Hati-Hati !

HATI-HATI !

Oleh
Ustadz Shuhub Subhan

Hati-hati, sebuah ungkapan yang biasanya digunakan orang untuk memberikan peringatan dari bahaya atau hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya. Kata ini ringan di ucapkan tapi terkadang susah di laksanakan, baik oleh pengucapnya sendiri ataupun orang yang diajak bicara.

Dari ungkapan ini, penulis teringat dialog antara Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu dengan Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu, dibawakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan makna takwa dalam surat al-Baqarah/2 ayat ke-2 .[1]

Di kisahkan bahwa Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang takwa. Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu menjawab, ”Pernahkan Anda melewati jalan yang penuh dengan duri ?” Umar Radhiyallahu anhu menjawab, “Pernah.” Ubay bertanya, “Lalu apa yang Anda lakukan ?” Umar menjawab, “Aku singsingkan lengan bajuku dan berhati-hati dalam melewatinya.”

Disini terlihat jelas, bahwa kata “hati-hati” bahkan dipakai sahabat untuk menerjemahkan apa itu takwa. Hati-hati bukan hanya dipesankan untuk sebuah perjalanan Solo-Jogja misalnya, tapi lebih luas dan lebih dalam dari itu yaitu perjalanan kehidupan seseorang menuju akhirat. Sebuah ungkapan dan permisalan yang sangat indah dan mengena dari seorang sahabat untuk mewakili makna takwa.

Kira-kira apa sebabnya orang-orang menggunakan kata hati-hati untuk memberikan peringatan dari bahaya atau hal-hal yang tidak menyenangkan ?

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memeringatkan ummatnya akan peran strategis hati yang ada pada jasad manusia, bahkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai sumber kebaikan seluruh jasad atau sebaliknya sebagai sumber kejelekan.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Ingatlah, sesungguhnya dalam jasad manusia itu ada segumpal daging, jika ia baik, baiklah seluruh jasad, dan jika ia rusak, rusaklah seluruh jasad, segumpal daging itu adalah hati( jantung/hati (nurani). [HR Muttafaq ‘alaih] [2].

Jadi memang demikianlah jika hati diperhatikan, di jaga dan di pedulikan maka kehidupan dunia dan akhirat kita akan selamat dan akan mendapat kebahagiaan. karena dengan hati yang sehat, orang bisa menahan diri dari syubhat, menahan diri dari syahwat. Sebaliknya, jika hati di abaikan maka penyakit, halangan dan duri berupa syubhat dan syahwat mudah hinggap dalam perjalanan kita menuju akhirat, dan niscaya kita akan sengsara, nelangsa.

Saat menjelaskan makna haditd diatas, Ibnu Rajab mengatakan, “Dalam hadis ini terdapat isyarat bahwa baiknya gerakan anggota badan seorang hamba, jauhnya dari yang haram dan terhindarnya dari syubhat sangat tergantung dari baik atau buruknya hatinya. Jika hatinya selamat, penuh dengan mahabbah (rasa cinta) kepada Allâh dan cinta kepada apa yang dicintai Allâh Azza wa Jalla, kemudian dipenuhi rasa takut kepada Allâh dan takut melakukan apa yang Allâh Azza wa Jalla benci maka baiklah seluruh gerkan anggota badannya, dan dari sini berbuah menjadi jauhnya ia dari hal-hal yang haram dan terhindar dari syubhat-syubhat. (Sebaliknya), jika hati itu rusak maka akan dikuasai untuk mengikuti hawa nafsu, dan selalu mencari sesuatu yang dicintai hawa nafsunya meskipun dibenci oleh Allâh Azza wa Jalla , dan menggiring kepada maksiat dan syubhat-syubhat sesuai apa yang di inginkan hawa nafsunya.[3]

Manusia yang mempunyai hati nurani tidak akan pernah lepas dari ujian. Hati manusia akan selalu menemui fitnah dan cobaan, imtihan,dan ibtila. Hati yang buruk akan mudah menerima keburukan sedang hati yang sehat akan berusaha kuat untuk menolaknya.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَىُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَىُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلاَ تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ وَالآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لاَ يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلاَّ مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ

Fitnah-fitnah itu akan dihadapkan kepada hati, seperti tikar, satu serat satu serat. Hati mana saja yang menyerap fitnah itu, maka satu noda hitam tertempel dalam hatinya. Dan hati mana saja yang tidak menerimanya, akan tertitiklah pada hati itu satu titik putih, sehingga, jadilah hati itu dua macam; putih seperti batu pualam, sehingga fitnah apapun tidak akan membahayakannya selama ada langit dan bumi, sementara hati lainnya berwarna hitam legam, seperti teko atau ceret terbalik, tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemunkaran selain hawa nafsu yang diserapnya. [HR Muslim] [4]

Maka perhatikanlah hati kita, karena ialah sumber keimanan dan cahaya yang menerangi jalan kehidupan kita sehingga tidak mudah terperosok dan terantuk. Menjadi hati yang selamat, qolbun salim, yang tidak ada manfaat disisi Allâh Azza wa Jalla pada kiamat kecuali datang menghadap Allâh Azza wa Jalla dengan hati yang selamat. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ﴿٨٨﴾ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allâh dengan hati yang bersih,hati yang selamat. [As-Syu’ara’/26:88-89]

