Ada Apa di Bulan Ramadhan?

Segala puji bagi Allah yang menciptakan, menjadikan dan membaguskan segala sesuatu, termasuk air dan tanah. Tidak tersembunyi dalam pandangan Allah langkah semut kecil yang berjalan di tengah malam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam, juga kepada sahabat dan keluarga beliau yang keutamaan mereka telah tersebar di kalangan para mahluk.

Saudari-saudariku, semoga Allah merahmati kita semua.

Telah kita ketahui, tidak lama lagi ada hari-hari istimewa yang akan kita lalui sedikitnya selama 29 hari. Telah kita sadari, akan datang bulan mulia dan musim yang agung yang hendak menaungi kita semua, saat-saat dimana Allah akan memperbesar pahala dan melipatgandakan pemberian, saat-saat dimana Allah akan membuka pintu-pintu kebaikan bagi orang yang menginginkannya, yakni bulan Ramadhan.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Bulan yang di dalamnya diturunkannya (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil), Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (Qs. Al Baqarah: 185)

Bulan Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan atas kita untuk berpuasa, sebagaimana perintah Allah yang tercantum dalam firmannya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُم لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. Al-Baqarah : 183).

Sebagian manusia sangat menanti-nantikan akan datangnya bulan ramadhan, mereka menunggu dari tahun ke tahun dan berharap dapat berjumpa dengannya lagi. Namun, sebagian manusia yang lain juga ada yang bersikap biasa dengan kedatangan Ramadhan, tak ada yang dinanti-nanti, menganggap hari-hari ramadhan sebagaimana hari-hari yang lain, dan sama seperti bulan yang lainnya. Mereka tidak mengetahui apa-apa yang diketahui orang lain, mereka tidak merasakan kegembiraan yang dirasakan orang-orang beriman akan datangnya bulan Romadhon.

Karena itu, sungguh benar seperti apa yang di firmankan Allah:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ

“Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Qs. Az-Zumar: 9)

Ada apakah gerangan dengan bulan Ramadhan, apa yang membuat mereka begitu antusias terhadap ramadhan? Apa yang membuat mereka begitu cinta dan merindukan bulan ini? Mungkin ada di antara kita yang ingin memiliki hati seperti orang-orang shalih tersebut, yang bahagia dengan kebaikan-kebaikan, namun kita tidak mengetahui cara mendapatkannya.

Dan tentu kita semua tidak ingin bulan ramadhan berlalu begitu saja sebagaimana bulan yang lainnya, hanya karena sebab ketidaktahuan kita tentangnya.

Tentu kita semua tidak menginginkan kehilangan banyak pahala yang ada pada bulan ramadhan, hanya karena buta terhadap kebaikan-kebaikan yang Allah tawarkan kepada hambanya.

Sungguh kita akan sangat merasa sedih dan menyesal kalau-kalau kita sudah mengetahui kebaikan tersebut namun ramadhan baru saja berlalu meninggalkan kita, yang mana kita semua tidak mengetahui akankah ada waktu dan kesempatan untuk bertemu dengannya lagi di tahun yang akan datang? Belum tentu, bisa saja usia segera mengakhiri kehidupan ini sebelum datang Ramadhan berikutnya.

Alangkah rugi apabila kita melewatkan hari-hari itu dengan sia-sia, yang tidak melakukan banyak amal shalih, dan hanya merasakan letih lelahnya berhenti makan dan minum di siang hari.

Ramadhan, bulan yang padanya terdapat kebaikan yang sangat banyak, di antaranya :

  • Pahala tanpa batas

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pada bulan ini umat muslim diwajibkan untuk melaksanakan puasa, dan orang yang berpuasa di bulan ramadhan, akan diberikan pahala yang tidak terbatas.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Allah Ta’ala berfirman, ‘seluruh amal anak adam untuk dirinya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untukKu dan aku yang akan membalasnya”

Disebutkan dalam salah satu riwayat muslim,

“Satu kebaikan dalam setiap amalan anak adam akan dibalas dengan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, lalu Allah berfirman ‘kecuali puasa’. Sesungguhnya itu untuk-Ku dan aku yang akan membalasnya. Pelakunya telah meninggalkan syahwat dan makan karena aku”

Maksudnya, Allah mengkhususkan puasa untuk diri-Nya, menyandarkan pahala kepada dirinya yang Mulia. Hal ini disebabkan kemuliaan puasa di sisi Allah, kecintaan-Nya terhadap puasa, dan tampaknya nilai keikhlasan seorang hamba di dalam pelaksanaannya.

Amal-amal shalih lain selain puasa, itu akan dilipatgandakan pahala, yang mana satu kebaikan yang akan dibalas sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Tapi berbeda dengan puasa, Allah yang akan membalasnya tanpa menggunakan bilangan tertentu. Oleh karena itu, pahala orang yang berpuasa teramat banyak lagi tak terhingga.

  • Bulan penuh ampunan dan penghapusan dosa

Berpuasa di bulan ramadhan merupakan sebab terampuninya dosa dan dihapuskannya kesalahan.

