Membuat Tidak Pernah Berputus Asa – Buah Manis Beriman Kepada Takdir (bag. 05)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Saudaraku seiman…

Hanya orang-orang kafir yang berputus asa dari ujian dan musibah yang didapatkan…

{ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ} [يوسف: 87]

Artinya: “Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. QS. Yusuf: 87.

Sedangkan seorang mukmin tidak pernah berputus asa, ujian dan musibah apapun yang ia hadapi;

عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ».

Artinya: “Shuhaib radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh takjub perkara seorang beriman, sesungguhnya seluruh perkaranya adalah baik, dan tidak seorangpun memiliki itu kecuali untuk seorangmukmin, jika ia mendapat kebaikan ia bersyukur, maka hal itu lebih baik untuknya dan jika ia mendapat keburukan ia bersabar, maka hal itu lebih baik baginya.” HR. Muslim.

Pertanyaan yang timbul adalah kenapa, seorang mukmin begitu tegar, kokoh dan pantang berputus asa, sedangkan orang kafir kenapa terlihat begitu rapuh, kemenyek dan cepat sekali berputus asa.

{ مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (22) لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23) } [الحديد: 22 – 23]

Artinya: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lohmahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” “(yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barang siapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” QS. Al Hadid: 22-23.

Saudaraku seiman…

Perhatikanlah ayat di atas! Bukankah Allah mengaitkan ujian dan musibah yang menimpa seseorang dengan takdir yang sudah tertulis di dalam Al Lauh Al Mahfuzh, dan faidah itu semua adalah agar kita orang beriman tidak berputus asa atas kehilangan yang kita rasakan akibat musibah yang menimpa kita.

Mari perhatikan beberpa perkataan penuh makna tentang ini:

Syaikh Abdurrahman bin Nahsir As Sa’di rahimahullah berkata:

“وأخبر الله عباده بذلك، لأجل أن تتقرر هذه القاعدة عندهم، ويبنوا عليها ما أصابهم من الخير والشر، فلا ييأسوا ويحزنوا، على ما فاتهم، مما طمحت له أنفسهم، وتشوفوا إليه لعلمهم أن ذلك مكتوب في اللوح المحفوظ، لا بد من نفوذه ووقوعه، فلا سبيل إلى دفعه، ولا يفرحوا بما آتاهم الله، فرح بطر وأشر، لعلمهم أنهم ما أدركوه بحولهم ولا قوتهم، وإنما أدركوه بفضل الله ومنّه، فيشتغلوا بشكر مَن أولى النعم ودفع النقم”.

“Dan Allah telah mengabarkan kepada para hamba-Nya tentang hal tersebut, agar tetap kaidah ini pada diri mereka, dan mereka membangun di atas (kaidah) tersebut apa yang mereka dapati dari kebaikan dan keburukan, maka mereka tidak akan berputus asa dan sedih atas apa yang hilang dari mereka, yang diri mereka sangat berambisi untuk mendapatkannya dan yang mereka inginkan, karena pengetahuan mereka bahwa hal itu termaktub di dalam Al Lauh Al Mahfuzh, harus terjadi dan terlaksana, maka tidak ada jalan untuk menolaknya. Dan mereka tidak (terlalu) bergembira dengan apa yang telah Allah berikan kepada mereka, dengan kegemberiaan kesombongan dan membuat keburukan, karena pengetahuan mereka bahwa mereka tidak mendapatkannya dengan daya dan kekuatan mereka, dan sesungguhnya mereka mendapatkannya dengan kemurahan dan pemberian Allah, maka akhirnya mereka bersyukur kepada Dzat yang memberikan nikmat dan menahan bahaya.” Lihat kitab Taysir Al Aziz Ar Rahman Fi Tafsir Kalam Al Mannan, 7/299-300.

Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhohullah berkata ketika menjelaskan Surat Al Hadid ayat 22-23:  

فأخبر سبحانه أنه قدر ما يجري من المصائب وفي الأنفس؛ فهو مقدر ومكتوب، لا بد من وقوعه، مهما حاولنا دفعه، ثم بيَّن أن الحكمة من إخباره لنا بذلك لأجل أن نطمئن؛ فلا نجزع ونأسف عند المصائب، ولا نفرح عند حصول النعم فرحا ينسينا العواقب، بل الواجب علينا الصبر عند المصائب، وعدم اليأس من روح الله، والشكر عند الرخاء، وعدم الأمن من مكر الله، ونكون مرتبطين بالله في الحالتين. قال عكرمة – رحمه الله: “ليس أحد إلا وهو يفرح ويحزن، ولكن اجعلوا الفرح شكرًا والحزن صبراً”.

“Dan Allah yang Maha Suci memberitahukan bahwa apa yang terjadi berupa berbagai musibah (di dunia) dan di dalam diri, maka ia adalah sesuatu yang telah ditakdirkan dan tertulis, harus terjadi, betatapun kita berusaha menghalangnya, kemudian (Allah) menjelaskan bahwa hikmah dari pemberitahuan-Nya untuk kita akan hal tersebut, agar kita tenang, tidak gelisah dan sedih ketika mendapat berbagai musibah. Dan tidak bergembira ketika mendapatkan nikmat dengan kegembiraan yang melupakan akhirat, akan tetapi merupakan kewajiban kita adalah bersabar ketika datang musibah dan tidak berputusa asa dari rahmat Allah, serta bersyukur ketika mendapatkan nikmat dan tidak merasa aman dari siksa Allah, dan kita selalu terkait dengan Allah di dalam kedua keadaan (senang dan sedih). Ikrimah rahimahullah berkata: “Tidak seorangpun melainkan ia akan merasa senang dan sedih, akan tetapi jadikanlah oleh kalian kesenangan tersebut sebagai bentuk kesyukuran dan kesedihan sebagai bentuk kesabaran.” Lihat kitab Al Irsyad Ila Shahih Al I’tiqad wa Ar Raddu “ala Ahli Asy Syirk wa Al Ilhad, hal: 301.

Saudaraku seiman…

SUDAH SAATNYA UNTUK SELALU BERSYUKUR KETIKA DAPAT NIKMAT DAN BERSABAR TANPA PUTUS ASA KETIKA DAPAT MUSIBAH.

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin

Rabu, 5 Dzul Qa’dah 1434H, Dammam Arab Saudi

———-

Sumber: www.dakwahsunnah.com ( Ahmad Zainuddin ) | Rabu, 11 September 2013 19:33

Print Friendly