Muhammad bin al-Qashim Penakluk India

Ketika Rasulullah berdakwah di Thaif, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diusir oleh kabilah Tsaqif yang mendiami wilayah Thaif tersebut. Lalu datanglah Malaikat Jibril yang mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu dan penolakan mereka terhadapmu. Dan Allah ‘Azza wa Jalla telah mengirimkan malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan melakukan apa saja yang engkau mau atas mereka’. Malaikat (penjaga) gunung menyapa Rasulullah dan mengucapkan salam lalu berkata, ‘Wahai Muhammad! Jika engkau mau, aku bisa menimpakan Akhsabain’.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “(Tidak) namun aku berharap supaya Allah ‘Azza wa Jalla melahirkan dari anak keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun juga”. (HR Imam al-Bukhari dan Imam Muslim).

Kurang lebih satu abad kemudian, salah seorang putra dari bani Tsaqif membuat orang-orang India terkagum-kagum dengan agama yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Putra bani Tsaqif tersebut adalah Muhammad bin al-Qashim ats-Tsaqafi.

Kelahiran Muhammad bin al-Qashim

Muhammad bin al-Qashim dilahirkan di Thaif pada tahun 72 H, kakeknya Muhammad bin al-Hakam adalah pembesar bani Tsaqif. Pada tahun 75 H, Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi diangkat oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan menjadi gubernur Irak, Hajjaj pun mengangkat pamannya al-Qashim, ayah dari Muhammad bin al-Qashim, menjadi wali di wilayah Bashrah. Akhirnya Muhammad yang kala itu baru berumur 3 tahun turut pindah bersama ayahnya dari Thaif (sebuah kota di dekat Mekah) menuju Bashrah di Irak.

Hajjaj yang terkenal dengan pemimpin yang menaruh perhatian sangat besar dalam kekuatan militer dan ekspansi, mempengaruhi jiwa sepupunya Muhammad bin al-Qashim. Muhammad tumbuh dalam lingkungan militer, ia berlatih menunggang kuda sejak kecil, dan turut serta dalam latihan-latihan bela diri dan peperangan, sampai akhirnya ia menjadi seorang panglima perang umat Islam.

Karakter Muhammad bin al-Qashim

Sebagaimana yang terjadi di dunia militer modern, seorang panglima memiliki leadership, keberanian, pemikiran yang matang, dan sifat-sifat lainnya yang membantunya membuat keputusan cepat dan tepat terutama saat berada di medan perang, Muhammad bin al-Qashim juga dianugerahi sifat-sifat demikian. Bisa jadi sifat-sifat ini muncul karena lingkungan masa kecilnya yang menempa dirinya. Terbukti pada usia 17 tahun ia dipilih oleh Hajjaj bin Yusuf memimpin pasukan besar menuju India.

Hajjaj bin Yusuf pernah menasihatinya agar berbuat baik terhadap musuh, memahami dan mengasihi mereka. Namun yang terpenting kata Hajjaj, tunjukkanlah keberanianmu bahwa engkau tidak takut peperangan dan kematian.

Di antara kebiasaan Muhammad al-Qashim adalah ia pasti membangun masjid di setiap daerah-daerah yang ia taklukkan. Menurutnya masjid sebagai simbol eksistensi ajaran Islam dan penyebaran keilmuan dan kebudayaan Islam.

Menaklukkan India

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa Islam tidak menyebarkan ajarannya dengan pedang, akan tetapi ada latar belakang yang menjadi alasan mengapa ekspansi itu dilakukan. Pada tahun 90 H, 12 kapal laut yang memuat barang-barang dagangan, pedagang, dan wanita muslimah ditangkap oleh perompak di wilayah Sindh (Pakistan). Hajjaj bin Yusuf pun menyiapkan pasukan untuk membebaskan umat Islam dari tawanan bajak laut Hindustan ini.

Hajjaj mengutus Abdullah bin Nahban, namun ia gugur dalam misi ini. Kemudian pemberangkatan kedua dipimpin oleh Budail bin Thahfah al-Bajali, Budail pun mengalami nasib serupa dengan Abdullah bin Nahban. Hajjaj pun marah besar setelah melihat pasukan-pasukannya dikalahkan oleh orang-orang Sindh, ia bersumpah untuk menaklukkan negeri ini dan berjanji agar umat Islam bisa memasuki pusat kota negeri tersebut.

