Syarat Dalam Haji

SYARAT DALAM HAJI

Pertanyaan.

Mohon kejelasan hadis “Hujjiy wasy- tarithtiy anna mahil liy haitsu habasatniy = Tahallulku di mana aku terhalang” (HR al-Bukhâri dan Muslim). Pertanyaan:

  1. Dengan melafazkan syarat ini, apakah boleh tahallul dari ihram yang terhalang tanpa membayar dam?
  2. Bila halangan itu sudah tidak ada, apakah ihrâm harus diulangi lagi, dan harus dari miqat?

Ana berhajat sekali atas penjelasan antum sebagai bekal ana berhaji yang insya Allah berangkat tahun ini. Syukran. Jazâkumullâhu.

Jawaban.

Hadits yang anda maksud adalah hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma yang berbunyi:

عَنْ عَائِشَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهمَا قَالَتْ دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى ضُبَاعَةَ بِنْتِ الزُّبَيْرِ فَقَالَ لَهَا « أَرَدْتِ الْحَجَّ ». قَالَتْ وَاللَّهِ مَا أَجِدُنِى إِلاَّ وَجِعَةً. فَقَالَ لَهَا « حُجِّى وَاشْتَرِطِى وَقُولِى اللَّهُمَّ مَحِلِّى حَيْثُ حَبَسْتَنِى »

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma beliau berkata: Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Dhubâ’ah bintu az-Zubair seraya berkata kepadanya: Apakah kamu ingin berhaji? Ia menjawab: Demi Allah aku selalu merasakan sakit. Maka beliau berkata kepadanya: Berhajilah dan buatlah syarat dan katakan: Ya Allah tempat tahallulku adalah tempat aku terhalang. [HR Muslim 2960].

Para Ulama mengambil dari kisah di atas hukum seorang yang berihrâm kemudian mendapatkan sesuatu yang menghalanginya, baik berupa sakit atau terhalang oleh musuh dari kesempurnaan manâsik. Maka, ia diperbolehkan bertahallul dan tidak dikenakan dam apabila mengucapkan syarat ini.

Syaikh Ibnu Utsaimîn rahimahullah berkata, “Bila seseorang telah menyampaikan syarat, maka tidak ada kewajiban qadha` dan tidak juga dam, kecuali apabila hajinya haji wajib secara syariat atau wajib karena nadzar, maka ia diwajibkan mengqadha walaupun telah bersyarat. [Syarhul-Mumti’ 7/413].

Apabila tidak mengucapkan syarat ini, maka diwajibkan menyembelih sembelihan sebagaimana diperintahkan Allah dalam firmanNya:

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ ۚ فَإِنْ أُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ ۖ وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ   

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya.[al-Baqarah/2:196]

Demikian juga pernah terjadi pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika terhalangi dari umrah dalam perjanjian Hudaibiyah, beliau menyembelih sembelihan, lalu mencukur rambut dan bertahallul. Dengan demikian maka ibadah haji atau umrah tersebut batal.

Apabila halangan tersebut berlalu setelah bertahallul, maka kita melakukan ibadah umrah atau haji dari awal lagi.

Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIII/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 31 Mei 2016

Print Friendly