Metode Pendekatan Akhlak Ibnu Taimiyah Dalam Mendakwahi Masyarakat

METODE PENDEKATAN AKHLAK IBNU TAIMIYAH DALAM MENDAKWAHI MASYARAKAT [1]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah memandang manusia itu berbeda-beda tingkatannya. Orang yang paling afdhal dalam penilaian beliau adalah orang yang paling bermanfaat bagi sesama dan memiliki keunggulan dalam ilmu atau agama. Inilah gambaran orang paling baik.[2]

Dalam bermuamalah, beliau tidak membeda-bedakan orang. Karena Allâh Azza wa Jalla tidak memandang bentuk rupa dan kekayaan, akan tetapi, memandang hati dan amalan. Allâh Azza wa Jalla menjadikan amalan shaleh seseorang sebagai standar kemuliaan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allâh Azza wa Jalla ialah orang yang paling takwa diantara kamu [al-Hujurât/49:13]

Oleh sebab itu, dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para khalifah bersikap adil terhadap kaum Muslimin. Semua orang sederajat di majlis beliau n dan dalam barisan shalat. Namun, orang yang memiliki keutamaan tertentu, diakui oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Seperti pada diri ‘Utsmân bin Affân Radhiyallahu anhu , Thalhah bin ‘Ubaidillâh Radhiyallahu anhu , Zubair bin ‘Awwâm Radhiyallahu anhu , Sa’ad bin Muâdz Radhiyallahu anhu , Usaid bin Khudhair, ‘Abbâd bin Bisyr Radhiyallahu anhu, mereka termasuk para pemuka kaum Muhajirin dan Anshar yang kaya-raya. Mereka mendapatkan tempat lebih di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibandingkan kaum fuqoro.[3]

NASAB BUKAN JAMINAN MULIA BAGI SESEORANG
Garis nasab tidak lantas mengangkat derajat orang secara otomatis. Garis nasab juga tidak dapat memenangkan orang dalam perolehan jabatan, rezeki dan memegang kendali hukum. Ini hanya dilakukan oleh orang-orang bodoh dan ahli bid’ah.

Mengaitkan kemuliaan orang dalam agama berdasarkan nasab merupakan salah satu ciri hukum Jahiliyah yang diikuti oleh golongan Syiah dan orang-orang bodoh yang serupa dengan mereka.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ فَضْلَ لِعَرِبِيٍّ عَلَى عَجَمِيٍّ إِلاَّ بِالتَّقْوَى

Tidak ada kemuliaan bagi orang Arab atau non-Arab kecuali dengan ketakwaan [4]

Karena itu, tidak ada satu ayat pun dalam al-Qur`ân yang memuji atau mencela orang karena nasabnya. Manusia dipuji karena keimanan dan ketakwaannya, dan ia dicela karena kekufuran, perbuatan fasik dan maksiatnya.

Disebutkan dalam hadits shahîh, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ الْفَخْرُ فِي الْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالْاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ

Empat perkara Jahiliyah yang masih ada pada umatku (yaitu) berbangga diri dengan status sosial, mencela nasab, meminta hujan dengan bintang dan niyâhah [HR. Muslim]

Dakwah Islamiyyah di setiap masa, merangkul siapa saja yang hatinya tunduk untuk mencintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya serta merelakan dirinya untuk membela agama dan umat. Tidak dilihat nasab, jabatan, warna kulit atau bahasanya. Siapapun yang lebih bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dan lebih bermanfaat bagi manusia, ia lebih pantas untuk diutamakan dan lebih berhak memperoleh penghargaan daripada orang yang lebih rendah kadar ketakwaan dan manfaatnya bagi sesama meskipun nasab dan status sosialnya tinggi.

DAI PASTI AKAN MENGHADAPI GANGGUAN DARI UMAT
Para dai akan menghadapi masyarakat yang memiliki hawa nafsu dan kesenangan yang susah mereka tinggalkan. Musuh dakwah pada umumnya adalah orang-orang yang hidup bergelimang kemewahan. Mereka takut kehilangan kedudukan bila dakwah Islamiyah menang.

Dengan kekayaan yang dimiliki, mereka dapat memanfaatkan orang-orang bayaran untuk melawan dakwah. Tidak dipungkiri, menghadapi orang-orang seperti itu tentu sangat beresiko, karena kemungkinan besar akan mengadakan perlawanan. Namun, perlu diketahui, bahwa ini selalu menjadi jalan para dai ilal haq, sebab jalan para dai tidak pernah dihiasai dengan bunga-bunga yang wangi.

