Hukum Mendatangkan Roh

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah
Terjemah :Muhammad Iqbal A.Gazali
Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

naml-165Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat dan yang mengikuti petunjuknya. Amma ba’du:

Sungguh banyak terjadi di tengah masyarakat dari kalangan penulis dan selain mereka sesuatu yang dinamakan ‘ilmu mendatangkan roh’. Mereka mengklaim bisa mendapatkan roh-roh orang yang sudah mati dengan cara yang diciptakan oleh orang-orang yang melakukan dengan sulapan ini. Mereka bertanya kepadanya tentang berita orang-orang mati berupa nikmat dan siksa serta selain yang demikian itu yang mereka kira bahwa orang-orang mati mengetahui hal itu dalam kehidupan mereka. Saya telah merenungkan persoalan ini sekian lama maka jelas bagiku bahwa ia adalah ilmu yang batil, ia merupakan sulapan syetan yang ditujukan untuk merusak akidah, akhlak, menyamarkan kepada kaum muslimin, dan menyampaikan kepada pengakuan mengetahui ilmu ghaib dalam perkara yang banyak. Karena alasan inilah saya menulis kata-kata singkat dalam masalah itu untuk menjelaskan kebenaran dan memberi nasihat kepada umat serta menyingkap kesamaran dari manusia.

Saya katakan: tidak diragukan lagi bahwa masalah ini sama seperti masalah-masalah lainnya, harus mengembalikannya kepada Kitabullah dan sunnah rasul-Nya. Apapun yang ditetapkan keduanya atau salah satunya tentu kita menetapkannya dan yang dinafikan oleh keduanya atau salah satunya niscaya kita menafikannya, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. an-Nisaa`:59)

Persoalan ‘roh’ termasuk masalah ghaib yang hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja yang mengetahui dan mengenal hakikatnya, maka tidak boleh mendalami padanya kecuali dengan dalil syara’, firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

عَالِمَ الْغَيْبِ فَلاَ يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا . إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. * Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. al-Jinn:26-27)

Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surah an-Naml:

قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ

Katakanlah:”Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, (QS. An-Naml:65)

Para ulama berbeda pendapat tentang maksud roh dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah:”Roh itu termasuk urusan Rabb-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (QS. al-Isra` :85)

Ada yang berpendapat: bahwa ia adalah roh yang ada di dalam tubuh. Berdasarkan pendapat ini maka ayat tersebut merupakan dalil bahwa roh adalah salah satu perkara Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang manusia tidak mengetahui sedikitpun tentang hal itu kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberitahukan kepada mereka, karena hal itu merupakan perkara yang hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang mengetahuinya dan Dia Subhanahu Wa Ta’ala menutup hal itu dari makhluk.

Al-Qur`an yang mulia dan hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan bahwa roh-roh orang mati tetap ada setelah matinya tubuh (badan), di antara dalil yang menunjukkan hal itu adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

اللهُ يَتَوَفَّى اْلأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ اْلأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Ia tahanlah jiwa (orang) yang telah ia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. (QS. az-Zumar:42)

Dan diriwayatkan dalam hadits bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam: Menyuruh di hari perang Badar dengan dua puluh empat orang dari pemuka Quraisy, lalu mereka dilemparkan di salah satu sumur Badar yang kotor lagi jijik. Dan apabila beliau menang terhadap suatu kaum, beliau tinggal/menetap di tanah lapang selama tiga malam. Maka tatkala di Badar pada hari ke tiga, beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menyuruh agar tunggangan diikat, kemudian beliau shalallahu ‘alaihi wasallam berjalan diikuti para sahabatnya dan mereka berkata: ‘Kami tidak mengira beliau pergi kecuali untuk menunaikan hajatnya,’ hingga beliau berdiri di tepi sumur, lalu beliau shalallahu ‘alaihi wasallam memanggil nama-nama mereka dan nama-nama bapak mereka:

