Biografi Atha bin Abi Raba (Bagian 2)

Atha bin Abi Raba

Perangai mulia yang lainnya adalah wara’ dan menjaga diri dari melanggar keharaman-keharaman Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena hakikat penghambaan diri seseorang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah menjauhkan dirinya dari segala yang dimurkai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan termasuk wara’ adalah menjaga lisan dari mengucapkan sesuatu yang tidak didasari dengan ilmu dan bayyinah (bukti).

Abu Khaitsamah dari Abdul Aziz bin Rafi’ berkata: “Atha pernah ditanya tentang suatu masalah lalu ia menjawab, “Aku tidak tahu.” Lalu ada yang mengatakan, “Mengapa engkau tidak menajawab saja pertanyaan tersebut dengan pendapatmu.” Ia menjawab, “Sungguh, aku malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila ada seorang beragama di muka bumi ini hanya berpedoman pada pendapatku.”

Muhammad bin Suqoh mengatakan, “Maukah kalian aku ceritakan sesuatu yang bermanfaat bagi kalian seabagaimana juga bermanfaat bagiku?” Mereka menjawab, “Tentu.” Kemudian ia menceritakan tentang Atha, “Suatu ketika Atha bin Abi Rabah menasihatiku dengan mengatakan, ‘wahai anak saudaraku, sesungguhnya orang-orang sebelum ktia (para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam) membenci banyak bicara.’ Aku pun bertanya, ‘Apa sajakah yang termasuk banyak bicara menurut mereka?’ Ia mengatakan, ‘Sesungguhnya mereka (para sahabat) menganggap banyak bicara apabila seseorang mengatakan perkataan selain kitabullah yang dibaca dan dipahami, atau hadis-hadis Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang telah diriwayatkan, atau mengajak kepada yang baik dan mencegah dari yang jelek dan hina, atau berbicara suatu ilmu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau membicarakan kebutuhan hidup. Tidakkah kalian ingat “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu).” (Q.S. al-Infithor: 10-11).

Bersama kalian juga ada dua malaikat yang selalu mengawasi kalian, “Seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengurus yang selalu hadir.” (Q.S. Qof: 17-18).

Lalu ia menasihatkan, “Tidakkah kalian malu seandainya kelak lembaran-lembaran catatan amalan dibentangkan lalu di dalamnya dijumpai kebanyakan perkara-perkara yang bukan termasuk dari bagian agama tidak pula dunia?!!.”

Atha bin Abi Rabah meninggal dunia pada tahun 114 atau 115 Hijriah dalam umur 88 tahun. Al-Auza’i mengatakan, “Atha bin Abi Rabah meninggal dunia. Ia adalah penduduk bumi yang paling diridhai.”

Mutiara Teladan

Beberapa teladan yang semestinya dimiliki seorang muslim di antaranya:

  1. Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim. Kebutuhan kita terhadap ilmu lebih dari kebutuhan kita terhadap makanan dan minuman. Utamanya lagi ilmu yang dapat menunjukkan jalan penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  2. Ilmu dapat mengangkat derajat seseorang menjadi mulia; mulia di hadapan manusia dan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  3. Merupakan tanda barokahnya ilmu seseorang adalah ilmu tersebut dapat mengarahkannya untuk semakin merendahkan diri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala karena seseorang yang makin mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala maka ia akan makin mengetahui kekerdilan dan kehinaan dirinya di hadapan-Nya.
  4. Hendaklah seorang muslim berhias dengan perangai terpuji berupa sifat wara’ dan menjaga diri dari keharaman-keharaman Allah Ta’ala, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Betapa banyak perkara ini dihalalkan oleh kebanyakan kaum muslimin. Nas’alullah al-Afiyah.
  5. Saling menasihati di dalam kebaikan dan kesabaran adalah ciri kebaikan seorang muslim. Karena agama adalah nasihat dan nasihat itu bermanfaat bagi seorang muslim.

Wallahu A’lam.

Sumber: Majalah Al-Furqon, Edisi 04 Tahun ke-10 Muharram 1431 H/2010.


———-
Sumber: Kisah Muslim – www.kisahmuslim.com / Kamis, 3 November 2011

Print Friendly