Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Di Utus Untuk Menjadi Rahmat Bagi Seluruh Alam (2)

NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM DI UTUS UNTUK MENJADI RAHMAT BAGI SELURUH ALAM

Oleh
Al-Ustadz Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat حَفِظَهُ الله تَعَالَى

Hadits keempat:

عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ارْكَبُوْا هَذِهِ الدَّوَابَّ سَالِمَةً وَابْتَدِعُوهَا سَالِمَةً وَلاَ تَتَّخِذُوهَا كَرَاسِيَّ. (رواه أحمد والدارمي والحاكم والبيهقي)

Dari Sahl bin Mu’adz, dari bapaknya (yaitu Mu’adz bin Anas), dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Naikilah (kendarailah) binatang-binatang ini dengan baik, dan (kalau tidak dinaiki atau dikendarai) biarkanlah dia dengan baik, dan janganlah kamu menjadikan binatang-binatang ini sebagai tempat-tempat duduk”. [Hadits hasan riwayat Ahmad (3/440 & 4/234), ad-Dârimiy (2/286), Hakim (1/444 & 2/100) dan Baihaqiy (5/255)]

Hadits kelima:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ: أَرْدَفَنِيْ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلْفَهُ ذَاتَ يَوْمٍ فَأَسَرَّ إِلَيَّ حَدِيثًا لاَ أُحَدِّثُ بِهِ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ. وَكَانَ أَحَبُّ مَا اسْتَتَرَ بِهِ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَاجَتِهِ هَدَفًا أَوْ حَائِشَ نَخْلٍ. قَالَ: فَدَخَلَ حَائِطًا لِرَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ فَإِذَا جَمَلٌ، فَلَمَّا رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَنَّ وَذَرَفَتْ عَيْنَاهُ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَسَحَ ذِفْرَاهُ فَسَكَتَ فَقَالَ: مَنْ رَبُّ هَذَا الْجَمَلِ؟ لِمَنْ هَذَا الْجَمَلُ؟ فَجَاءَ فَتًى مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ: لِيْ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ .
فَقَالَ: أَفَلاَ تَتَّقِي اللَّهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهِيْمَةِ الَّتِيْ مَلَّكَكَ اللَّهُ إِيَّاهَا فَإِنَّهُ شَكَا إِلَيَّ أَنَّكَ تُجِيْعُهُ وَتُدْئِبُهُ.(رواه أبوداود وأحمد والحاكم)

Dari Abdullah bin Ja’far, dia berkata: Pada suatu hari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memboncengiku dibelakang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam (ketika beliau menaiki ontanya), kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan sesuatu kepadaku secara rahasia, dan aku tidak mau menceritakannya kepada seorang manusiapun. Kemudian yang paling disukai oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menutup dirinya (agar tidak terlihat oleh manusia) ketika buang hajat adalah sesuatu yang tinggi atau pohon-pohon korma kecil [6] .
Berkata Abdullah bin Ja’far: Kemudian beliau masuk ke sebuah kebun kepunyaan orang Anshar, maka tiba-tiba di situ ada seekor onta. Maka tatkala onta itu melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seketika onta itu menangis terisak-isak dan mengalirlah air matanya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menghampirinya, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusap punggungnya, maka berhentilah onta itu dari tangisnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapakah pemilik onta ini? Kepunyaan siapakah onta ini?” Lalu seorang pemuda dari kaum Anshar datang seraya menjawab, “Kepunyaanku wahai Rasûlullâh.”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (kepada pemuda itu), “Tidakkah kau takut kepada Allâh Azza wa Jalla pada binatang yang Allâh telah memberikan kekuasaan kepadamu untuk memilikinya ini!?. Sesungguhnya onta ini telah mengadu kepadaku, sungguh engkau telah membuatnya lapar dan lelah”.[Hadits shahih riwayat Abu Dawud (no: 2549), Ahmad (1/204-205) dan Hakim (2/99-100) dan yang selain mereka]

Hadits keenam:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: مَرَّ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَجُلٍ وَاضِعٍ رِجْلَهُ عَلَى صَفْحَةِ شَاةٍ وَهُوَ يَحِدُّ شَفْرَتَهُ وَهِيَ تَلْحَظُ إِلَيْهِ بِبَصَرِهَا، قَالَ: أَفَلاَ قَبْلَ هَذَا؟ أَوَ تُرِيْدُ أَنْ تُمِيْتَهَا مَوْتَتَيْنِ؟ (رواه الطبراني في المعجم الكبير وفي المعجم الأوسط والحاكم)

Dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhuma, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati seorang laki-laki yang sedang meletakkan kakinya di badan seekor kambing sambil dia mengasah pisaunya, sedangkan kambing itu melirik (melihat) kepada laki-laki itu dengan matanya. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (kepada laki-laki itu), “Mengapakah (kau tidak mengasah pisaumu) sebelum (kau rebahkan dan kau letakkan kakimu di badan kambing) ini ? Ataukah kau hendak mematikannya (menyembelihnya) dengan dua kali kematian (sembelihan)?” [Hadits shahih riwayat ath-Thabraniy dalam kitabnya al-Mu’jamul Kabîr (11916) dan dalam kitab al- Mu’jamul Ausath (3614) dan Hâkim (4/231 & 233)]

Al-Imam al-Hâkim telah memberikan judul bab pada hadits ini (4/231), “Hendaklah mengasah pisau terlebih dahulu sebelum merebahkan udh-hiyyah (hewan kurban yang akan disembelih)”

Hadits ketujuh:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: كُنَّا مَعَ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ سَفَرٍ فَانْطَلَقَ لِحَاجَتِهِ فَرَأَيْنَا حُمَرَةً مَعَهَا فَرْخَانِ فَأَخَذْنَا فَرْخَيْهَا فَجَاءَتِ الْحُمَرَةُ فَجَعَلَتْ تَفْرِشُ فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: مَنْ فَجَعَ هَذِهِ بِوَلَدِهَا رُدُّوا وَلَدَهَا إِلَيْهَا!
وَرَأَى قَرْيَةَ نَمْلٍ قَدْ حَرَّقْنَاهَا فَقَالَ: مَنْ حَرَّقَ هَذِهِ ؟ قُلْنَا: نَحْنُ. قَالَ: إِنَّهُ لاَ يَنْبَغِيْ أَنْ يُعَذِّبَ بِالنَّارِ إِلاَّ رَبُّ النَّارِ. (رواه أبودود والبخاري في الأدب المفرد والحاكم)

Dari Abdurrahman bin Abdullah Radhiyallahu anhu, dari bapaknya (yaitu Abdullah bin Mas’ud), dia berkata: Kami pernah bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan (safar). Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi (sebentar) untuk sesuatu hajatnya. Tiba-tiba kami melihat seekor burung kecil bersama kedua anaknya. Kami pun menangkap kedua anak burung itu. Lalu burung itu terbang rendah sambil berputar-putar, kemudian datanglah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau bersabda, “Siapakah yang telah menyakitkan dan membuat sedih burung ini disebabkan (kehilangan) anaknya ? Kembalikanlah anaknya kepadanya!”
Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sarang semut yang telah kami bakar, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapakah yang telah membakar sarang semut ini?” Kami menjawab, “Kami”.
Beliau bersabda: “Sesungguhnya tidaklah patut menyiksa (mahluk) dengan api kecuali Pencipta api[7] ” [Hadits shahih riwayat Abu Dawud (2675 dan ini adalah lafazhnya & 5268), dan al-Bukhâri dalam kitabnya Adabul Mufrad (382) dan al-Hâkim (4/239)]

Al-Imam al-Hâkim telah memberikan judul bab pada hadits ini (4/239), “Cerita tentang seekor burung kecil yang mengadu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kehilangan kedua anaknya”
Dalam riwayat al-Imam al-Hâkim, ketika para Shahabat mengambil kedua anak burung itu, maka burung itu datang kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (mengadukan halnya) sambil bersuara keras (berteriak)…”.

Dalam riwayat al-Imam al-Bukhâri di kitabnya Adabul Mufrad (382) dengan judul bab, “Mengambil telur ( kepunyaan) dari burung kecil”[8]
Abdullah (bin Mas’ud)mengatakan, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam safarnya) pernah singgah di suatu tempat, maka salah seorang mengambil sebutir telur (yang sedang dikerami untuk ditetaskan) kepunyaan seekor burung hummarah (burung kecil). Lalu burung itu pun datang terbang rendah berputar-putar di atas kepala Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapakah yang telah menyakitkan burung ini disebabkan kehilangan telurnya?” Laki-laki itu menjawab: “Wahai Rasûlullâh, sayalah yang telah mengambil telurnya”.
Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kembalikanlah telur itu kepadanya sebagai rahmat (kasih-sayang) kepada burung itu”.

