KAJI ULANG RISET ORIENTALIS: (Bab 18 bag.2)

.


III . KAJI ULANG RISET ORIENTALIS
.

BAB 18 : 
ORIENTALIS DAN AL-QURAN
 


5. Sengaja ingin Mengubah Al-Qur,an
 

Pintu gerbang pintu masuk ke empat adalah hendak memalsukan Kitab Suci Al-Qur’an itu sendiri. Sebagaimana telah kita kaji secara kritis teori-teoriGoldsiher dan Arthur Jetffery mengenai ragam bentuk AI-Qur’an, selain mereka, masih terdapat beberapa Orientalis lain yang cukup terpandang.
 

i. Upaya Flugel Mengubah Al-Qur’an
 

Pada tahun 1847 Flugel mencetak sejenis indeks Al-Qur’an. la juga menguras tenaga ingin mengubah teks-teks Al-Qur’an yang berbahasa Arab dan, pada akhirnya, menghasilkan suatu karya yang tidak dapat diterima oleh pembaca Al-Qur’an di mana pun. Adalah sudah jadi kesepakatan di kalangan kaum Muslimin untuk membaca Al-Qur’an menurut gaya bacaan salah satu dari tujuh pakar bacaan yang terkenal,18 yang semuanya mengikuti kerangka tulisan `Uthmani dan sunnah dalam bacaannya (qira’ah), perbedaan-perbedaan yang ada, kebanyakan berkisar pada beberapa tanda bacaan diakritikal yang tidak berpengaruh sama sekali terhadap isi kandungan ayat-ayat itu. Setiap Mushaf yang dicetak berpijak pada salah satu dari Tujuh Qira’at, yang diikuti secara seragam sejak awal hingga akhir. Tetapi Flugel menggunakan semua tujuh sistem bacaan dan memilih satu qira’ah di sana sini dengan tidak menentu (tanpa alasan yang benar) yang hanya membuahkan ramuan cocktail tak berharga. Bahkan Jeffery (yang dikenal tidak begitu bersahabat dengan tradisi keislaman) malah bersikap sinis dengan menyebut,
 

Edisi Flugel yang penggunaannya begitu meluas dan berulang kali dicetak, tak ubahnya sebuah teks yang sangat amburadul, karena tidak mewakili balk tradisi teks ketimuran yang murni mau pun teks dari berbagai sumber yang ia cetak, serta tidak memiliki dasar ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan.19
 

ii. Upaya Blachere Merusak Al-Qur’an
 

Ketika menerjemahkan makna Al-Qur’an ke dalam bahasa Prancis (Le Coran, 1949) Regis Blachere bukan saja mengubah urutan surah-surah AI�Qur’an , malah juga menambahkan dua ayat fiktif ke dalam batang tubuh teks. Dia berpijak pada cerita palsu di mana, katanya, Setan yang memberi “wahyu” kepada Nabi Muhammad yang tampaknya tidak dapat membedakan antara Kalam Allah dan ucapan mantra-mantra orang kafir seperti tercatat dalam cerita itu. Tak satu pun jaringan transmisi bacaan maupun 250,000 manuskrip Al-Qur’an yang masih ada memasukkan dua ayat itu di mana secara keseluruhan berseberangan dengan setiap naskah yang terdahulu dan berikutnya, pada dasarnya, bertentangan dengan inli AI-Qur’an yang sesungguhriya.20 Dengan diberi label ’20 bis* dan ’20 ter’, ayat-ayat palsu itu rnerupakan seruan kepada kaum Muslimin untuk mengagungkan berhala masyarakat Mekah Jahiliah.21 Lihat Gamhar 18.1.
 

Gambar 18.1: Terjemahan Blachere dengan dua ayat palsu
yang diberi label ’20 bis’ dan ’20 ter’.

 

Berita bohong ini terbukti mampu menyulut ghirah yang memukau bagi kalangan Orientalis dalam melepas cerita selanjutnya pada pihak lain. Terjemahan Sirat Ibn Ishaq (sebuah biografi awal tentang Nabi Muhammad yang arnat meyakinkan) telah diterbitkan berulang kali di dunia Islam sejak tahun 1967. Dalam terjemahannya, ia menggunakan ketidak jujurannya yang terlalu banyak untuk dihitung; di antaranya ia memasukkan dua halaman dari salah satu karya at-Tabari, tempat ia menceritakan dongeng bohong itu semata-mata hanya dorongan rasa ingin tahu. Guillaume tidak pernah menunjukkan catatan kaki secara jelas, hanya dengan menggapai kutipan itu dalam tanda kurung dan tidak memisahkan dari batang tubuh naskah teks utama, yang didahului penyisipan tanda huruf T yang digunakan dengan semangat membara tanpa disertai penjelasan. Uraian yang berkepanjangan (dua halaman) diambil dari perlakuan yang serupa,22 dan akibatnya komunitas Muslim yang kurang terpelajarmenganggapnya sebagai kebenaran dari cerita fiktif musyrik tersebut dan tanpa disengaja mau menerima sebagai bagian karya sejarah Ibn Ishaq yang sesungguthnya.

