea, menggunakan tempat yang jauh dari pemukiman untuk menguburkan mayat kawan-kawannya dan mayat para semut budak.
Sampai saat ini, ilmu pengetahuan masih terus berusaha dan bersungguh-sungguh menemukan sesuatu yang baru dalam dunia semut dan menjadikan media untuk menyerukan keimanan kepada Allah Yang Maha Agung, serta menampakkan sebagian mukjizat Alquran Al-Karim. Karenanya kita mengatakan, barangkali semut berbicara pada kawan-kawannya dengna gaya bahasa makhluk berakal karena mereka paham dengan ucapan tersebut. Dan, Allah menerjemahkannya ke dalam Alquran dengan bahasa Arab yang terang.
Pada Siapa Larangan Berikut ini Ditujukan, “Agar Kamu Tidak Dihancurkan?” Apa maksud penghancuran ini dan apa tujuan ucapannya?

Pengarang Al-Munjid berkata, “Hathama-hathman, wa hathamahu, berarti kasarahu (memecahkannya, menghancurkannya). Tahaththama dan inhathama artinya sama dengan takassara dan inkasara (pecah atau hancur berkeping-keping).” Secara eksplisit, larangan ini tertuju kepada semut. Tetapi sebenarnya diarahkan kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Perkataan di sini’. Kalimat ini sebagai badal (pengganti) ucapan, “Masuklah ke dalam sarang-sarangmu,” atau sebagai jawabnya. Namun, Abu Hayyan menolak pendapat ini dengan mengatakan, “Interpretasinya (bahwa larangan tersebut) sebagai jawaban kalimat perintah itu, maka tidak dapat dikatakan demikian kecuali menurut bacaan Al-A’masy. Sebab, ia memabca dengan redaksi, ‘La yahthimankum,’ dengan jazm dan tanpa nun taukid. Adapun bila ada nun taukid, maka penafsiran ini tidak bisa dibenarkan kecuali dalam syair. Sibawaih berkata, “Ini adalah sedikit. Mereka (para ahli nahwu) menyerupakannya dengan fi’il nahyi (kata kerja larangan) mengingat keduanya sama-sama majzum.”

Muqatil mengatakan, “Kemudian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam menghadirkan semut itu di hadapannya, seraya bertanya kepadanya, “Engkau memperingatkan kawan-kawanmu terhadap kezhaliman kami, padahal para nabi itu tidak pernah berbuat zhalim?” Semut itu menjawab, “Tidak. Aku berlindung kepada Allah bila melakukan hal itu.” Sulaiman bertanya lagi, “Bagaimana dengan ucapanmu tadi, ‘Agar kamu tidak dihancurkan oleh Sulaiman dan tentaranya’.” (QS. An-Naml: 18). Lantas semut itu memberikan dua jawaban. Pertama, ia mengatakan, “Tidakkah engkau mendegar ucapanku selanjutnya, ‘Sedangkan mereka tidak menyadari’.” Kedua, ia mengatakan, “Maksudku bukan penghancuran tubuh, tapi penghancuran hati. Aku khawatir semut-semut itu menginginkan apa yang diberikan kepadamu. Akibatnya, mereka lalai dari mengingat Allah.”

Firman-Nya, “Maka ia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu…” (QS. An-Naml: 19). Sebagian ulama mengatakan, “Nabi Sulaiman ‘alaihissalam tersenyum karena kefasihan ucapan semut itu. Sebab, dalam ayat 18 di atas, semut itu memadukan semua bentuk kefasihan (yaitu keindahan retorika bahasa). Jelasnya, karena ucapannya ‘ya (wahai),’ berarti ia memanggil; (ayyu)’, ia memberi peringatan; ‘udkhulu (masuklah)’ ia memberikan perintah, ‘masakinakum (sarang-sarangmu), ‘ia menyebutkan tempat ke mana mereka harus masuk; ‘la yahthimannakum (agar kamu tidak dihancurkan), ‘ia memberi peringatan; ‘Sulaiman,’ ia menyebutkan pelaku secara khusus; ‘junuduhu (tentaranya), ‘ia mengungkapkan pelaku secara umum; dan wa hum la yasy’ urun (sedangkan mereka tidak menyadari), ‘ia memberikan alasan penghancuran atau penginjakan. Duh… betapa cerdik semut ini! Dengan perilakunya ini, semut cerdas tersebut telah menasihati Sulaiman ‘alaihissalam, sehingga ia sujud bersyukur kepada Allah. demikianlah sifat orang berakal, ia ternasihati oleh perilaku orang lain dan merendahkan hati pada ucapan orang yang memberinya nasihat, meskipun derajatnya tidak lebih tinggi darinya. Ia tidak merasa gengsi, sombong, atau sewenang-wenang.
Termaktub dalam hadis Ibnu Abbas secara marfu’ dan mauquf, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh burung hud-hud, burung shurad, lebah, dan semut.” Betapa besar kasih sayang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam!! Maha suci Dzat yang mengutus beliau sebagai rahmat untuk alam semesta.

