Belumkah Datang Saatnya ?

BELUMKAH DATANG SAATNYA?

Oleh
Ustadz Abu Minhal Lc.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ ۖ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allâh dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. [al-Hadîd/57:16]

TAFSIR AYAT:
Potret Ideal Mukmin, Khusyu’ Dan Takut Kepada Allâh Azza Wa Jalla Dan Tunduk Kepada Al-Haq
Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla telah menurunkan al-Qur`ân kepada manusia yang akan menepis dinding syahwat yang menyala-nyala dari penglihatan dan mata hati mereka, sehingga hati mereka akan tersinari oleh cahaya cinta dan pengagungan kepada Allâh Azza wa Jalla yang telah menciptakan diri mereka. Pada gilirannya, akan menyebabkan mereka menghinakan diri, tunduk, merasa tentram dan tenang di hadapan Rabb mereka al-Kabîr (Maha Besar) al-Muta’âl (Maha Tinggi).[1]

Maka, turunlah teguran dari Allâh Azza wa Jalla kepada kaum Mukminin yang belum mencapai puncak kekhusyu’an. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah . . [al-Hadîd/57:16]

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Belumkah tiba waktunya bagi kaum Mukminin untuk khusyu’ hati mereka ketika tengah mengingat Allâh Azza wa Jalla . Maksudnya, hati mereka menjadi melunak kala mengingat Allâh Azza wa Jalla , mendengar nasehat dan mendengar bacaan al-Qur`ân, sehingga memahaminya, patuh kepadanya dan menyimak dan menaatinya”.[2]

Kata الْخُشُوْعُ secara etimologi bermakna tidak bergerak, tuma’nînah dan merendahkan diri. Sedang dalam terminologi syariat, bermakna rasa khasy-yah (takut) kepada Allâh Azza wa Jalla yang meliputi kalbu yang pengaruhnya tampak pada anggota tubuh dengan menundukkan diri dan tidak bergerak-gerak seperti kondisi orang yang tengah dilanda ketakutan.[3]

Makna demikian ini ditunjukkan juga oleh firman Allâh Azza wa Jalla berikut:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allâh gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabblah mereka bertawakkal.) [al-Anfâl/8:2].

Kata الْوَجَلُ (al-wajal) dan الْخَشْيَةُ (al-khasy-yah) bermakna sama. [4]

Sementara Syaikh Abu Bakr al-Jazâiri hafizhahullâh dalam Tafsirnya mengarahkan pengertian ayat ini kepada orang-orang yang suka bercanda, “Apakah belum tiba saatnya bagi orang-orang yang terlalu banyak bercanda untuk khusyu’ hati mereka dengan mengingat Allah? Maksudnya, hati mereka menjadi lunak, tenang, tunduk dan tenteram dalam mengingat Allâh Azza wa Jalla , janji dan ancaman-Nya”. [5]

Mengenai firman-Nya , yang artinya “Dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)”, maksudnya ialah al-Qur`ân dan kandungan janji dan ancaman yang ada di dalamnya?”.[6] Karena, sesungguhnya kitab tersebut (al-Qur`ân) datang dengan membawa kebenaran, maka sudah sepantasnya hati seorang Mukmin menjadi khusyu’ ketika mengingat Allâh Azza wa Jalla dan terhadap kebenaran yang turun (kepada mereka).[7]

Sementara itu, Syaikh as-Sa’di rahimahullah memaknai ‘dzikrullâh’ dalam ayat dengan al-Qur`ân sehingga khusyu’ di sini diartikan tunduk patuh terhadap semua perintah al-Qur`ân dan larangannya, sedang ‘kebenaran yang telah turun’ dengan risalah yang dibawa oleh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. [8]

Hanya Sebagian Sahabat Yang Mendapatkan Teguran Melalui Ayat Ini
Berdasarkan keterangan az-Zajjâj rahimahullah, yang ditegur dalam ayat ini ialah sejumlah orang dari kalangan Mukminin waktu itu, bukan semuanya. Sebab, masih ada orang yang senantiasa khusyu’ sejak memeluk Islam hingga kembali kepada Rabbnya.[9] Pendapat yang menyatakan ayat ini turun untuk kaum munafiqin merupakan pendapat yang tidak tepat.[10]

Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari ‘Aun bin ‘Abdullâh dari ayahnya bahwa Ibnu Mas’ûd Radhiyallahu anhu berkata, “Rentang waktu antara keislaman kami dengan teguran Allâh Azza wa Jallaepada kami melalui ayat ini hanya berjarak empat tahun”. [HR. Muslim no.3027].

