Ilmu Perdukunan Dalam Tinjauan Islam

ILMU PERDUKUNAN DALAM TINJAUAN ISLAM

Oleh
Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra, MA

Para pembaca yang dirahmati Allâh Azza wa Jalla ! Semoga kita senantiasa diberi taufiq oleh Allâh untuk mempelari dan mengamalkan agama yang kita cintai ini. Shalawat dan salam kita ucapkan untuk nabi yang paling mulia, yaitu nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk untuk keluarga dan para sahabat beliau, serta orang-orang yang setia mengikuti ajaran beliau sampai akhir zaman.

Para pembaca yang budiman! Berikut ini kita akan membahas tentang topik ilmu perdukunan dalam tinjauan Islam. Sisi-sisi pembahasan meliputi:
1. Hakikat dukun dan perdukunan.
2. Perdukunan dahulu dan sekarang.
3. Hukum pedukunan dalam Islam.
4. Cara menangkal perdukunan.

Hal yang melatarbelakangi pembahasan ini antara lain adalah:
Pertama, sebagian kaum Mmuslimin banyak terjebak dengan perdukunan, baik yang sakit maupun yang sehat, yang miskin maupun yang kaya, yang sukses maupun yang gagal, orang berpangkat maupun orang biasa, pejabat maupun rakyat jelata.

Kedua, tersebarnya perdukunan berkedok Islami, yang menambah persoalan ini semakin runyam di tengah masyarakat. Betapa banyak orang tertipu dengan secarik surban yang bertonggok di kepala sang dukun, kemudian ditambah tasbih yang melingkat di leher atau yang dalam genggaman tangan. Sekedar bermodalkan surban dan tasbih, sang dukun menjadi kepercayaan sebagian masyarakat yang kurang ilmu dan iman.

Ketiga, sangat sedikit kaum Muslimin yang mengetahui solusi cara menangkal perdukunan, alih-alih mereka melawan perdukunan dengan perdukunan pula. Maka dalam bahasan ini kita mencoba memberikan solusi syar’i dalam menangkal perdukunan tersebut.

HAKIKAT DUKUN DAN PERDUKUNAN
Ada beberapa istilah yang memiliki konotasi dengan perdukunan. Terkadang istilah tersebut dipakai untuk makna yang sama, namun sering kali dipakai dalam makna berbeda. Istilah tersebut ialah: kâhin (dukun), ‘arrâf (peramal), rammal (tukang tenung), munajjim (ahli nujum), sâhir (ahli sihir) dan hipnotis.

Pemakaian istilah tersebut dalam makna yang sama lantaran kesamannya dalam beberapa hal. Pertama, dari sisi pengakuan mengetahui hal-hal yang ghaib. Kedua, dalam sisi penerimaan info tentang hal yang ghaib tersebut dengan mempergunakan bantuan setan atau Jin.

Adapun pengunaannya untuk makna yang berbeda, hal ini lebih ditentukan oleh asal kalimat tersebut secara etimologi, serta proses dan cara yang digunakan oleh si pelaku dalam praktek perdukunannya. Misalnya ada dengan cara mantra-mantra, atau dengan cara memakai alat bantu seperti huruf-huruf abjadiyah, melihat garis-garis yang ada pada telapak tangan, atau peredaran bintang, atau menulis dengan tongkat di pasir, dan sebagainya.

Ada dua kalimat yang sangat dekat maknanya dari istilah-istilah yang sebutkan di atas, yaitu: kâhin (dukun) dan ‘arrâf (peramal). Berikut ini beberapa penjelasan ulama tentang makna dua kalimat tersebut.

Pertama : Makna Kâhin.
Syaikh Shâlih Fauzan hafizhâhullah menjelaskan,[1] kâhin (dukun) adalah orang yang mengaku mengetahui tentang hal-hal ghaib pada masa yang akan datang dengan cara melalui setan (Jin). Yaitu setan (Jin) tersebut memberitakan sesuatu yang tidak diketahui oleh manusia. Karena setan bisa dapat mengetahui sesuatu yang susah untuk diketahui manusia. Setan (Jin) ini memberitahu manusia dengan imbalan atau syarat manusia itu mau tunduk kepadanya. Sehingga manusia melakukan hal-hal kesyirikan dan kekufuran kepada Allâh Azza wa Jalla . Mereka berusaha mendekatkan diri kepada setan (Jin) tersebut. Apabila manusia sudah mau tunduk kepada setan (Jin) sesuai permintaan mereka, maka setan akan membantu mereka untuk mengetahui hal-hal yang ghaib.

