Sifat Tamak Manusia

Renungan Ramadhan Hari ke-7

Sifat Tamak Manusia

Kalau anda yang sudah punya smartphone, lalu ada ang menghadiahkan sebuah smartphone, apakah anda akan menerimanya dengan senag hati, ataukah anda menolak dan menyarankan agar diserahkan untuk orang lain yang lebih membutuhkan??

Sudah bisa dipastikan jawaban anda, pasti akan menerimanya. Bahkan, kalau bisa, akan meminta tambahannya.

Para penuntut ilmu juga mempunya sifat demikian. Mereka akan senang mendapatkan pembagian kitab gratis, walaupun kitab yang dibagi itu sudah dia miliki.

Terlebih lagi bila yang dibagikan adalah uang. Pasti orang yang sudah punya duit pun akan ikut berebutan.

Itulah sifat asli manusia. Tamak pada harta. Ingin mendapatkan harta lebih, tapi berat untuk mengeluarkan harta yang sudah masuk dalam pundinya.

Rasulullah bersabda: “Bila seorang manusia punya dua lembah penuh berisikan emas, maka ia pasti mengharapkan punya lagi lembah ketiga. Hanya tanahlah yang cukup untuk menyambat mulut dia” (HR. Tirmizi)

Punya satu gudang harta belum merasa cukup, ingin punya dua gudang. Sudah punya dua, pasti ingin punya tiga gudang. Dan begitulah seterusnya. Karena ia merasa bisa memilki gudang pertama, maka ia merasa pasti akan berhasil memperoleh gudang berikutnya.

Hanya kematianlah yang akan menghentikan keinginannya, yaitu ketika tanah sudah memenuhi mulut dan perutnya.

Kalau rasa tamak manusia dibiarkan berkembang, maka pasti tidak ada habisnya. Walaupun kapasitas/kemampuan dirinya tidak akan sanggup menampung semua rasa tamaknya.

Inilah yang diingatkan oleh Rasulullah. Yaitu, pintar-pintar menimbang antara ambisi (rasa tamak) dengan kemampuan atau kapasitas diri.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

Manusia selalu akan berharap dan meminta harta, namun tidak ada yang bisa dimiliki dari harta tersebut kecuali, harta yang sudah habis dimakannya; pakaian yang dipakainya sampai kumal; dan harta yang disedekahkannya, dan sedekah itulah harta yang akan kekal sebagai pahalanya di akhirat” (HR. Muslim)

Sebanyak apapun makanan yang mampu kita beli, manya beberapa suap yang mampu kita telan; sebanyak apapun pakaian kita di lemari, hanya sepasang yang bisa kita kenakan, tidak bisa kita pakai seluruhnya di satu waktu; sebanyak apapun kendaraan kita, hanya satu saja yagn bisa kita kendarai di satu waktu.

Kalau itu kemampuan kita, berarti kita kemanakan harta yang lebih itu??

Sedekahkan, itulah jawabannya. Dan sedekah itulah yang akan menjadi harta kita di akhirat kelak. Sedangkan yang kita makan dan pakai di dunia, semua akan hancur dan kumal.

Ketahuilah, harta paling banyak yang dimiliki seseorang adalah “rasa cukup”. Akan tetapi, hanya orang-orang “langka” yang memilki “harta” ini. yaitu, mereka yang merasa sudah cukup sehingga berani menolak pemberian untuk dirinya, bahkan meminta agar dialihkan ke orang lain saja.

Di antara orang langka tersebut adalah umar bin Khattab. Ketika beliau mendapatkan pemberian harta dari Rasulullah, beliau berkata: “Ya Rasulullah, berikan saja pada orang yang lebih miskin dari diriku”.

Antara ambisi dan kemampuan, di bulan Ramadhan

Di siang hari di bulan Ramadhan, rasanya seember kolak akan bisa dihabiskan; seceret  es teh mampu untuk ditenggak.

Akan tetapi, bila saat berbuka tiba, berapa gelaskah minuman yang sanggup kita minum??

Berapa suap makanan yang muat di perut kita??

Kemanakah ambisi kita yang menggebu-gebu tadi siang??

Silahkan kita sendiri mencari jawaban agar bisa menimbang antara ambisi dan kemampuan diri kita sendiri.

Penulis: Ustadz Muhammad Yassir, Lc (Dosen STDI Imam Syafi’i Jember)

. . -.

———-

Sumber: www.pengusahamuslim.com – Sabtu, 5 Juli 2014

Print Friendly