Antara Berkah Bisnis Musiman dan Sial Ibadah Musiman

Oleh: Ustadz Dr. Arifin Baderi

Pendahuluan:

Alhamdulillah, shalawat dalam salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.  Maha Besar Allah Ta’ala yang telah menciptakan dunia dengan segala pergantian waktu dan musimnya. Betapa susahnya kehidupan Anda bila dunia diciptakan hanya satu warna dan rupa, tiada malam, tiada siang, tiada kemarau dan tiada musim penghujan.

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka, apakah kamu tidak mendengar?” Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” [Al Qashash 28:71-72]

Karena itu, bersyukur dan manfaatkanlah setiap perubahan yang terjadi. Percayalah, bahwa setiap perubahan pastilah membawa keberkahan dan keuntungan untuk anda, baik di dunia atau di akhirat. Dan  jadilah sebagai orang yang paling beruntung di setiap keadaan, tanpa perlu merasa terganggu sedikitpun kepentingan Anda.

Tidak heran bila banyak dari saudara Anda  yang memandang setiap perubahan waktu dan musim sebagai peluang baru untuk meraup keuntungan. Bukan hanya keuntungan materi, akan tetapi juga keuntungan akhirat. Tidak percaya? Cermatilah kesibukan Saudara-Saudaramu saat ini, mereka sibuk mempersiapkan diri, bukan hanya untuk berpuasa di bulan suci semata, akan tetapi juga dengan beraneka ragam jenis perniagaan dan pernak-perniknya.

Berkah Bisnis di Bulan Ramadhan.

Pada bulan suci ini, berbagai peluang bisnis dan pundi-pundi kekayaan terbuka lebar untuk Anda. Berbagai kesempatan bisnis musiman yang cukup menjanjikan, sepantasnya Anda manfaatkan. Betapa banyak komoditi perniagaan yang hanya laris manis di bulan suci ramadhan. Betapa sulitnya Anda menemukan barang-barang tersebut di bulan lain, apalagi memasarkannya.

Buah kurma misalnya, betapa besar pangsa pasar kurma di bulan ini. Setiap rumah umat Islam pastilah membutuhkan buah yang satu ini. Mereka menyadari bahwa buah kurma, apalagi yang masih segar atau yang disebut dengan ruthab adalah makanan paling utama untuk dikonsumsi ketika berbuka puasa. Demikianlah dahulu Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka puasa. Bila beliau memiliki ruthab, maka dengannya beliau memulai buka puasanya. Bila tidak memilikinya, maka beliau mengkonsumsi kurma, dan bila tidak memilikinya, maka beliau memulainya dengan menengguk beberapa tengguk air minum.

Nah, sudah barang tentu berjualan buah kurma di bulan ini pastilah tidak sesulit di luar bulan puasa. Dan tentu keuntungan yang Anda dapat-pun semanis buahnya. Di antara komoditi bisnis musim bulan ramadhan adalah hidangan takjil. Bila Anda pandai membuat kue basah, kolak, aneka es buah, tidak ada salahnya bila turut mencicipi segarnya bisnis hidangan takjil.

Pakaian muslim dan perlengkapan ibadah di bulan suci inipun tidak mau ketinggalan. Semangat umat Islam untuk meningkatkan ibadahnya, berdampak langsung pada permintaan terhadap barang-barang ini. Seakan  telah ada satu kesepakatan bersama bahwa di bulan suci ini, setiap muslim haruslah mengenakan baju koko atau yang sering disebut dengan baju taqwa, gamis, jubah, sajadah, sarung dan peci baru.

Keberkahan bisnis di bulan suci ini tidak hanya berhenti dengan berakhirnya puasa bulan ramadhan. Kegembiraan Anda dengan datangnya hari Idul Fitri sepantasnya Anda sempurnakan dengan torehan keuntungan yang melimpah. Terlebih, hari raya Idul Fitri selalu identik dengan pakaian baru dan berbagai hidangan dan jamuan yang istimewa.

Saudaraku! Berlakulah cermat dan tepat dalam melihat peluang. Petakanlah kebutuhan pasar dan kenalilah sumber kebutuhan lebaran yang berkualitas baik, dan berharga murah. Keuntungan yang melimpah dari bisnis musiman di bulan ramadhan dan hari lebaran pastilah menjadi milik Anda. Terlebih lagi, bila Anda mampu membangun sendiri jaringan distribusi, tentulah Anda menjadi juragan muslim baru. Pahala ibadah mengalir, dan keuntungan membanjir.

Sialnya Ibadah Musiman

Saudaraku! Perkenankan saya bertanya: Sejak kapan dan hingga kapankah Anda menjadi hamba Allah? Pernahkah Anda kehilangan atau melepas status sebagai hamba Allah, walau hanya sekejap?

Di bulan yang penuh berkah dan rahmat ini, masjid-masjid dan surau-surau ramai dengan hamba-hamba Allah yang mengabdikan amalannya untuk Allah Ta’ala. Ada yang dengan khusyu’ mendirikan shalat, ada yang membaca kalam ilahi, dan ada pula yang sibuk dengan bacaan doa dan shalawat. Nuansa ibadah dan ilahi begitu kental menyelimuti setiap sendi-sendi kehidupan masyarakat. Ini semua adalah bias langsung dari pancaran iman dan taqwa umat Islam yang sedang tumbuh dan berkembang.

