Syari’at Adalah Amanah

SYARI’AT ADALAH AMANAH

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا﴿٧٢﴾لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh. Sehingga Allâh mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allâh menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. dan adalah Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-Ahzâb/33: 72-73]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung. [Al-Ahzâb/33:72]

TAFSIR AYAT:
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Allâh Azza wa Jalla mengagungkan urusan amanah yang telah Dia bebankan kepada para mukallaf (orang-orang yang berakal dan sudah dewasa). Amanah tersebut adalah melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya dalam keadaan rahasia dan sepi sebagaimana dia melaksanakannya dalam keadaan bersama orang banyak. Dan Allâh Azza wa Jalla telah menawarkan amanah itu kepada makhluk-makhluk yang besar, langit, bumi, dan gunung. Penawaran ini adalah penawaran untuk memilih, bukan penawaran untuk mengharuskan. Yaitu ‘jika kamu melaksanakan dengan sebaik-baiknya, maka kamu akan mendapatkan pahala, namun jika kamu tidak melaksanakannya, maka kamu akan mendapatkan hukuman’. [Tafsir Taisîr Karîmir Rahmân fi Tafsîril Kalâmin Mannân, 1/673]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا

tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya. [Al-Ahzâb/33: 72]

TAFSIR AYAT:
Syaikh Muhammad asy-Syinqithi rahimahullah berkata, “Allâh Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam ayat yang mulia ini bahwa Allâh Azza wa Jalla telah menawarkan amanah, yaitu beban-beban agama yang diiringi dengan pahala dan hukuman, kepada langit, bumi, dan gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya. Mereka khawatir, mereka takut dari akibat memikulnya, karena hal itu akan menyebabkan siksa dan murka Allâh kepada mereka. Penawaran (dari Allâh Azza wa Jalla ) , dan kengganan serta kekhawatiran (makhluk-makhluk tersebut), semuanya haq (benar-benar terjadi-pen). Karena sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah menciptakan pemahaman bagi langit, bumi, dan gunung, dengan ilmu-Nya, walaupun kita tidak mengetahuinya. Dengan pemahaman tersebut makhluk-makhluk itu memahami penawaran amanah kepada mereka, mereka enggan dan takut. (Pemahaman makhluk) seperti ini ditunjukkan oleh ayat-ayat dan hadits-hadits yang banyak. Di antara ayat-ayat yang menunjukkan adanya pemahaman yang dimiliki oleh benda-benda mati adalah:

Firman Allâh Azza wa Jalla di dalam surat al-Baqarah tentang batu:

وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ

Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allâh. [Al-Baqarah/2: 74]

Allâh Azza wa Jalla menyatakan dengan gamblang bahwa diantara batu-batu itu sungguh ada yang meluncur jatuh karena takut kepada Allâh Azza wa Jalla . Rasa takut yang Allâh Azza wa Jalla nisbatkan kepada sebagian batu-batu adalah dengan sebab pemahaman (pada batu) yang diketahui oleh Allâh Azza wa Jalla .

Termasuk firman Allâh Azza wa Jalla :

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚ وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allâh. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. [Al-Isra’/17: 44]

Termasuk firman Allâh Azza wa Jalla :

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ ۚ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ ۚ وَكُنَّا فَاعِلِينَ

Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud dan Kamilah yang melakukannya. [Al-Anbiyâ’/21: 79]

Dan ayat-ayat lainnya. Adapun hadits-hadits shahih yang menunjukkan hal tersebut antara lain:
Kisah tangisan kayu, yang biasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah padanya kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya dan berkhutbah di atas mimbar. Kisah ini diriwayatkan dalam Shahîh al-Bukhâri.

Juga hadits shahih riwayat Muslim, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّى لأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَىَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ إِنِّى لأَعْرِفُهُ الآنَ

Sesungguhnya sekarang aku mengerti sebuah batu di kota Makkah yang dahulu mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus sebagai Rasul. Sekarang aku mengerti. [HR. Muslim, no. 2277. Lafazh ini mengikuti lafazh di dalam Shahîh Muslim-pen]

Dan hadits-hadits semisal ini banyak. Semua yang disebutkan dalam al-Kitab dan as-Sunnah (tentang pemahaman yang dimiliki benda-benda mati-pen) adalah dengan pemahaman yang diketahui oleh Allâh Azza wa Jalla , sedangkan kita tidak mengetahuinya, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ

Tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. [Al-Isra’/17: 44]

Seandainya yang dimaksud dengan tasbihnya benda-benda mati adalah pemberian petunjuk kepadanya untuk mengenal Penciptanya, tentulah kita memahaminya, sebagaimana hal itu telah difahami dan ditunjukkan oleh ayat-ayat yang banyak”. [Tafsîr Adh-wâul Bayân fi Tafsîril Qur’ân bil Qur’ân, 6/362]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ

dan dipikullah amanat itu oleh manusia. [Al-Ahzâb/33: 72]