Teguran ini dialamatkan (pertama kali) kepada para generasi Sahabat, karena mereka adalah generasi kaum Mukminin pertama yang mengemban kewajiban menyampaikan manhaj rabbani kepada seluruh umat manusia. Sebab, mereka adalah generasi qudwah (menjadi teladan baik) yang telah tegak di bawah naungan bimbingan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, sang teladan terbaik.[11]

Larangan Menyerupai Ahli Kitab
Selanjutnya, Allâh Azza wa Jalla memperingatkan kaum Mukminin agar tidak menyerupai kalangan Ahli Kitab yang menyepelekan ajaran-ajaran Allâh Azza wa Jalla , sehingga membuat hati mereka rusak dan keras membatu. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ

dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. [al-Hadîd/57:16]

Allâh Azza wa Jalla melarang kaum Mukminin menyerupai karakter orang-orang yang diberi tugas mengemban al-Kitab sebelum mereka, dari kalangan Yahudi dan Nasrani (yang memperoleh kitab taurat dan Injil). Tatkala masa antara mereka dan para nabi terlalu panjang berlalu, mereka merubah-rubah Kitabullah yang ada di tangan mereka dan menggadaikan (petunjuk-petunjuk) Kitabullah dengan harga sedikit. Mereka mencampakkan Kitab-Nya di belakang mereka dan justru lebih memilih mengikuti pikiran-pikiran yang bermacam-macam dan pendapat-pendapat yang aneh-aneh. Mereka pun sekedar mengikuti para tokoh dalam mempraktekkan agama. Mereka menjadikan para pendeta dan rahib sebagai tuhan-tuhan selain Allâh. Pada saat itulah, hati mereka menjadi mengeras, sehingga tidak bisa menerima mau’izhah, hati mereka tidak melunak dengan mendengar janji baik dan ancaman buruk (dari Allâh Azza wa Jalla ).[12]

Banyak Ahli Kitab Yang Berbuat Kefasikan
Tentang firman-Nya, وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُون Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik . Maksudnya, dan kebanyakan dari mereka telah keluar dari ajaran Allah, keluar dari syariat-Nya, tidak kenal perkara ma’ruf dan tidak mengingkari kemunkaran. [13]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, maksudnya (mereka telah fasik, melenceng) dalam perbuatan-perbuatan mereka. Hati mereka telah rusak dan amal perbuatan mereka batil, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla.

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ ۙ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya” [al-Mâidah/5:13].

Maksudnya, hati mereka sudah rusak, sehingga menjadi keras. Dan merubah-rubah perkataan (ayat-ayat Allâh Azza wa Jalla ) dari pemahaman semestinya menjadi salah satu karakter (buruk mereka). Mereka mengabaikan amalan-amalan yang diperintahkan kepada mereka dan (sebaliknya justru) melakukan perkara-perkara yang dilarang untuk mereka. Untuk itulah, Allâh Azza wa Jalla melarang kaum Mukminin untuk menyerupai mereka dalam perkara apapun baik perkara ushul atau furu’.[14]

Kondisi buruk Ahli Kitab tersebut akibat kerasnya hati-hati mereka yang berdampak pada diabaikannya usaha saling mengingatkan dan mengarahkan di antara mereka, sehingga kebanyakan dari mereka telah berbuat fasik, keluar dari agama Allâh Azza wa Jalla dan menolak ajaran-ajaran-Nya. [15]

Banyaknya jumlah Ahli Kitab yang berbuat fasik, juga ditegaskan dalam ayat-ayat lain. Di antaranya, firman Allâh Azza wa Jalla,

وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” [Ali ‘Imrân/3:110].