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللّهَ فَعَسَى أُوْلَـئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS :At Taubah 18)

Akan tetapi, cobalah Anda sejenak menyelami lautan memori Anda tentang beberapa hari silam. Masjid-masjid hanya diramaikan oleh imam, muazin dan beberapa gelintir jamaah. Dan bila Anda cermati lebih lanjut, kebanyakan mereka adalah orang-orang yang telah lanjut usia. Akan tetapi  pusat-pusat perbelanjaan apalagi tempat-tempat hiburan sesak berjubelan oleh para pengunjung. Tua- muda, putra- putri, semuanya penuh antusias mengikuti setiap acara yang diadakan.

Tahukah Anda, mengapa semua ini dapat terjadi? Untuk menemukan jawabannya, silahkan Anda merenungkan sabda Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

(إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِى مُنَادٍ يَا بَاغِىَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِىَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلَّ لَيْلَةٍ) رواه البخاري ومسلم والترمذي واللفظ له

’’Apabila awal bulan ramadhan telah tiba, para setan dan jin-jin yang durhaka dibelenggu. Pintu-pintu neraka ditutup dan tidak satupun dibuka. Pintu-pintu surga dibuka dan tidak satupun ditutup. Dan ada penyeru yang berkata: ’’Wahai pencari kebaikan bergegaslah! Wahai pencari keburukan berhentilah..! Dan pada setiap malam Allah membebaskan sebagian hamba-Nya dari api neraka’’ (Diriwayatkan oleh Al Bukhkari, Muslim, Tirmidzi dan ini adalah teks riwayat At Tirmizi.)

Ternyata, selama ini kita berada dalam belenggu dan bayang-bayang godaan setan. Tidak aneh bila tiba saatnya setan dibelenggu, ibadah terasa ringan, jiwa kita dapat merasakan kedamaian hidup di bawah rahmat ilahi.

Walau demikian, tidak dapat dipungkiri pula bahwa kadang kala kita masih juga tergiur untuk menodai diri dengan kemaksiatan. Saudaraku! Bila setan di bulan ramadhan telah dibelanggu dan pintu neraka telah ditutup, akan tetapi anda tetap terpanggil untuk berbuat maksiat, lalu siapakah yang menggoda diri Anda?

Renungkanlah! Jangan-jangan selama ini setan hanya berperan sebagai pelengkap semata dalam setiap amal kemaksiatan Anda. Tidakkah Anda mendapat pelajaran dari pengakuan Nabi Yusuf ‘alaihissalam berikut ini:

“Dan aku tidak menyucikan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu mengajak kepada kejelekan, kecuali nafsu yang mendapat rahmat dari (Allah)  Tuhan-ku. Sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  (QS :Yusuf 53)

Saudaraku! Dahulu Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi terdahulu mengukir sejarah dengan tinta emas di bulan ramadhan. Kemenangan di perang Badar, Fathu Makkah, Al Qadisiyyah, Al Hitthin dan lain-lain. Demikianlah, karena mereka terbebas dari bayang-bayang setan di bulan suci ini, mereka berhasil berkarya dan mencatatkan mega prestasi. Bagaimana dengan diri Anda di bulan suci ini ? Mengapa rasa malas, dan lemas di bulan suci ini malah berlipat ganda pada diri Anda? Saya yakin Anda tidak termasuk yang dibelenggu di bulan suci ini?

Saudaraku! Saya yakin Anda sepakat dengan saya, bahwa bulan ramadhan bukanlah satu-satunya kesempatan untuk beribadah kepada Allah. Bulan ramadhan hanyalah sebagian kecil dari peluang yang Allah berikan kepada kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya.  Saya percaya, semboyan Anda adalah : “ Selama hayat masih dikandung badan, kita tetap beribadah kepada Allah.”

Dan beribadahlah kepada Tuhan-mu sampai datang kepadamu suatu keyakinan.” (QS :Al Hir 99)

Salim bin Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu menegaskan bahwa yang dimaksud dengan “keyakinan” adalah ajal alias kematian. Riwayat Al Bukhari :

Status Anda sebagai hamba Allah tiada batasnya selain ajal. Mengapa tidak? Bukankah selama hayat masih dikandung badan, anda terus menerus bergelimang dalam kemurahan dan kenikmatan Allah?

Layakkah bagi Anda yang beriman kepada Allah untuk membatasi status Anda sebagai hamba Allah dengan waktu, atau tempat?. Apalagi membatasinya dengan keadaan, sehingga Anda rajin beribadah di saat lapang dan menjadi malas ketika sedang kesusahan.

“Dan di antara manusia ada orang yang beribadah kepada Allah dengan berada di tepi, sehingga jika  ia mendapat kebaikan, maka ia menjadi tentram karenanya, akan tetapi bila ia ditimpa suatu bencana, segeralah ia berbalik ke belakang. Rugilah ia di dunia dan akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS : Al Hajj 11)

Penutup:

Pasang surut kehidupan dunia dan berbagai perubahan yang terjadi biasanya mengakibatkan terjadinya perubahan pada kebutuhan dan selera umat manusia. Tidak heran dan bahkan sudah sewajarnya memanfaatkan berbagai perubahan ini guna mendatangkan keuntungan dalam perniagaan Anda.

Akan tetapi, tidak wajar dan tidak layak bila perubahan yang pasti mendatangkan keuntungan bagi Anda ini justru menjadikan Anda merubah posisi dan status di hadapan Allah Ta’ala. Selamat menunaikan ibadah puasa bulan ramadhan dan menikmati nuansa rahmat ilahi dalam setiap sendi kehidupan Anda. Wallahu a’alam bisshawab

. . .

———-

Sumber: www.pengusahamuslim.com – Kamis, 4 Juni 2015

Print Friendly