Renungan #03, Benci Padahal Sebenarnya itu Baik

Renungan yang sangat berharga untuk kali ini,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam tafsirnya sebagai berikut.

Ayat ini memerintahkan untuk berperang di jalan Allah. Padahal karena kelemahan manusia, mereka enggan untuk berperang. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah dan ketika kaum muslimin semakin banyak, Allah membebani untuk berperang dan dikabarkan pula bahwa memang hal itu juga berat bagi jiwa karena ada rasa capek dan kesulitan. Namun di balik perang itu ada pahala yang besar. Orang yang menjalaninya akan selamat dari siksa yang pedih. Kalau menang pun akan mendapatkan ghanimah yang besar. Itulah makanya disebutkan,

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.

Sedangkan orang yang enggan berjihad, hanya ingin rehat saja, maka itu sebenarnya jelek walau jiwa kita sukai. Kalau kita enggan berjihad yang ada musuh akan menguasai kita, akan turun kehinaan, dan luput dari pahala jihad yang begitu besar. Makanya Allah sebut,

وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ

Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.”

Untuk perkara kebaikan akhirat, umumnya tidak disukai oleh jiwa karena ada keberatan dalam kebaikan tersebut. Sedangkan perkara kejelekan sangat disukai karena begitu lezat ketika menikmatinya tanpa diragukan lagi.

Adapun perkara dunia, maka Allah memberikan sebab supaya kita bisa menyukainya dan akhirnya memperolehnya.

Perkara di atas seharusnya membuat kita mensyukurinya. Karena kita tahu bahwa Allah begitu menyayangi diri kita daripada kita menyayangi diri kita sendiri. Allah juga yang menentukan maslahat bagi hamba-Nya. Makanya dinyatakan,

وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Maka setiap takdir Allah itu diterima baik takdir yang kita rasakan senang di dalamnya atau yang kita rasakan susah di dalamnya. Demikian penjelasan dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman.

Ibnu Katsir menyatakan, “Hal di atas “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu”; itu berlaku untuk semua perkara. Boleh jadi manusia menyukai sesuatu, padahal tidak ada kebaikan dan maslahat sama sekali di dalamnya. ”

Ibnu Katsir menyatakan lagi dalam kitab tafsirnya, “Allah yang mengetahui akhir sesuatu dari perkara kita. Allah yang mengabarkan nantinya mana yang maslahat untuk dunia dan akhirat kita. Maka lakukan dan patuhlah pada perintah-Nya, niscaya kita akan mendapatkan petunjuk.”

Hanya Allah yang memberi taufik.

Disusun @ Kota Ambon, Malam Ramadhan ketiga 1437 H

Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal

Rumaysho.Com, Channel Telegram @RumayshoCom, @DarushSholihin, @UntaianNasihat, @RemajaIslam

———-

Sumber: www.rumahsyo.com (Muhammad Abduh Tuasikal, MSc) | Jun 08, 2016

Print Friendly