Stabilitas Keamanan adalah Karunia yang Harus Dijaga

Khotbah Jum’at, 10 – Syawal – 1437 H
Khotib : Syekh Abdul Bari Bin Awadh Al-Tsubaiti

danauKhotbah Pertama

Segala puji bagi Allah sebagai pujian orang-orang yang bersyukur. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada penghulu para rasul beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.

Selanjutnya . . . Firman Allah :

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ قَرَارًا [ غافر / 64 ]

“Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu sebagai tempat menetap (yang stabil)”. Qs Ghafir : 64

Artinya bumi diciptakan oleh Allah untuk kalian sebagai tempat tinggal yang stabil agar layak untuk kehidupan kalian; Kalian hidup di atasnya, bergerak dan berusaha serta berkeliling di semua permukaannya.

Semua urusan hidup sangat bergantung pada stabilitas. Kehidupan tidak mungkin tegak tanpa stabilitas. Sebab stabilitas merupakan hajat hidup yang didambakan, kebutuhan yang amat mendesak dan tidak seorang pun yang bisa hidup dengan baik tanpa stabilitas.

Manusia tidak bisa menikmati kelezatan hidup, tidak dapat mengenyam suatu kebahagiaan, tidak dapat melaksanakan kegiatan apapun untuk memakmurkan lingkungan kecuali dalam kondisi yang stabil yang merupakan hajat hidup termahal dan salah satu nikmat terpenting yang Allah anugerahkan.

Firman Allah :

وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ [ البقرة / 36 ]

“Dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman (stabil) di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” Qs Al-Baqarah : 36

Terhimpunnya segala kenikmatan dan kesenangan duniawi serta tercapainya segala kebahagiaan dan kemakmuran sangat ditentukan oleh kemantapan sendi-sendi stabilitas itu. Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- bersabda :

مَنْ أصْبَحَ آمِناً في سِرْبهِ ، مُعَافى في بَدَنِهِ ، عِنْدَهُ قوْتُ يَوْمِه ، فكأنما حِيْزَتْ لهُ الدنْيَا بِحَذَافِيْرِهَا

“Barangsiapa di antara kalian yang memasuki waktu pagi dalam keadaan aman pada dirinya, sehat jasmaninya dan memiliki makanan pada hari itu, maka seolah olah dirinya telah diberi seluruh dunia seisinya”.

Seorang mukmin diperintahkan untuk berikhtiar di bumi untuk mewujudkan stabilitas dan keamanan. Firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الأرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا [ النساء/97]

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam Keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) Malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri”. Para Malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”.Qs An-Nisa’ : 97

Stabilitas mempunyai peranan penting dan kedudukan tinggi. Allah menyebut stabilitas ini dalam menggambarkan pahala dan kenikmatan yang diterima penghuni surga. Firman Allah :

أَصْحَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مُسْتَقَرًّا وَأَحْسَنُ مَقِيْلًا [ الفرقان/24]

“Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik stabilitas (tempat tinggalnya) dan paling indah tempat peristirahatannya”. Qs Al-Furqan : 24

Firman Allah :

خَالِدِينَ فِيهَا حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا [ الفرقان/ 76 ]

“mereka kekal di dalamnya. surga itu sebaik-baik tempat menetap (yang stabil) dan tempat kediaman (yang abadi)”. Qs Al-Furqan:76

Islam mengancam sekeras-kerasnya perbuatan pengerusakan di bumi setelah sebelumnya tercapai stabilitas dan kemantapan kondisi. Firman Allah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَى مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ ، وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الْأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ ، وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ [ البقرة/204 – 206 ]

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan di atasnya, dengan menghancurkan tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai pengerusakan. Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, muncul-lah arogansinya yang mendorongnya berbuat dosa. Maka cukuplah neraka Jahanam sebagai balasannya. Dan sungguh neraka Jahanam itu seburuk-buruk tempat tinggal”. Qs Al-Baqarah : 204-206

Orang yang berbuat kerusakan di bumi dan menggoyahkan nilai-nilai stabilitas dengan dalih melakukan perbaikan dan reformasi serta menganggap dirinya berada di pihak yang benar, sungguh dia itu hakikatnya adalah perusak. Firman Allah :

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ ، أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ  [ البقرة /  11- 12 ]

“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi”. mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingat, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak merasa” Qs Al-Baqarah:11-12

Islam sebagai sistem ketetapan Allah merupakan sumber stabilitas, meliputi stabilitas kejiwaan, keamanan dan kemasyarakatan, dan karena itulah Islam dapat mengatasi asal-muasal ketegangan dan kegelisahan.