Kemudian Syaikh Shâlih Fauzan menyebutkan pendapat lain tentang arti dari kâhin (dukun), adalah orang yang mengaku mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati. Padahal tidak ada yang mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang kecuali Allâh Azza wa Jalla , akan tetapi setan bisa mengetahui perkataan hati seseorang melalui bisikan-bisikan yang dilakukan setan kepadanya. Karena setan berjalan dalam diri manusia seperti mengalirnya darah dalam tubuh manusia. Maka setan dapat mengetahui tentang seseorang hal yang tidak bisa diketahui oleh orang lain.[2]

Kedua : Makna ‘Arrâf.
Adapun arti ‘arrâf (peramal) menurut Imam Baghawi rahimahullah, adalah orang yang mengaku mengetahui peristiwa dengan cara-cara tertentu untuk mengetahui tempat barang yang dicuri, tempat barang yang hilang dan semisalnya.[3] Sedangkan menurut Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah, ‘arrâf (peramal) adalah nama untuk dukun, ahli nujum dan rammal (tukang tenung).[4]

Syaikh Shâlih Fauzan menjelaskan perkara orang yang mengaku mengetahui peristiwa dengan cara-cara tertentu untuk mengetahui barang yang dicuri, tempat barang hilang dan semisalnya melalui setan (jin). Setan memang memungkinkan untuk melakukan hal tersebut. Pada zhahirnya sang peramal akan terlihat melakukan sesuatu yang biasa menurut banyak orang, akan tetapi itu hanya sebagai kedok belaka. Pada hakikatnya ia bekerjasama dengan setan. Kalau tidak, darimana ia dapat megetahui tentang dimana tempat benda yang dicuri atau benda yang hilang? Kalau bukan dengan cara bekerjasama dengan setan (Jin).

Berikutnya Syaikh Shâlih Fauzan menyebutkan pendapat lain tentang arti ‘arrâf (peramal), bahwa artinya sama dengan kâhin (dukun). Karena keduanya sama-sama mengaku mengetahui perkara-perkara ghaib melalui perantara setan (Jin). Keduanya sama-sama merupakan anak buah setan. Walaupun berbeda dari segi nama, namun memiliki arti dan profesi sama, yaitu sama-sama mengaku mengetahui hal-hal yang ghaib.[5]

Kesimpulan
Syaikh Shâlih Âlu Syaikh berusaha menyimpulkan pandangan ulama tentang makna kâhin dan ‘arrâf sebagaimana berikut.

Pendapat pertama, kâhin adalah orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib yang akan datang berkerjasama dengan setan. Dan ‘arrâf adalah orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib yang tersembunyi dan tidak terlihat oleh manusia juga berkerjasama dengan setan.

Pendapat kedua, kâhin lebih bersifat umum, sedangkan ‘arrâf lebih bersifat khusus. Kâhin termasuk didalamnya adalah setiap orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib yang akan datang maupun yang telah berlalu yang tidak diketahui oleh manusia. Juga termasuk didalamnya adalah ahli nujum dan semacamnya. Seperti tukang tenung, mengundi nasib melalui huruf abjadiyah, melalui biji-biji tasbih, melalui mengukir di pasir dan sebagainya. Dan bahkan sebagian ulama kontemporer mengatakan bahwa ilmu hipnotis termasuk di dalamnya [6].

CARA JIN MENDAPATKAN BERITA GHAIB DAN BEKERJA SAMA DENGAN DUKUN
Terjalinya kerja sama antara jin dan dukun tentu memiliki kensekwensi dan komitmen yang mesti dipenuhi oleh kedua belah pihak. Di antara bentuk komitmen dan kensekwensi tersebut, sang dukun harus menuruti persyaratan yang diminta oleh Jin. Setelah hal itu dilakukan sang dukun maka kemudian jin membantu sang duku dalam praktek profesinya sebagai dukun. Biasanya persyaratan itu tidak rumit, cukup melakukan salah satu bentuk kesyirikan atau kekufuran saja, meskipun sang dukun tetap melakukan amalan ibadah yang zhahir seperti shalat, puasa dan lain sebagainya. Dan kadang kala yang menjadi persyaratan itu melakukan ibadah yang menyelisihi Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga dengan demikian, tanpa disadari sang dukun terjebak dalam sebuah dosa yang selalu dilakukan dalam hidupnya. Dia tidak menyadari itu sebagai sebuah dosa dan kesalahan. Yang lebih populer dalam istilah ulama, yaitu amalan-amalan bid’ah.

