Adakah Keutamaan Memiliki Rumah yang Luas?

Apakah ada keutamaan memiliki rumah yang luas? Atau rumah yang baik mestikah luas?

Dalam sebuah hadits dalam kitab sunan disebutkan sebagai berikut,

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ قَالَ « أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ »

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apa itu sebab keselamatan?” Jawab beliau dengan sabdanya, “(Keselamatan itu) yaitu hendaklah engkau menahan lisanmu, sibukkanlah rumahmu dengan ibadah pada Allah, dan tangisilah dosa-dosamu.” (HR. Tirmidzi no. 2406 dan Ahmad 5: 259-260. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini dhaif. Adapun Syaikh Al Albani menilai hadits ini shahih).

Ada tiga hal yang menjadi sebab keselamatan yaitu menjaga lisan supaya bisa berkata yang benar, lalu menyibukkan rumah dengan ibadah, serta menangisi setiap dosa.

Sebenarnya dalam hadits digunakan kalimat ‘walyasa’ka baytuk’, maksud secara leterlek adalah perluaslah rumahmu. Namun para ulama tidak artikan seperti itu.

Ath Thibi menjelaskan bahwa perintah yang dimaksud adalah untuk rumah. Namun yang dimaksud adalah jadikan rumahmu agar tetap betah berada di dalamnya dengan sibuk melakukan ibadah pada Allah dan jauhilah pergaulan yang tidak baik. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 132)

Diterangkan pula dalam Kunuz Riyadhish Sholihin (18: 132) bahwa yang dimaksud hadits adalah hendaklah menjauh dari pergaulan manusia jika memang dengan bergaul membuat agama kita rusak. Sibukkanlah diri dengan ibadah dan bergaul semacam itu dijauhi karena hanya akan membuat kita terjerumus dalam musibah dan maksiat.

Ada empat tipe orang yang bisa kita duduk bergaul dengannya dan ada yang mesti kita jauhi.

1- Ada yang seperti makanan yang kita butuh siang dan malam. Ketika kita telah memenuhi hajat, maka kita meninggalkannya. Jika kita butuh padanya, maka kita akan terus membutuhkannya.

2- Ada yang seperti obat yang kita butuh saat sakit. Jika sehat, kita tidak butuh bergaul dengannya. Tipe orang seperti ini berkaitan dengan maslahat duniawi dan sesuatu yang kita butuh.

3- Ada yang seperti penyakit yang tidak menguntungkan dalam hal agama maupun dunia.

4- Ada yang seperti racun. Mereka adalah orang yang tidak mengambil jalan Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam beramal. Yang menjadikan sesuatu yang tidak ada tuntunan sebagai ajaran Rasul dan menjadikan ajaran Rasul sebagai suatu kesesatan, juga yang menjadikan perbuatan ma’ruf menjadi suatu kemungkaran, sedangkan kemungkaran dianggap sebagai kebaikan. Ini yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim, yang kami sarikan dari Kunuz Riyadhish Sholihin, 18: 136-138.

Tips bergaul adalah bergaullah untuk meraih kebaikan dan tinggalkanlah pergaulan yang hanya membawa dampak jelek.

Dari bahasan di atas, berarti sangat dalam pemahaman terhadap hadits yang kita angkat di awal. Ternyata yang dituntut bukanlah rumah yang luas, namun rumah yang bisa diisi dengan ketaatan dan ibadah.

Cobalah rumah kita diisi dengan bacaan Al Qur’an terutama membaca surat Al Baqarah,

اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلاَ تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ

Bacalah surat Al Baqarah karena siapa yang mengambilnya berarti ia mengambil berkah. Siapa yang meninggalkannya akan menyesal. Sihir pun tidak dapat mengalahkan surat tersebut.” (HR. Muslim no. 804).

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

Janganalah jadikan rumah kalian seperti kuburan karena setan itu lari dari rumah yang didalamnya dibacakan surat Al Baqarah.” (HR. Muslim no. 1860)

Hadits di atas juga sekaligus menunjukkan bahwa janganlah rumah kita seperti kuburan yang tidak ada shalat di dalamnya. Marilah rumah kita diisi dengan shalat sunnah di dalamnya.

Semoga Allah menjadikan rumah kita menjadi rumah yang lapang yang banyak diisi dengan ibadah.

 

Referensi:

Kunuz Riyadhis Sholihin, Rais Al Fariq Al ‘Ilmi: Prof. Dr. Hamad bin Nashir bin ‘Abdurrahman Al ‘Ammar, terbitan Dar Kunuz Isybiliya, cetakan pertama, tahun 1430 H.

Tuhfatul Ahwadzi, Muhammad ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim Al Mubarakfuriy, tebritan Darus Salam, cetakan pertama, tahun 1432 H.

Selesai disusun menjelang Maghrib di Darush Sholihin, 30 Rabi’ul Awwal 1436 H

Yang mencintaimu karena Allah: Muhammad Abduh Tuasikal

Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom

Segera pesan buku Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal yang membicarakan masalah natal dan loyal pada non muslim dengan judul “Natal, Hari Raya Siapa?” dan “Kesetiaan pada Non Muslim” di Toko Online Ruwaifi.Com via sms +62 852 00 171 222 atau BB 27EACDF5 atau WA +62 8222 604 2114. Kirim format pesan: buku natal dan kesetiaan#nama pemesan#alamat#no HP#jumlah buku. Harga Rp.20.000,- untuk dua buku (belum termasuk ongkir).

Saat ini masjid pesantren binaan Ustadz M. Abduh Tuasikal sedang direnovasi (dijadikan dua lantai) dan membutuhkan dana sekitar 1,5 Milyar rupiah. Dana yang masih kurang untuk pembangunan tahap kedua, dibutuhkan sekitar 850 juta rupiah, sekarang sudah terkumpul 350 juta rupiah.

Bagi yang ingin menyalurkan donasi renovasi masjid, silakan ditransfer ke: (1) BCA: 8610123881, (2) BNI Syariah: 0194475165, (3) BSM: 3107011155, (4) BRI: 0029-01-101480-50-9 [semua atas nama: Muhammad Abduh Tuasikal].

Jika sudah transfer, silakan konfirmasi ke nomor 0823 139 50 500 dengan contoh sms konfirmasi: Rini# Jogja# Rp.3.000.000#BCA#20 Mei 2012#renovasi masjid. Laporan donasi, silakan cek di sini.

———-

Sumber: www.rumahsyo.com (Muhammad Abduh Tuasikal, MSc) | Jan 21, 2015

Print Friendly