Al-Hayiyyu, Yang Maha Pemalu

AL-HAYIYYU, YANG MAHA PEMALU

Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, M.A

DASAR PENETAPAN
Nama Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang maha indah ini disebutkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam dua hadits yang shahîh:

1. Dari Salmân al-Fârisi Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا

Sesungguhnya Rabb-mu (Allâh) Maha Pemalu lagi Maha Mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa [1] .

2. Dari Ya’la bin Umayyah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki yang mandi di tanah lapang terbuka tanpa kain penutup, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam naik ke atas mimbar, memuji Allâh dan menyanjung-Nya, kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِىٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ

Sesungguhnya Allâh ‘Azza wa Jalla Maha Pemalu lagi Maha Menutupi, Dia mencintai (sifat) malu dan menutup (aib/aurat). Maka jika seseorang di antara kalian mandi, hendaklah dia menutup (auratnya)[2] .

Berdasarkan hadits-hadits di atas, para Ulama menetapkan nama al-Hayiyyu (Yang Maha Pemalu) sebagai salah satu dari nama Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang maha indah. Di antara mereka adalah Imam Ibnul Qayyim rahimahullah [3] , Syaikh ‘Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah [4] , Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullah[5], Syaikh ‘Abdur Razzâq al-Badr hafizhahullâh [6] dan lain-lain.

MAKNA AL-HAYIYYU SECARA BAHASA
Ibnu Fâris rahimahullah menjelaskan bahwa asal kata nama ini menunjukkan dua makna, salah satunya adalah lawan dari sifat al-waqâhah (tebal muka/tidak tahu malu)[7] .

al-Fairûz Abâdi rahimahullah menjelaskan di antara makna asal kata nama ini adalah al-hisymah (kesopanan yang tinggi)[8].

Ar-Râghib al-Ashfahâni rahimahullah menjelaskan bahwa arti nama Allâh ini adalah (Dzat) yang meninggalkan semua keburukan dan melakukan semua kebaikan[9] .

PENJABARAN MAKNA NAMA ALLAH AL-HAYIYYU
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata dalam qashîdah (syair) an-Nûniyyah karya beliau yang terkenal:

Dialah al-Hayiyyu (Maha Pemalu) maka Dia tidak akan mempermalukan hamba-Nya
(di dunia) ketika hamba-Nya itu berbuat maksiat terang-terangan

Syaikh Muhammad Khalîl Harrâs rahimahullah ketika menjelaskan makna bait syair ini dengan berkata: “(Sifat) malu Allâh Subhanahu wa Ta’ala adalah sifat yang sesuai dengan (kebesaran dan keagungan)-Nya, tidak sama dengan (sifat) malu (pada) makhluk-Nya yang bermakna perubahan (sikap) dan (sifat) berkecil hati yang terjadi pada seseorang ketika dia mengkhawatirkan sesuatu aib atau celaan (pada dirinya). Adapun arti sifat malu (pada Allâh Subhanahu wa Ta’ala) adalah meninggalkan sifat (perbuatan) yang tidak selaras dengan kemahaluasan rahmat-Nya serta kemahasempurnaan kebaikan dan kemuliaan-Nya”[10] .

Lebih terperinci, Syaikh ‘Abdur Rahmân as-Sa’di rahimahullah menjelaskan makna sifat yang mulia ini dalam ucapan beliau: “Sifat (malu Allâh Subhanahu wa Ta’ala) ini adalah dari rahmat-Nya, kemuliaan-Nya, dan kesempurnaan serta (sifat) penyantun-Nya. Seorang hamba yang berbuat maksiat (kepada-Nya) secara terang-terangan, padahal hamba tersebut sangat membutuhkan (rahmat)-Nya, bahkan dia tidak mungkin bisa berbuat maksiat kecuali dengan nikmat-nikmat (yang dilimpahkan) Allâh (kepadanya) sehingga dia mempunyai kekuatan untuk (melakukan) perbuatan maksiat tersebut, Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang maha sempurna kekayaan/ketidakbutuhan-Nya terhadap semua makhluk-Nya, karena kemuliaan/kemurahan-Nya, Dia merasa malu untuk membuka aib dan mempermalukan hamba tersebut, serta menimpakan siksaan kepadanya (di dunia). Bahkan Dia K menutupi (aib) hamba-Nya itu dengan berbagai sebab yang dimudahkan oleh Allâh Azza wa Jalla baginya agar aibnya tertutupi., serta memaafkan dan mengampuni (kesalahan) hamba tersebut.

Allâh Azza wa Jalla senantiasa berbuat baik kepada hamba-hamba-Nya dengan (melimpahkan) berbagai nikmat (kepada mereka), sementara mereka (justru) berbuat buruk dengan bermaksiat kepada-Nya. Karunia-Nya (turun) kepada mereka (secara terus-menerus) seperti jumlah kerdipan mata manusia, sedangkan keburukan (yang) mereka (lakukan) selalu naik (kepada-Nya).