‘Wahai fulan bin fulan, wahai fulan bin fulan..apakah menyenangkan kamu bahwa kamu taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya, sungguh kami telah mendapatkan apa yang dijanjikan Rabb kami menjadi kenyataan, apakah kamu mendapatkan yang dijanjikan Rabb-mu menjadi kenyataan? Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Ya Rasulullah, tidaklah engkau berbicara dari jasad yang tidak ada roh baginya.’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ… مَا أَنْتُمْ بِأَسْمَعَ لِمَا أَقُوْلُهُ مِنْهُمْ وَلكِنَّهُمْ لاَ يَسْتَطِيْعُوْنَ أَنْ يُجِيْبُوْا

‘Demi Allah yang diri Muhammad di dalam Tangan-Nya…kamu tidak lebih mendengar terhadap ucapanku dari mereka, namun mereka tidak bisa menjawab.”[1]

Dan dalam hadits shahih:

أَنَّ الْمَيِّتَ يَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِ الْمُشَيِّعِيْنَ لَهُ إِذَا انْصَرَفُوْا عَنْهُ

‘Sesunnguhnya mayit mendengar bunyi sendal orang-orang yang mengantarnya apabila mereka berpaling darinya.'[2]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata[3]: ‘Para salaf ijma’ (konsensus) atas hal ini dan atsar-atsar dari mereka sudah mencapai derajat mutawatir bahwa mayat mendengar ziarah orang yang hidup kepadanya dan bergembira dengannya. Dan Ibnul Qayyim rahimahullah mengutip bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata dalam tafsir firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

اللهُ يَتَوَفَّى اْلأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ اْلأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Ia tahanlah jiwa (orang) yang telah ia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. (QS. az-Zumar:42)

: sampai berita kepadaku bahwa roh-roh orang-orang yang hidup dan yang mati bertemu di dalam tidur, lalu saling bertanya di antara mereka. Lalu Allah Subhanahu Wa Ta’ala menahan roh-roh orang yang sudah mati dan melepaskan roh-roh orang-orang yang masih ke tubuh mereka.'[4]

Kemudian Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: ‘Pertemuan roh orang-orang yang masih hidup dan yang sudah mati ditunjukkan bahwa orang yang masih hidup melihat orang yang sudah mati di dalam tidurnya, lalu ia bertanya kepadanya dan yang mati mengabarkan kepadanya dengan sesuatu yang tidak diketahui oleh yang masih hidup, maka beritanya sama seperti yang dikabarkannya.[5]

Inilah yang bersumber dari kaum salaf bahwa roh orang-orang yang sudah wafat tetap ada hingga yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan mendengar, namun tidak ada dasarnya bahwa ia bisa berhubungan dengan orang yang hidup di luar tidur.

Sebagaimana tidak ada dasarnya pengakuan para pesulap tentang kemampuan mereka mendatangkan roh-roh orang mati yang mereka kehendaki, berbicara dan bertanya kepadanya. Ini semua adalah pengakuan-pengakuan batil, tidak ada dasar yang menguatkannya secara naql (riwayat, dalil) dan tidak pula secara akal. Bahkan sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Dia-lah Yang Maha Mengetahui dengan roh-roh ini, mengatur padanya. Dia Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Kuasa mengembalikannya ke jasadnya apabila Dia menghendaki hal itu. Hanya Dia Subhanahu Wa Ta’ala saja yang mengatur di dalam kerajaan-Nya dan makhluk-Nya, tidak ada yang bisa ikut campur. Adapun yang mengaku selain itu, maka ia mengaku sesuatu yang dia tidak mengetahui dan berbohong kepada manusia dalam menjual berita-berita roh: bisa jadi untuk mendapatkan harta, atau memamerkan kekuatannya yang tidak mampu dilakukan orang lain, atau untuk merancukan manusia untuk merusak akidah dan agama.

