Inilah Mubadzir, Inilah Israf!

Inilah Mubadzir, Inilah Israf!

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

ما زاد عن الحاجة يسمى إسراف، وصرف المال في غير وجهه يسمى تبذير

Menggunakan harta melebihi kebutuhan disebut israf, dan menggunakan harta secara tidak layak disebut tabdzir.

Demikian, kaidah yang disampaikan Imam Ibnu Baz ketika menjelaskan batasan mubadzir dan israf (sikap berlebihan).

Dalam al-Quran, Allah mencela dua sikap ini: Israf dan tabdzir.

Allah membenci sikap israf:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Makan, minumlah kalian dan jangan bersikap israf. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat israf. (QS. al-A’raf: 31).

Allah menyebut orang mubadzir sebagai temannya setan,

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا . إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

Janganlah bersikap mubadzir. Sesungguhnya orang yang mubadzir itu temannya setan… (al-Isra: 26 – 27)

Imam Ibu Baz ditanya, bagaimana batasan untuk memahami israf dan mubadzir?

Jawaban beliau,

الله – جل وعلا- بين هذا, وقال-سبحانه-: وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيراً؛ والتبذير وضع الأموال في غير محلها صرفها في غير جهة النفقة, وقال-تعالى-في صفة النفقة المضبوطة والمستقيمة: وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَاماً, يعني لم يزيدوا في النفقة ولم يقصروا بل أنفقوا وسطا هذا هو المشروع, أما من زاد وأنفق في غير محل الإنفاق فهذا يقال له إسراف وتبذير, ما زاد عن الحاجة يسمى إسراف, وصرف المال في غير وجهه يسمى تبذير

Allah ta’ala telah menjelaskan hal ini. Allah berfirman (yang artinya), ‘Janganlah bersikap mubadzir.’ Tindakan tabdzir adalah menggunakan harta tidak pada tempatnya, seperti menggunakannya untuk selain nafkah. Allah menjelaskan contoh bentuk nafkah yang baik,

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَاماً

Orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS. al-Furqan: 67)

Artinya, mereka tidak membelajakan harta melebihi kebutuhan nafkahnya, dan tidak pelit dengan mengurangi jatah nafkah. Namun mereka menggunakan harta pertengahan. Inilah yang disyariatkan. Adapun orang yang berlebihan dan membelanjakan harta di luar kebutuhannya nafkah, ini disebut israf dan tabdzir. Menggunakan harta melebihi kebutuhan disebut israf, dan menggunakan harta secara tidak layak disebut tabdzir.

(http://www.binbaz.org.sa/mat/20480)

Orang yang membeli baju atau makanan yang harganya sangat mahal, ini israf. Baju dan makanan bagian dari nafkah. Namun ketika itu berlebihan, tergolong israf.

Membeli kendaraan, bagian dari nafkah. Namun ketika dia koleksi banyak kendaraan dengan berbagai macam jenisnya, hanya untuk memuaskan hobi, ini masuk israf.

Semua penggunaan harta untuk kegiatan maksiat, tergolong mubadzir. Pelakunya temannya setan. Karena menggunakan harta untuk maksiat, termasuk menggunakan harta di luar batas sewajarnya.

Semua penggunaan harta untuk merusak badan dan mengganggu lingkungan, itulah tabdzir. Karena merusak badan termasuk maksiat. Tak terkecuali rokok.

Menggunakan harta untuk menyia-nyiakan waktu, ini maksiat. Sehingga tergolong mubadzir. Termasuk menghabiskan harta untuk PS.

Allahu a’lam .

Ditulis oleh ustadz Ammi Nur Baits

PengusahaMuslim.com Didukung Oleh ..

———-

Sumber: www.pengusahamuslim.com – Senin,16 Pebruari 2015

Print Friendly