Kenapa Dinamakan Perbuatan Syirik? (bag. 01)

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Saudaraku seiman…

Di bawah ini adalah tulisan berseri yang menjelaskan perbuatan-perbuatan yang dianggap dari perbuatan syirik menurut syariat Islam? Kenapa perbuatan tersebut sampai dinamakan perbuatan syirik? Apakah ada dalil-dalil dari Al Quran dan Sunnah serta perkataan para shahabat radhiyallahu ‘anhum yang menyebutkan kenapa sampai perbuatan tersebut dinamakan syirik? Itulah yang dibahas dalam tulisan-tulisan ini nantinya.

 

Saudaraku seiman, sebelumnya ketauhilah bahwa…

Syirik Adalah Dosa terbesar dari dosa-dosa besar lainnya

Harus diyakini oleh setiap muslim bahwa dosa syirik adalah dosa terbesar dibandingkan seluruh dosa besar, dosanya lebih besar dibandingkan dosa menzinai ibu kandung, membunuh bapak kandung, makan harta riba dari seorang paling miskin di dunia, korupsi seluruh uang rakyat, berjudi, bersaksi palsu, minum khamr sampai mati dan lain-lainnya dari dosa-dosa besar.

Hal ini berdasarkan ayat-ayat suci Al Quran dan hadits-hadits shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan kalau diperhatikan secara seksama dan penuh tadabbur, maka dapat diambil kesimpulan bahwa seluruh ayat-ayat suci Al Quran menjelaskan penetapan tauhid dan peniadaan serta larangan terhadap kesyirikan yang merupakan dosa terbesar.

Mulla Ali Al Qari rahimahullah berkata:

“أقول: فابتداء كلامه سبحانه وتعالى في الفاتحة بالحمد لله رب العالمين يشير إلى تقرير توحيد الربوبية المترتب عليه توحيد الألوهية المقتضي من الخلق تحقيق العبودية، وهو ما يجب على العبد أولاً من معرفة الله سبحانه وتعالى، والحاصل أنَّه يلزم من توحيد العبودية توحيد الربوبية دون العكس في القضية لقوله تعالى: {وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ}، وقوله سبحانه وتعالى حكاية عنهم {مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى}، بل غالب سور القرآن وآياته متضمنة لنوعي التوحيد، بل القرآن من أوله إلى آخره في بيانهما وتحقيق شأنهما، فإن القرآن إمَّا خبر عن الله وأسمائه وصفاته وأفعاله فهو التوحيد العلمي الخبري، وإمَّا دعوته إلى عبادته وحده لا شريك له وخلع ما يعبد من دونه فهو التوحيد الإرادي الطلبي، وإمَّا أمر ونهي وإلزام بطاعته فذلك من حقوق التوحيد ومكملاته، وإمَّا خبر عن إكرامه لأهل التوحيد وما فعل بهم في الدنيا وما يكرمهم به في العقبى، فهو جزاء توحيده، وإمَّا خبر عن أهل الشرك وما فعل بهم في الدنيا من النكال وما يحل بهم في العقبى من العذاب والسلاسل والأغلال فهو جزاء من خرج عن حكم التوحيد، فالقرآن كلّه في التوحيد وحقوق أهله وثنائهم، وفي شأن ذمِّ الشرك وعقوق أهله وجزائهم، فـ {الحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } توحيد، {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} توحيد، {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} توحيد، {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} توحيد، {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ} توحيد متضمن لسؤال الهداية إلى طريق أهل التوحيد، {صِرَاطَ الذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّين} الذين فارقوا التوحيد عناداً وجهلاً وإفساداً، وكذا السنة تأتي مبينة ومقررة لما دلَّ عليه القرآن، فلم يحوجنا ربنا سبحانه وتعالى إلى رأي فلان وذوق فلان ووجد فلان في أصول ديننا، ولذا نجد من خالف الكتاب والسنة مختلفين مضطربين بل قال الله تعالى: {الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً}(1)، فلا نحتاج في تكمليه إلى أمر خارج عن الكتاب والسنة …”

“Saya berkata: “Dimulainya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala pada surat Al Fatihah dengan الحمد لله رب العالمين mengisyaratkan kepada penetapan tauhid rububiyyah yang mengharuskan tauhid uluhiyyah yang berkonsekwensi dari makhluk perealisasian ibadah. Dan inilah yang wajib dilakukan oleh seorang hamba dari pengenalan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ringkasnya, bahwa diharuskan dari tauhid ibadah tauhid rububiyyah, dan tidak sebaliknya di dalam permasalahan ini, berdasarkan Firman Allah Ta’ala:

{وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللهُ}

Artinya: “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” tentu mereka akan menjawab: “Allah.” QS. Luqman: 25. Dan Firman Allah Ta’ala yang menceritakan tentang mereka (yaitu orang-orang musyrik):

{مَا نَعْبُدُهُمْ إِلاَّ لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللهِ زُلْفَى}

Artinya: “”Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” QS. Az Zumar: 3.

