Setiap Bid’ah Sesat (bag. 02)

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ, الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, أَمَّا بَعْدُ:

Permasalahan pokok dari tulisan ini…

                        Sebagian dari kaum muslimin masih bingung kalau dikatakan kepadanya bahwa “Setiap bid’ah sesat”, diantara mereka ada yang mengatakan: “Imam Syafi’ie saja membaginya membagi dua”, yang lain akan mengatakan: “Umar bin Khaththab saja mengatakan: “Ini adalah sebaik-baik bid’ah”, ada lagi yang mengatakan: “Yang pentingkan niatnya”, dan banyak lagi, dan banyak lagi.

 

Oleh sebab itulah di dalam tulisan ini akan disampaikan pendapat manakah yang paling benar, karena kebenaran itu hanya satu, tidak berbilang. Dan tulisan di bawah hanya fokus terhadap permasalahan ini, yaitu bantahan terhadap yang tidak percaya bahwa setiap bid’ah sesat, tulisan ini tidak mencakup semua yang berkenaan dengan bid’ah. jadi harap dimaklumi adanya. 

Adakah Bid’ah Hasanah?

            Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Artinya: “Jauhilah perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap yang baru adalah perbuatan bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan di dalam neraka“[1].

            Jadi, tidak ada di dalam Islam bid’ah hasanah dan  bid’ah buruk, karena lafadz: كُلُّ di dalam hadits di atas menunjukkan keumuman dan keluasan, oleh karena itu setiap bid’ah di dalam agama sesat tanpa ada pengecualian dari sisi-sisinya, hadits ini senada dengan firman Allah Ta’ala:

{كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ} [آل عمران: 185]

Artinya: “Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati“[2].

            Apakah mungkin ada yang akan mengatakan: “Bahwa sebagian manusia ada yang tidak akan mati?!”, lebih lagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memulai pernyataan beliau dengan peringatan: “Jauhilah perkara-perkara yang baru”, apakah mungkin bersamaan dengan semua ini bahwa beliau menginginkan hanya sebagian bid’ah?

            Imam Asy Syathibi rahimahullah menjelaskan tentang dalil-dalil umum pencelaan terhadap bid’ah: “Sesungguhnya dalil-dalil buruknya keumuman bid’ah, ada yang berupa mutlak  global yang sangat banyak, tidak ada pengecualian sama sekali dan tidak ada di dalamnya yang menunjukkan bahwa sebagian darinya ada petunjuk dan terdapat pula sebuah riwayat yang menyatakan: “Setiap bid’ah itu sesat kecuali ini dan itu”, dan tidak ada sesuatupun yang semakna dengan ini”[3].

            Dan kita bertanya kepada orang-orang yang berpendapat adanya bid’ah hasanah, jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menginginkan bahwa seluruh bid’ah itu sesat dengan sabda beliau:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

            Maka ungkapan apakah yang lebih mengena dari ini untuk menunjukkan akan penolakan terhadap bid’ah-bid’ah secara menyeluruh?

            Dan saya berharap dari saudara yang berbeda pendapat dalam masalah ini, agar berhenti sejenak di sebuah ungkapan syari’at yang sangat mendalam dari seorang yang tidak berbicara dengan hawa nafsu kecuali wahyu yang diwahyukan oleh Allah kepadanya, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah melampauinya, maka jadilah seorang muslim yang selalu berhenti di firman Allah Ta’ala dan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan janganlah pendapatnya membuat dirinya sombong yang pada akhirnya menyebabkannya berbuat dosa.

            Berkata Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah: “Sungguh anda akan merasa benar-benar heran kepada sebagian orang yang mengetahui sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ ، وَ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Artinya: “Hendaklah kalian menjauhi perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap yang baru adalah perbuatan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan di dalam neraka“.

            Perlu diketahui, bahwa sabda nabi shallallahu ‘alaihi wasallam كُلُّ بِدْعَةٍ adalah sebuah keumuman dan menyeluruh yang dikuatkan dengan kata yang paling kuat untuk menunjukkan keglobalan dan keumuman, yaitu: كُلُّ , yang berbicara dengan perkataan umum ini adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengetahui makna dari ucapan ini, beliau adalah makhluk yang paling fasih dan orang yang sangat memperhatikan pemberian nasehat bagi umatnya, beliau tidak mengucapkan sebuah ucapan kecuali beliau menginginkan makna dari itu. Intinya, ketika Nabi bersabda: “Setiap bid’ah sesat“, beliau mengetahui makna apa yang beliau katakan, ucapan ini keluar dari mulut beliau sebagai kesempurnaan untuk memberikan nasehat kepada umatnya.

