Penghuni Shuffah

PENGHUNI SHUFFAH

Kaum muslimin yang telah menempuh perjalanan hijrah dari Mekkah menuju Madinah menghadapi beberapa permasalahan sosial. Kedatangan mereka yang tanpa perbekalan memadai ke suatu daerah agraris yang sangat berbeda dengan daerah asal yang gersang menjadi faktor pemicu. Intinya, mereka membutuhkan bantuan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan pemukiman.

Persaudaraan (almuâkhâh) yang dijalin oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam antara kaum Muhâjirîn dan Anshar sudah merupakan salah satu solusi untuk meminimalisir problematika di atas. Kaum Anshar sudah mencurahkan segala kemampuan dalam rangka membantu kaum Muhâjirîn. Namun sebagian kaum Muhâjirîn ini masih membutuhkan tempat tinggal. Ditambah lagi, intensitas gelombang hijrah yang tak kunjung berhenti, terutama sampai menjelang perang Khandaq. Tak diragukan, bila kondisi ini mendorong Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai memikirkan tempat berteduh bagi orang-orang fakir yang sudah menetap di Madinah.

ASAL BANGUNAN SHUFFAH
Momen yang tepat pun datang. Manakala perintah pengalihan arah kiblat datang dari arah Masjidil Aqsha ke arah Ka’bah [1], akibatnya tembok yang sebelumnya berada di depan, kini menjadi di belakang masjid. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar tempat itu diberi atap. Akan tetapi, bagian sisi-sisi pinggirnya masih dibiarkan terbuka tanpa tembok penutup. Itulah tempat yang kemudian dikenal dengan shuffah yang akan menjadi tempat tinggal bagi kaum Muhâjirîn yang papa.

Secara pasti, tidak diketahui berapa luas shuffah. Tapi yang jelas, tempat itu bisa menampung banyak orang. Sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjadikan tempat itu sebagai tempat walîmah (acara makan makan) yang dihadiri oleh 300 orang, meski sebagian yang hadir terpaksa duduk di kamar sebagian istri-istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berdempetan
dengan masjid.[2]

PENGHUNI SHUFFAH
Yang pertama kali tinggal di Shuffah adalah kaum Muhajirin [3]. Oleh karena itu, terkadang shuffah ini melekat dengan mereka hingga juga dikenal dengan sebutan Shuffatul Muhâjirîn [4] Tempat ini juga menjadi tempat persinggahan para utusan yang hendak menjumpai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyatakan keislamannya dan kesiapannya menaati Rasulullah Shalalllahu ‘alaihi wa salam [5]. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang dipercaya sebagai penanggung jawab orang-orang yang tinggal di Shuffah, baik yang menetap dalam jangka waktu yang lama ataupun yang sekedar singgah saja.

Penghuni shuffah ini tidak hanya terdiri dari kaum Muhâjirîn ataupun para utusan saja. Sebagian Sahabat dari kalangan Anshâr juga menghuninya. Kendatipun mereka telah memiliki rumah di Madinah dan memiliki harta yang cukup. Kemauan mereka untuk hidup zuhud menjadi alasan mengapa mereka memilih tinggal di Shuffah. Diantaranya, Ka’ab bin Mâlik al Anshâri Radhiyallahu anhu, Hanzhalah bin Abi ‘Amir Radhiyallahu ‘anhu, dan Hâritsah bin Nu’mân Radhiyallahu anhu.

JUMLAH PENGHUNI SHUFFAH
Jumlah penghuni shuffah tidak stabil. Jumlah mereka akan bertambah seiring dengan peningkatan angka pendatang ke Madinah. Namun dalam kondisi normal, jumlah penghuninya sekitar 70 orang. [6] Terkadang jumlah mereka meningkat tajam. Pernah dalam satu kesempatan, seorang diri Sa’ad bin ‘Ubâdah Radhiyallahu ‘anhu menjamu 80 penghuni shuffah. Hitungan ini belum mencakup yang dijamu oleh para Sahabat yang lain. [7]

Penyusun Kitab al-Hilyah, Abu Nu’aim menyebutkan nama-nama mereka satu persatu. Diantara mereka adalah Abu Hurairah, Abu Dzaarr al-Ghifâri, Wâtsilah bin Asqa’, Salmân al-Fârisi g dan lain sebagainya.

KESIBUKAN PENGHUNI SHUFFAH : BELAJAR ILMU AGAMA, BERIBADAH DAN BERJIHAD
Para penghuni Shuffah ini mengfokuskan diri untuk belajar, beri’tikaf di masjid dalam rangka beribadah dan sudah terbiasa dengan hidup kekurangan. Mereka senantiasa melaksanakan shalat, membaca al-Qur‘ân, mempelajari ayat-ayatnya, berdzikir. Sebagian mereka belajar baca tulis. Sampai salah satu dari mereka ada yang menghadiahkan busur panahnya kepada ‘Ubâdah bin Shâmit Radhiyallahu ‘anhu karena beliau Radhiyallahu ‘anhu berjasa mengajarkan al-Qur‘ân dan menulis kepada pemilik busur tersebut.

Disebabkan oleh konsentrasi penuh mereka dalam belajar agama, maka tidak heran kalau kemudian lahir orang-orang yang menonjol keilmuannya dari mereka. Sebut saja Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, seorang Sahabat yang terkenal dengan hafalan hadits yang sangat banyak. Atau Sahabat Hudzaifah ibnul Yamân Radhiyallahu ‘anhu yang sangat perhatian tentang hadits hadits fitnah.