Ketika telah terjalin kerjasama yang erat, maka jin berupaya membantu sang dukun dalam mengetahui berita-berita ghaib. Bagaimana cara jin mendapatkan berita-berita ghaib tersebut? Jawabannya terdapat pada hadits berikut ini:

عن أبي هريرة رَضِيَ اللهُ عَنْهَ إن نبي الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: ((إِذَا قَضَى اللَّهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتْ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَانًا لِقَوْلِهِ كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ فَإِذَا { فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ قَالُوا } لِلَّذِي قَالَ { الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ } فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعِ وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضُهُ فَوْقَ بَعْضٍ -وَوَصَفَ سُفْيَانُ بِكَفِّهِ فَحَرَفَهَا وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ- فَيَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ ثُمَّ يُلْقِيهَا الْآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ حَتَّى يُلْقِيَهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوْ الْكَاهِنِ فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ فَيُقَالُ أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي سَمِعَ مِنْ السَّمَاءِ)). رواه البخاري

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila Allâh memutuskan sebuah perintah di langit, para malaikat menundukkan sayap-sayap mereka dengan penuh takut, bagaikan suara rantai yang ditarik di atas batu putih. Apabila telah hilang rasa takut dari hati mereka, mereka bertanya: ‘Apa yang dikatakakan oleh Tuhan kalian?’ Jibril menjawab: ‘Tentang kebenaran dan Ia Maha Tinggi lagi Maha Besar’. Lalu para pencuri berita langit (setan) mendengarnya. Mereka para pencuri berita langit tersebut seperti ini, sebahagian mereka di atas sebagian yang lain -Sufyan (rawi hadits) mencontohkan dengan jari-jarinya- maka yang paling di atas mendengar sebuah kalimat lalu membisikannya kepada yang di bawahnya, kemudian selanjutnya ia membisikan lagi kepada yang di bawahnya dan begitu seterusnya sampai ia membisikannya kepada tukang sihir atau dukun. Kadang-kadang ia disambar oleh bintang berapi sebelum menyampaikannya atau ia telah menyampaikannya sebelum ia disambar oleh bintang berapi. Maka setan mencampur berita tersebut dengan seratus kebohongan. Maka dikatakan orang: bukan ia telah berkata kepada kita pada hari ini dan ini… maka ia dipercaya karena satu kalimat yang pernah ia dengan langit tersebut’.”[7]

Dalam hadits di atas ada berapa point yang dapat kita jelaskan.
Pertama, dalam hadits tersebut diterangkan bagaimana proses jin dalam mencari berita-berita ghaib. Yaitu dengan bertengger satu di atas yang lainnya seperti pertunjukkan orang memanjat pinang atau seperti seni olah raga yang dilakukan di sekolah-sekolah. Yaitu dengan cara lima orang di bawah, lalu pada tingkat kedua naik empat orang, kemudian pada tingkat berikut tiga orang, dan begitu seterusnya.

Kedua, berita ghaib yang mereka dapatkan itu berasal dari perkataan Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada para malaikat untuk melakukan tugas tertentu, lalu para malaikat saling berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya. Melalui percakapan malaikat tersebut, jin mencuri dengar dan menyampaikannya kepada mitranya dari kalangan dukun.

Ketiga, bahwa para jin tidak senantiasa dapat mencuri berita langit tersebut karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan sebagian bintang untuk melempar mereka yang berusaha mencuri dengar berita langit tersebut.

Keempat, jika jin selamat dari lemparan bintang yang berapi, barulah mereka berhasil mencuri satu kalimat dari berita langit. Artinya, jin tidak mengetahui secara detail atau seutuhnya tentang berita langit tersebut. Lalu berita tersebut mereka campur dengan seratus kedustaan.
Kelima, bahwa sebab adanya manusia yang mempercayai dukun adalah gara-gara tidak melihat kebohongan jin dan hanya mengingat satu kalimat yang terdapat seratus kebohongan. Lalu kalimat yang satu tersebut diekspos kemana-mana, namun tidak mengekspos kebohongannya yang begitu banyak.