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ [ الأنعام / 125 ]

“Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk memberinya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk menyesatkannya, niscaya Allah jadikan dadanya sesak dan sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman”.Qs Al-An’am: 125

Allah –subhanahu wa ta’ala- telah menyediakan segala potensi dan kekayaan di bumi serta melengkapkan segala sumber daya luar biasa yang dapat dikelola oleh manusia. Semua itu dalam rangka mewujudkan stabilitas di bumi. Firman Allah :

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ ذَلُولا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ [ الملك / 15 ]

“Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya, dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” Qs Al-Mulk : 15

Semua pelaksanaan hukum syariat, sesungguhnya bermaksud untuk memantapkan sendi-sendi stabilitas tersebut dalam kehidupan manusia. Sebab hukum-hukum syariat itu ditetapkan untuk menjamin tercapainya tujuan pokoknya terkait dengan ketertiban urusan makhluk, yaitu tegaknya urusan agama dan kepentingan dunia. Seandainya hal itu tidak terwujud, maka urusan dunia tidak dapat berjalan dengan baik, bahkan cenderung memunculkan kerusakan, kekacauan dan ketiadaan kehidupan, di samping kelak di akhirat mereka kehilangan keamanan, keselamatan dan kenikmatan serta menanggung kerugian yang nyata. Itulah sebabnya maka pembebanan hukum syariat dimaksudkan untuk melindungi agama, jiwa, keturunan, harta benda dan akal pikiran.

Masyarakat manapun yang mendambakan kebangkitan dan kemajuan haruslah memulai langkahnya dari peletakan dasar-dasar stabilitas. Inilah awal persoalan yang diserukan oleh Rasulullah –shallallahu alaihi wa sallam- ketika memasuki Madinah dalam hijrahnya.

Beliau meletakkan dasar-dasar dan nilai-nilai stabilitas melalui penyebaran rasa saling menyayangi dan salam kedamaian. Beliau katakan :

يَا أيُّهَا النّاسُ أفْشُوا السَّلام، وَأْطعِمُوا الطْعَامَ، وَصِلُوا الأْرحامَ، وَصَلُّوا بِاللّيْلِ والنَّاس نيامٌ، تَدْخُلوا الجُنَّة بسلام .

“Hai manusia, sebarkanlah salam damai, berikanlah makanan, sambunglah tali persaudaraan, dirikanlah shalat malam ketika orang-orang sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat”.

Di sini beliau meletakkan sistem stabilitas, yang intinya adalah menjalin hubungan antar sesama atas dasar persaudaraan, jauh dari kekerasan dan tindakan ekstrem dalam upaya pemantapan hidup saling tolong menolong, sehingga masyarakat madinah menjadi teladan bagi kehidupan yang damai, rukun dan stabil.

Kalau kita amati kondisi masyarakat yang kehilangan stabilitas, dapat kita saksikan betapa merebaknya kekacauan dan ketegangan. Mereka merasa tidak aman dalam melindungi harta benda dan kehormatan diri mereka.

Yang paling tahu nilai stabilitas hanyalah orang yang kehilangan stabilitas itu sendiri; dia terasing dari tanah airnya, terusir dari keluarganya, merasakan pahitnya kelaparan dan kemiskinan akibat kekacauan dalam negerinya, pertumpahan darah di tanah airnya, jatuhnya kurban, terlihat jenazah dan potongan tubuh manusia berserakan di atas tanah serta merebaknya penjambretan dan perampokan di sana-sini.

Dengan demikian sadarlah kita bahwa stabilitas keamanan dalam negeri terkait keamanan jiwa, harta dan kehormatan adalah surga yang Allah anugerahkan kepada umat yang beriman dalam hidup di dunia ini, bahkan termasuk anugerah termahal bagi bangsa-bangsa seluruhnya. Firman Allah :

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ ،الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ ،أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ، [ قريش / 3 – 5 ]

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan”. Qs Quraisy : 3-4

Tidak diragukan lagi bahwa stabilitas merupakan dasar utama kemakmuran dan kejayaan serta lahan yang sangat subur bagi pertumbuhan dan pembangunan di atas bumi.

    Salah satu faktor yang dapat menggoyahkan dan mengancam pilar-pilar keimanan adalah sikap menyebar luaskan desas-desus dan menyiarkan kabar burung serta menelannya begitu saja tanpa mengeceknya secara mendalam. Tentu hal itu dapat menimbulkan petaka serta menebar perpecahan dan keretakan persatuan.