Disebutkan dalam shahiihain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yang berpuasa ramadhan karena iman dan mengharap pahala maka akan diampuni dosanya yang telah lalu”

Maksudnya, jika ia berpuasa dengan keimanan  kepada Allah dan ridha dengan kewajiban puasa, mengharap pahala dan ganjarannya, tidak membenci kewajiban puasa dan tidak ragu dengan pahalanya, maka Allah benar-benar akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

“Antara shalat-shalat yang lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya akan menghapus dosa-dosa yang diperbuat seorang hamba selama ia menghindari dosa-dosa besar”. (HR. Muslim, nomor 233)

  • Dibukanya pintu surga dan ditutup pintu neraka

Dari Khuzaimah meriwayatkan hadits yang sanadnya sampai kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika malam pertama di bulan ramadhan telah tiba, setan-setan dari bangsa jin yang sangat durhaka dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satu pun yang dibuka, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pun yang ditutup. Seorang malaikat berseru: ‘Hai orang yang mencari kebaikan, mendekatlah! Hai orang yang ingin melakukan keburukan, tahanlah!. Dan ada hamba-hamba yang Allah bebaskan dari Neraka”. (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)

Pintu-pintu surga dibuka pada bulan Ramadhan disebabkan oleh banyaknya amal shalih yang dikerjakan, juga sebagai tanda banyaknya pahala dan ampunan, sehingga Allah benar-benar memberikan kesempatan dan peluang untuk melakukan banyak ketaatan yang menjadi salah satu sebab masuk surga. Sedangkan pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satu pun yang dibuka, disebabkan sedikitnya dosa yang dilakukan oleh orang yang beriman, dan pada hakikatnya berbuat maksiat pada bulan ramadhan tidak bisa maksimal. Adapun tentang syaithan yang diikat dan dibelenggu, yaitu syaithan-syaithan dari golongan jin yang sangat durhaka, bukan seluruh syaithan, sehingga di antara kita masih saja ada yang melakukan maksiat, yang didorong oleh hawa nafsu sendiri. Serta mengenai pembebasan hamba-hamba Allah dari neraka, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah bahwa itu terjadi sejak awal dan hari pertama ramadhan, hal ini menunjukan dhoifnya sebuah hadits yang mengatakan bahwa sepuluh hari pertama adalah rahmat, sepuluh hari berikutnya adalah ampunan dan sepuluh malam terakhir adalah pembebasan hamba dari neraka.

  • Malam lailatul qadar

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan, dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar. ( QS. Al-Qadr :1-5)

Disebutkan dalam kitab tafsir karya al-‘Allamah as-Sa’di rahimahullah, Arti “Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan’ adalah keutamaannya yang setara dengan seribu bulan. Maka amalan yang dikerjakan pada maalm itu lebih baik daripada amalan dalam seribu bulan yang tidak ada malam Lailatul Qadarnya. Ini benar-benar satu hal yang sangat menakjubkan dan luar biasa sekali. Allah menganugerahi kepada ummat yang lemah ini sebuah kekuatan bahkan banyak kekuatan melalui satu amalan. Malam yang amalan padanya setara dengan –bahkan lebih baik daripada-seribu bulan, setara dengan umur seseorang yang diberi kesempatan hidup selama sekitar delapan puluh tahunan.

Dan dalam tafsir Ibnu Katsir rahimahullah tentang firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala, pada malam itu turun malaikat dan malaikat Jibril. Maknanya ialah pada malam ini banyak malaikat yang turun karena melimpahnya keberkahan di dalamnya, yang turun beriringan bersamaan dengan turunnya berkah dan rahmat. Serta di antara keutamaan malam ini juga adalah turun Al-Qur’anul Kariim.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk menghidupkan malam itu dengan melaksankan shalat dan ibadah lainnya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barang siapa yang shalat pada malam Lailatul Qadar karena keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah maka dosanya yang telah lalu akan diampuni” ( Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah memudahkan kita untuk mendapatkannya, betapa ruginya kita apabila melewatkan malam Lailatul Qadar yang hanya ada pada bulan Ramadhan.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

“Bulan Ramadhan yang penuh berkah telah datang kepada kalian, Allah subhaanahu wa ta’ala pun mewajibkan kalian berpuasa pada bulan ini. Pada bulan ini, pintu-pintu langit di buka, pintu-pintu jahannam dikunci, dan setan-setan yang durhaka akan dibelenggu. Pada bulan ini, ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan di sisi Allah. Barang siapa yang tidak diizinkan mendapat kebaikan pada malam itu berarti ia telah terhalangi dari kebaikan (yang sangat besar)”. (diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasa’i, nomor 1992).

***
Muslimah.Or.Id
Penulis: Ummu Kholish Lina Lusiana
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Rujukan:

  • Al-Qur’an
  • Shahih Tafsir Ibnu Katsir, Pustaka Ibnu Katsir.
  • Terjemahan kitab Al-Mausuu’ah Al-Fiqhiyyah al-Muyassarah fii Fiqhil Kitaab was Sunnah al-Muthah-harah, Syaikh Husain bin ‘Audah  al-‘Awaisyah
  • Terjemah kitab Majaalis Syahri Ramadhaan, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin
  • Rekaman kajian Ustadz Zaenal Abidin dengan judul “Bekal Ibadah Menuju Ramadhan

———–

Sumber: www.muslimah.or.id | Sabtu,29 Juni 2013

Print Friendly