Pengakuan para pembohong tersebut berupa mendatangkan roh, sebenarnya hanyalah roh-roh syetan yang melayaninya dengan menyembahnya dan memenuhi permintaannya, dan ia membantunya sesuai permintaannya secara bohong dan palsu dalam menyerupai nama-nama yang mereka akui dari orang-orang yang sudah mati, seperti firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ اْلإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ . وَلِتَصْغَى إِلَيْهِ أَفْئِدَةُ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاْلآخِرَةِ وَلِيَرْضَوْهُ وَلِيَقْتَرِفُوا مَا هُم مُّقْتَرِفُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkan mereka dan apa yang mereka ada-adakan. * Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan. (QS. al-An’aam:112-113)

Dan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُم مِّنَ الإِنسِ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُم مِّنَ اْلإِنسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلَتْ لَنَا قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلاَّ مَا شَاءَ اللهُ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Allah berfirman):”Hai golongan jin (syaitan), sesungguhnya kamu telah banyak (menyesatkan) manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia:”Ya Rabb kami, sesungguhnya sebahagian dari pada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami”. Allah berfirman:”Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal didalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)”. Sesungguhnya Rabbmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. al-An’aam:128)

Para ulama tafsir menyebutkan bahwa kesenangan jin dengan manusia adalah penyembahan mereka (manusia) kepada mereka (jin) dengan menyembelih hewan, nazar, dan berdoa. Dan sesungguhnya kesenangan manusia dengan jin adalah dalam menunaikan hajat mereka yang mereka minta dari mereka (jin), mengabarkan kepada mereka sebagai perkara gaib yang diketahui jin di sebagian tempat yang jauh, atau mereka mengupingnya dari pembicaraan (malaikat), atau mereka berbohon dan itulah yang terbanyak. Andaikan para manusia itu tidak melakukan pendekatan diri kepada para roh yang mereka datangkan dengan sedikit ibadah, maka hal itu tidak berarti boleh dan halal, karena bertanya kepada para syetan, peramal, dukun, dan ahli nujum adalah dilarang secara syara’, dan mempercayai berita mereka lebih besar haram dan dosanya, bahkan ia termasuk cabang kekufuran, berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْئٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang mendatangi peramal, lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu niscaya shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam.”[6]

Dan dalam Musnad Ahmad dan sunan: dari nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم.

“Barangsiapa yang mendatangi dukun, lalu membenarkan (mempercayai) ucapannya, berarti ia telah kafir dengan yang diturunkan kepada Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.”[7]

Banyak sekali hadits dan atsar dalam makna ini, dan tidak diragukan lagi roh-roh yang mereka datangkan menurut pengakuan mereka masuk dalam kategori larangan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, karena ia termasuk jenis roh yang menyertai para dukun dan peramal dari golongan syetan, maka hukumnya sama. Maka tidak boleh bertanya kepadanya, tidak boleh mendatangkannya, dan tidak boleh pula membenarkannya. Bahkan semua itu haram dan kemungkaran, bahkan merupakan kebatilan, berdasarkan yang telah engkau dengar dari hadits-hadits dan atsar dalam hal itu, dan karena apa yang mereka kutip dari roh-roh ini dipandang termasuk ilmu gaib, dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللهُ

Katakanlah:”Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”,… (QS. an-Naml:65)

Bisa jadi roh-roh ini adalah syetan-syetan yang menyertai mayit-mayit yang mereka meminta roh-roh mereka, lalu ia mengabarkan sesuatu yang ia ketahui berupa kondisi mayit di saat hidupnya seraya mengaku bahwa ia adalah roh mayat tersebut yang ia menyertainya. Maka tidak boleh mempercayainya, tidak boleh memanggilnya, dan tidak boleh bertanya kepadanya, sebagaimana telah dikemukakan dalil atas hal itu. Apa yang didatangkannya tidak lain hanyalah syetan dan jin yang melayani mereka sebagai imbalan melakukan ibadah kepada mereka yang tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja. Hal itu membawa kepada syirik akbar yang mengeluarkan pelakunya dari agama. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari hal itu.

Lajnah Daimah (Tim tetap) di Darul Ifta` KSA telah menerbitkan fatwa tentang ‘hipnotis’ yang merupakan salah satu jenis mendatangkan ruh, inilah bunyinya:

(Hipnotis merupakan salah satu jenis sihir (perdukunan) yang mempergunakan jin sehingga di pelaku dapat menguasai diri korban, lalu berbicaralah dia melalui ucapannya dan mendapatkan kekuatan untuk melakukan sebagian pekerjaan setelah dikuasainya dirinya tersebut. Hal ini bisa terjadi, jika di korban benar-benar serius bersamanya dan patuh. Sebaliknya, hal ini dilakukan si pelaku karena adanya imbalan darinya terhadap hal yang dijadikannya taqarrub tersebut. Jin tersebut membuat si korban berada di bawah kendali di pelaku untuk melakukan pekerjaan atau berita yang dimintanya. Bantuan tersebut diberikan oleh jin bila ia memang serius melakukannya bersama si pelaku.