(Allâh) Yang Maha Kuasa dan Pemurah senantiasa naik kepada-Nya semua perbuatan maksiat dan keburukan dari hamba-hamba-Nya, (tapi bersamaan dengan itu) Dia Subhanahu wa Ta’ala malu untuk menyiksa seseorang yang telah beruban dalam Islam, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia k menolaknya dengan hampa, dan Dia k menyeru hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya serta menjanjikan pengabulan doa bagi mereka”[11] .

Nama yang agung ini menunjukkan bahwa Allâh Subhanahu wa Ta’ala memiliki sifat hayâ’ (malu) yang sesuai dengan kemahabesaran dan kemahasempurnaan-Nya, tidak sama dengan sifat malu yang ada pada makhluk-Nya, sebagaimana keadaan sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan Allâh Subhanahu wa Ta’ala lainnya. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat [asy-Syûra/42:11]

Dalam ayat lain, Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلَا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الْأَمْثَالَ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Maka janganlah kamu mengadakan penyerupaan-penyerupaan bagi Allâh. Sesungguhnya Dia mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui [an-Nahl/16:74]

PENGARUH POSITIF DAN MANFAAT MENGIMANI NAMA ALLAH AL-HAYIYYU
Allâh Subhanahu wa Ta’ala mencintai nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta mencintai terlihatnya pengaruh positif nama-nama dan sifat-sifat tersebut pada makhluk-Nya secara nyata, karena hal itu termasuk konsekuensi kesempurnaan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Oleh karena itu, Allâh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mengamalkan kandungan dan konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan mereka untuk memiliki sifat malu, suka berbuat baik, penyayang, pemurah dan pemaaf, sehingga hamba yang paling dicintai-Nya adalah yang memiliki sifat-sifat yang diridhai-Nya, sedangkan hamba yang paling dibenci-Nya adalah yang memiliki sifat-sifat yang tidak diridhai-Nya. Dalam hal ini, dikecualikan beberapa sifat tertentu yang tidak pantas dimiliki oleh makhluk, seperti sifat merasa besar dan mengagungkan diri, karena sifat-sifat ini tidak sesuai dengan keadaan seorang hamba yang seharusnya selalu merendahkan dan menghambakan diri di hadapan-Nya, sehingga memiliki sifat-sifat tersebut di atas berarti menganiaya diri sendiri [12] .

Perlu disampaikan di sini bahwa sifat malu yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala cintai pada hamba-Nya adalah sifat terpuji dan mulia yang selalu membawa kepada kebaikan, dan bukanlah seperti yang dipahami sebagian orang awam, bahwa keengganan untuk berbuat baik dan meninggalkan keburukan adalah sifat malu.

Anggapan mereka ini jelas keliru dan bertentangan dengan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

Sesungguhnya termasuk hal yang diketahui oleh manusia dari ucapan kenabian yang terdahulu: jika kamu tidak merasa malu maka berbuatlah (keburukan) sekehendakmu [13]

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Para Ulama telah menjelaskan bahwa (sifat) malu yang sebenarnya adalah suatu perangai yang selalu memotivasi (seorang hamba) untuk meninggalkan (perbuatan) yang buruk dan mencegahnya dari (sifat) kurang dalam (menunaikan) hak orang-orang yang memiliki hak (terhadapnya)”[14] .

Kemudian, pengaruh positif dan manfaat mengimani nama Allâh yang maha agung ini dapat kita ambil dari penjelasan makna hadits di atas. Allâh Subhanahu wa Ta’ala Maha Pemalu dan Dia mencintai orang-orang yang memiliki sifat malu.

Oleh karena itu, hamba Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang paling dicintai-Nya, yaitu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling pemalu. Hal ini berdasarkan ucapan Sahabat yang mulia, Abu Sa’îd al-Khudri Radhiyallahu anhu: “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang sangat pemalu (melebihi) gadis perawan dalam kamar pingitannya, sehingga jika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat sesuatu yang tidak beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sukai, maka kami (sudah bisa) mengetahui hal itu pada wajah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam”[15] .

Dalam banyak hadits yang shahih terdapat penjelasan tentang kautamaan sifat malu, anjuran untuk memilikinya dan pengaruh positifnya dalam memotivasi kebaikan bagi seorang hamba.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Iman itu (terdiri dari) lebih 70 cabang, yang paling tinggi adalah ucapan (persaksian): Lâ ilâha illallâhu (tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allâh), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan (sifat) malu adalah salah satu cabang dar iman”[16] .

Dari ‘Imrân bin Hushain Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Sifat) malu itu tidak mendatangkan (sesuatu) selain kebaikan”, dalam riwayat lain: “(Sifat) malu itu semuanya adalah kebaikan”[17] .