Hadits kedelapan:

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ قُرَّةَ عَنْ أَبِيْهِ: أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنِّيْ َلأَذْبَحُ الشَّاةَ وَأَنَا أَرْحَمُهَا أَوْ قَالَ إِنِّيْ َلأَرْحَمُ الشَّاةَ أَنْ أَذْبَحَهَا. فَقَالَ: وَالشَّاةُ إِنْ رَحِمْتَهَا رَحِمَكَ اللَّهُ (مَرَّتَيْنِ). (رواه أحمد والبخاري في الأدب المفرد والحاكم وأبونعيم في الحلية)
Dari Mu’awiyah bin Qurrah, dari bapaknya (yaitu Qurrah al-Muzaniy dia berkata), “Seorang laki-laki pernah bertanya, “Wahai Rasûlullâh, sesungguhnya (ketika) aku akan menyembelih seekor kambing aku menyayanginya (aku merasa kasihan kepadanya) –atau orang itu berkata, “Sesungguhnya aku mengasihani seekor kambing (ketika) aku akan menyembelihnya-?
Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seekor kambing, jika kamu menyayanginya niscaya Allâh Azza wa Jalla akan menyayangimu[9] ” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya dua kali. [Hadits shahih riwayat Ahmad (3/436 & 5/34), dan al-Bukhâri di kitabnya Adabul Mufrad (373 –dan tambahan dalam kurung dalam lafazh arabnya dari riwayat Bukhâri), dan al-Hâkim 3/586-587), dan Abu Nu’aim di kitabnya al-Hilyah (2/302 & 6/343)]

Hadits kesembilan:

عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ رَحِمَ وَلَوْ ذَبِيْحَةَ (عُصْفُوْرٍ) رَحِمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه البخاري في الأدب المفرد والطبراني في المعجم الكبير)

Dari Abu Umamah, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Barangsiapa menyayangi walaupun menyembelih seekor burung kecil, niscaya Allâh Azza wa Jalla akan menyayanginya pada hari kiamat”.
[Hadits hasan riwayat al-Bukhâri dalam kitabnya Adabul Mufrad (381) dan ath-Thabraniy dalam kitabnya al-Mu’jamul Kabîr (7913 & 7915 –dan tambahan dalam kurung dalam lafazh arabnya dari riwayatnya-].

Hadits kesepuluh :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: عُذِّبَتِ امْرَأَةٌ فِيْ هِرَّةٍ حَبَسَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ جُوْعًا فَدَخَلَتْ فِيْهَا النَّارَ.
قَالَ: فَقَالَ – وَاللَّهُ أَعْلَمُ -: لاَ أَنْتِ أَطْعَمْتِهَا وَلاَ سَقَيْتِهَا حِيْنَ حَبَسْتِيْهَا وَلاَ أَنْتِ أَرْسَلْتِهَا فَأَكَلَتْ مِنْ خَشَاشِ الأَرْضِ. (رواه البخاري في صحيحه و في الأدب المفرد ومسلم والدارمي)

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma (dia berkata): Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Seorang wanita telah di adzab disebabkan seekor kucing yang telah dia kurung sampai kucing itu mati kelaparan, maka dengan sebab itu dia masuk neraka”.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Maka Allâh Azza wa Jalla berfirman –padahal Allâh Azza wa Jalla lebih tahu-: “Engkau tidak memberinya makan dan tidak memberinya minum ketika engkau mengurungnya, dan tidak pula engkau membiarkannya (melepaskannya) agar kucing itu dapat mencari makan sendiri dari binatang-binatang kecil (seperti serangga) bumi”.
[Hadits shahih riwayat al-Bukhâri di kitab shahihnya (2365 –dan ini lafazhnya-, 3318 & 3482) dan di kitabnya Adabul Mufrad (379) dan Muslim (2242) dan ad-Darimiy (2/331)]
.
Hadits ini juga telah diriwayatkan dari jalan jama’ah para Shahabat sebagaimana telah saya takhrij di kitab yang lain.