Atas dasar ini, menggunakan ‘hipnotis’ dan menjadikannya sebagai cara atau sarana untuk menunjukkan lokasi pencurian, benda yang hilang, mengobati pasien atau melakukan pekerjaan lain melalui si pelaku ini tidak boleh hukumnya. Bahkan, ini termasuk syirik karena alasan di atas dan hal itu termasuk berlindung kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap hal yang merupakan sebab-sebab biasa di mana Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikannya dapat dilakukan oleh para makhluk dan membolehkannya bagi mereka). Hingga di sini pernyataan lajnah.

Di antara orang yang mengungkap hakikat pengakuan batil ini adalah DR. Muhammad Muhammad Husain dalam bukunya: ar-Ruhiyatul haditsah: Hakikatuha wa Ahdafuha (ruh baru: hakikat dan tujuannya). Sebelumnya ia termasuk orang yang menipu dengan sulap ini dalam waktu yang lama, kemudian Allah Subhanahu Wa Ta’ala menunjukkan kepadanya jalan kebenaran dan mengungkap kepalsuan pengakuan itu setelah ia memasukinya dan tidak mendapatkan di dalamnya selain khurafat dan kebohongan belaka. Ia menyebutkan: bahwa orang-orang yang mendatangkan arwah melakukan beberapa cara: di antara mereka ada kalangan pemula yang berpegang di atas gelas kecil atau cangkir yang berpindah di antara huruf yang telah ditulis/dilukis di atas meja, dan terbentuk jawaban arwah yang dipanggil –menurut pengakuan mereka- dari kumpulan huruf menurut susunan berpindahnya padanya. Di antara mereka ada yang berpegang menurut cara keranjang yang diletakkan pulpen di sisinya yang menulis jawaban atas pertanyaan para penanya. Di antara mereka ada yang berpegang di atas perantara, seperti perantara hipnotis.

Dan ia menyebutkan bahwa ia ragu terhadap orang yang mengaku mendatang arwah, dan sesungguhnya di belakang mereka ada yang mendorong mereka. Buktinya, iklan yang dilakukan untuk mereka, koran dan majalah berlomba mengikuti mereka dan mempublikasikan mereka, belum pernah ada sebelumnya aktifitas yang menyentuh roh atau kehidupan akhirat, dan belum pernah ada yang mengajak kepada agama atau beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Ia menyebutkan bahwa mereka berkeinginan menghidupkan dakwah Fir’aun dan dakwah jahiliyah lainnya. Sebagaimana ia menyebutkan bahwa orang-orang yang menjual dasar pemikiran ini adalah orang-orang yang kehilangan nama, maka mereka menipu diri mereka dengan ilusi, dan sesungguhnya orang yang paling terkenal menjual bid’ah ini bernama Olover Lord yang kehilangan anaknya di perang dunia pertama. Dan sama seperti pendiri ruhiyah di Mesir yang bernama Ahmad Fahmi Abul Khair yang anaknya wafat pada tahun 1937 M. Ia dikaruniai anak setelah sekian lama menunggu.

DR. Muhammad Muhammad Husain menyebutkan bahwa ia telah menekuni bid’ah ini. Ia memulai dengan cara gelas dan meja, maka ia tidak mendapatkan padanya sesuatu yang memuaskan. Dan berakhir kepada tahapan perantara dan ia berusaha menyaksikan sesuatu yang mereka akui berupa membentuk roh atau suara langsung, dan mereka melihatnya sebagai dalil pengakuan mereka, maka ia tidak berhasil dan tidak pula orang lain. Karena hal itu pada hakikatnya tidak pernah ada. Namun hanya merupakan permainan kuat yang berdiri di atas tipuan samar lagi ahli yang bertujuan menghancurkan agama. Badan zeonis internasional yang menghancurkan tidak jauh darinya (punya peran besar dalam hal ini, pent.) Dan manakala ia tidak puas terhadap pemikiran dan mengetahui hakikatnya, ia menarik diri darinya dan berniat menjelaskan hakikatnya kepada manusia. Dan ia berkata:

