Pujian Ulama Terhadap Imam Al-Bukhari Dan Kitab Shahihnya

PUJIAN ULAMA TERHADAP IMAM AL-BUKHARI DAN KITAB SHAHIHNYA

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

NAMA BELIAU
Nama beliau adalah Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ismâ’îl bin Ibrâhîm bin al-Mughîrah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhâri rahimahullah (wafat th. 256 H). Beliau rahimahullah adalah Imam, Syaikhul Islam, al-Hâfizh, Amîrul Mukminin dalam hadits. Beliau rahimahullah memiliki banyak karya tulis yang sangat bermanfaat bagi umat. Beliau rahimahullah lahir pada bulan Syawwal tahun 194H dan wafat pada tahun 256H. [Lihat, Siyar A’lâmin Nubalâ’, XII/391]

NAMA KITAB
Kitab beliau terkenal di kalangan para Ulama dan ditengah kaum Muslimin dengan Shahîh Bukhâri. Nama lengkap adalah sebagaimana disebutkan oleh Imam Yahya bin Syaraf an-Nawawi rahimahullah yaitu al-Jâmi’ al-Musnad ash-Shahîh al-Mukhtashar min Umûri Rasûlillâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam wa Sunanuhu wa Ayyâmuhu. [Lihat, Tahdzîbul Asmâ’ wal Lughât, I/77]

JUMLAH HADITS
Jumlah hadits dalam Kitab Shahîh al-Bukhâri yaitu tujuh ribu dua ratus tujuh puluh lima hadits. Ini termasuk beberapa hadits yang dibawakan ulang. Apabila pengulangan itu tidak dihitung, maka jumlahnya empat ribu hadits.” [Nukilan di atas bisa dilihat dalam Tahdzîbul Asmâ’ wal Lughât, I/77-78, karya Imam an-Nawawi rahimahullah]

Bab-bab yang terdapat dalam Shahîh al-Bukhâri menunjukkan fiqh (pemahaman) Imam al-Bukhâri dan terkadang Beliau rahimahullahmengulang satu hadits dalam beberapa bab karena banyak faedahnya.

PUJIAN PARA ULAMA TERHADAP BELIAU DAN KITABNYA
• Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i rahimahullah (wafat th. 229 H) berkata, “Muhammad bin Ismâ’îl (al-Bukhâri) adalah orang yang faqih (faham ilmu agama) dari umat ini. [Siyar A’lâmin Nubalâ’, XII/419]

• Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat th. 241 H) berkata, “Belum pernah ada di Khurasan orang yang melahirkan anak seperti Muhammad bin Ismâ’îl al-Bukhâri. [Siyar A’lâmin Nubalâ’, XII/419]

• Abu Hâtim ar-Râzi rahimahullah (wafat th. 277 H) berkata, “Tidak ada orang yang keluar dari Khurasan yang lebih hafal dari Muhammad bin Ismâ’îl (al-Bukhâri) dan tidak ada yang datang ke Iraq yang lebih ‘alim dari al-Bukhâri rahimahullah. [Muqaddimah Fat-hil Bâri, hlm. 484, cet. Dârul Fikr]

• ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Fadhl bin Bahram ad-Dârimi rahimahullah (wafat th. 255 H) berkata, “Saya melihat Ulama di Haramain, Hijâz, Syâm, dan Iraq. Dan tidak ada yang lebih sempurna (ajma’) daripada Muhammad bin Isma’il. Beliau (al-Bukhâri) adalah orang yang paling ‘alim diantara kami dan paling faqih serta paling banyak muridnya. [Muqaddimah Fat-hul Bâri, hlm. 484]

• Imamnya para imam yaitu Abu Bakr Muhammad bin Ishâq bin Khuzaimah rahimahullah (wafat th. 311 H) berkata, “Tidak ada di bawah langit ini orang yang lebih ‘alim tentang hadits daripada Muhammad bin Ismâ’il. [Muqaddimah Fat-hul Bâri, hlm. 485 dan Syarah ilal at-Tirmidzi, I/494, Karya Ibnu Rajab al-Hanbali]