    Demikian pula kekeliruan dalam menggunakan media sosial modern yang saat ini menempati baris terdepan dalam perhatian publik telah menimbulkan kontradiksi dalam pendidikan, menggoyahkan akidah, menumbangkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai dasar, sehingga dengan persepsi yang keliru itu, kini media sosial telah berubah fungsi menjadi alat berat yang menghancurkan stabilitas.

    Sikap acuh yang tidak mempedulikan larangan agama, mengenyangkan perut dengan uang riba, dapat melemahkan pondasi stabilitas di bidang ekonomi. Firman Allah :

يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ [ البقرة/ 276 ]

“Allah memusnahkan riba dan menumbuhkan sedekah, dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”. Qs Al-Baqarah : 276

Sikap berlebihan dan cenderung melanggar aturan dalam menggunakan nikmat serta kurangnya mensyukuri nikmat bahkan menghamburkan nikmat atau kikir untuk berbagi nikmat merupakan ancaman bagi stabilitas sosial. Firman Allah :

وَكَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ بَطِرَتْ مَعِيشَتَهَا فَتِلْكَ مَسَاكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَنْ مِنْ بَعْدِهِمْ إِلا قَلِيلا وَكُنَّا نَحْنُ الْوَارِثِينَ [ القصص/ 58]

“Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya; maka itulah tempat kediaman mereka yang tiada di diami lagi sesudah mereka, kecuali sebagian kecil saja. dan Kami adalah Pewaris(nya)”. Qs Al-Qashash : 58

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita memberikan pelajaran bagi kita bahwa mempertahankan stabilitas adalah suatu keniscayaan yang harus dilakukan. Demikian pula upaya memperkokoh sendi-sendi stabilitas dan memperkuat pilar-pilarnya serta menjatuhkan hukuman seberat-beratnya terhadap pelaku sabotase dan pengerusakan, merupakan kewajiban dan tanggung jawab terhadap agama dan negara.

Mempertahankan stabilitas dapat terwujud melalui pemantapan keimanan, berpegang teguh dengan kitab dan sunnah serta menerapkan prinsip-prinsip persatuan dan kesatuan, berikut membuang jauh-jauh semua penyebab perpecahan. Firman Allah

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الأرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا [ النور/ 55 ]

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan merubah (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa, mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku”.Qs An-Nur : 55

Firman Allah :

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا [ النساء/ 115]

“Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali”. Qs An-Nisa : 115

Stabilitas akan terwujud secara permanen dengan penyebaran ilmu yang dapat menyinari kegelapan, menghilangkan kesedihan, menggelorakan semangat, membentengi seseorang dari pemikiran sesat dan syubhat agar tidak terjatuh dalam sikap ekstrem kanan dan ekstrem kiri. Sebab, ilmu adalah sendi kebahagiaan setiap individu dan kesejahteraan rakyat banyak. Firman Allah :

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ [ الزمر / 9 ]

“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Qs Az-Zumar : 9

Nikmat stabilitas akan terus berlangsung dengan menghargai anugerah Allah itu dan mensyukurinya. Firman Allah :

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ [ إبراهيم / 7 ]

“Dan (ingatlah juga), ketika Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.Qs Ibrahim :7

***

Khotbah Kedua

Selanjutnya . . .

Stabilitas dapat terwujud secara permanen jika masyarakat menaruh perhatian terhadap tugas kontrol sosial melalui beramar makmur dan nahi munkar serta menumbuh kembangkan berbagai amal sosial. Firman Allah :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [ آل عمران/ 104]

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”.Qs Ali Imran : 104

    Di sini Allah –subhanahu wa ta’ala- mensyaratkan kebaikan ( Al-Khairiyah ) yang melekat pada umat yang merupakan dasar utama bagi stabilitas dengan terwujudnya usaha nyata mereka, yaitu sikap saling bahu membahu, bersinergi, saling menyantuni dan menyayangi. Sebab amal sosial adalah sumber terciptanya kesejahteraan, kejayaan dan stabilitas suatu masyarakat.

    Dalam kondisi yang demikianlah kehidupan akan stabil dan kondusif bagi anak yatim, orang miskin, wanita janda dan orang yang sedang sakit. Dengan amal sosial pula akan tercegah pertikaian dan perasaan saling mendendam dan mendengki antara lapisan masyarakat. Hal itu dikarenakan amal sosial dapat membimbing semua orang untuk hidup secara produktif dan berpikiran yang konstruktif. Firman Allah :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [ النحل / 97]

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan itu”. Qs An-Nahl : 97

====  Doa Penutup ====

 Penerjemah: Usman Hatim

– – – – – – – – – –

Sumber: Firanda Andirja – www.firanda.com | Selasa,19 Juli 2016

Print Friendly