Dalam hadits yang lain Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاسٌ عَنْ الْكُهَّانِ فَقَالَ لَيْسَ بِشَيْءٍ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَا أَحْيَانًا بِشَيْءٍ فَيَكُونُ حَقًّا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِلْكَ الْكَلِمَةُ مِنْ الْحَقِّ يَخْطَفُهَا مِنْ الْجِنِّيِّ فَيَقُرُّهَا فِي أُذُنِ وَلِيِّهِ فَيَخْلِطُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ -رواه البخاري

Diriwayatkan oleh Aisyah Radhiyallahu anha, saat para sahabat bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dukun. Jawab beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Tidak perlu percaya,” lalu sahabat bertanya lagi: “Wahai, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sesungguhnya mereka kadang-kadang memberitahu kita sesuatu yang benar terbukti?” Jawab Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Itu adalah sebuah kalimat yang benar yang dicuri oleh Jin, lalu ia bisikkan ke telinga pembantunya (dukun), kemudian ia campur dengan seratus kebohongan”.[8]

Dalam lafazh yang lain berbunyi:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا سَمِعَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَنْزِلُ فِي الْعَنَانِ وَهُوَ السَّحَابُ فَتَذْكُرُ الْأَمْرَ قُضِيَ فِي السَّمَاءِ فَتَسْتَرِقُ الشَّيَاطِينُ السَّمْعَ فَتَسْمَعُهُ فَتُوحِيهِ إِلَى الْكُهَّانِ فَيَكْذِبُونَ مَعَهَا مِائَةَ كَذْبَةٍ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ- رواه البخاري

Dari Aisyah Radhiyallahu anha, bahwa ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya malaikat turun ke awan, mereka menceritakan tentang urusan yang telah diputuskan Allâh di langit. Kemudian setan-setan mencuri dengar lalu mereka mendengar urusan tersebut, setelah itu mereka sampaikan kepada para dukun. Mereka mencampurinya dengan seratus kebohongan dari diri mereka sendiri”.[9]

Dalam hadits ini juga terdapat penjelasan bahwa yang dikatakan sang dukun bisa saja terbukti, namun bila dibanding dengan kebohongannya sungguh lebih banyak, yaitu satu berbanding seratus. Adapun kebenaran yang pernah terbukti dalam perkataan dukun tidak bisa dijadikan alasan untuk menerima dan mempercayai semua berita yang dikatakannya. Karena kalau semua perkataannya bohong pasti tidak ada yang percaya dukun. Beginilah cara setan melakukan tipu dayanya untuk menyesatkan manusia. Yaitu dengan menyamarkan antara yang hak dengan yang batil, antara yang benar dengan yang salah.

PERDUKUNAN DAHULU DAN SEKARANG
Berikut ini penjelasan sekilas tentang sisi-sisi kesamaan dan perbedaan antara dukun zaman dulu dan zaman moderen sekarang ini.

Perdukunan Zaman Dulu
Pada zaman dulu para dukun lebih banyak beroperasi di daerah pedalaman yang minim ilmu pengetahuan serta kurangnya pusat pelayanan kesehatan masyarakat. Umumnya masyarakat yang mendatangi dukun adalah golongan yang tidak berilmu dan bertempat tinggal jauh dari pusat pelayanan kesehatan medis atau kurangnya biaya untuk berobat ke pusat kesehatan. Tujuan mendatangi dukun terbatas pada urusan tertentu saja, seperti berobat atau minta ilmu tangkal dan pelet.

Dukun pada zaman dulu amat mudah dikenal oleh masyarakat melalui penampilannya secara fisik atau zhahir. Mereka tidak telalu antusias untuk mendapatkan harta dari para pasiennya. Pemberian atau imbalan yang mereka terima sangat sederhana. Bahkan kadangkala hanya menerima sebatang rokok atau uang sekedarnya tanpa ada tarif tertentu.

Dukun zaman dulu tidak menjadikan profesi perdukunan sebagai sumber mata pencarian atau penghasilan pokok untuk biaya kehidupan sehari-hari. Disamping itu, mereka sangat memperhatikan norma-norma adat dan nilai-nilai kesusilaan dalam praktek perdukunanya, dan tidak menyamar dalam prateknya sebagai seorang yang shalih.