Dan sifat malu yang paling agung dan paling wajib untuk dilakukan adalah malu terhadap Allâh Subhanahu wa Ta’ala [18] . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Malulah kalian terhadap Allâh dengan malu yang sebenarnya”. Para Sahabat Radhiyallahu anhum berkata: Wahai Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sungguh kami sudah merasa malu kepada-Nya, alhamdulillâh. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bukan itu (maksudnya), akan tetapi merasa malu kepada Allâh dengan malu yang sebenarnya adalah dengan menjaga kepala dan (anggota badan) yang ada padanya (dari perbuatan maksiat), menjaga perut dan (anggota badan) yang berhubungan dengannya (dari perkara yang haram), dan (selalu) mengingat kematian dan kehancuran tubuh (dalam kubur), barangsiapa yang menginginkan (balasan kebaikan di) akhirat, maka dia akan meninggalkan perhiasan dunia. Siapa saja yang melakukan itu semua berarti dia telah merasa malu kepada Allâh dengan malu yang sebenarnya”[19] .

Di samping itu, ada beberapa perbuatan baik yang termasuk konsekuensi sifat malu terhadap Allâh Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi perbuatan-perbuatan tersebut tidak wajib hukumnya, seperti menutupi aurat meskipun di saat sendirian. Hal ini berdasarkan hadits dari Mu’âwiyah bin Haidah Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Wahai Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika salah seorang dari kami sedang sendirian, (apakah dia boleh bertelanjang)?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allâh lebih berhak untuk (seorang hamba) malu terhadap-Nya dibandingkan (kepada) manusia”.

Para Ulama memahami perbuatan dalam hadits ini sebagai anjuran (keutamaan) dan bukan kewajiban, karena mereka beralasan bahwa sesungguhnya Allâh Subhanahu wa Ta’ala tidak ada sesuatu pun dari makhluk-Nya yang tersembunyi dari-Nya, baik ketika mereka telanjang ataupun ketika berpakaian [20] .

Demikianlah, dan kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allâh Azza wa Jalla dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar berkenan melimpahkan taufik dan kemudahan kepada kita untuk memiliki sifat malu yang dicintai-Nya serta semua sifat-sifat baik dan mulia lainnya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa. Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIV/1431H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. HR. Abu Dâwud no. 1488, at-Tirmidzi no. 3556, Ibnu Mâjah no. 3865 dan Ibnu Hibbân no. 876. Pada sanadnya ada perawi yang bernama Ja’far bin Maimûn, ada kelemahan pada riwayatnya, akan tetapi hadits ini memiliki banyak jalur periwayatan yang saling menguatkan. Hadits ini dinyatakan shahîh oleh Ibnu Hibbân, Ibnu Hajar dalam Fathul Bâri 11/147, Ibnul Qayyim dan al-Albâni (Mukhtasharul ‘Uluw, hlm. 75)
[2]. HR. Abu Dâwud no. 4012, an-Nasâi no. 406 dan Ahmad 4/224 dengan sanad yang hasan dan dinyatakan shahîh oleh Syaikh al-Albâni.
[3]. Ash-Shawâ’iqul Mursalah 4/1499
[4]. Tafsîrul Asmâ-illâhil Husnâ hlm. 40
[5]. al-Qawâ’idul Mutslâ hlm. 42
[6]. Fiqhul Asmâ-il Husnâ hlm. 302
[7]. Mu’jamu Maqâyîsil Lughoh (2/97).
[8]. Al-Qâmûs al-Muhîth hlm. 8361
[9]. Mufrodâtu Alfâzhil Qur`ân 1/282
[10]. Syarhul Qashîdatin Nûniyyah 2/80
[11]. Tafsiiru asma-illahil husna hlm. 41
[12]. Lihat Fiqhul Asmâil Husnâ hlm. 304
[13]. HSR al-Bukhâri (no. 5769).
[14]. Riyâdhush Shâlihîn hlm. 850
[15]. HR. al-Bukhâri no. 5751 dan Muslim no. 2320
[16]. HR. al-Bukhâri no. 9 dan Muslim no. 35
[17]. HSR al-Bukhari (no. 5766) dan Muslim (no. 37).
[18]. Fiqhul Asmâil Husnâ hlm. 305
[19]. HR at-Tirmidzi (no. 2458), Ahmad (1/387) dan al-Hâkim (no. 7915), dalam sanadnya ada perawi yang bernama ash-Shabâh bin Muhammad dan dia lemah (Taqrîbut Tahdzîb, hlm. 274), tapi dikuatkan dengan dari jalur periwayatan dari ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr no. 3192, sehingga syaikh al-Albâni menyatakan hadits ini hasan dengan penguatnya (Shahîhut Targhîibi wat Tarhîb, no. 3337). Hadits ini dishahihkan oleh al-Hâkim dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
[20]. Lihat Faidhul Qadîr 1/195

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 29 Mei 2013

Print Friendly