Dampak-dampak Buruk Kemaksiatan 2

Ad-Daa’ wa ad-Dawaa’ adalah sebuah karya besar dan fenomenal di bidang akhlak, tarbiyah, dan tazkiyatunnufus. Penulisnya, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, adalah seorang ulama tersohor dan penulis buku berbobot yang hidup pada abad ke-8 H. Buku ini berbicara panjang lebar serta sempurna di berbagai masalah tarbiyah dan tazkiyatun-nufus, mulai dari pentingnya do’a bagi seorang hamba serta hubungan do’a dengan takdir. Berikut lanjutan kajian kitab dimaksud sampai pada Dampak-dampak Buruk Kemaksiatan :

Maksiat menghilangkan rasa malu.

Di antara dampak maksiat adalah menghilangkan rasa malu yang merupakan sumber kehidupan hati dan inti dari segala kebaikan. Hilangnya rasa malu berarti hilangnya seluruh kebaikan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْـحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ

“Rasa malu adalah kebaikan seluruhnya.”  (HR. Muslim no. 37)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

.إِنَّ مِـمَّـا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِِ النُّبُوَّةِ اْلأُوْلَى : إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ ؛ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya termasuk yang pertama diketahui oleh manusia dari ucapan kenabian adalah jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari no. 5769)

Hadits ini mengandung dua penafsiran:

Pertama: Berfungsi untuk menakut-nakuti dan sebagai ancaman. Oleh karena itu, orang yang tidak memiliki rasa malu akan melakukan berbagai perbuatan buruk semaunya sebab faktor pendorong untuk meninggalkan perbuatan buruk adalah rasa malu. Jika tidak ada rasa malu yang mencegah orang tadi dari perbuatan buruk, maka ia akan melakukannya. (Ini adalah penafsiran Abu ‘Ubaid dalam kitabnya Ghariibul Hadiits (III/31). Lihat pula kitab al-Faa-iq (I/316) karya az-Zamakhsyari dan an-Nihaayah (I/311) karya Ibnul Atsir).

Kedua: Jika engkau tidak malu terhadap Allah untuk melakukan suatu perbuatan, maka lakukanlah. Sebab, yang seharusnya ditinggalkan adalah perbuatan yang pelakunya merasa malu terhadap Allah untuk melakukannya. (Ini adalah penafsiran Imam Ahmad dalam salah satu riwayat Ibnu Hani’)

Tafsiran pertama yakni untuk menakut-nakuti dan sebagai ancaman, sesuai dengan firman Allah ta’ala:

… اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ..

“…perbuatlah apa yang kamu kehendaki…” (QS. Fushshilat: 40)

Sedangkan tafsiran kedua adalah izin dan pembolehan.

Apakah hadits di atas bisa diartikan dengan dua penafsiran sekaligus?

Dalam hal ini Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa sekalipun terdapat pendapat orang yang membawa kata musytarak (kata yang memiliki lebih dari satu makna) kepada seluruh makna-maknanya. Sebab, terdapat kontroversi antara ancaman dan pembolehan. Namun, menjadikan salah satu tafsiran di atas sebagai patokan juga akan mengakibatkan tafsiran yang lain menjadi patokan.

Maksudnya, dosa-dosa melemahkan rasa malu seorang hamba, bahkan bisa jadi menghilangkannya secara keseluruhan. Akibatnya, pelakunya tidak lagi terpengaruh atau merasa risih saat banyak orang mengetahui kondisi dan perilakunya yang buruk. Lebih parah lagi, banyak diantara mereka yang menceritakan keburukannya. Semua ini disebabkan hilangnya rasa malu. Jika seseorang sudah sampai pada kondisi tersebut, maka tidak dapat diharapkan lagi kebaikkannya.

Al-Hayaa’ (malu) merupakan pecahan kata dari al-hayaat(kehidupan). Hujan dinamakan hayaa –diakhiri dengan huruf alif maqshurah- karena ia merupakan sumber kehidupan bagi bumi, tanaman, dan hewan ternak. Kehidupan dunia dan akhirat dinamakan al hayaa’. Oleh sebab itu, siapa yang tidak memiliki rasa malu ibarat mayat di dunia ini dan sungguh, dia akan celaka di akhirat.

“Barangsiapa yang malu terhadap Allah saat mendurhakai-Nya, niscaya Allah akan malu menghukumnya pada pertemuan-Nya. Demikia pula, barangsiapa yang tidak malu mendurhakai-Nya, niscaya Dia tidak malu untuk menghukumnya.”