Seorang dai yang mengemban tugas menyelamatkan mereka (orang-orang yang bergelimang kemewahan) dari pengaruh buruk hawa nafsu mereka sendiri dan mengentaskan umat dari mereka memerlukan kesiapan seperti keimanan kuat dan akhlak yang mulia. Maka, menjadi kewajiban para dai untuk memperbekali diri dengan akhlak mulia dimana yang paling penting dari akhlak itu adalah kesabaran, lemah-lembut, dan mudah memberi maaf serta berbuat baik kepada mereka.

DUA POKOK AKHLAK DAI DALAM BERDAKWAH
Dua pokok akhlak dai dalam menghadapi gangguan, kemarahan dan kebencian dari umat terhadap dakwah disebutkan Allâh Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ

Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang [al-Balad/90:17]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ

Maka disebabkan rahmat dari Allâh-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka…[Ali ‘Imran/3:159]

Kesabaran mengandung unsur kelembutan yang dapat mengontrol diri agar tidak membalas kejelekan dengan sikap serupa. Kesabaran merupakan inti akhlak yang agung. Sebab Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ

Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Rabbmu [al-Qalam/68:48]

Maka menjadi kewajiban seorang dai untuk bersabar menghadapi gangguan orang dan takdir Allâh Azza wa Jalla , namun yang pertama itu lebih berat.[5]

Sementara sifat rahmat (penuh kasih-sayang) akan mendorong rasa iba akan kebodohan umat yang pada gilirannya akan mendorong untuk selalu berbuat baik kepada umat, membalas kejelekan dengan kebaikan. Bentuk akhlak yang berkebalikan dengan fadhâhah (sikap kasar). Inilah bentuk ihsân ma’nawi (kebaikan maknawi) yang disodorkan kepada orang lain. Sementara bentuk kebaikan materiil, dengan memberikan harta, jasa, sehingga serupa dengan sifat kedermawanan. Allâh Azza wa Jalla telah memadukan dua bentuk ihsan ini dalam firman-Nya yang artinya:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh [al-A’râf/7:199]

Yang menjadi kewajiban antara sesama Mukmin, menyukai bagi saudara seiman apa yang disukai bagi dirinya sendiri. Dan memenuhi hak-hak sesama Mukmin yang bertumpu pada tali keimanan, meskipun tidak ada ikatan dan hubungan duniawi yang khusus dengan mereka. Sebab dengan iman, orang menjadi saudara dengan orang Mukmin yang lain.

Syaikhul Islam berkata, “Sesunggunya Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya telah mengikat ikatan ukhuwwah antara keduanya dengan firman-Nya:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara [al-Hujurât/49:10]

Barang siapa belum keluar dari keimanan, maka wajib diperlakukan atas dasar itu. Kebaikannya dipuji dan atas dasar itu ia didukung, dihalangi dari perbuatan haram dan dijauhi karenanya sesuai dengan kemampuan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

Bantulah saudaramu dalam saat berbuat zhalim atau teraniaya [HR. al-Bukhâri no.2443].

Cinta, wala, permusuhan dan benci karena Allâh Azza wa Jalla harus menjadi landasan langkah setiap Muslim, sebagai wujud ketundukan terhadap perintah Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Ia mencintai apa yang dicintai Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya dan membenci apa yang dibenci Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya. Barang siapa ada pada dirinya kebaikan dan keburukan, maka ia diperlakukan sesuai dengan kondisinya tersebut, seperti para pelaku maksiat. Mereka pantas mendapatkan rasa cinta dan benci berdasarkan kebaikan dan keburukan yang ada pada dirinya.

Rasûlullâh n adalah teladan dalam pergaulan dengan sesama manusia. Beliau diutus Allâh Azza wa Jalla dengan akhlak terbaik. Beliau memperlakukan mereka dengan baik, menyayangi, memuliakan, berlemah-lembut, bersabar, dan memaafkan mereka, tanpa meminta balasan atau mengharapkan pamrih duniawi.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Allâh Azza wa Jalla mengutus Rasulullah sebagai petunjuk dan rahmat bagi seluruh alam. Sebagaimana beliau diutus dengan mengemban ilmu dan petunjuk serta bukti-bukti kebenaran bersifat aqli dan naqli, beliau diutus juga untuk berbuat baik kepada manusia, menyayangi mereka tanpa minta imbalan dan bersabar dan bertahan menghaapi gangguan mereka…”[6]

Ketika kita berbuat kebaikan untuk sesama, siapapun dia, maka harus dilakukan dengan niat tulus karena Allâh Azza wa Jalla mengharapkan pahala dan keridhaan-Nya. Sebab, melayani umat dan berbuat baik kepada mereka merupakan bentuk ibadah yang besar sehingga orang harus berniat ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla . Tidak meminta imbalan, doa atau apa saja dari orang. Jika melakukan itu karena berharap imbalan, maka itu sudah tidak termasuk perbuatan baik kepada orang. [7]