Perdukunan Zaman Sekarang
Dukun zaman moderen melakukan prakteknya di kota-kota besar, bahkan membuka pusat perdukunannya dengan izin resmi. Ilmu perdukunan mereka didukung oleh ilmu pengetahuan moderen. Para pasienya orang-orang yang berpendidikan dan memiliki kemampuan ekonomi menengah ke atas. Tujuan mendatangi dukun tidak terbatas pada urusan klasik, seperti urusan untuk berobat, akan tetapi lebih meluas lagi hingga ke dalam masalah profesi dan pekerjaan yang sedang mereka geluti. Ada yang mendatangi dukun untuk mendongkrak kepopuleran, untuk menjadi lebih cantik, agar menang dalam pilkada, agar bisa bertahan dalam posisi jabatan yang sedang dipegang, atau naik ke tingkat yang lebih tinggi dan sebagainya.

Dukun zaman moderen amat sulit untuk dikenal sebagai dukun secara fisik maupun zhahirnya, karena bernampilan rapi dan mungkin menaiki kendaraan mewah serta berteman dengan orang-orang terpandang. Dalam prakteknya, dukun zaman moderen menetapkan tarif tertentu, mungkin bisa mencapai jutaan rupiah. Perdukunan pada zaman moderen menjadi sebuah profesi resmi, sebagai sumber mata pencaharian atau penghasilan pokok untuk biaya kehidupan sehari-hari. Para dukun zaman moderen lebih gila dan lebih bejat, tidak lagi memperhatikan norma-norma adat dan nilai-nilai kesusilaan dalam praktek perdukunanya. Mereka kadangkala mencabuli para pasiennya, bahkan mungkin meminta untuk mensetubuhi isteri pasiennya sampai menikahi gadis-gadis tanpa batas. Disamping itu, dalam prakteknya mereka menyamar sebagai seorang yang shâlih, dan mungkin mengaku sebagai seorang wali, habib atau mengaku keturunan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

HUKUM PERDUKUNAN DALAM ISLAM
Berikut ini beberapa dalil yang menjelaskan tentang hukum perdukunan dalam Islam. Perdukunan bukanlah sesuatu yang baru dalam kehidupan manusia, ia sudah ada jauh sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyanggah tuduhan orang-orang kafir Quraisy terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

فَذَكِّرْ فَمَا أَنْتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ

Maka tetaplah memberi peringatan, dengan sebab nikmat Rabb-mu engkau bukanlah seorang dukun dan bukan pula seorang gila. [ath-Thûr/52:29].

Dalam ayat ini Allâh Subhanahu wa Ta’ala membantah tuduhan bohong kaum musyrikin terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa ia seorang dukun (tukang tenung) atau orang gila. Karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada mereka tentang hal-hal yang akan datang pada hari kiamat melalui perantaraan wahyu yang diwahyukan Allâh Azza wa Jalla kepadanya. Mereka ingin menyamakan antara seorang nabi dengan seorang dukun yang suka meramal kejadian-kejadian yang akan datang, sebagai alasan untuk menolak ajaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Dari ayat di atas juga dapat ditarik kesimpulan bahwa orang yang memberitakan kabar yang akan datang itu ada tiga jenis.

Pertama, seorang nabi yang mendapat wahyu dari Allâh Azza wa Jalla , sebagaimana Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ

Demikianlah dari berita-berita ghaib yang Kami (Allâh) wahyukan kepadamu. [Ali Imran/3:44].

Kedua, dukun, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas tentang hakikatnya.
Ketiga, orang gila yang berbicara di luar kesadaran.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menperingatkan umatnya untuk tidak mendatangi dan mempercayai dukun ataupun membuka praktek perdukunan. Berikut ini beberapa hadits berkenaan dengan hal tersebut.

1. Larangan tentang mendatangi dukun.
Telah ditegaskan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِىِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أُمُورًا كُنَّا نَصْنَعُهَا فِى الْجَاهِلِيَّةِ كُنَّا نَأْتِى الْكُهَّانَ. قَالَ «فَلاَ تَأْتُوا الْكُهَّانَ». رواه مسلم

Dari Mu’awiyah bin Hakam Radhiyallahu anhu, ia berkata kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Ada beberapa hal yang biasa kami lakukan pada masa jahiliyah, kami terbiasa datang ke dukun?” Jawab Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Jangan kalian datang ke dukun”.[10].