Berkaca pada bahaya hati yang sudah mengeras, dapat diketahui bahwa hati manusia memang harus sering diingatkan tentang ajaran-ajaran yang telah diturunkan oleh Allâh Azza wa Jalla , agar tidak lalai yang berujung pada kerasnya hati [16].

Sebuah Keprihatinan Terhadap Realita Umat
Syaikh al-‘Utsaimîn berkata tentang ayat di atas, “Allâh Azza wa Jalla melarang dan memperingatkan kita semua dari meniru orang-orang ahli kitab tersebut. Apabila kita perhatikan kondisi umat Islam, sebagian telah melakukan tindakan yang diperbuat oleh Ahli Kitab. Pada masa-masa sekarang ini, umat Islam telah jauh dari masa kenabian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hati kebanyakan orang telah keras, dan sebagian yang lain berbuat kefasikan. Umat Islam dipimpin manusia-manusia yang tidak layak memimpin mereka, penguasa yang fasik, bahkan ada yang sudah keluar dari Islam”.[17]

Semoga Allâh Azza wa Jalla berkenan senantiasa mencurahkan hidayah-Nya kepada kita, dan membuka hati kita untuk menerimanya serta meningkatkan keimanan dan rasa takut kita kepada-Nya.

Pelajaran Dari Ayat
1. Peringatan dari ghaflah (lalai) dan melupakan dzikrullâh.
2. Peringatan dari lalai dan melupakan kenikmatan dan siksa yang ada di sisi Allâh Azza wa Jalla .
3. Kewajiban mengingatkan kaum Mukminin dengan nasehat, pengarahan dan pengajaran agar jangan sampai hati mereka menjadi keras sehingga mereka akan berbuat berbagai macam perbuatan fasik sebagaimana dilakukan oleh Ahli Kitab, dan menjadi kafir sebagaimana kaum Ahli Kitab sudah kafir.
4. Hati harus diingatkan dan dinasehati agar tidak lalai dan jauh dari kebenaran.
5. Manfaat mau’izhah hasanah (mengingatkan dengan cara yang baik) bagi hati manusia.
6. Ajakan untuk mengkondisikan hati yang khusyu’ kepada Allâh Azza wa Jalla , kitab suci dan hikmah yang diturunkan-Nya.
7. Hendaknya kaum Mukminin mengingat-ingat nasehat-nasehat ilahi dan hukum-ukum syariat setiap saat dan mengintrospeksi diri atas hal tersebut. Wallâhu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XVI/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Bahjatun Nâzhirîn, Syarhu Riyâdhi ash-Shâlihîn, Salîm al-Hilâli 1/631.
[2]. Tafsîru al-Qur`âni al-‘Azhîm 5/19.
[3]. Adhwâ`ul Bayân 7/812.
[4]. Adhwâ`ul Bayân 7/812.
[5]. Aisaru at-Tafâsîr 2/1327.
[6]. Lihat Tafsir ath-Thabari 27/265, Rûhul Ma’âni 27/254, Aisaru at-Tafâsîr 2/1327.
[7]. Syarhu Riyâdhi ash-Shâlihîn, al-‘Utsaimîn, 1/851.
[8]. Taisîrul Karimîr Rahmân hlm.921.
[9]. Rûhul Ma’âni 27/253.
[10]. Ibid.
[11]. Bahjatun Nâzhirîn, 1/631.
[12]. Tafsîru al-Qur`âni al-‘Azhîm 5/20.
[13]. Aisaru at-Tafâsîr 2/1328.
[14]. Tafsîru al-Qur`âni al-‘Azhîm 5/20.
[15]. Lihat Aisaru at-Tafâsîr 2/1327.
[16]. Lihat Taisîrul Karimîr Rahmân hlm.921.
[17]. Syarhu Riyâdhi ash-Shâlihîn 1/852.

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 21 Januari 2016

Print Friendly