‘Sesungguhnya orang-orang yang menyimpang tersebut akan terus berusaha menyesatkan manusia sampai iman terlepas dari dada mereka (kaum muslimin, pent.) dan akidah sirna dari jiwa mereka, dan menyerahkan mereka kepada kerancuan berupa prasangka dan ilusi belaka. Orang-orang yang mengaku mendatangkan ruh tidak mengakui para rasul kecuali hanya sebagai perantara ruhiyah, seperti yang dikatakan pemimpin mereka Utser Fendelay dalam bukunya: ‘Di tepi alam atsiri’ tentang para nabi:

“Mereka (para nabi) adalah perantara dalam derajat yang tinggi dari derajat perantara, mukjizat yang terjadi lewat tangan mereka tidak lain hanyalah fenomena ruhiyah seperti fenomena yang terjadi di ruangan mendatangkan ruh.’

Dan DR. Husein berkata: ‘Apabila mereka gagal mendatangkan ruh, mereka berkata, ‘Perantara tidak sukses, atau para saksi yang hadir tidak mendapat restu, atau sesungguhnya di antara yang hadir ada yang ragu atau menantang.

Di antara pengakuan mereka yang batil adalah: mereka mengaku bahwa Jibril u menghadiri majelis mereka dan memberi berkah kepadanya –semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengutuk mereka-. Hingga di sini tujuan ucapan DR. Muhammad Muhammad Husein.

Dari penjelasan yang kami berikan di depan, pernyataan Lanjah Daimah, dan DR. Muhammad Muhammad Husein dalam praktek hipnotis: jelas sekali kebatilan pengakuan orang-orang yang mendatangkan arwah bahwa mereka sanggup mendatangkan arwah orang-orang mati dan bertanya tentang apa yang mereka inginkan. Dan diketahui bahwa semua ini adalah perbuatan syetan dan sulapan yang batil, yang masuk dalam larangan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam tentang bertanya kepada para dukun, peramal, ahli nujum dan semisal mereka.

Para pejabat (pemerintah) di negara-negara Islam berkewajiban melarang kebatilan ini, menghentikannya, dan menghukum para pelakunya hingga ia berhenti melakukannya. Sebagaimana para pemimpin redaksi mass media Islam berkewajiban agar tidak mempublikasikan kebatilan ini dan jangan mengotori koran mereka. Dan apabila memang harus mengutip, maka hendaknya ia mengutip bantahan (canter), menjelaskan kepalsuan dan memberi peringatan terhadap permainan syetan dari bangsa jin dan manusia, tipu daya dan penipuan mereka terhadap manusia. Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengatakan yang haqq dan Dia Subhanahu Wa Ta’ala yang memberi petunjuk kepada jalan kebenaran. Dia-lah tempat memohon semoga Dia memperbaiki kondisi kaum muslimin, memberi pemahaman agama kepada mereka, melindungi mereka dari tipu daya para penjahat dan penyamaran wali-wali syetan. Sesungguhnya Dia Subhanahu Wa Ta’ala mengurus hal itu lagi Maha Kuasa atasnya.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Syaikh bin Baz – Kumpulan Fatwa dan Artikel (3/309-316).

[1] Al-Bukhari 3976 dan sabdanya e: namun mereka tidak bisa menjawab’ adalah tambahan dalam sunan an-Nasa`i (2075).
[2] Al-Bukhari 1374 dan Muslim 2870.
[3] Dalam kitabnya ‘Ruh’ hal 5.
[4] Idem hal. 20.
[5] Idem hal. 21.
[6] Muslim 2230.
[7] Ahmad 2/429, Abu Daud 3904, at-Tirmidzi 135, Ibnu Majah 639, disertai adanya perbedaan di antara mereka dalam lafazh dan tambahan. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud 3304.

———-

Sumber: www.assunnah-qatar.com – Sabtu,18 Juni 2011 @18:13

Print Friendly