2. Larangan bertanya kepada dukun.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِىِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ « مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ». رواه مسلم

Diriwayatkan lagi oleh sebagian isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa yang mendatangi tukang tenung untuk bertanya tentang sesuatu, maka tidak diterima darinya shalat selama empat puluh malam”.[11]

Dalam hadits ini dijelaskan tentang besarnya dosa mendatangi dukun untuk sekedar bertanya tentang sesuatu, menyebabkan pahala amalan shalatnya selama empat puluh malam atau hari hilang. Ini menunjukkan betapa besar dosa mendatangi dukun.

3. Larangan mempercayai dukun.
Dalam sebuah hadits dijelaskan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -رواه أبو داود والترمذي وابن ماجه

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mendatangi dukun lalu mempercayainya, sungguh ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam “.[12]

Dalam hadits di atas Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membedakan antara hukum mendatangi dukun dengan hukum mempercayainya. Hukum mendatangi dukun berisiko tidak diterima shalat bagi pelakunya selama empat puluh hari. Adapun hukum mempercayai perkataan dukun tentang hal yang ghaib berisiko membuat seseorang tersebut telah terjatuh kepada perbuatan kufur, meskipun Ulama berbeda pendapat tentang maksud kata kufur tersebut. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah kufur akbar (besar). Namun sebagian mereka berpendapat bahwa yang dimaksud adalah kufur asghar (kecil). Sebagian lagi lebih memilih tidak merinci kepada akbar maupun asghar, karena konteksnya berbicara tentang ancaman.[13]

Sebahagian Ulama mengomentari tentang ancaman yang terdapat dalam hadits di atas.[14 Jika demikian ancaman bagi orang yang mendatangi dan mempercayai dukun, bagaimana dengan si dukun itu sendiri ? Tentu ancaman dan adzabnya lebih berat lagi.

4. Larangan meminta perdukunan dan membuka praktek perdukunan.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ليس منَّا من تَكَهَّنَ أو تُكُهِّنَ له رواه الطبراني وصححه الألباني في “السلسلة الصحيحة”

Bukanlah termasuk golongan kami orang yang mencari perdukunan atau melakukan perdukunan.[15]

Sangat jelas dalam hadits ini Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang yang meminta bantuan dukun atau memberi bantuan perdukunan.

5. Hukum harta hasil perdukunan.
Berikut ini hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan tentang hukum harta yang diperoleh melalui praktek perdukunan :

عَنْ أَبِى مَسْعُودٍ الأَنْصَارِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ الْبَغِىِّ وَحُلْوَانِ الْكَاهِنِ متفق عليه

Dari Abu Mas’ud Radhiyallahu anhu , bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang (memakan) hasil jual anjing, upah pelacur dan upah dukun”.[16]

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan,[17] “Ketahuilah bahwa perdukunan, mendatangi dukun, mempelajari perdukunan, ilmu nujum, meramal dengan pasir, gandum dan batu kerikil, termasuk mengajarkan semua hal ini adalah haram dan mengambil upah atasnya juga haram berdasarkan dalil yang shahîh”.

Dikisahkan dalam sebuah riwayat bahwa Abu Bakar ash-Shidiq Radhiyallahu anhu pernah diberi makanan oleh hamba sahayanya. Setelah makanan itu ditelan Abu Bakar ash-Shidîq Radhiyallahu anhu, hamba sahaya tersebut bertanya kepadanya, “Tahukah Anda dari mana makanan ini?” Abu Bakar menjawab, “Tidak!” Jawab hamba sahaya, “Dulu semasa jahiliyah aku pernah berpura-pura jadi dukun, lalu ini upahnya,” maka Abu Bakar Radhiyallahu anhu memasukkan anak jarinya ke kerongkongannya hingga ia memuntahkan apa yang ada dalam perutnya.[18]

Adapun sisi-sisi kemungkaran yang dilakukan oleh para dukun, secara ringkas ada tiga jenis.
1. Mengaku mengetahui hal-hal yang ghaib, hal ini adalah syirik dalam tauhid rububiyyah, karena mengaku dapat mengetahui hal-hal yang ghaib. Padahal ini adalah kekhususan bagi Allâh semata, sebagaimana dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah, “Tiada seorang pun di langit maupun di bumi yang dapat mengetahui yang ghaib kecuali Allâh”. [an-Naml/27:65].

2. Bermitra dengan jin atau setan. Kerjasama ini memiliki konsekwensi agar seseorang tersebut memberikan sebagian ketaatan kepada jin atau setan. Hal ini adalah syirik dalam tauhid ulûhiyyah.

