Penuhi Umur Dengan Ketaatan

PENUHI UMUR DENGAN KETAATAN

Oleh
Syaikh Ali bin Abdurrahman al-Hudzaifi hafizhahullah

Sesungguhnya Rabb kita telah menjadikan dunia sebagai ladang untuk beramal, serta menjadikan akhirat sebagai tempat pembalasan atas amalan yang dilakukan selama di dunia. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى

Dan hanya kepunyaan Allâh-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga). [An-Najm/53:31]

Allâh Azza wa Jalla telah membantu manusia untuk merealisasikan ibadah yang merupakan tujuan mereka diciptakan, dengan cara menundukkan makhluk-makhlukNya bagi manusia dan segala perantara kebaikan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allâh telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. [Luqmân/31:20]

Allâh Azza wa Jalla berfirman,

اللَّهُ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ﴿١٢﴾وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allâh) bagi kaum yang berpikir. [Al-Jâtsiyah/45:12-13]

Dan jika seseorang merenungkan dan memikirkan tentang kenikmatan dan karunia yang Allâh Azza wa Jalla berikan kepadanya, juga sifat dan karakter yang dikhususkan untuknya, juga kesempatan dan kemampuan untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan yang haram serta ia mengetahui bahwa akhirat adalah kampung abadi yang penuh dengan kenikmatan atau adzab yang pedih, maka ia akan memperhatikan waktunya dan bersemangat untuk memanfaatkannya. Ia akan berusaha memenuhi seluruh hidupnya dengan amal shaleh.

Hendaklah kita giat beramal untuk hari akhirat kita yang kekal abadi. Bersungguh-sungguhlah agar kita bisa meraih kenikmatan yang tidak pernah berubah dan tidak sirna, juga agar kita selamat dari neraka yang penuh dengan siksa pedih dan mengerikan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ الْحَمِيمُ﴿١٩﴾يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ﴿٢٠﴾وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ﴿٢١﴾كُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka. Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada mereka dikatakan), “Rasakanlah adzab yang membakar ini”. [Al-Hajj/22: 19-22]

Sesungguhnya kebaikan yang ada di sisi Allâh Azza wa Jalla tidak bisa diraih kecuali dengan mentaati-Nya. Dan ingatlah bahwa barang dagangan Allâh itu mahal, dan ketahuilah bahwa barang dagangan Allâh itu adalah surga. Sementara umur seseorang adalah modal perdagangannya. Jika ia pergunakan modalnya untuk kebaikan maka ia beruntung, namun jika disia-siakan atau dipergunakan pada yang haram, maka ia akan sengsara.

Orang yang paling berhak meraih kehidupan yang bahagia serta penuh keberkahan adalah orang yang meneladani petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hidupnya, karena petunjuk Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah petunjuk yang paling sempurna. Sebaliknya, orang yang meninggalkan petunjuk Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia telah luput dari seluruh kebaikan, dan barangsiapa luput dari sebagian saja petunjuk Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka ia telah terluput dari kebaikan seukuran petunjuk Nabi yang ia tinggalkan.

Jika setiap Muslim menilai seluruh amalannya dengan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka ia akan menyadari kekurangannya dalam beramal lalu dengan pertolongan Allâh Azza wa Jalla , ia akan berusaha menutupi kekurangannya itu sehingga ia akan tetap istiqamah di atas jalan lurus.

Maka hendaklah seorang Muslim itu senantiasa waspada! Jangan sampai ia menghabiskan usianya dalam kelalaian, meninggalkan ilmu bermanfaat dan amal shaleh. Terutama para pemuda yang mereka ini sangat butuh kepada segala sesuatu yang bisa menjaga agama, akhlak, masa depan dan kebahagiaan mereka.

Setiap fase kehidupan seseorang pasti terpengaruh dengan fase sebelumnya. Yang paling berbahaya bagi seorang Muslim, khususnya pemuda adalah sering membuka situs-situs berbahaya di internet yang telah menghancurkan akhlak islami, juga membaca buku-buku menyimpang, berteman dengan orang jahat, menghabiskan waktu untuk menonton sinetron dan film yang menghalangi dari kebaikan serta menghiasi keburukan dan hal-hal yang haram. Di antara kebiasaan buruk lainnya adalah kebiasaan begadang, tidak tidur malam, dan sebagai gantinya dia tidur di siang hari. Kebiasaan buruk ini disamping merubah tabi’at juga mengurangi produktifitas serta bisa menimbulkan berbagai penyakit, jika dilakukan terus menerus. Kebiasaan-kebiasaan buruk ini banyak dilakukan oleh para pemuda, sehingga tidak mengherankan kalau banyak pemuda terbelit berbagai problematika.

Obat dari semua problematika yang melilit pemuda atau manusia pada umumnya adalah berpegang teguh dengan petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, para orang tua, para guru, orang-orang yang memiliki pengaruh ditengah masyarakat wajib menjadi teladan yang baik bagi para pemuda, terutama kepada anak-anak. Karena anak-anak tidak bisa bertindak kecuali dengan meniru orang-orang yang mereka lihat. Mereka belum bisa menimbang antara yang baik dan buruk, demikian juga belum bisa membaca perjalanan hidup orang-orang shaleh.

Hendaklah kita senantiasa bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dalam keadaan sepi atau ramai, niscaya Allâh Azza wa Jalla akan memperbaiki semua prilaku kita dan menyediakan hasil yang baik di masa yang akan datang.

Kita juga hendaknya senantiasa mengingat dan tidak melupakan limpahan kenikmatan yang Allâh Azza wa Jalla anugerahkan kepada kita, baik kenikmatan zhahir (yang tampak) ataupun bathin (kenikmatan yang tidak dampak). Hendaklah kita melakukan ibadah yang diwajibkan kepada kita juga ibadah-ibadah yang disunnahkan semampu kita sebagai bentuk syukur kita kepada Allâh Azza wa Jalla yang telah mengenugerahi kita berbagai macam kenikmatan. Karena syukur kepada Allâh Azza wa Jalla hanya bisa direalisasikan dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Hendaklah kita selalu ingat bahwa para shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dijaga dan diberkahi oleh Allâh Azza wa Jalla karena mereka berpegang teguh dengan sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keseharian mereka namun tidak demikian dengan akhir umat ini. Mereka ditimpa berbagai macam bala’ akibat dari perbuatan mereka sendiri.

Padahal Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan petunjuk jalan keselamatan, sebagaimana dalam sabdanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عبدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allâh, mendengar dan taat meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak, karena barang siapa yang hidup setelahku maka ia akan melihat banyak perselisihan, maka wajib bagi kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnah para khulafaa’ rasyidin yang mendapatkan petunjuk, peganglah sunnah tersebut, dan gigitlah dengan geraham kalian. Hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat” [HR AT-Tirmidzi dari hadits sahabat Al-‘Irbaad bin Saariyah]

Inilah jalan keselamatan di dunia dan akhirat.

Semoga Allah Azza wa Jalla memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk menjalani hari-hari kehidupan kita di dunia ini sesuai denga petunjuk Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

(Diangkat dari khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Syaikh Ali bin Abdurrahman al-Hudzaifi hafizhahullah di Masjid Nabawi 17 Rajab 1435 H atau 16 Mei 2014 M)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XVIII/1435H /2014M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 20 Maret 2015

Print Friendly