Setelah Hajjaj berdiskusi dengan Khalifah al-Walid bin Abdul Malik, terpilihlah Muhammad bin al-Qashim sebagai panglima perang dalam ekspansi menuju India. Hajjaj memandang, Muhammad bin al-Qashim memiliki keberanian, berjiwa komando, dan memiliki keteguhan hati.

Muhammad bin al-Qashim segera membekali pasukannya dengan alat-alat perang, termasuk alat berat seperti manjanik. Setelah persiapan di rasa cukup, berangkatlah Muhammad bin al-Qashim bersama 20.000 pasukan terbaik menuju India, pemberangkatan pasukan ini terjadi pada tahun 90 H.

Sepanjang perjalanan menuju India, kota demi kota berhasil ditaklukkan oleh Muhammad bin al-Qashim beserta pasukannya. Setelah menempuh perjalanan selama dua tahun, akhirnya Muhammad bin al-Qashim memasuki wilayah Sindh. Ia langsung memerintahkan pasukannya untuk menggali parit besar dan bersiap-siap untuk menghadapi peperangan dengan pasukan Sindh yang dipimpin oleh Raja Dahir Sen.

Peperangan dahsyat pun terjadi antara kedua pasukan besar ini. Namun, orang-orang Sindh tidak bisa menyamakan Muhammad bin al-Qashim dan pasukannya dengan dua pasukan terdahulu. Selain memiliki jenderal perang yang tangguh, perbekalan materi dan jumlah pasukan Islam kali ini memadai untuk meruntuhkan kesombongan para penyembah berhala ini. Pasukan Sindh berhasil ditaklukkan dan Raja Dahir Sen tewas di medan pertempuran. Ibu kota Sindh jatuh ke tangan umat Islam.

Muhammad bin al-Qashim meneruskan ekspansi militernya ke wilayah-wilayah Sindh yang lain demi membersihkan berhala-berhala dari negeri tersebut. Wilayah Sind mulai dari Dibal hingga Punjab berhasil ditaklukkan oleh Muhammad bin al-Qashim dan pasukannya. Penaklukkan ini berakhir pada tahun 96 H. Setelah itu, umat Islam menyibukkan diri mereka dengan mendakwahi para penyembah berhala ini. Rakyat Sindh begitu antusias dengan ajaran Islam, mereka begitu tertarik dengan prinsip persamaan yang tidak mereka dapati pada ajaran Hindu. Demikian juga orang-orang Budha yang sebelumnya direndahkan oleh orang-orang Hindu mendapatkan hak yang sama seperti masyarakat Sindh lainnya. Tersebarlah cahaya Islam di tanah Hindustan dan berdirilah kerajaan Islam di tanah Sindh (Pakistan).

Wafatnya

Kematian Muhammad bin al-Qashim adalah suatu peristiwa yang sangat menyedihkan, apalagi wafatnya ini bukanlah tewas di medan peperangan sebagaimana para pejuang lainnya, akan tetapi korban dari sebuah kedengkian. Ia difitnah dianggap terlibat dalam skandal politik yang terjadi antara Hajjaj bin Yusuf dengan Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik.

Ia pun dijebloskan ke penjara Irak dan mengalami berbagai siksaan, sampai akhirnya ia wafat di penjara pada tahun 95 H. Tidak hanya orang Arab yang menangisi kepergiannya, umat Islam di Sindh sangat terpukul mendengar kepergiannya, demikian juga orang-orang Budha dan Hindu turut berduka karena kehilangan sosok pemimpin yang mereka cintai. Orang-orang India (non muslim) menggambar sosok Muhammad bin al-Qashim di dinding-dinding mereka untuk mengenang sang pahlawan.

Muhammad bin al-Qashim wafat di usia yang masih sangat beliau, belum genap menginjak 24 tahun. Dan sampai sekarang Islam di Pakistan tetap tersebar buah dari dakwahnya. Semoga Allah merahmati Muhammad bin al-Qashim.

Note: Dulu Pakistan masih di wilayah India

Disarikan dari tulisan Dr. Imad Ajwah

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel

———-
Sumber: Kisah Muslim – www.kisahmuslim.com / Sabtu, 5 April 2014

Print Friendly