3. Telah berbuat kebohongan di tengah-tengah masyarakat dan memakan harta mereka dengan cara batil atau haram.

BAGAIMANA CARA MENANGKAL PERDUKUNAN?
Tidak diragukan lagi bahwa cara paling ampuh untuk menangkal perdukunan adalah dengan banyak berdzikir kepada Allâh Azza wa Jalla . Terutama do’a dan dzikir yang diajarkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kita baca pada pagi dan sore hari. Demikian pula dzikir dan do’a yang berhubungan dengan berbagai aktifitas sehari-hari.

Berikut ini beberapa dalil yang menerangkan keutamaan beberapa dzikir yang dapat menangkal perdukunan atau gangguan setan.

1. Membaca ayat Kursy pada pagi dan sore, setiap selesai sholat fardhu dan saat akan tidur.
Hal ini dijelaskan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa hadits. Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhâri dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu tentang kisah ketika Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ditugaskan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menjaga zakat fitrah. Di akhir kisah tersebut setan membongkar rahasia yang dapat menyelamatkan seorang Muslim dari gangguannya, yaitu membaca ayat Kursy saat akan tidur. Lalu Abu Hurairah Radhiyallahu anhu memberitahu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal tersebut.

فَقَالَ : إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِيِّ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنْ اللَّهِ حَافِظٌ وَلَا يَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ وَكَانُوا أَحْرَصَ شَيْءٍ عَلَى الْخَيْرِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ – رواه البخاري

Setan berkata: “Bila kamu mau berbaring di tempat tidurmu, maka bacalah ayat Kursy, niscaya engkau senantiasa akan dijaga oleh Allâh dan engkau tidak akan didekati oleh setan sampai pagi hari!” Jawab Rasûlullûh Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Ia telah jujur padamu (tentang hal tersebut), dan ia (pada hakikatnya) adalah pembohong yang ulung, ia itu setan”.[19]

2. Membaca بسم الله ketika membuka pakaian dan ketika mau masuk WC.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan, apabila kita membuka pakaian saat akan mandi atau untuk berganti pakaian atau dan sebagainya, hendaklah kita membaca: بسم الله . Barangsiapa yang membaca بسم الله saat membuka pakaiannya sesungguhnya setan tidak akan bisa melihat auratnya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbada :

سِتْرُمَا بَيْنَ أَعْيُنِ الجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ – إِذَا دَخَلَ أَحدُهُمُ الْخَلاَءَ – أَنْ يَقُوْلَ : بِسْمِ اللهِ
رواه الترمذي وصححه الألباني

Penghalang antara pandangan jin dengan aurat bani Adam adalah apabila salah seorang kalian akan masuk WC, ia membaca بسم الله .[20]

3. Membaca do’a ketika masuk WC.
Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila akan memasuki WC beliau membaca:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبْثِ وَالْخَبَائِثِ

Ya Allâh, lindungilah aku dari gangguan jin laki-laki dan jin wanita.[21]

Tidakkah selayaknya kita mencontoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , meskipun beliau hamba yang ma’shûm dan terjaga dari sisi Allâh, akan tetapi beliau tetap memohon lindungan Allâh dari gangguan setan/Jin.

4. Membaca do’a saat akan berhubungan suami isteri.
Begitu sempurnanya agama Islam sampai adab berhubungan suami-isteri mendapat perhatian dan tuntunan pula. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya ketika mereka akan menggauli isteri hendaklah membaca :

«بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِى ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا». متفق عليه

“Dengan nama Allâh, ya Allâh jauhkanlah setan dari kami dan dari rizki yang engkau berikan kepada kami,” jika ditakdirka antara keduanya mendapat anak saat itu, niscaya ia tidak akan diganggu setan selamanya.[22]

5. Menghiasi rumah dengan sering membaca surat al-Baqarah di dalamnya.
Banyak rumah kita bangunannya mentereng tetapi tidak merasa nyaman dan tenteram di dalamnya. Bahkan terkadang terdapat hal-hal yang menakutkan bagi penghuninya. Mengapa begitu? Karena kebanyakan rumah kita dihiasi dengan hiasan yang merangsang untuk kedatangan makhluk halus, seperti foto dan patung. Dan yang lebih fatal lagi para penghuni jarang melakukan shalat-shalat sunnah dan membaca al-Qur`ân di dalamnya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ «لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ». رواه مسلم