Hadits kesebelas:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيْفُ بِرَكِيَّةٍ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِيْ إِسْرَائِيلَ فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ. (رواه البخاري ومسلم وأحمد)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata,”Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Ketika seekor anjing memutari sebuah sumur hampir saja rasa haus membunuhnya, tiba-tiba salah seorang pelacur dari pelacur-pelacur Bani Israil melihatnya, maka segera dia membuka sepatunya (lalu dia mengambil air dengan sepatunya itu) kemudian dia memberi minum kepada anjing itu, maka dengan sebab itu diampunkan (dosanya)”.
[Hadits shahih riwayat al-Bukhâri (3321 & 3467 –dan ini lafazhnya-) dan Muslim (2245) dan Ahmad (2/507)]

Hadits kedua belas:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِّ: النَّمْلَةُ وَالنَّحْلَةُ وَالْهُدْهُدُ وَالصُّرَدُ.
رواه أبوداود وأحمد والدارمي وابن ماجه وغيرهم.

Dari Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu , dia berkata, “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang membunuh empat macam binatang: Semut, lebah, burung hud-hud dan burung shurad”.
[Hadits shahih riwayat Abu Dawud (5267), Ahmad (1/332 & 347), Darimiy (2/88-89), Ibnu Majah (3224) dan lain-lain]

Hadits ketiga belas:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: قَرَصَتْ نَمْلَةٌ نَبِيًّا مِنَ الأَنْبِيَاءِ فَأَمَرَ بِقَرْيَةِ النَّمْلِ فَأُحْرِقَتْ فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَيْهِ: أَنْ قَرَصَتْكَ نَمْلَةٌ أَحْرَقْتَ أُمَّةً مِنَ الأُمَمِ تُسَبِّحُ (فَهَلاَّ نَمْلَةً وَاحِدَةً).
رواه البخاري ومسلم.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang Nabi dari Nabi-Nabi (Allâh) pernah disengat oleh seekor semut, lalu dia memerintahkan untuk membakar sarang semut itu, maka Allâh Azza wa Jalla mewahyukan kepadanya, “Karena seekor semut yang telah menyengatmu maka engkau telah membakar satu umat dari umat-umat yang bertasbih (kepada Allâh), mengapakah tidak seekor semut saja!?”.[10]
[Hadits shahih riwayat al-Bukhâri (3019 & 3319) dan Muslim (2241). Tambahan dalam kurung dalam lafazh arabnya dari riwayat keduanya]

Itulah sebagian hadits yang telah menjelaskan kepada kita dari sabda-sabda suci Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia sebagai Nabiyyur rahmah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa Islamlah yang pertama kali meletakkan dasar-dasar rahmatul bahâ-im, atau kasih-sayang kepada hewan yang telah ditinggalkan dan dilupakan oleh sebagian kaum muslimin. Maka ketika kita meninggalkannya, bangkitlah orang-orang kafir mengambilnya dari Islam yang sebenarnya itu adalah bagian kita yang sangat besar.

Kemudian orang-orang kafir berbicara dalam bab ini dengan panjang-lebar, baik lisan maupun tulisan sampai-sampai mereka telah berlebihan dan melampaui batas dari apa yang dikehendaki oleh Islam dan diajarkan oleh Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini disebabkan, karena memang mereka mengerjakannya bukan atas dasar iman dan mengikuti Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tetapi mereka telah melihat, bahwa ajaran Islam dalam bab ini –sebagaimana semua ajaran Islam lainnya kalau sekiranya mereka mau mempelajarinya- amat sangat menakjubkan mereka. Kemudian mereka mengambilnya dan mempraktekkannya dan membuat berbagai macam peraturan sebagaimana telah kita ketahui.

Akan tetapi, walaupun mereka mengerjakannya bukan atas dasar keimanan kepada Allâh Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, tetap saja hal ini sebagai hujjah besar akan kebenaran Islam dan kebenaran dari kenabian dan kerasulan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabiyyur rahmah.

Sesungguhnya Islam tegak dengan ilmu dan keadilan, Islam yang datang untuk kemaslahatan bagi umat manusia, Islam yang menghilangkan segala macam mudharat ( bahaya) atau memperkecilnya, atau mendahulukan mencegah bahaya dari mengambil maslahat, atau menanggung bahaya yang kecil untuk kemaslahatan yang jauh lebih besar, atau memilih bahaya yang lebih kecil dari bahaya yang lebih besar, atau meninggalkan sebuah kemaslahatan untuk meraih kemaslahatan yang lebih besar atau dengan sebabnya tercegalah bahaya, telah membolehkan membunuh sebagian hewan yang membahayakan sebagaimana telah disabdakan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما : أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: خَمْسٌ مِنَ الدَّوَابِّ كُلُّهُنَّ فَاسِقٌ يَقْتُلُهُنَّ فِي الْحَرَمِ: الْغُرَابُ وَالْحِدَأَةُ وَالْعَقْرَبُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُوْرُ.
رواه البخاري ومسلم والترمذي والنسائي وابن ماجه وغيرهم.