            Jika telah terkumpul secara sempurna tiga perkara di dalam sebuah ucapan; kesempurnaan keinginan memberikan nasehat, kesempurnaan penjelasan dan kefasihan serta kesempurnaan pengetahuan, maka hal tersebut menunjukkan bahwa ucapan tersebut diinginkan sesuai apa yang ditunjukkan oleh makna tersebut.

            Maka apakah setelah keumuman ini, layak bagi kita untuk membagi bid’ah menjadi dua bagian atau lima bagian? pembagian ini tidak akan benar selamanya, sedangkan apa yang disebutkan dari beberapa orang ulama tentang adanya bid’ah hasanah, maka hal ini tidak terlepas dari dua kemungkinan:

Pertama: perbuatan itu bukan bid’ah akan tetapi disangka bid’ah.

Kedua: perbuatan itu bid’ah maka ia sesat, akan tetapi tidak diketahui keburukannya”[4].

            Kita juga bisa katakan kepada yang berpendapat adanya bid’ah hasanah, pembuatan hukum adalah hak Allah Rabb semesta alam dan bukan hak manusia, jika boleh ada tambahan di dalam agama Islam, maka niscaya boleh juga pengurangan, oleh sebab itu Samurah menuturkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 إِذَا حَدَّثْتُكُمْ حَدِيثًا فَلَا تَزِيدُنَّ عَلَيْهِ

Artinya: “Jika aku berbicara kepada kalian sebuah hadits maka jangan pernah sekali-kali kamu menambahkannya”[5].

            Oleh sebab itulah, para generasi salafush shalih mewasiatkan dengan ucapan yang senada. Seperti; Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, salah seorang shahabat yang dikenal sangat gigih dalam memperjuangkan sunnah dan memerangi bid’ah, beliau berkata:

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

Artinya: “Ikutilah (petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena itu sudah cukup bagi kalian. Semua bid’ah adalah sesat”[6].

Begitu juga perkataan Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau juga seorang shahabat yang sangat gigih untuk mengamalkan sunnah:

 كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ، وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةً.

Artinya: “Semua bid’ah adalah sesat, meskipun manusia melihatnya baik”[7].

Hasan Al-Bashry rahimahullah seorang tabi’ie terkenal (wafat: 110H) berkata:

اِعْرِفُوا الْمُهَاجِرِيْنَ بِفَضْلِهِمْ، وَاتَّبِعُوْا آثاَرَهُمْ، وَإِيَّاكُمْ وَمَا أَحْدَثَ النَّاسُ فِي دِيْنِهِمْ، فَإِنَّ شَرَّ الأُمُوْرِ اْلمُحْدَثَاتُ.

  Artinya: “Kenalilah keutamaan-keutamaan kaum Muhajirin dan ikutilah jejak mereka, hati-hatilah kalian dari sesuatu baru yang dibuat-buat manusia di dalam agama mereka, karena sesungguhnya sejelek-jelek perkara adalah perkara-perkara baru (di dalam agama)”[8].

Berkata Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah (wafat: 241H):

أُصُوْلُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا التَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم وَالاِقْتِدَاءُ بِهِمْ وَتَرْكُ الْبِدَعِ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ فَهِيَ ضَلاَلَةٌ.

 Artinya: “Landasan sunnah menurut kami adalah berpegang teguh dengan apa-apa yang ada di atasnya para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meneladani mereka, meninggalkan bid’ah-bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”[9].

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin

Rabu, 17 Rabiuts TSani 1434H, Dammam KSA



[1] Hadits riwayat Abu Daud (4607), Tirmidzi (2676), Ibnu Majah (43, 42), Ahmad (4/126-127) dan dishahihkan oleh Tirmidzi dan Al Hakim di dalam Al Mustadrak (1/95) dan juga Al Albani di dalam Irwa Al Ghalil (no. 2455).

———-

Sumber: www.dakwahsunnah.com ( Ahmad Zainuddin ) | Rabu, 27 Februari 2013 08:12

Print Friendly