Peperangan di Masa Rasulullah (Bagian 1/3)

Perang adalah sesuatu yang tidak disukai oleh jiwa manusia. Karena dalam peperangan manusia dihadapkan dengan kesusahan fisik dan mental. Perang juga memisahkan manusia dari keluarga dan kerabat. Bahkan perang bisa berakibat berpisahnya ruh dari jasadnya. Allah Ta’ala berfirman,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تَكْرَهُواْ شَيْئاً وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَى أَن تُحِبُّواْ شَيْئاً وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Bertolak belakang dengan keinginan jiwa manusia, realitanya perang selalu mengiringi kehidupan mereka. Perang selalu terjadi dalam kurun perjalanan sejarah dengan motif dan tujuan yang beragam. Ada yang berperang karena memperebutkan sumber daya, ada pula karena ambisi merebut dunia, bahkan perang pun terjadi karena kisah cinta laki-laki dan wanita. Artinya, perang adalah sebuah keniscayaan.

Banyak agama dan aliran kepercayaan menolak kalau mereka dianggap mengajarkan peperangan, meskipun faktanya mereka telah melakukan pembantaian. Sementara agama Islam secara jujur menyatakan perang termaktub dalam fikihnya. Keniscayaan perang ditata dan diatur dalam Islam dengan penuh kebijaksanaan dan kemuliaan. Islam mengajarkan perang yang penuh adab dan akhlak. Islam mengajarkan perang yang bernilai ibadah, bukan membantai, membunuh membabi buta, penuh dendam dan kezaliman. Islam mengajarkan perang yang berkonsekuensi hidup mulia atau wafat menjemput syahadah, bukan kemenangan yang menindas dan kekalahan yang hina. Oleh karena itu, Ali bin al-Hasan mengatakan,

كُنَّا نُعَلَّمُ مَغَازِيَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَرَايَاهُ كَمَا نُعَلَّمُ السُّورَةَ مِنَ الْقُرْآنِ

“Kami mempelajari (kisah) peperangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perjalanan hidup beliau sebagaimana kami mempelajari surat di dalam Alquran.” (al-Jami’ li-l Akhlaqi-r Rawi wa Adabu-s Sami’ li-l Khatib, No. 1616).

Pada tulisan kali ini, penulis tidak membahas hikmah dari peperangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tulisan ini hanya merupakan catatan ringkas dari peperangan yang terjadi di zaman beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai titik mula bagi para pembaca untuk mempelajari dan mengkaji kisah-kisah peperangan Rasulullah lebih mendalam lagi.

Ibnu Hisyam menyatakan ada 27 peperangan yang terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun hanya tujuh di antaranya yang terjadi kontak senjata yakni pada Perang Badar II, Uhud, Khandaq, Bani Quraizhah, Bani Musthaliq, Thaif, dan Hunain.

Berikut ini cuplikan dari peperangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pertama: Perang Waddan atau Perang al-Abwa.

Perang ini terjadi pada bulan Shafar tahun 2 H/623 M. Waddan adalah suatu daerah yang terletak 250 Km di Tenggara Kota Madinah. Jumlah pasukan Islam dalam perang ini sebanyak 70 orang dari kalangan sahabat Muhajirin saja. Dan dipimpin langsung oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perang ini disebabkan serombongan kafilah Quraisy Mekah melewati wilayah Waddan. Sebagaimana kita ketahui, orang-orang kafir Quraisy telah mengobarkan peperangan terhadap umat Islam sejak awal kedatangan Islam dan mereka mengambil harta kaum muhajirin dengan cara yang zalim. Rasulullah yang mengetahui mereka melewati wilayah Madinah pun mencegat mereka. Tidak terjadi kontak fisik dalam peristiwa ini. Terjadi perjanjian damai antara Rasulullah dengan Amr bin Makhsyu adh-Dhamiri.

Kedua: Perang Buwath.

Terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun 2 H/623 M. Dalam Perang ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin langsung 200 orang sahabatnya. Sementara kafilah kafir Quraisy yang berjumlah 100 orang dipimpin oleh Umayyah bin Khalaf. Kafilah ini membawa 2500 onta.

Mengetahui pergerakan Rasulullah dan pasukannya, orang-orang Quraisy pun mempercepat langkah mereka dan melewati jalan yang tersembunyi untuk menghindari cegatan kaum muslimin. Peristiwa ini pun berakhir tanpa kontak senjata.

Ketiga: Perang Safwan atau Perang Badar Pertama.

Perang Badar I terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun 2 H. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh tindakan Kirz bin Jabir al-Fahri yang menyerang peternakan penduduk Madinah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 70 orang sahabatnya untuk menghadapi pembuat onar ini. Sesampainya di daerah Safwan, Nabi tidak menemukan mereka.

Keempat: Perang Usyairah.

Perisitwa ini terjadi pada bulan Jumadil Akhir tahun 2 H. Rasulullah memimpin 150 orang sahabatnya untuk menghadang kafilah Quraisy. Tidak terjadi kontak senjata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadakan ikatan perjanjian damai di jalur kafilah dagang itu dengan kabilah Bani Mudlij dan sekutu-sekutu Bani Dhamrah.

Kelima: Perang Badar II

Perang Badar II ini adalah perang yang sangat masyhur. Karena begitu akrabnya pembaca sejarah Islam dengan peristiwa ini, sampai-sampai perang ini dianggap sebagai aktivitas militer pertama yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya.

Perang ini terjadi para bulan Ramadhan tahun 2 H. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 313 orang kaum muslimin menghadapi 1000 orang-orang Mekah dibawah pimpinan Abu Jahal. Sama seperti aksi militer sebelumnya, perang ini dilatarbelakangi pencegatan kafilah dagang Quraisy. Namun upaya pencegatan itu diketahui oleh pihak Quraisy sehingga mereka meminta bantuan kepada kaumnya di Mekah. Mekah pun mengelurkan orang-orang terbaik mereka dengan persenjataan lengkap.

Dalam perang ini, 22 orang sahabat Nabi gugur sebagai syuhada. Di pihak musyrikin Mekah 70 orang tewas dan 70 lainnya terluka. Perang ini pun dimenangkan oleh kaum muslimin.

Keenam: Perang Bani Qainuqa’.

Bani Qainuqa’ adalah nama kabilah Yahudi yang tinggal di Madinah. Rasulullah memerangi mereka pada bulan Syawal tahun 2 H. Peristiwa ini dilatarbelakangi peghkhianatan Yahudi atas perjanjian damai yang telah mereka sepakati dengan kaum muslimin.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengepung perkampungan mereka selama 15 hari. Akhirnya mereka pun menyerah dan diusir dari Madinah.

Ketujuh: Perang Bani Sulaim.

Perang ini terjadi pada bulan Dzul Hijjah tahun 2 H. Tidak sampai 7 hari setelah tiba di Madinah dari Perang Badar, Rasulullah berangkat menuju Bani Sulaim dengan membawa 200 orang pasukan. Keberangkatan Rasulullah ini dikarenakan Bani Ghathafan dan Bani Sulaim yang bersekutu memerangi Madinah.

Sesampainya di Qarqaratu al-Kidr, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjumpai sekutu tersebut karena mereka telah melarikan diri setelah melihat pasukan kaum muslimin.

Kedelapan: Perang as-Suwaiq.

Perang as-Suwaiq terjadi pada bulan Dzul Hijjah tahun 2 H. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 200 orang sahabatnya menghadapi 200 orang musyrikin yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb. Perang ini dilatarbelakangi kemarahan orang-orang Mekah karena kekalahan mereka di Badar.

