Sabar Dan Kesuksesan

Ada satu pertanyaan yang selalu mengusik banyak orang, yaitu apa kunci kesuksesan itu…? banyak orang merenung untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, sebagian ada yang mendapatkan jawaban dan banyak pula yang gagal untuk mendapatkannya. Mana ada orang yang tidak ingin sukses atau berhasil? Baik dalam kehidupannya di dunia maupun di akhirat, kecuali orang tersebut memang sudah berniat dan berusaha mencari kegagalan bagi dirinya.

Banyak buku-buku yang membicarakan kiat-kiat untuk mendapatkan kesuksesan, baik yang ditulis oleh orang-orang Barat atau oleh orang-orang Arab, muslim atau non muslim, kalau kita mau menelitinya, akan nampak bahwasanya yang namanya kesuksesan itu selalu diawali dengan kerja keras terlebih terdahulu. Jarang –kalau tidak ingin dikatakan tidak ada– orang-orang yang sukses di dunia ini mendapatkan kesuksesannya dengan hanya bersantai-santai, berleha-leha. Patut untuk direnungi pula bahwasaya untuk mendapatkan kebatilan saja orang harus berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya.

Seorang manager terkenal pernah bercerita, bahwa dia dahulu hanyalah seorang tukang cuci piring disebuah restoran, ia tidak pernah mengenyam bangku pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Tapi karena kegigihan dan usaha yang keras dan tidak tanggung-tanggung, yang tadinya hanya seorang tukang cuci piring bisa menjadi manager terkenal.

Seorang yang bisa mendapatkan gelar doktor terkenal, tidak mungkin dicapai hanya dengan bersantai-santai saja, atau ketika masih manjadi seorang siswa hanya tidur-tiduran saja kerjanya. Juga tidak mungkin ia dapati gelar doktor dalam tempo yang singkat, setahun atau dua tahun.

Seorang pencuri ulung atau seorang preman terkenal dan menjadi boss di suatu daerah. Apakah ia dapati dengan sebegitu mudah kedudukannya atau gelar tersebut, tentu tidak. Dia harus mempersiapkan secara matang, bagaimana cara untuk menghadapi lawan saingannya, minimal ia harus menggali ilmu-ilmu atau keahlian yang tidak atau jarang dimiliki oleh oleh orang lain, seperti cara merampok yang aman dan sukses. Tak jarang orang model begini memiliki ilmu-ilmu yang mendukung usahanya, entah itu tenaga dalamnya agar tak mempan dibacok atau tak mempan ditembak peluru asal jangan roket aja. Semua kemampuan yang ia miliki tidak mungkin didapati dengan sebegitu mudah dan dalam tempo yang singkat. Singkat kata, dibutuhkan usaha keras dan keuletan hingga mencapai gelar yang diinginkan.

Sebagai seorang da’i, agar sukses dakwah yang diembangnya, tentu memerlukan usaha maksimal yang terus-menerus dan berkesinambungan. Seorang da’i akan selalu menemui halangan serta rintangan yang menghadang jalan dakwahnya.

Mempertahankan suatu idealisme bukanlah suatu hal yang mudah dan sederhana. Bersamaan dengan berjalannya waktu idealisme yang kita miliki akan terkikis habis hingga menjadi punah, apalagi jika kita memiliki menta-mental tempe.

Dari sekian banyak kiat untuk mencapi kesuksesan tersebut, adalah kesabaran dan keuletan kerja. Dari kesabaran akan melahirkan berbagai kekuatan dan kemampuan tersembunyi yang kita miliki tanpa kita sadari.

Nilai dari sabar menurut pengertian pakar ahli keksuksesan sekuler (non Islam) sangat berlainan sekali dengan nilai-nilai yang diajarkan dalam ajaran Islam, terutama tujuan yang ingin dicapai dan metode pencapaian tujuan tersebut. Kesuksesan yang ingin dicapai ajaran non Islam hanya berkaitan dengan tujuan keduniawian dan materi semata, dalam arti kata kesabaran yang mereka laksanakan demi hal-hal yang duniawi sifatnya dan materialistik. Kesabaran yang mereka lakukan hanya untuk mengeruk penghasilan atau laba yang sebanyak-banyaknya, seseorang akan bersabar karena bertujuan mendapatkan jabatan yang tinggi atau mempertahankan jabatan yang dipegangnya.