Qolbun salim artinya selamat dari kejelekan dan keburukan. Yaitu hati yang di dalamnya penuh cinta kepada Allâh Azza wa Jalla dan cinta segala yang dicintai Allâh Azza wa Jalla, takut kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan takut dari segala yang menjauhkannya dari Allâh Azza wa Jalla [5]

Bagaimana jika hati terlanjur menerimanya dan menyerap keburukan tersebut ? apakah ia bisa dibersihkan lagi seperti membersihkan pualam dari noda ? Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيْئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإْنَ عَادَ زِيْدَ فِيْهَا حَتَّى تَعْلُوْ قَلْبَهُ

Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan perbuatan dosa maka akan tertitik dalam hatinya noda hitam jika ia menghilangkannya dan memohon ampun, dan di ampuni, maka hatinya itu dibersihkan. Jika ia melakukan kelasahan lagi, maka bintik hitam itu akan ditambah sehingga bisa menutupi hatinya. [HR. Ibnu Mâjah, Tirmidzi [6] . Hadits ini dihasankan oleh syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan Tirmidzi.]

Jika bintik, noda dan noktah hitam itu sudah penuh dan menutupi hatinya, maka noktah hitam yang datang berikutnya ke dalam hati akibat dari perbuatan dossa dan kemaksiatan, maka hati itu akan merasa tidak terpengaruh dengan noda yang mengotorinya, sebagaimana tidak terlihatnya noda hitam yang menempel pada kain hitam. Saat perbuatan dosa sudah tidak terasa lagi sebagai sebuah dosa, maka yang ada adalah rasa nyaman –’iyadzan billah. Semoga Allah menjaga hati kita dari keburukan seperti ini.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Dan (efek negatif dosa) yang paling berbahaya (paling mengkhawatirkan) bagi seorang hamba adalah dosa dan kemaksiatan bisa melemahkan keinginan hati sehingga keinginannya untuk melakukan perbuatan maksiat semakin kuat. Dosa melemahkan keinginan hati untuk bertaubat sedikit demi sedikit sampai akhirnya semua keinginan untuk taubat tercabut dari hati (tanpa meninggalkan sisasedikitpun). (Padahal) seandainya separuh dari hati seseorang itu sudah mati, maka itu sudah susah untuk bertaubat kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala [7].

Para Ulama banyak memperhatikan masalah ini, membahasnya panjang lebar, dan mencari formula yang tepat untuk menjaga dan mengobati hati, kemudian mendakwahkannya menuju hati yang selamat. Berikut beberapa kiat untuk mengobati hati dan menjaganya tetap sehat.

1. Membaca al-Qur’an dan mentaddaburi maknanya
Al-Qur’ân adalah penyejuk hati, obat bagi jiwa, dan cahaya bagi mata hati kita yang menerangi kita dari kegelapan syahwat dan syubhat. Al-Qur’an adalah kalamullâh Azza wa Jalla. Allâh Berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. [Yunus/10:57]

2. Melaksanakan shalat malam
3. Selalu berteman dan bergaul dengan orang-orang shaleh
4. Puasa
5. Dzikir

Dzikir adalah makanan hati, penenang jiwa dan pelembutnya, serta penerangnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allâh . Ingatlah, hanya dengan mengingati Allâh -lah hati menjadi tenteram” [Ar-Rad/13 : 28]

Dan diatas semua itu tentunya menuntut ilmu syar’i, ikuti kajian, ta’lim juga merupakan makanan hati yang paling utama karean illmu adalah cahaya, menerangi hati kita, menerangi jalan kita,menerangi tempat kita berpijak.Tentunya Ilmu yang disertai dengan amal.

Karena ketahuilah bahwa semua penyakit yang menimpa hati sebab utamanya adalah kebodohan atas ilmu Din dan obatnya adalah ilmu.

Jadi bisa kita beri pengertian lebih dalam jika orang tua kita berpesan kepada anaknya :” hati- hati nak!”, maka artinya adalah jagalah hatimu nak, jagalah dari yang membuat hatimu rusak, jauhilah fitnah syubhat, jauhilah fitnah syahwat, laksanakanlah perintah Allâh nak!, jauhilah segala larangannya! Hati-hati.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XV/1433H/2012M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al Adhim, juz 1 hlm.39
[2]. Bukhari no. 52, Muslim no.1599
[3]. Ibnu Rajab Al-Hambali, Jami’ul ulum wal hikam, (Dar Ibnu Jauzi, 1429) hlm.144
[4]. HR.Muslim no.144
[5]. Ibnu Rajab Al-Hambali, Jami’ul ulum wal hikam,(Dar Ibnu Jauzi,1429), hlm.144
[6]. Tirmidzi no,3334 , Ibnu Majjah no.4244
[7]. Ibnu Qayim Al-Jauziyah,Adda’ wa Dawa’, (Dar Ibnu Jauzi,1427) hlm. 91

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 2 Oktober 2013

Print Friendly