Keinginan berbuat baik kepada orang harus berlandaskan asas, pedoman dan memperhitungkan aspek kemaslahatan. Sebagian orang ingin melakukan hal-hal yang sebenarnya berbahaya bagi dirinya sendiri dan sebagian orang tidak peduli dengan apa-apa yag bermanfaat bagi dirinya lantaran pengaruh hawa nafsu dan syahwat mereka. Karenanya, menjadi kewajiban insan-insan yang berdakwah, untuk tidak memenuhi keinginan mereka ini. Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bukan termasuk berbuat baik, melakukan hal-hal yang diinginkan oleh hawa nafsu mereka. Sungguh, Allâh Azza wa Jalla berfirman yang artinya:

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَاهُمْ بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَنْ ذِكْرِهِمْ مُعْرِضُونَ

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (al-Qur`ân) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu [al-Mukminun/23:71]

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ ۚ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan [al-Hujurât/49:7]

Berbuat baik kepada mereka hanyalah dengan melakukan apa saja yang bermanfaat bagi agama dan dunia mereka, meskipun itu dibenci. Akan tetapi, tentu harus berlemah-lembut dengan mereka dalam perkara-perkara yang mereka tidak sukai. Dalam Shahîhain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ

Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla Maha Lembut, menyukai kelembutan dan memberikan hal-hal (baik) yang tidak didapat melalui sikap kasar [Muttafaqun alaih]

‘Umar bin Abdul Aziz pernah berkata, “Demi Allâh Azza wa Jalla aku pernah berniat menyampaikan kebenaran kepada orang-orang, namun aku khawatir mereka akan lari. Maka, aku bersabar dulu sampai mereka mendapatkan nikmat duniawi. Saat itulah aku menyampaikan kebenaran. …demikianlah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu ketika kedatangan orang yang meminta sesuatu (memiliki kebutuhan) tidak menolaknya kecuali dengan memberikan apa yang diminta atau dengan tutur kata yang baik”.

Syaikhul Islam rahimaullah berkata, “Sesunggunya jiwa tidak menyukai kepahitan kecuali bila dicampur dengan sesuatu yang manis, tidak bisa kecuali dengan itu. Karena itu, Allâh Azza wa Jalla memerintahkan menta`lif (melunakkan) hati para hamba terlebih dahulu dengan menetapkan bagian sedekah bagi para muallaf”.[8]

Dalam kesempatan lain, Ibnu Taimiyah rahimahullah melukiskan jalan keberhasilan berinteraksi dengan manusia dengan berkata, “Bergaulah dengan mereka karena Allâh Azza wa Jalla dan mengharap pahala Allâh Azza wa Jalla dalam mempergauli mereka, tidak mengharapkan (pamrih) dari mereka di jalan Allâh Azza wa Jalla , hendaknya takut (bertakwa) kepada Allâh Azza wa Jalla saat bersama mereka dan tidak takut kepada mereka di jalan Allâh Azza wa Jalla , berbuat baik kepada mereka dengan berharap pahala dari Allâh Azza wa Jalla , bukan mengharap timbal-balik dari mereka, tidak menzhalimi mereka karena takut kepada Allâh Azza wa Jalla bukan karena takut kepada mereka”.

Kerjakan perintah Allâh Azza wa Jalla , meskipun mereka tidak menyukaimu. Termasuk tanda kelemahan iman, engkau mencari ridha manusia dengan melakukan hal yang membuat Allâh Azza wa Jalla murka atau mencela mereka dengan hal-hal yang tidak engkau dapatkan dari Allâh Azza wa Jalla . Demikian pesan beliau yang lain.

Beliau juga mengatakan, “Manusia akan lebih condong kepada orang yang bersifat terpuji dan menjauh dari orang yang bersifat buruk”.[9]

Sesungguhnya keyakinan seseorang itu mencakup keyakinan dalam menjalankan perintah Allâh Azza wa Jalla dan janji-Nya bagi orang-orang yang taat, serta mencakup keyakinan terhadap takdir Allâh Azza wa Jalla , penciptaan dan pengaturan-Nya. Jika engkau membuat mereka cinta kepadamu dengan melakukan hal-hal yang membuat Allâh Azza wa Jalla murka, berarti engkau belum memiliki keyakinan, tidak kepada janji atau pun rezeki dari-Nya…barang siapa mencari keridhaan manusia dengan kemurkaan Allâh Azza wa Jalla , itu tidak akan memberikan manfaat bagi dai sedikit pun. Orang seperti ini akan sangat takut dengan manusia, akan banuak berbuat kezhaliman bila berkuasa dan sangat terhina bila terkalahkan. Ia selalu takut kepada manusia sesuai dengan keadaan mereka. inil termasuk faktor yang memicu terjadi fitnah di tengah manusia. [10]