Lain halnya dengan ajaran Islam, Islam menginginkan kesuksesan dunia akhirat, juga kesuksasan yang dicapai tidak saja untuk meraih hal-hal yang bersifat materi saja, tapi juga yang non materi. Seorang muslim melakukan kesabaran selalu demi mencapai keridhoan-Nya dan demi tujuan dunia akhirat. Allah berfirman dalam ayat-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu sukses” (Q.S Ali Imran:200)

Kesabaran memang sudah menjadi tabiat seorang mukmin sejati. Rosulullah pernah bersabda

“Sangat mengagumkan kondisi orang mukmin, sebab segala keadaannya untuk dia sangat baik dan tidak mungkin terjadi yang demikian kecuali bagi seorang mukmin:jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka syukurnya itu lebih baik baginya dan jikalau menderita kesusahan ia bersabar dan sabar itu lebih baik baginya”. (H.R Muslim)

Seorang mukmin memiliki sifat sabar karena dia sadar bahwa sudah menjadi sunatullah, kehidupan dunia ini penuh dengan perjuangan dan pasti akan menemui rintangan dan cobaan, seorang mukmin akan sadar bahwa semua ujian dan rintangan yang ditemuinya berasal dari Allah dan segala sesuatunya itu kelak akan kembali kepada-Nya, seorang mukminm juga akan yakin dengan kesabarannya itu akan memperoleh ganjaran di akhirat kelak. Itulah sebenarnya keberhasilan dan kesuksesan bagi seorang mukmin. Dalam surat Al-Baqarah:ayat 155-156, Allah berfirman yang artinya:

“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kekurangan harta jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira pada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘innalillahi wa inna ilaihi roji’un’.” (Q.S. Al-Baqarah:155-156)

Memang sudah menjadi sunatullah bahwa kita harus berjuang dan sudah menjadi sunatullah juga bahwa setiap perjuangan itu akan menghadapi cobaan. Dan cobaan ini akan menjadi suatu ujian yang akan menentukan suatu keberhasilan dan kesuksesan seorang mukmin. Allah berfirman,”

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta goncangan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkata Rosulullah SAW dan orang-orang yang beriman bersamanya,’bilakah datangnya pertolongan dari Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (Q.S Al-Baqorah:214)

Dalam ayat lain Allah berfirman,

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (Q.S. 3:142)

Kisah orang-orang terdahulu bisa menjadi contoh pelajaran bagi kita bagaimana perjuangan mereka dalam menghadapi cobaan dan apa keberhasilan yang mereka peroleh. Kisah ashabul ukhdud dapat menjadi pelajaran bagi kita, karena kesabaran mereka memegang prinsip dan keyakinan yaitu beriman kepada Allah Yang Maha Esa. Mereka di coba akhirnya mereka dimasukkan kedalam api yang berkobar, sehingga ada riwayat yang menceritakan bahwa seorang ibu tidak tega melihat anaknya yang masih bayi untuk ikut masuk kedalam api, lalu terjadi suatu keajaiban, dimana anaknya yang bayi tersebut dapat bicara dengan mengatakan,

“Wahai ibu bersabarlah sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran (al-haq).”

Kisah kehidupan Nabi merupakan contoh tauladan bagi kita, bagaimana ujian yang Nabi dan para sahabatnya hadapi diawal kemunculan Islam. cacian, celaan, tekanan, siksaan yang diterima para sahabat, sehingga Nabi perintahkan untuk berhijrah ke negeri Habsyah. Namun ujian dan cobaan tidak berhenti sampai disitu, ketika Nabi pergi ke Thaif untuk berdakwah, bukan sambutan yang di terima, malah lemparan batu dan kotoran, sehingga tanggal gigi Nabi. Masih banyak lagi cobaan-cobaan yang para sahabat hadapi, kalau bukan karena kesabaran dan ketabahan yang mereka miliki, tidak mungkin kemenangan dan kejayaan akan mereka peroleh. Itulah keberhasilan dan kesuksesan generasi pertama yang dididik langsung dimadrasah kenabian.

Ada dua hasil yang akan kita rasakan bagi diri kita, jika kesabaran itu sudah menjadi milik kita. Hasil yang akan kita rasakan dalam kehidupan dunia dan hasil yang akan kita peroleh diakhirat kelak. Dalam kehidupan di dunia, minimal kita kan memiliki perasaan ridha rela, memiliki ketenangan, perasaan bahagia, apalagi Allah telah menjajikan bahwa Allah akan menyertai orang-orang yang sabar. Kemudian dengan kesabaran dan ketabahan yang kita miliki, maka kemenangan, kemuliaan dan kebaikan akan terwujud bagi diri kita. Adapun buah (hasil) yang akan kita rasakan diakhirat kelak adalah kenikmatan yang tiada taranya yaitu kehidupan surga yang abadi. Wallahu a’lam bish hawab.

———-

Sumber: www.pengusahamuslim.com – Senin,28 Juli 2008

Print Friendly