***

Maksiat melemahkan rasa pengagungan terhadap Allah di dalam hati

Salah satu dampak negatif dari perbuatan maksiat adalah melemahkan rasa akan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam hati, karena hati yang mengagungkan Allah subahanahu wa ta’ala tidak akan berani melakukan maksiat. Mungkin sebagian orang bilang, “saya terjatuh kedalam maksiat karena saya terlalu bersandar kepada kasih sayang dan ampunan Allah bukan karena saya tidak mengagungkan Allah.” Pernyataan seperti ini hanyalah tipuan hawa nafsu belaka, karena mengagungkan Allah berarti mengagungkan segala yang Allah haramkan, dan mengagungkan sesuatu yang Allah haramkan akan mencegahnya dari perbuatan dosa.

Orang-orang yang terjerumus kedalam maksiat berarti ia belum mengenal Allah subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benarnya. Bagaimana bisa orang yang mengenal dan menganggungkan Allah subahanhu wa ta’ala menyepelekan perintah dan laranganNya? Ini adalah hal yang mustahil. Sehingga jelas bahwa orang yang mengagungkan Allah subahanhu wa ta’ala akan taat kepada perintah dan larangannya, sedangkan orang yang mudah melakukan maksiat adalah tanda bahwa hatinya kurang atau tidak mengagungkan Allah subhanahu wa ta’ala.

Diantara cobaan yang Allah berikan kepada pelaku maksiat adalah dengan mencabut kewibawaan dan kehormatan sang pelaku dari hati para hambaNya. Karena hanya Allahlah yang memiliki hati para hamba, Ialah yang bisa membolak-balikkan hati hambanya sesuai kehendakNya, Allahlah yang bisa menjadikan seseroang dicintai, dibenci, dihormati, atau direndahkan oleh orang lain. Allah akan memberikan wibawa dan kehormatan untuk hamba-hambanya yang senantiasa mengagungkanNya dan Ia juga akan menaruh kehinaan dan kerendahan bagi hambanya yang tidak mengagungkannya. Bahkan Ibnul Qoyyim menjelaskan bahwa keagungan seseorang dimata orang lain tergantung dari bagaimana keagungan Allah di mata hamba tersebut. Dan ini ada kaitannya dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala:

وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ

“Dan Barangsiapa yang dihinakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 18)

***

Maksiat Menyebabkan Allah Mengabaikan Hamba-Nya

Di antara dampak dosa (maksiat) adalah menyebabkan Allaah mengabaikan dan meninggalkan hamba-Nya, serta menyerahkan pelakunya kpd diri sendiri dan syaitan. Inilah puncak kebinasaan yang tidak dapat diharapkan lagi keselamatannya.

[Lihatlah Al-Qur’an surah Al-Hasyr ayat 18-19]

َيَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨) وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (١٩)

18.Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
19. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.

[disana] Allaah memerintahkan hamba-Nya agar bertakwa kpd-Nya. Dia melarang hamba-Nya yang beriman menyerupai orang-orang yang melupakan-Nya dengan meninggalkan takwa kpd-Nya.

Allaah juga mengabarkan akan menghukum orang yang tidak bertakwa dengan menjadikannya lupa kpd diri sendiri, yaitu lupa thd hal-hal yang akan mendatangkan kemaslahatan bagi dirinya, dan thd hal-hal yang menyelamatkannya dari adzab-Nya, serta lupa thd hal-hal yang akan membawanya kpd kehidupan abadi dlm kesempurnaan kelezatan, kegembiraan, dan kenikmatan.

Allaah menjadikannya melupakan semua itu sbg balasan atas ketidakpeduliannya thd keagungan Allaah dan tidak ada rasa takut kpd-Nya, serta karena kelalaian dlm melaksanakan perintah-Nya.

Terkadang, Anda melihat orang yang bermaksiat mengabaikan dan menyepelekan kemaslahatan dirinya. Allaah telah menjadikannya lupa thd dzikir kpd-Nya.

Oleh karena itu, hamba tersebut mengikuti hawa nafsu sehingga bersikap melampaui batas. Ia pun kehilangan kemaslahatan dunia&akhiratnya. Ia lalai akan kebahagiaan abadi, dan menggantikannya dgn kelezatan yang paling rendah, yang hanya bagaikan awan musim panas atau khayalan belaka.

Berikut video kajian materi ini:

———-

Sumber: www.assunnah-qatar.com – Jumat, 3 Juni 2016 @05:29

Print Friendly