iii. Upaya Mingana Merusak Al-Qur’ an
 

Prof. Rev. Mingana, yang dianggap oleh sementara pihak sebagai `ilmu�wan ulung dalam bahasa Arab’23 sebenarnya masih memiliki pemahaman yang rapuh serta belum memadai. Ketika menerbitkan `Naskah Penting Hadith Bukhari (An Important Manuscript of the Traditions of Bukhari,)24 dalam beberapa alinea, telah membuat beberapa kekacauan sebagai berikut: ketidaktepatan dalam menyalin wa haddathani (ia malah menyalin wa khaddamani); Abu al-Fadl bin dibaca dengan Abu al-Muzaffar, membuang perkataan muqabalah; ketidak�mampuan membaca sebagian kata-kata seperti al-ijazah (dengan semau gue dihapus seluruhnya); menambah huruf waw; salah dalam menerjemahkan istilah thana dan ana, dan banyak lagi, dengan sederet kesalahan yang ia lakukan, hanya menempatkan kedudukannya sebagai seorang ilmuwan tanggung.
 


Gambar 18.2: Salah satu lembaran palimpsest yang digunakan oleh Mingana. Sumber: Mingana & Lewis (eds.), Leaves from Three Ancient Qurans, Plate Quran B.

 

Hadith al-Bukhari (Traditions of Bukhari) tentu merupakan sebuah kompilasi hadith, saya menggunakannya sebagai suutu test. Kembali pada perbeduan-perbedaan text AI-Qur’an, kita temukan di sini bahwa Mingana juga meninggalkan satu warisan, menerbitkan satu karya yang berjudul Leaves from Three Ancient Qurans, Possibly Pre-‘Othmanic with a list of their Variants.25 Manuskrip yang ash adalah satu palimpsest. Palimpsest adalah manuskrip di mana tulisan aslinya telah dihapus guna memberi peluang bagi tulisan baru (penerjemah). yang terbuat dari kertas kulit halus: pada asalnya mengakomondasi ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian dihapus dan ditulis kembali oleh seorang Kristen Arab.26 Untuk mengetahui tulisan yang mula-mula tentulah sangat memerlukan kerja keras, karena itu Mingana menyemprot ketiga halaman itu dengan sinar infra merah guna melihat perbedaan.27 Lihat Gambar 18.2 di atas.

Dalam menganalisis lembaran-lembaran tersebut, Mingana membuat daftar perbedaan Al-Qur’an pada manuskrip itu beserta terjemahan bahasa Inggrisnya. Tidak susah untuk meneliti ketidakjujuran yang ada dalam masalah ini, yang ditujukan khususnya kepada para pembaca yang hanya tahu sedikit bahasa Arab. Empat perbedaan berikut menjelaskannya:
 

1). Mingana menulis:
 

“Kalau bukan ( atau ) bermakna pukulan, tinju, bertinju, maka itu adalah kata-kata yang tidak jelas. Kalimat pada AI-Qur’an [yang tercetak] adalah sebagai berikut: `Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikit pun dari (siksa) Allah.’ Teks kami berbunyi: `Dalam meremehkan, mereka tidak akan mengambil tempat untuk memukul, bagi kamu.’ Kalau terjemahan itu tidak bisa diterima, maka makna yang sebetulnya dari kata benda ini memang bermasalah. Kamus hanya menyatakan: ‘, Kata benda abstrak dalam bentuk tiga akar dan bukan dalam bentuk tidak banyak digunakan dalam omposisi pasca-Qur’an , tetapi kata sifat dapat ditemukan dalam banyak penulis.”28

 

Catatan: begitu banyak sport permainan dalam segi bahasa, yang semuanya diarahkan guna membungkam satu poin penting. Melihat akan ketidak mampuan dalam membaca naskah al-Bukhari yang begitu jelas. apa lagi palimpsest, terjemahan Mingana semuanya nihil, karena pada bagian akhir ia tidak mampu menyajikan suatu pengertian yang dapat dicerna oleh akal dalam konteks bahasan ini. Perkataan sebenarnya hanya peristilahan yang sesuai bagi adu kekuatan dalam dunia tinju. bukan untuk Al-Qur’an, dan kata terjemahan yang sopan yang mungkin dapat saya sumbangkan adalah, `Di luar kejahatannya, mereka tidak akan dapat memberi proteksi pada anda darit empasan yang begitu dahsyat [sic]’. Bahwa dua perkataan terakhir yang disebabkan kesalahan tulisan adalah sangat kentara (penulis mana yang sengaja ingin mencoba-coba mengubah ayat ini dengan menyisipkan kata-kata yang tidak dapat diterima oleh akal waras itu?), namun demikian, Mingana, tampaknya tak mau mengakui kekalahan.