• Muhammad bin ‘Isa bin Saurah at-Tirmidzi rahimahullah (wafat th. 279 H) berkata, “Saya tidak melihat di Iraq dan Khurasan orang yang lebih ‘alim tentang ‘illat-illat hadits, târîkh dan sanad-sanad daripada Muhammad bin Isma’il al-Bukhâri. [Syarah ilal at-Tirmidzi, I/494, karya Ibnu Rajab al-Hanbali dan Muqaddimah Fat-hul Bâri, hlm. 485]

• al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalâni t (wafat th. 852 H) berkata dalam awal muqaddimahnya di Fat-hul Bâri, “Sungguh aku telah melihat bahwa Abu ‘Abdillah al-Bukhâri dalam Jâmi’ Shahîhnya telah mengambil penetapan dan pengambilan hukum dari cahaya yang indah –yakni al-Qur-an dan as-Sunnah-, mengambil dan menukil dari sumbernya, dan beliau dikaruniai niat yang baik dalam mengumpulkan hadits-hadits, sehingga orang-orang yang menyelisihi dan menyetujui mengakuinya, juga menerima pembicaraannya dalam Shahîhnya …” [Muqaddimah Fathul Bâri, hlm. 3]

• al-Hâfizh Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H) berkata, “Para Ulama telah bersepakat menerimanya –yakni Shahîh al-Bukhâri- dan keshahihan semua yang ada di dalamnya, begitu juga semua ummat Islam.” [al-Bidâyah wan Nihâyah (XI/250, Cet. II, th. 1431 H, Daar Ibnu Katsir]

• Imam Tâjuddîn Abu Nashr Abdul Wahhab bin Ali bin Abdul Kâfi as-Subky rahimahullah (wafat th. 771 H) berkata, “Adapun kitabnya (al-Bukhari) al-Jâmi’ as-Shahîh adalah kitab Islam yang paling mulia setelah Kitâbullâh.” [Thabaqâtus Syâfi’iyyatil Kubra, I/424, Cet. Daarul Kutub al-Ilmiyyah, th. 1420 H]

• Abu ‘Amr bin Shalah rahimahullah (wafat th. 643 H) berkata setelah beliau menyebutkan bahwa yang pertama kali menyusun kitab Shahîh adalah Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ismâ’îl al-Bukhâri al-Ju’fi, kemudian sesudahnya adalah Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi al-Qusyairiy, Muslim mengambil riwayat hadits dari Bukhâri dan mengambil manfaat darinya dan juga banyak meriwayatkan dari syuyâkh (para guru) Imam Bukhari. “Kitab mereka berdua adalah kitab yang paling Shahîh setelah Kitabullâh yang mulia…” Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya kitab al-Bukhâri adalah kitab yang paling Shahîh di antara keduanya dan yang paling banyak faedahnya.” [Muqaddimah Ibnus Shalah fii ‘Ulûmil Hadîts, hlm. 19, cet.1, Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah, th. 1416 H]

• Imam Muhyiddin Yahya bin Syaraf An-Nawawi rahimahullah (wafat th. 676 H) berkata, “Para ulama telah bersepakat bahwa kitab yang paling Shahîh setelah al-Qur’ân adalah Shahîh al-Bukhâri dan Muslim, dan ummat pun telah menerimanya, kitab al-Bukhâri adalah paling Shahîh dari keduanya dan paling banyak faedah, pengetahuan yang tampak maupun yang tersembunyi, dan telah Shahîh juga bahwa Muslim-lah yang mengambil faedah dari al-Bukhâri, beliau juga mengaku bahwa dirinya tidak setara (dengan al-Bukhari) dalam ilmu hadits.” [Syarah Shahîh Muslim oleh Imam an-Nawawi, I/14, cet. Daarul Fikr]

• Imam al-Hâfizh Jamaluddin Abul Hajjaj bin Yusuf al-Mizzi rahimahullah (wafat th. 742 H) berkata, “Abu ‘Abdillah al-Ju’fi al-Bukhâri pemilik kitab Shahîh adalah imam dalam hal ini, yang patut diikuti, dan kitabnya menjadi rujukan bagi ummat Islam.” [Tahdzîbul Kamâl fii Asmâ-ir Rijâl, XXIV/431, cet. 1, Mu-assasah Ar-Risalah, th. 1422 H]

• Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (wafat th. 728 H) berkata, “Termasuk yang Shahîh adalah apa yang telah diterima oleh ummat, dan dibenarkan oleh ahlul ‘ilmi yang faham tentang hadits, seperti hadits-hadits al-Bukhâri dan Muslim, karena semua ahlul ‘ilmi yang faham tentang hadits menetapkan keshahihan seluruh hadits dalam kedua kitab tersebut (Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim), dan seluruh manusia mengikuti mereka dalam mengenal hadits, maka ijma’ ahlul ‘ilmi dalam hadits bahwa khabar ini benar seperti ijma’ ahli fiqih bahwa perbuatan ini halal atau haram atau wajib. Jika ahlul ‘ilmi telah berijma’ (bersepakat) atas sesuatu, maka seluruh manusia mengikuti mereka. Ijma’ mereka adalah ma’shûm, tidak boleh berijma’ (bersepakat) atas kesalahan.” [Majmû’ Fatâwâ Syaikhul Islâm, XVIII/17]

• Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah juga berkata, “Tidak ada di bawah permukaan langit ini kitab yang lebih Shahîh setelah al-Qur’an dari Shahîh al-Bukhâri dan Muslim.” [Majmû’ Fatâwâ Syaikhul Islâm, XVIII/74]

• Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Bahkan kitab Shahîh al-Bukhâri adalah kitab yang paling mulia yang ditulis dalam bab ini. Dan imam al-Bukhâri makhluk Allah yang paling tahu tentang hadits dan ‘illat-‘illat (penyakit-penyakit) dan beliau orang yang paling faqih. Bahkan imam at-Tirmidzi menyebutkan bahwa ia belum pernah melihat seorang pun yang paling tahu tentang ’illat hadits daripada beliau. [Qâ’idah Jalîlah fit Tawassul wal Wasîlah, hlm. 171/no. 500, tahqiq Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali]

• Imam Muhamamd bin ‘Ali Asy-Syaukani rahimahullah (wafat th. 1250 H) berkata, “Ketahuilah bahwa apa-apa yang berasal dari hadits-hadits dalam Shahîhain atau salah satunya boleh dijadikan hujjah tanpa perlu diteliti, karena keduanya telah disepakati keshahihannya dan ummat telah menerimanya.” [Nailul Authâr, I/119, cet.1, Daar Ibnul Qayyim, th. 1426 H]

• Syaikh al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin Bâz rahimahullah (wafat th. 1419 H) berkata, “Secara ringkasnya, bahwa apa yang diriwayatkan oleh Syaikhân [al-Bukhâri dan Muslim) telah diterima oleh ummat, maka tidak didengar lagi pembicaraan seseorang yang mencela keduanya, semoga Allah merahmati keduanya, selain yang telah dijelaskan oleh ahlul ‘ilmi seperti yang telah lalu, wallahu waliyyut taufiiq. [Majmû’ Fatâwâ wa Maqâlât Mutanawwi’ah, XXV/69-70]

• Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albâni rahimahullah (wafat th. 1420 H) berkata, “…Bagaimana sedangkan Shahîhân adalah kitab yang paling Shahîh setelah al-Qur-an menurut kesepakatan ulama kaum muslimin dari ahli hadits dan selain mereka. Kedua kitab tersebut berbeda dari kitab-kitab sunnah yang lainnya, karena keduanya menyendiri (foKus) dalam mengumpulkan hadits-hadits yang paling Shahîh, membuang hadits-hadits dha’if dan matan-matan yang tidak sesuai dengan qaidah matan dan syarat-syaratnya. Mereka telah bersepakat dalam hal ini dengan kesepakatan yang sangat berpengaruh, tidak ada yang bersepakat seperti ini setelah mereka dari orang yang mengikuti jejak mereka dalam pengumpulan hadits Shahîh, seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan selain mereka, sampai menjadi kebiasaan yang umum bahwa hadits yang jika diriwayatkan oleh Syaikhân atau salah satunya maka telah melewati rintangan dan memasuki jalan yang Shahîh dan selamat, tidak ada keraguan dalam hal itu, dan itulah pokok kami.” [Syarhul ‘Aqîdah at-Thahâwiyyah, hlm. 22, takhrij Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Ke-9, al-Maktab al-Islamiy, th. 1408 H]

Wallaahu Waliyyut Taufiq.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XV/1433H/2012. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 2 Juli 2013

Print Friendly