Seputar Asuransi Pendidikan

Asuransi pendidikan adalah perjanjian antara perusahaan asuransi atau bank dengan nasabah sebagai orang tua. Orang tua berkewajiban untuk membayarkan sejumlah premi asuransi secara berkala dan dalam jumlah yang telah disepakati. Sebagai imbalannya, perusahaan asuransi akan mencairkan dana sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati, terutama pada saat anak nasabah mendaftarkan diri di suatu jenjang pendidikan yang telah disepakati pula. Pada dasarnya, asuransi semacam ini, tidaklah berbeda dengan asuransi-asuransi lainnya. Oleh karena itu, agar tidak mengulang-ulang pembahasan yang telah diutarakan di atas, saya cukupkan dengan menukilkan fatwa ulama yang menjelaskan hukumnya.

Pertanyaan:

Pemerintah Denmark menggalakkan kepada orang-orang tua agar menabungkan uang sebesar 3.000 dolar –misalnya- ketika anak-anak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Ketika anak mereka telah berumur 18 tahun, maka pemerintah akan mengembalikan uang mereka sebesar 12.000 dolar, guna membiayai pendidikan mereka dan lainnya. Perlu Anda ketahui, bahwa ini bukanlah hal yang bersifat paksaan, akan tetapi kaum muslimin melakukan hal ini dalam rangka membangun (sebagai jaminan) masa depan pendidikan anak-anak mereka, sebagaimana yang mereka katakan.

  1. Apakah perbuatan ini haram atau tidak?
  2. Bolehkah kita menolak bunga bank dan hanya mengambil modal pertama saja, dan membiarkan bunganya diambil oleh bank?
  3. Bolehkan bagi kaum muslimin untuk mengambil seluruh uang tersebut (modal dan bunganya), kemudian mereka menggunakan modalnya saja, dan membagikan bunganya kepada fakir dan miskin? Mohon penjelasan, semoga Allah memberi pahala kepada Anda semua.

Jawaban:

Pertama: Tidak boleh bagi orang tua anak untuk menabungkan uang tersebut atau yang serupa ke bank, agar setelah tempo waktu tertentu dapat mengambil uang yang lebih banyak, baik itu untuk biaya pendidikan atau lainnya, karena pada yang demikian terdapat riba fadhl (perniagaan) dan juga riba nasi’ah. Dan pemerintah Denmark yang tidak memaksakan tabungan tersebut merupakan kesempatan bagi orang-orang tua untuk tidak menabung dengan cara tersebut.

Kedua: Bila ditakdirkan hal tersebut telah terlanjur terjadi, maka wajib atas orang tua untuk menarik kembali uang tersebut beserta seluruh bunganya, agar tidak terus-menerus melakukan akad riba. Dan setelah itu ia menyimpan modalnya dan menggunakan bunganya pada berbagai amal sosial dan kebaikan.

Wabillahit taufiq, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya

Sumber: Majmu’ Fatawa al-Lajnah ad-Da’imah, 13/364-365, fatwa no. 10576

Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri
Artikel: www.PengusahaMuslim.com

———-

Sumber: www.pengusahamuslim.com – Jumat, 6 Agustus 2010

Print Friendly