2). Dari surah 17: 1.
29
 

Al-Qur’an yang tercetak

(sebagaimana diberikan Mingana)

 

Manuskrip Mingana

 

Catatan: Siapa saja yang menggunakan Mushaf cetakan Madinah hari ini, akan melihat ejaan yang tercetak adalah  30 dan bukan . Mingana sejak awal menyisipkan alif atas inisiatif sendiri, lalu ia meng�hapus pada bagian kedua guna menciptakan `ragam bacaan’. Demikian juga, perkataan barak ( ) yang berarti keberkahan dan juga bersujud, dan karenanya ia memanfaatkan untuk menerjemahkan kata pertama (dengan tambahan alif) sebagai “yang diberkati”, dan yang kedua sebagai “yang bersujud”.

3). Dari surah 9: 37.31
 

Al-Qur’an yang tercetak

(menurut Mingana)

 

 

Manuskrip Mingana

 

Catatan: Bukan satu rahasia bahwa para penulis awal kadang-kadang menghilangkan huruf-huruf hidup (alif, waw, dan yak’) dari naskah mereka,32 dan di sini penulis menghilangkan huruf hidup bagian akhir pada perkataan yahdi karena tidak berbunyi. Sekali lagi Mingana mengambil kesempatan, kali ini melalui perpindahan posisi yang betul-betul menggelikan. la memisahkan alif dari kata al-yawm dan meletakkannya pada perkataan la yuhda, sehingga tercipta satu ungkapan yang tidak mempunyai aturan tata bahasa dan tidak berarti sama sekali. Hal ini dapat diumpamakan atau dianalogikan dalam ungkapan bahasa Inggris tigers hunting (memburu harimau) dan mengubahnya menjadi tiger shunting (memindahkan landasan harimau).

4). Dari surah 40: 85 33
 

Al-Qur’an yang tercetak
(versi Mingana)

Manuskrip Mingana

 

Catatan: Trik yang sama juga diterapkan di sini, walaupun agak lebih canggih. Sambil memindahkan dari kepada , Mingana secara kreatif telah menambahkan tanda titik pada perkataan   yang tidak bertitik.

 

 

18. Lihat tulisan ini, hlm. 169-172.
19. A. Jeffery, Materials, hlm. 4.

20. Untuk pembahasan yang lebih dalam, lihat `Urwah b. az-Zubair, al-Maghazi, hlm. 106-110, khususnya catatan kaki.

21. Selain ayat-ayat palsu, Blachere (dan yang lain seperti Rodwell dan Richard Bell) mengubah susunan surah dalam terjemahan mereka yang juga berarti menentang kesucian teks Al-Qur’an sekehendaknya oleh para ilmuwan Barat yang seakan-akan mengikuti urutan Mushaf Ibn Mas’ud.

22. Lihat A Guillaume The Life of Muhammad: A Translation of Ibn Ishaq’s Sirat Rasul Allah, cetakan ke 8, Oxford Univ. Press, Karachi, 1987, hlm. 165.

23. Ibn Warraq (ed.), Origins of the Koran, hlm. 410.
24. Cambridge, 1936

25. Cambridge, 1914.

26. Tulisan kedua-duanya (Al-Qur’an dan teks Kristen) saling melengkapi satu sama lain.

Tulisan seperti ini disebut palimpsest.

27. Mingana Smith (ed. ), Leaves from Three Ancient Qurans, plate Quran B.
28Ibid. hlm. xxxvii.

29. Ibid. hlm. xxxviii.

30. Sebenarnya ada huruf alif kecil di atas huruf khat, tapi sayangnya, komputer ini tidak bisa menuliskannya.

31. Mingana, Leaves from Three Ancient Qurans, hlm. xxxviii. la mengutip kata yang sama untuk ayat 9: 24.

32. Lihat tulisan ini hlm. 145.

33. Mingana, Leaves frorn Three Ancient Qurans, hlm. xxxix.

———-

Sumber: Prof. Dr. M.M al A’zami, Sejarah Teks Al-Quran – Dari Wahyu Sampai Kompilasinya (The History of The Qur’anic Text, From Revelation to Compilation)

Print Friendly