BUKAN SEKEDAR BERTEORI
Ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah tidak hanya berada dalam tataran teoritis semata, meminta dan mengarahkan orang melakukan sesuatu sementara beliau duduk-duduk saja di majlis jauh dari masyarakat. Sebaliknya, tidaklah beliau mencapai teori-teori tersebut dan memperoleh kekuatan menyimpulkan pedoman-pedoman kecuali karena menuliskannya berdasarkan perjalanan dan praktek langsung di lapangan yang beliau jalani dengan dasar ilmu yang sangat luas dan pemahaman kuat terhadap maqashid syariat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t mencintai orang-orang dan menginginkan kebaikan bagi mereka, serta tulus dalam melayani dan berbuat baik kepada mereka, berlemah-lemah dalam berinteraksi dengan mereka. dan orang-orang pun membalas beliau dengan kecintaan pula.

Kecintaan mereka ini tampak sekali ketika mereka berjumpa dengan beliau. Bahkan ketika para pemilik toko menyaksikan beliau berjalan memasuki pasar, mereka langsung menyambut beliau dan melontarkan salam kepada beliau, serta berharap doa darinya. Dan beliau merespon salam mereka.

Apabila mendengar ada orang meninggal, beliau bersegera ikut menyolati jenazahnya. Jika terlambat, kekecewaan tampak pada muka beliau dan terkadang menyempatkan pergi ke makam untuk menyolati dan mendoakan jenazah di sana.

Setiap pekan, beliau menyempatkan mengunjungi orang-orang sakit terutama yang berada di Maristan, sebuah tempat semacam rumah sakit di zaman itu yang dibangun oleh Nûruddîn Mahmûd bin Zanki rahimahullah, penguasa masa itu yang mendukung dakwah beliau.

Majlis beliau selalu terbuka bagi siapa saja. Hati beliau menerima seluruh manusia. majlis beliau terbuka bagi orang dewasa, anak-anak, pejabat, rakyat jelata, orang merdeka, budak belian, lelaki maupun perempuan. Dan setiap orang merasakan penghormatan yang sangat besar dari beliau.

Diceritakan oleh al-Bazzâr rahimahullah bahwa beliau akan menemani orang yang mendatangi beliau sampai dia sendiri yang berpamitan, siapapun dia. Tidak menyakiti orang dengan tutur kata yang menyakitkan. Beliau menjawab dan memahamkan, serta memperlihatkan kesalahannya dengan penuh kelembutan dan kehangatan.

Ibnu ‘Abdil Hâdi rahimahullah, salah seorang murid beliau menceritakan, “Orang-orang umum mencintainya, karena beliau selalu siap memberi manfaat bagi mereka siang dan malam dengan lisan dan tulisannya”. [11] Karena itu, julukan Syaikhul ‘Ammâh (Syaikh panutan siapa saja) juga melekat pada diri Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah .

Semoga pemaparan ini bermanfaat, menjadi cermin bagi kita terutama para dai dalam mengabdikan diri kepada Allâh Azza wa Jalla dengan dakwah ilal haq.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIV/1432H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Diterjemahkan bebas dari Manhaju Syaikhil Islâm Ibni Taimiyyah fid Da’wati Ilallâh Ta’ala, DR. ‘Abdullâh bin Rasyîd bin Muhammad al-Jusyâni 2/453-462 oleh Abu Minhal dengan peringkasan dan pembubuhan beberapa sub judul.
[2]. al-Fatâwâ 28/576
[3]. al- Fatâwâ 11/126
[4]. HR. Ahmad, Abu Nu’aim dan al-Baihaqi. Lihat Silsilatus Shahîhah, no. 2700-red
[5]. al-Fatâwâ:16/71, at-Tafsîr al-Kabîr 5/366, 6/91-92
[6]. al-Fatâwâ 16/313, at-Tafsîr al-Kabîr 6/313
[7]. al-Fatâwâ 1/54
[8]. al-Fatâwâ 28/364-365
[9]. ar-Raddu ‘alal Manthiqiyyîn hlm. 430.
[10]. Lihat al-Fatâwâ 1/51,52, 54
[11]. al-Uqûd ad-Durriyyah hlm.188

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 14 Mei 2013

Print Friendly