Nyata, Kisah Memilukan Seorang yang Menetap di tengah Mayoritas Kafir

بسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Saudaraku seiman…

Rayyan adalah teman sekantor saya di Islamic Cultural Center Dammam KSA, beliau berasal dari luar Arab Saudi, semenjak 13 tahun yang lalu beliau masuk Islam, berpindah dari agama yang dianutnya kepada agama Islam yang penuh dengan kesempurnaan ini, walhamdulillah.

 

Sebagai seorang muslim Rayyan sangat memegang ajaran Islam baik akidah, ibadah ataupun akhlak. Beliau berusaha menjadi seorang yang benar-benar Islam sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diatas pemahaman salaf ash shalih. Itu yang saya ketahui dan Allah lebih mengetahui.

Tiga bulan terakhir beliau sakit, dan akhirnya harus operasi, setelah operasi beliau pulang ke negaranya untuk melanjutkan pengobatan di negaranya, atas inisiatif bahwa di Negara asal banyak yang mengurus beliau.

Inilillahi wa Inna Ilaihi Raji’un, ternyata beliau dijemput ajalnya pada Rabu Malam 21 Jumadats Tsaniyah 1434H bertepatan dengan 1 Mei 2013M yang lalu,

Perlu diketahui, bahwa seluruh keluarga beliau masih beragama selain Islam dan kampung beliau seluruhnya adalah beragama selain Islam dan sangat fanatik terhadap agama mereka.

Akhirnya, dengan takdir Allah Rayyan sang Muallaf rahimahullah, tidak dimandikan sebagaimana jenazah muslim dimandikan, tidak dikafani sebagaimana jenazah muslim dikafani, tidak juga dishalati sebagaimana jenazah muslim dishalati dan lebih menyedihkan lagi tidak dikuburkan sebagaimana jenazah muslim dikuburkan, tetapi dilakukan pengurusan jenazah dengan tata cara agama yang dianut orang kampung tersebut. Sungguh ketika mendengar berita tersebut saya hanya bisa mendoakan semoga beliau husnul khatimah dan diampuni dosanya oleh Allah Ta’ala.

Mungkin ada yang bertanya, kemanakah saudara-saudara muslimnya yang lain? Maka jawabannya adalah, mereka tidak mampu berbuat apa-apa, mereka hanya bisa menyaksikan saudara seislam mereka diperlakukan pengurusan jenazah Rayyan dari jauh, sambil menahan rasa sedih, amarah bercampur menjadi satu.

Karena jika diambil paksa jenazah Rayyan, maka diperakirakan akan terjadi kekacauan dan kerusuhan besar yang akan berpengaruh kepada eksistensi muslim yang minoritas di kampung sebelah. Wallahul musta’an.

Saudaraku seiman…

Itulah sepenggal cerita tentang teman saya karena Allah, Rayyan rahimahullah, mungkin dapat ditarik beberapa pelajaran dari cerita nyata di atas:

Berusahalah untuk selalu tinggal di tengah-tengah kaum muslim, yang di dalamnya seorang muslim dapat berakidah dengan benar, menegakkan ibadah dan syi’ar-syiar Islam dengan tenang dan nyaman, tidak ada gangguan sedikitpun.

Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan dengan tegas perihal tinggal di tengah-tengah orang kafir dan musyrik, tanpa ada keperluan, seperti; berdakwah, bekerja sebagai penghubung antara kaum kafir dan kaum muslim (diplomat), berobat, belajar, berdagang dan lain-lain yang dibutuhkan dan dibenarkan syariat Islam.

Mari perhatikan hadits berikut:

  عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَمَّا بَعْدُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ جَامَعَ الْمُشْرِكَ وَسَكَنَ مَعَهُ فَإِنَّهُ مِثْلُهُ ».

Artinya: “Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menggauli seorang musyrik dan tinggal bersamanya, maka sesungguhnya ia sepertinya.” HR. Abu Daud.