Dari Aisyah Radhiyallahu anhuma (dia berkata): Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Ada lima macam binatang yang semuanya fasiq[11] diperbolehkan dibunuh di tanah haram (Makkah dan Madinah): Burung gagak, burung rajawali, kalajengking, tikus dan kalbul ‘aquur[12] ”
[Hadits shahih riwayat Bukhari (1829 & 3314), Muslim (1198), Tirmidziy (837), Nasaa-i (2829, 2881, 2882, 2887, 2888, 2890 & 2891) dan Ibnu Majah (3087) dan lain-lain]

Dalam salah satu riwayat Muslim:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ: الْحَيَّةُ وَالْغُرَابُ الأَبْقَعُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُوْرُ وَالْحُدَيَّا.

Dari Aisyah Radhiyallahu anhuma , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau telah bersabda, “Lima jenis binatang yang fasiq diperbolehkan di bunuh di tanah halal dan di tanah haram (Makkah dan Madinah): Ular, burung gagak yang putih punggung dan perutnya, tikus, kalbul ‘aquur dan burung rajawali”

Hadits yang sama juga telah diriwayatkan dari jalan Abdullah bin Umar:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما : أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: خَمْسٌ مِنَ الدَّوَابِّ مَنْ قَتَلَهُنَّ وَهُوَ مُحْرِمٌ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ: الْعَقْرَبُ وَالْفَأْرَةُ وَالْكَلْبُ الْعَقُوْرُ وَالْغُرَابُ وَالْحِدَأَةُ.
رواه البخاري ومسلم والنسائي وأبوداود وابن ماجه وغيرهم.

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhuma (dia berkata): Sesungguhnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Lima jenis binatang barangsiapa yang membunuhnya dalam keadaan ihram, maka tidak ada dosa atasnya (yaitu): Kalajengking, tikus, kalbul ‘aquur, burung gagak dan burung rajawali”.
[Hadits shahih riwayat al-Bukhâri (1828 & 3315 –dan ini lafazhnya-), Muslim (1199 & 1200), Abu Dawud (1846), Nasaa-i (2828, 2832, 2835 & 2889) dan Ibnu Majah (3088) dan lain-lain]

Kemudian umumnya para Ulama telah mengkaitkan atau mengqiyaskan lima macam binatang yang telah diperbolehkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk di bunuh dengan binatang-binatang yang lainnya yang sering mengganggu dan membahayakan. Hal ini tidaklah menafikan rahmat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , justru hal ini bagian dari rahmat yang sangat besar sebagaimana telah diketahui secara pasti oleh setiap orang yang berakal yang berjalan di atas akalnya yang sehat dan memiliki ketegasan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun XV/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[6]. Yakni kebiasan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika buang hajat –buang air kecil- menjauh dari manusia, dan sesuatu yang beliau sukai adalah tembok atau dinding yang tinggi atau pohon-pohon korma kecil agar tidak terlihat oleh manusia.
[7]. Yakni Allâh-lah Pencipta api yang berhak menyiksa mahluk-Nya dengan api.
[8]. Mengambil sebutir telur atau lebih kepunyaan burung yang sedang dikerami untuk ditetaskan menafikan rahmat (kasih-sayang) kepada burung itu.
[9]. Yakni, walaupun tetap engkau menyembelihnya –karena memang penyembelihan ini telah dihalalkan oleh Agama-, tetapi engkau menyayanginya dan mengasihinya dan merasa kasihan kepadanya, niscaya Allâh akan membalas kasih-sayangmu dengan kasih-sayang dari Allâh. Sesungguhnya balasan itu sesuai dengan jenis amalnya.
[10]. Yakni, mengapakah engkau tidak membunuh seekor semut saja yang telah menyengatmu, bukan semuanya!
[11]. Yakni yang memberikan gangguan dan membahayakan.
[12]. Kalbul ‘aquur ialah setiap binatang yang membahayakan atau menyerang seperti anjing yang menyerang, srigala, singa, harimau, macan dengan beberapa jenisnya, ular dan lain-lain binatang yang sifatnya memberikan gangguan dan membahayakan sebagaimana dijelaskan di Fat-hul Baari’ Syarah Shahih Bukhari oleh al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah (no: 1828 & 1829).

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 14 Maret 2014

Print Friendly