TAFSIR AYAT:
Syaikh Muhammad asy-Syinqithi rahimahullah ,“Secara zhahir bahwa yang dimaksud dengan ‘manusia’ (di dalam ayat ini) adalah (Nabi) Adam Alaihissallam ”. [Tafsîr Adh-wâul Bayân fi Tafsîril Qur’ân bil Qur’ân, 6/362]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya dia (manusia) itu amat zalim dan amat bodoh [Al-Ahzâb/33:72]

TAFSIR AYAT:
Syaikh Muhammad asy-Syinqithi t berkata, “Kata ganti dalam firmanNya ‘Sesungguhnya dia (manusia) itu amat zhalim dan amat bodoh’ kembali kepada lafazh ‘manusia’ tanpa kehendak yang disebutkan, yaitu Nabi Adam q . Maknanya: bahwa manusia mana saja yang tidak menjaga amanah dia amat zalim dan amat bodoh, yaitu banyak kezhaliman dan kebodohan.

Dalil terhadap hal ini dua perkara:
Pertama: Isyarat dari al-Qur’ân yang menunjukkan terbaginya manusia dalam mengemban amanah yang disebutkan menjadi: (manusia) yang disiksa dan dirahmati, yaitu dalam firman Allâh Azza wa Jalla setelahnya:

لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Sehingga Allâh mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allâh menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. dan adalah Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-Ahzâb/33:73]

Ini menunjukkan bahwa manusia yang amat zhalim dan amat bodoh itu adalah manusia yang disiksa, -wal-iyadzu billah- yaitu orang-orang munafik, laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan, bukan orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan.

Huruf lam dalam firman Allâh ‘liyu’adziba’ (sehingga Allâh Azza wa Jalla mengazab), adalah huruf lam ta’lil (yang menjelaskan sebab) yang berkaitan dengan ‘dan dipikullah amanat itu oleh manusia’.

Kedua: Bahwa metode yang telah disebutkan, yaitu kembalinya dhamir (kata ganti) kepada lafazh semata, tanpa makna rincinya, telah dikenal dalam bahasa Arab yang al-Qur’an turun dengan bahasa Arab. [Tafsîr Adh-wâul Bayân fi Tafsîril Qur’ân bil Qur’ân, 6/362]

Firman Allâh Azza wa Jalla :

لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Sehingga Allâh mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allâh menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

TASIR AYAT:
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah (1/673) berkata, “Terkait manusia yang melaksakan amanah dan tidak, mereka terbagi menjadi 3 bagian:
1. Orang-orang munafik. Mereka menampakkan bahwa mereka melaksanakan amanah secara lahir dan batin.
2. Orang-orang musyrikin. Mereka meninggalkan amanah secara lahir dan batin.
3. Orang-orang Mukmin. Mereka melaksanakan amanah secara lahir dan batin.

Allâh Azza wa Jalla menyebutkan perbuatan-perbuatan tiga golongan manusia ini dan pahala serta siksa yang mereka dapatkan. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

لِيُعَذِّبَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Sehingga Allâh mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allâh menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. dan adalah Allâh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-Ahzâb/33: 73]

Maka segala puji milik Allâh Azza wa Jalla , yang mana Dia menutup ayat ini dengan dua nama-Nya yang mulia, yang menunjukkan kesempurnaan ampunan Allâh Azza wa Jalla dan keluasan rahmat-Nya, serta kemurahan-Nya. Padahal kebanyakan manusia tidak berhak mendapatkan ampunan dan rahmat, karena kemunafikannya dan kemusyrikannya”.

FAEDAH-FAEDAH AYAT
1. Keagungan urusan amanah yang telah Allâh Azza wa Jalla bebankan kepada para mukallaf (orang-orang yang berakal dan sudah dewasa). Amanah tersebut adalah melaksanakan semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya.

2. Langit, bumi, dan gunung semuanya enggan memikul amanat itu, karena mereka takut siksa dan murka Allâh Azza wa Jalla kepada mereka jika mengkhianati amanat.

3. Sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan pemahaman bagi langit, bumi, dan semua yang ada di dalamnya dengan ilmu-Nya, walaupun kita tidak mengetahuinya.

4. Nabi Adam Alaihissallam sanggup memikul amanat untuk melaksanakan semua perintah Allâh dan menjauhi semua larangan-Nya.

5. Sesungguhnya manusia mana saja itu yang tidak menjaga amanah dia amat zhalim dan amat bodoh, yaitu banyak kezhaliman dan kebodohan.

6. Berkaitan dengan pelaksanaan amanah manusia terbagi menjadi 3 bagian: orang-orang munafik, orang-orang musyrikin, dan orang-orang mukmin.

7. Orang-orang munafik dan orang-orang musyrikin adalah orang-orang yang akan mendapatkan siksa Allâh, karena mereka mengkhianati amanah.

8. Orang-orang mukmin adalah orang-orang yang akan mendapatkan rahmat Allâh, karena mereka melaksanakan amanah.

9. Allâh Maha Pengampun terhadap orang-orang yang bertaubat.

10. Allâh Maha Penyayang dan Maha Murah kepada orang-orang yang beriman.

Al-hamdulillahi Rabbil ‘alamin.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XVIII/1435H/2014. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 25 Februari 2016

Print Friendly