Namun ini bukan bermakna bahwa mereka tidak peduli dengan kegiatan kemasyarakatan dan tidak memiliki andil dalam jihad. Terbukti, sebagian diantara mereka gugur dalam perang Badr, seperti Shafwân bin Baidha’, Khubaib bin Yasâf, Sâlim bin ‘Umair dan Hâritsah bin Nu’mân al-Anshâri Radhiyallahu ‘anhu. Sebagian juga gugur di medan perang Uhud yaitu Khanzhalah Radhiyallahu ‘anhu, atau menghadiri peristiwa Hudaibiyah, perang Khaibar, perang Tâbuk dan perang Yamâmah. Begitulah para penghuni Shuffah. Mereka sangat perhatian terhadap ilmu dan ibadah. Di malam hari tekun beribadah dan di siang hari menjadi pejuang gagah berani.

PAKAIAN DAN MAKANAN MEREKA
Mereka yang tinggal di Shuffah sudah terbiasa dengan hidup kekurangan. Kebanyakan mereka tidak memiliki pakaian yang memadai untuk menutupi seluruh badan dan melindunginya dari dinginnya udara. Dalam Shahîh al-Bukhâri, Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu menceritakan :

“Saya melihat 70 orang dari penghuni shuffah, tidak ada seorang pun diantara mereka yang mengenakan rida‘ (kain penutup bagian atas tubuh). Hanya mengenakan sarung atau hanya kisa saja’. Mereka mengikatkan kisa’ tersebut pada leher mereka, ada yang menjulur sampai separuh betis, ada yang sampai mata kaki. Lalu dia menyatukannya dengan tangan karena khawatir auratnya terlihat”.

لَقَدْ رَأَيْتُ سَبْعِينَ مِنْ أَصحَابِ الصّثفَّةِ مَا مِنْهُمْ رَجُلٌ عَلَيْهِ رِدَاءٌ إِمَّا إزَارٌ وَإِمَا كِسَاءٌ قَدْ رَبَطُوا فِي أَعْنَا قِهِمْ فَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ نِصْفَ السَّا قِيْنِ وَمِنْهَا مَا يَبْلُغُ الْكَبَيْنِ فَيَجْمَعُهُ بِيَدِهِ كَرَاهِيَةَ أنْ تُرَى عَوْ رَتُهُ

Demikian pula makanan mereka, tidak lebih baik dari kondisi pakaian yang mereka sandang. Kurma kering adalah makanan yang sering mereka konsumsi. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan setengah mud (kurang lebih satu genggam) kurma untuk satu orang setiap hari. Sampai ada diantara mereka yang merasakan perutnya panas karena terlalu banyak makan kurma kering. Namun begitu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mampu memberikan makanan yang lebih baik buat mereka. Hanya saja, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa memotivasi mereka agar tetap tegar dan bersabar. Terkadang mereka diundang untuk makan-makan atau dibawakan susu atau terkadang juga mendapat hidangan istimewa seperti tsarîd (bubur gandum dengan campuran minyak samin dan lain-lain).

PERHATIAN NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM KEPADA PENGHUNI SHUFFAH
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat perhatian terhadap mereka. Seringkali, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengunjungi mereka, menanyakan kondisi mereka, mengarahkan, duduk-duduk bersama, mengarahkan mereka agar banyak membaca al-Qur‘ân, memotivasi mereka agar memandang dunia itu remeh dan tidak berharap untuk merengkuhnya. Jika ada yang mengirimkan sedekah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengirim seluruhnya kepada mereka. Kalau hadiah yang beliau terima, sebagiannya beliau kirimkan dan sisanya beliau ambil buat keperluan pribadi atau hadiah tersebut dinikmati bersama mereka.[8]

Ketika putri beliau, Fâthimah Radhiyallahu ‘anha melahirkan Hasan Radhiyallahu ‘anhu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya bersedekah untuk penghuni Shuffah dengan perak seberat rambut Hasan yang dicukur [9]. Dalam riwayat Imam Ahmad rahimahullah, diceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mengutamakan penghuni Shuffah ketimbang keluarga beliau sendiri yaitu Fâthimah Radhiyallahu ‘anhuma.

Wujud perhatian yang lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para Sahabat yang memiliki kemampuan ekonomi lebih agar bersedekah kepada penghuni Shuffah. (Redaksi).

(Disadur dari as Sîratun Nabawiyyah ash Shahîhah, DR. Akram Dhiyâ’ al-Umari, hlm. 257 – 268)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XII/1428H/2007M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Kaum Muslimin menghadap arah Masjidil Aqsha dalam sholat selama 16 bulan pasca hijrah Rasulullah ke Madinah
[2]. HR Muslim, Kitâb Nikâh, no. 94
[3] Samhudi, Wafâ-ul Wafâ, 1/323
[4]. HR Abu daud, Kitâbul Harûf, 2/361
[5]. HR Bukhâri, Kitâbus Shalât, Bâbu Naumir rijâl Fil Masjid dan riwayat Ibnu Mâjah, Sunan, Kitâbus Shaid, Bâbud Dhab
[6]. Abu Nu’aim, al Hilyah, 1/339, 341
[7]. Abu Nu’aim, al Hilyah, 1/341
[8]. HR al-Bukhâri
[9]. Al Baihaqi, Sunan 9/304

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 2 November 2013

Print Friendly