Skema Murabahah Syariah

Murabahah Syariah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Salah satu produk andalan bank syariah, untuk pelayanan kredit barang ke nasabah adalah murabahah lil amir bis syira’. Atau yang lebiih akrab disebut murabahah.

Murabahah sendiri berasal dari kata ribh [arab: ربـح] yang atinya keuntungan. Dalam fiqh muamalah, cara menetapkan harga dalam jual beli ada dua,

  1. Penjual tidak memberi tahu harga kulakan. Dia hanya menjual barang ke pembeli tanpa memberi tahu berapa harga kulakannya atau berapa nilai untung yang dia dapatkan. Dan inilah bentuk jual beli yang banyak dipraktekkan di masyarakat. Ketika ditawar terlalu rendah, penjual hanya menyatakan, ‘Belum dapat’, artinya belum dapat untung. Para ulama menyebutnya dengan ba’i al-Musawamah.
  2. Penjual memberi tahu berapa harga kulakanya atau memberi tahu berapa nilai untung yang dia dapatkan. Para ulama menyebutnya dengan ba’i amanah. Disebut jual beli amanah karena dalam transaksi ini bergantung pada kejujuran penjual ketika menyebutkan harga.

Jual beli amanah ada 3:

[1] Jual beli Tauliyah, dimana barang dijual sesuai harga modal waktu kulakan

[2] Jual beli Wadhi’ah, penjual menjual barangnya  dengan harga lebih rendah dari harga modal.

[3] Jual beli Murabahah, penjual melepas barangnya ke konsumen dengan meminta keuntungan tertentu yang diketahui semua pihak.

Berdasarkan keterangan di atas, jual beli disebut murabahah jika:

[1] Penjual menyebutkan harga beli barang itu atau menyebutkan keuntungannya

[2] Ada keuntungan untuk penjual. Terlepas dari cara pembayaran, apakah dibayar tunai ataukah kredit.

Sebenarnya jual beli murabahah ini sering kita praktekkan. Anda memiliki barang, kemudian ada teman anda yang menginginkan barang itu, kemudian anda bersedia menjualkan barang itu kepadanya dengan syarat, teman anda memberi untung sekian kepada anda.

Murabahah Lil Amir bis Syira’

Sebelumnya kita simak dulu pengertian dari istilah, agar tidak terkesan menakutkan.

  • Murabahah, telah kita singgung definisinya, menjual barang dengan mengambil untung tertentu, dimana penjual dan pembeli sama-sama tahu harga beli dan harga jual.
  • Lil Amir bis Syira’ artinya bagi orang yang menyuruh untuk jual beli.

Sebagai ilustrasi,

Si A dagang aneka pakaian keliling kampung. Datang salah satu konsumen si B, tanya baju gamis. Saat itu, si A tidak punya gamis. Lalu si B pesen ke si A, tolong pekan depan bawakan baju gamis, saya mau beli.

Dalam kasus ini, si B menjadi Amir bis Syira’ (orang yang menyuruh mendatangkan barang untuk dibeli).

Sepekan berikutnya, si A datang dengan membawa aneka gamis. Dengan harapan si B membelinya. Setelah sampai di rumahnya si B, berbagai gamis ditawarkan.

Pertanyaannya:

  1. Siapakah pemilik gamis itu?
  2. Apakah si B wajib membeli gamis itu? Atau si A boleh memaksa si B untuk membeli gamis itu?
  3. Apakah jika terjadi transaksi, si A harus menyebutkan harga modal?

Jawaban:

  1. Gamis itu milik si A (penjual), atau bisa saja milik orang lain yang dititipkan ke si A untuk dijualkan. Artinya, si A memiliki izin secara legal untuk menjual gamis itu. Karena itu, selama barang ini dibawa si A, semua resiko dia yang tanggung jawab.
  2. Tentu saja, si B tidak wajib membelinya. Karena sepekan yang lalu, dia hanya pesan dibawakan gamis, untuk dia beli. Bukan membeli gamis. Transaksi jual beli, baru dilakukan setelah si A bawa barang, dan si B berhak untuk menimbang, apakah sudah sesuai yang diinginkan, baik terkait modelnya maupun harganya.

Demikian pula, si A tidak boleh memaksa si B untuk membelinya. Karena si A memahami, B hanya pesen barang, belum tentu beli.

  1. Boleh disebutkan, boleh tidak. Kembali kepada kerelaan si A untuk menyebutkannya. Dan jika si A menyebutkannya, inilah yang disebut Murabahah Lil Amir bis Syira’.

Semua praktek jual beli di atas dibenarkan, karena tidak ada unsur pelanggaran. Penjual (si A) tidak disebut menjual barang yang tidak dia miliki. Karena yang dia lakukan hanyalah menyediakan pesanan dan bukan menjual. Sementara jual belinya dilakukan ketika si A sudah membawa barang itu.

Murabahah Bank Syariah

Selama ini aktivitas perbankan di negara kita tidak diperkenankan melakukan bisnis riil. Baik dia di bawah regulasi BI maupun OJK. Bank tidak diperkenankan mengumpulkan dana masyarakat, kemudian dia gunakan sebagai modal untuk berdagang. Bank hanya diizinkan untuk menjadi lembaga pembiayaan.

Mengingat batasan ini, bank yang ingin menyesuaikan diri dengan syariah, kesulitan untuk menciptakan produk yang tidak melanggar syariah, namun bisa menjadi sumber pendapatan bank. Jika bank hanya meminjamkan dana ke nasabah untuk memenuhi kebutuhan nasabah, maka bank tidak boleh meminta kelebihan. Bagi bank syariah, kelebihan ini adalah riba.

Akhirnya bank menerapkan transaksi ‘semi jual beli produk’ yang mereka istilahkan dengan murabahah KPP(Kepada Pemesanan Pembelian). Skema transaksi yang mereka terapkan,

Skema murabahah lil wa’id bis syira’

  1. Nasabah menyampaikan kebutuhan barang yang dia inginkan ke Bank dengan kriteria tertentu. Bank melakukan uji kelayakan bagi nasabah. Baik secara dokumen maupun yang sifatnya penilaian kejujuran.
  2. Bank mencarikan barang yg diinginkan nasabah, dan membelinya dengan tunai.
  3. Dealer mengirim produk ke bank dan tanggung jawab terhadap resiko barang telah berpindah ke bank
  4. Nasabah melakukan transaksi dengan bank untuk membeli barang yang telah dipesan secara kredit, dengan harga sesuai kesepakatan.
  5. Bank menyerahkan barang itu, dan nasabah membayar cicilan kepada bank

Untuk alur no. 4, nasabah diberi kebebasan antara melanjutkan transaksi ataukah membatalkannya. Dan ketika nasabah membatalkannya, tidak disebut ingkar janji. Karena maksud ’janji beli’ dari nasabah adalah dia janji untuk beli jika barang dan harganya sesuai yang diinginkan pembeli. Jika tidak sesuai dan pembeli membatalkan,  pembeli tidak disebut ingkar janji.

Di sinilah bank berhak berhak mendapat keuntungan. Karena dia murni melakukan jual beli dan bukan lembaga pembiayaan. Sejak barang pesanan itu diterima bank, semua resiko barang menjadi tanggung jawab bank.

Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina PengusahaMuslim.com)

.

INFO SPONSOR dan DONATUR.

.

———-

Sumber: www.pengusahamuslim.com – Senin,14 Desember 2015

Print Friendly