Sejatinya Sulaiman ‘alaihissalam tidak berniat menghancurkan semut. Namun, semut itu berasumsi demikian karena bisa jadi Sulaiman ‘alaihissalam tidak menyadari keberadaan semut-semut, sehingga ia akan menginjaknya melalui pasukan kuda dan kaki-kaki kudanya. Oleh sebab itu, semut ini mencari alasan untuk disampaikan kepada kawan-kawannya bila hal ini benar-benar terjadi, sekaligus menjustifikasi kebenaran asumsinya dengan mengucapkan “Sedangkan mereka tidak menyadari.” Tujuan semut mengeluarkan peringatan ini adalah demi keselamatan bangsanya dengan bersembunyi di sarang sampai Sulaiman ‘alaihissalam dan bala tentaranya melewati lembah mereka. Ini benar-benar sikap tolong-menolong yang prestisius. Sikap ini adalah contoh apik bagi makhluk berakal yang sepantasnya mereka pahami agar masing-masing dari mereka menjadi penolong bagi saudaranya sesama muslim terkait hal-hal yang dapat membawa kebaikan dan menghindarkan keburukan, dan bahkan bagi semua saudara setanah air. Semut itu telah memperingatkan kaumnya dari maha bahaya. Demikianlah seharusnya seseorang bertindak di tengah-tengah masyarakat, memperingatkan orang lain dan mengingatkannya.

Semut ini sangat cerdas dalam menyampaikan peringatan. Ia tidak membangkitkan kemarahan kaumnya terhadap orang-orang yang datang, sebagaimana yang dilakukan sebagian manusia. Bahkan dalam peringatannya, ia mengungkapkan alasan mengapa tentara-tentara Sulaiman yang datang tersebut bisa menyakiti mereka, dengan berkata, “Sedangkan mereka tidak menyadari.”

Apa Ucapan Semut Ini Bisa Dikategorikan Doa? Dan, Bagaimana Sikap Sulaiman ‘alaihissalam Menanggapinya? Apakah Memenuhi Permintaan Tolongnya?

Jawabnya, ya (ucapan semut ini bisa dikategorikan doa). Itu ditilik dari tiga sisi berikut. Pertama, ucapan ini secara tekstual adalah seruan permintaan. Dan, ini adalah pengertian doa menurut bahasa. Kedua, ucapan ini hakikatnya permintaan tolong yang diajukan semut kepada Sulaiman supaya ia menjauhi lembah mereka hingga tidak membinasakan mereka. Dan Sulaiman paham bahasa semut.
Ketiga, ucapan ini memberi pengertian semut itu merendahkan diri kepada Allah agar menjadikan Sulaiman ‘alaihissalam mendengar ucapannya dan membimbingnya memenuhi permintaannya. Di samping juga memberi pengertian semut itu merendahkan diri kepada Allah agar Dia membuat semut-semut lain mendengar suaranya, lalu merespon peringatannya dan masuk ke dalam sarang-sarang mereka supaya selamat dari bahaya yang mengancam dan kebinasaan yang bisa dipastikan. Ucapan semut ini persis seperti nasihat kedua orang tua, atau kawan yang tulus kepada orang yang ia harapkan mendapat kebaikan, ia amat ingin membahagiakan dan menyelamatkannya, “Jangan dekat-dekat kereta, jangan berjalan di tengah jalan, jangan main-main dengan api, jangan mengesampingkan tugasmu.”

Beberapa contoh larangan dan peringatan ini selalu disertai doa dari pengucapnya, baik secara verbal maupun dalam hati. Jarang sekali hal-hal seperti ini tidak dibarengi doa. Pun dengan asumsi tidak diiringi doa, kalimat-kalimat seperti ini tetap mengandung doa. Sebab, pengucapnya amat inign orang yang dicintai dan dinasihati itu mengindahkan arahan dan petuahnya, mendengarkan perintahnya, dan mematuhi larangannya. Yang demikian ini jelas bergantung kepada kehendak Allah dan bimbingan-Nya atas orang tersebut. Maka, seolah-olah orang yang mengeluarkan larangan dan peringatan seperti ini, ia bermunajat kepada Allah dengan mengucapkan, “Wahai Rabb, lunakkan sikapnya, lembutkan hatinya, dan kembalikan pikiran serta akal sehatnya untuk memenuhi nasihatku, menyetujui pendapatku, dan melaksanakan saranku. Wahai Rabb, jagalah ia dan jauhkan ia dari ketergelinciran dan bala’.”
Adapun sikap Sulaiman ‘alaihissalam menanggapi ucapan semut ini, maka ia bisa mendengar dan memahami ucapannya. Karenanya, ia merealisasikan keinginan dan memenuhi permintaan tolongnya. Seketika itu juga ia perintahkan pasukannya untuk berhenti di tepi lembah sampai semua semut benar-benar masuk ke dalam sarang dan selamat dari bahaya yang nyaris mengakhiri hidup mereka.
Ucapan semut ini menjadi sebab senyum Sulaiman ‘alaihissalam. Wajahnya nampak berseri-seri, bahagia dan sumringah dengan apa yang Allah perlihatkan pada dirinya, tidak pada yang lain. Ia tertawa penuh takjub atas kewaspadaan semut, peringatan yang disampaikan dan petunjuk yang Allah tanamkan dalam dirinya. Di samping, ia juga sangat bahagia berkat nikmat yang Allah mengistimewakan dirinya berupa kemampuan memahami maksud ucapan semut. Kemudian ia mengucapkan:

“..Ya Rabbku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukur nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shlaih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Ny yang shaleh.” (Q.S An-Naml: 19)

Kami sudah membahas doa ini dalam doa-doa nabi Sualiaman’alaihissalam. Syaikh Thanthawi Jauhari dalam kitab tafsirnya berkata, “Lihat bagaimana Sulaiman ‘alaihissalam mengucapkan semua ini secara beruntun sebagai bentuk syukur atas nikmat memahami perkataan semut. Lihat bagaimana Sulaiman begitu bahagia dan bagaimana ia tersenyum sumringah dengan nikmat Allah dan hikmah-Nya (yang dianugerahkan kepadanya). Seolah-olah ia mengucapkan, ‘Ilmu adalah puncak pencarianku, dan aku telah merengkuhnya. Tak ada lagi yang tersisa selain aku bersyukur kepada Allah atas nikmat ilmu dengan menjalankan amal shaleh yang Engkau ridhai, wahai Rabbku. Dan, setelah ilmu dan amal shaleh tak ada harapan lain kecuali aku dimasukkan dalam kalangan hamba-hamba-Mu yang shaleh dari bapak-bapakku, baik para nabi maupun selainnya’.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Abu Shiddiq An-Naji berkata, “Ketika Sulaiman bin Dawud ‘alaihissalam keluar hendak memohon hujan. Tiba-tiba ia melihat seekor semut tidur terlentang dan mengangkat kaki-kakinya ke langit sembari mengucapkan, ‘Ya Allah, sesungguhnya kami termasuk makhluk-Mu dan kami senantiasa membutuhkan hujan-Mu. Jika Engkau tidak memberi hujan kepada kami, tentulah kami binasa.’ Maka sulaiman berkata, ‘Kembalilah kalian (manusia), kalian telah diberi hujan berkat doa selain kalian’.”
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari jalan Abdurrazzaq, dari Ma’mar, dari Hammam, dari Abu Hurairah, dari nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Seekor semut pernah menggigit seorang nabi. Lantas nabi ini memerintahkan untuk membakar kampung semut. Maka, Allah mewahyukan kepadanya, ‘Apakah hanya karena seekor semut menggigitmu kemudian kamu membinasakan satu umat yang terus bertasbih?!”

Pelajaran Apa yang Dapat Dipetik dari Ucapan Semut Ini?

a.    Semut adalah salah satu dari sekian banyak umat dnegan bukti mafhum mukhalafah dari firman Allah berikut, “Dan tiadalah binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu…” (QS. Al-An’am: 38)
b.    Umat yang paling banyak jumlahnya sesudah manusia adalah semut. Di samping itu, semut juga merupakan umat yang paling gemar bergotong-royong, bergerak, beraktivitas, dan paling tertib.
c.    Bergiliran dalam menjalan tugas teramsuk faktor pengerjaan secara maksimal, keteraturan, perkembangan, dan kontinuitasnya. Dan bangsa semut telah menunjukkan contoh luar biasa dalam hal ini.
d.    Setiap umat memiliki bahasa khusus, bahkan bangsa hewan, serangga, dan burung pun memiliki bahasa yang menjadi alat komunikasi di antara mereka.
e.    Bangsa semut juga memiliki tempat tinggal (baca: sarang) dan kamar-kamar, dengan bukti ucapan semut, “Masuklah ke sarang-sarangmu.” Demikianlah halnya dengan setiap bangsa yang lain.
f.    Seorang mukmin wajib senantiasa menghadirkan rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala setiap akal dan mata hatinya menyadari ada suatu nikmat Allah atas dirinya, dan ini termasuk sifat orang-orang shaleh.

Sumber: Ketika Alam Bertasbih, Dr. Musa Al-Khatib, Kiswah Media, Cetakan I 2010


———-
Sumber: Kisah Muslim – www.kisahmuslim.com / Jumat, 9 Maret 2012

Print Friendly