Dalam al-Kamil fi at-Tarikh, Imam Ibnul Atsir menyatakan sepulangnya dari Perang Badar, Abu Sufyan bernadzar tidak akan membiarkan air menyentuh kepalanya karena junub sebelum ia memerangi Nabi Muhammad. Lalu ia membawa 200 orang penunggang kuda dari kaum Quraisy menuju Madinah. Di Madinah, mereka bermalam di rumah seorang Yahudi dari Bani Nadhir yang bernama Salam bin Misykam. Dari sana ia memata-matai kondisi malam hari Kota Madinah.

Abu Sufyan memerintahkan beberapa orang untuk keluar mengawasi keadaan. Lalu mereka membunuh salah seorang Anshar. Kabar ini sampai kepada Nabi, beliau pun menyiapkan pasukan dan mengejar orang-orang Quraisy tersebut. Namun beliau tidak berhasil menemukan mereka.

Kesembilan: Perang Dzi Amr atau Perang Ghathafan atau Perang Anmar.

Terjadi pada bulan Rabiul Awal tahun 3 H. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memimpin 450 orang sahabatnya menghadapi orang-orang Ghathafan dari Bani Tsa’labah bin Muharib yang hendak menyerang Madinah.

Dalam perjalanan Rasulullah mengejar orang-orang Ghathafan, beliau kehujanan lalu melepas pakaiannya dan menjemurnya. Saat beliau sedang duduk istirahat, datanglah seorang laki-laki yang bernama Du’tsur bin al-Harits mengacungkan pedang ke kepala Rasulullah. Ia berkata, “Siapa yang akan menghalangimu dariku sekarang?” Maksudnya, siapa yang akan menolongmu dari pedangku. Dengan tenang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Allah.” Lalu ia pun tergetar dan jatuhlah pedang dari tangannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil pedang tersebut dan berkata, “Siapa yang akan menghalangimu dariku?” Ia menjawab, “Tidak ada seorang pun.” Kemudian ia mengucapkan dua kalimat syahadat.

Setelah itu Du’tsur datang menemui kaumnya dan mendakwahkan Islam kepada mereka. Lalu turunlah ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ هَمَّ قَوْمٌ أَنْ يَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ أَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal.” (QS. Al-Maidah: 11).

Peristiwa ini pun berakhir tanpa kontak senjata.

Dari sembilan peperangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, kita tidak menjumpai ambisi untuk menumpahkan darah manusia. Ketika orang-orang sudah lari, Rasulullah tidak mengejar mereka atau menyerang perkampungan mereka. Demikian juga dalam Perang Badar yang benar-benar terjadi kontak senjata, dari 1000 orang musyrikin Mekah yang tewas hanya 70 orang. Bandingkan dengan apa yang terjadi di Andalusia, Islam seolah-olah tidak pernah menjejak di sana akibat pembantaian dan pengusiran. Lihat pula apa yang dilakukan Amerika, bahkan penduduk sipil; perempuan dan anak-anak pun tidak selamat dari jet tempur dan bom-bom mereka.

Bersambung insya Allah..

Sumber:
– Hisyam, Ibnu. 2009. as-Sirah an-Nabawiyah. Beirut: Dar Ibn Hazm.
– Mubarakfury, Shafiyurrahman. 2007. ar-Rahiq al-Makhtum. Qatar: Wizaratu al-Awqaf wa asy-Syu-un al-Islamiyah.
– ash-Shalabi, ALi bin Muhammad. 2007. Ghazawatu ar-Rasul; Durus wa ‘Ibar wa Fawaid. Kairo: Muas-sasatu Iqra.
– Artikel-artikel Islamweb.com
– Artikel-artikel al-Hakawati.net
– http://islamstory.com/ar/%D8%BA%D8%B2%D9%88%D8%A7%D8%AA-%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%B3%D9%88%D9%84-%D8%B5%D9%84%D9%89-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D8%B9%D9%84%D9%8A%D9%87-%D9%88%D8%B3%D9%84%D9%85

Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel


———-
Sumber: Kisah Muslim – www.kisahmuslim.com / Minggu,14 Desember 2014

Print Friendly