Bahkan mayoritas surat-surat Al Quran dan ayat-ayatnya mencakup dua jenis tauhid ini, bahkan (pula) Al Quran dari awalnya sampai akhirnya dalam rangka penjelasan tentang keduanya dan merealisasikan keduanya, karena sesungguhnya Al Quran,

–         baik berupa kabar tentang Allah, Nama-nama dan Sifat-sifat serta Perbuatan-perbuatan-nya, dan ini adalah tauhid ilmi khabri,

–         atau ajakan untuk beribadah kepada-Nya semata tiada sekutu bagi-Nya dan meninggalkan apa yang disembah selain-Nya, maka ini adalah tauhid al Iradi Ath Thalabi  

–         atau ia berupa perintah, larangan dan keharusan untuk taat kepada-Nya, maka hal itu dari hak-hak tauhid dan penyempurnanya.

–         Atau berupa khabar tentang pemuliaan-Nya terhadap ahli tauhid dan apa yang Allah perbuat terhadap mereka di dunia dan yang Ia muliakan untuk mereka di akhirat. Maka ini adalah ganjaran atas tauhidnya.

–         Dan juga (Al Quran) merupakan khabar tentang ahli syirik, dan apa yang dilakukan terhadap mereka di dunia berupa pelajaran serta apa yang mereka dapatkan di akhirat berupa siksa, rantai besi, maka ini adalah balasan atas keluarnya (mereka) dari tauhid. Jadi, Al Quran seluruhnya di dalam tauhid dan hak-hak para pelakunya serta pemujian atas mereka dan di dalam keadaan tercelanya kesyirikan serta hukuman dan balasan bagi pelakunya.  Jadi  {الحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } adalah tauhid, {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} adalah tauhid {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} adalah tauhid, {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} adalah tauhid, {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ} adalah tauhid, mencakup permintaan petunjuk kepada jalan ahli tauhid, ، {صِرَاطَ الذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّين} orang-orang yang memisahkan diri dari tauhid, dengan bentuk perlawanan, kebodohan dan pengrusakan, demikian pula sunnah datang menjelaskan dan menetapkan apa yang telah ditunjukkan oleh Al Quran. Jadi, Rabb kita tidak menyandarkan kita kepada pendapat si fulan, perasaan si fulan, dan pendapat si fulan di dalam pokok-pokok ajaran kita. Oleh sebab itulah kita mendapati siapa yang menyelisihi Al Quran dan Sunnah senantiasa mereka berbeda-beda dan terombang-ambing, bahkan Allah Ta’ala berfirman:

{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً}

Artinya: “Hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah kusempurnakan atas kalian nikmat-Ku serta Aku telag rela Islam sebagai agama bagi kalian.” Maka kita tidak membutuhkan penyempurnaan kepada perkara di luar Al Quran dan Sunnah.” Lihat kitab Syarah Al Fiqh Al Akbar, hal: 9-10.

Sekarang mari perhatikan ayat dan hadits yang mulia yang menjelaskan bahwa Syirik adalah DOSA TERBESAR DIBANDINGKAN DOSA-DOSA BESAR LAINNYA!!!

Allah Ta’ala befirman:

{ إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا} [النساء: 48]

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” QS. An NIsa’: 48.

{وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ} [لقمان: 13]

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar.” QS. Luqman: 13.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَىُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ قَالَ « أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ ». قَالَ قُلْتُ لَهُ إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ. قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ مَخَافَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ ». قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَىٌّ قَالَ « ثُمَّ أَنْ تُزَانِىَ حَلِيلَةَ جَارِكَ ».

Artinya: “Abdullah berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tentang dosa apakah yang paling berat di sisi Allah?”, beliau menjawab: “Kamu menjadika untuk Allah sekutu, padahal Ia yang telah menciptakanmu?”, lalu aku berkata: “Sungguh itu adalah (dosa) yang sangat berat”, lalau aku bertanya lagi: “Lalu (dosa) apa lagi?”, beliau menjawab: “kemudian (dosa) kamu membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu”, aku bertanya lagi: “Lalu (dosa) apa lagi?”, beliau menjawab: “Kemudian kamu mengajak berzina dengan istri tetanggamu.”  HR. Bukhari dan Muslim.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه, عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « أَكْبَرُ الْكَبَائِرِ الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَقَتْلُ النَّفْسِ ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ ، وَقَوْلُ الزُّورِ »

Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dosa yang paling besar adalah mensyirikkan Allah, membunuh seseorang, durhaka kepada orang tua dan kesaksian palsu”.

Bersambung insyaAllah..

Kenapa Dinamakan Perbuatan Syirik? (bag. 02)

 

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin

Selasa, 23 Rabiuts Tsani 1434h, Dammam KSA.

———-

Sumber: www.dakwahsunnah.com ( Ahmad Zainuddin ) | Rabu, 06 Maret 2013 07:55

Print Friendly