Dan dalam sanad yang lain Imam Trimidzi meriwayatkan:

عن سَمُرَةُ بْنُ جُنْدَبٍ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((لاَ تُسَاكِنُوا الْمُشْرِكِينَ، وَلاَ تُجَامِعُوهُمْ، فَمَنْ سَاكَنَهُمْ، أَوْ جَامَعَهُمْ؛ فَهُوَ مِثْلُهُمْ)).

Artinya: “Samurah bin Jundub meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi asallam bersabda: “Janganlah kalian tinggal bersama kaum musyrik dan bergaul dengan mereka, barangsiapa yang tinggal dan bergaul dengan mereka, maka ia seperti mereka.” HR. Tirmidzi secara mu’allaq.

 عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « أَنَا بَرِىءٌ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ يُقِيمُ بَيْنَ أَظْهُرِ الْمُشْرِكِينَ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلِمَ قَالَ « لاَ تَرَايَا نَارَاهُمَا ».

Artinya: “Jarir bin Abdullahg radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku berlepas diri dari setiap muslim yang bermukim diantara kaum musyrik”, para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa?”, beliau menjawab: “Tidak akan terkumpul dua api mereka berdua.”  HR. Tirmidzi.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

 ( والذي يظهر من معنى الحديث : أن النار هي شعار القوم عند النزول وعلامتهم…”,

“…فنار المشركين تدعو إلى الشيطان وإلى نار الآخرة , فإنها إنما توقد في معصية الله , ونار المؤمنين تدعو إلى الله وإلى طاعته وإعزاز دينه , فكيف تتفق الناران , وهذا شأنهما ؟! وهذا من أفصح الكلام وأجزله , المشتمل على المعنى الكثير الجليل بأوجز عبارة ) ا.هـ .

“Dan yang terlihat jelas dari makna hadits, bahwa api adalah syiar mereka ketika mereka tinggal dan itu adalah tanda mereka.”

Beliau juga berkata:

“Maka apinya kaum musyrik mengajak kepada syaithan dan kepada neraka akhirat,karena sesungguhnya ia dinyalakan hanya dalam maksiat kepada Allah, sedangkan api kaum beriman mengajak kepada Allah dan kepada keta’atan kepada-Nya dan menegakkan agamanya, maka bagamana (mungkin) dua api tersebut terjadi kesamaan, dan inilah keadaan kedua api?! Dan ini adalah termasuk dari perkataan yang paling canggih dan fashih, yang mencakup makna yang banyak  dengan ungkapan yang sederhana.” Lihat kitab Tahdzib As Sunan.  

 عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أُبَايِعُهُ فَقُلْتُ هَاتِ يَدَكَ وَاشْتَرِطْ عَلَىَّ وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِالشَّرْطِ. فَقَالَ « أُبَايِعُكَ عَلَى أَنْ لاَ تُشْرِكَ بِاللَّهِ شَيْئاً وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِىَ الزَّكَاةَ وَتَنْصَحَ الْمُسْلِمَ وَتُفَارِقَ الْمُشْرِكَ ».

Artinya: “Jarir bin Abdullahg radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk membaiat beliau, lalu aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, berikan tanganmu dan sebutkanlah syarat atasku dan kamu lebih mengetahui dengan syarat tersebut”, lalauy beliau bersabda:”Aku membaiatmu agar kamu tidak mensyirikkan Allah dengan sesuatu apapun,mendirikan shalat, membayar zakat dan menasehati seorang muslim dan memisahkan diri orang musyrik.” HR. Ahmad.

Saudaraku seiman…

Semoga setelah ini, kita lebih berhati-hati untuk bepergian ke Negara-negara kafir, apalagi sampai berbangga-bangga pergi melancong ke sana atau tinggal disana tanpa ada keperluan yang dibenarkan syariat.

 

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin

Ahad, 25 Jumadats Tsaniyah 1434H, Dammam KSA.

———-

Sumber: www.dakwahsunnah.com ( Ahmad Zainuddin ) | Minggu, 05 Mei 2013 04:10

Print Friendly