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat al-Baqarah”.[23]

6. Membaca do’a ketika masuk rumah.
Disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbada:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّه رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِىَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ لاَ مَبِيتَ لَكُمْ وَلاَ عَشَاءَ. وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ. وَإِذَا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمُ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ- رواه مسلم

Dari Jabir bin Abdillâh Radhiyallahu anhuma, ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seseorang memasuki rumahnya menyebut nama Allâh ketika saat masuknya dan ketika saat akan menyantap hidangannya, maka Setan berkata: ‘Tidak ada jatah tempat tinggal untuk kalian dan tidak pula jatah makan’. Apabila ia masuk tanpa menyebut nama Allâh saat ketika masuk, Setan berkata: ‘Kalian mendapat jatah tempat tinggal’. Dan apabila ia tidak menyebut nama Allâh lagi ketika saat menyantap hidangannya, Setan berkata: ‘Kalian mendapat jatah tempat tinggal dan jatah makan’.”[24]

7. Membaca do’a ketika singgah di sebuah tempat atau memasuki daerah baru.
Diriwayatkan dari Khaulah binti Hukim, ia berkata: Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang singgah di sebuah tempat, kemudian ia membaca:

«أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. لَمْ يَضُرُّهُ شَىْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ ». رواه مسلم

Aku memohon lindungan Allâh dari kejahatan makhluk yang telah diciptakan-Nya, maka tidak satupun yang akan membahayakannya sampai ia meninggalkan tempat tersebut”[25].

Dan masih banyak lagi do’a dan dzikir-dzikir yang dapat menghindarkan kita dari gangguan setan/Jin. Para ulama, banyak yang sudah mengumpulkan do’a dan dzikir-dzikir tersebut ke dalam satu kitab kumpulan do’a dan dzikir, dan mudah dicari di toko-toko buku. Tetapi perlu berhati-hati dalam memilih buku-buku do’a yang beredar di pasaran, sebab tidak sedikit pula buku-buku do’a yang dijual penuh dengan hadits-hadits palsu dan dhaif. Dianatara buku do’a yang ringkas, disusun dengan sistematis serta sesuai dengan Sunnah, dan harganya pun sangat terjangkau, yaitu buku do’a Hisnul-Muslim, disusun oleh Syaikh Sa’id bin Ali al-Qahthany. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan dicetak oleh banyak percetakan. Penulis sangat mengajurkan para pembaca untuk memilki dan menghafalnya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XVII/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Lihat I’ânatul-Mustafîd, Fauzan, hlm. (2/171).
[2]. Ibid.
[3]. Lihat Syarah as-Sunnah, 12/182.
[4]. Lihat al-Fatâwâ al-Kubrâ, 1/63.
[5]. Ibid.
[6]. Lihat Syarah Thahâwiyah, 703.
[7]. HR al-Bukhâri, 4/1804 (4522).
[8]. HR al-Bukhâri, 5/2173 (5429).
[9]. HR al-Bukhâri, 3/1175 (3038).
[10]. HR Muslim, 7/35 (5949).
[11]. HR Muslim, 7/37 (5957).
[12]. HR Abu Dawud, no. (3004), Tirmidzi, no. (135), Ibnu Mâjah, no. (639).
[13]. Lihat Syarah Thahâwiyah, Shâlih Alu Syaikh, 704.
[14]. Ibid.
[15]. HR Thabrani, al-Mu’jam al-Kabîr, 18/162 (355); al-Mu’jam al-Awsath, 4/302 (4262).
[16]. HR al-Bukhâri, 5/2172 (5428); Muslim, 5/35 (4092).
[17]. Lihat Raudhah ath-Thâlibîn, 9/346.
[18]. Lihat Shahîh al-Bukhâri, 3/1395 (3629).
[19]. Lihat Shahîh al-Bukhâri, 3/1194 (3101).
[20]. Lihat Sunan Tirmidzi, 2/503 (606).
[21]. HR al-Bukhâri, 1/66 (142); Muslim, 1/195 (857).
[22]. HR al-Bukhâri, 5/2347 (6025); Muslim, 4/155 (3606).
[23]. HR Muslim, 2/188 (1860).
[24]. HR Muslim, 6/108 (5381).
[25]. HR Muslim, 8/76 (7053).

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 23 Februari 2016

Print Friendly