Mengapa Perlu Menghafal Al Qur’an? (2)

Pada artikel sebelumnya telah dijelaskan mengenai keutamaan dan urgensi menghafal Al Qur’an. Sekarang akan kita bahas mengenai apakah cukup mempelajari Al Qur’an dari terjemahannya? Karena sebagian kaum Muslimin menganggap menghafal Al Qur’an sudah tidak dibutuhkan lagi dengan banyaknya terjemahan Al Qur’an yang beredar ditengah umat. Sehingga untuk mempelajarinya tidak perlu repot-repot menghafalnya, tinggal baca saja terjemahnya. Bagaimana yang benar? Simak ulasan berikut..

Terjemah Al Qur’an bukan Al Qur’an

Perlu diketahui bahwa seluruh dalil mengenai keutamaan Al Qur’an, itu terkait dengan teks Al Qur’an yang berbahasa arab, bukan terjemahannya. Yang diganjar pahala per-hurufnya adalah membaca Al Qur’an, bukan membaca terjemahannya. Al Qur’an sebagai petunjuk dan juga penyembuh juga berlaku pada Al Qur’an, bukan pada terjemahannya. Demikian juga hukum-hukum Islam diambil istinbath dari Al Qur’an, bukan dari terjemahannya.

Karena Allah Ta’ala menurunkan Al Qur’an dengan bahasa arab. Dan banyak sekali hikmah dari hal ini, diantaranya makna-makna yang dikandung Al Qur’an sangat mendalam dan tidak bisa diungkapkan dalam terjemahan. Terjemahan Al Qur’an dalam bahasa apapun tidak mampu merepresentasikan secara sempurna makna-makna yang dikandung setiap ayat dalam Al Qur’an.

Al Lajnah Ad Da’imah Saudi Arabia menjelaskan: “semua tafsir/terjemah Al Qur’an, baik yang berbahasa arab maupun yang berbahasa non-Arab bukanlah Al Qur’an. Al Qur’an adalah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam dengan nash, lafadz dan bahasanya sendiri. Dan Al Qur’an itu memiliki ciri-ciri dan sifat-sifat yang tidak bisa diterapkan pada kitab-kitab tafsir, syarah atau terjemahan Al Qur’an. Allah Ta’ala berfirman: ”

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ

Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya). Dan sesungguhnya Al Quran itu dalam induk Al Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah” (QS. Az Zukhruf: 3-4).

Ia juga berfirman:

قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“(Ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa” (QS. Az Zumar: 28)

Ia juga berfirman:

إِنَّمَا يَسَّرْنَاهُ بِلِسَانِكَ لِتُبَشِّرَ بِهِ الْمُتَّقِينَ وَتُنْذِرَ بِهِ قَوْمًا لُدًّا

Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Quran itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang” (QS. Maryam: 97)

Dan lisan Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam adalah lisan Arab yang jelas. Allah Ta’ala berfirman:

لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ

“Padahal orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya ia berbahasa ‘Ajam, sedang Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang” (QS. An Nahl: 103)

(Majalah Buhuts Al Islamiyah, 12/314-315)

Selain itu, terjemahan itu sifatnya relatif. Terjemahan dari seseorang mungkin berbeda dengan terjemahan orang yang lain, dari segi makna dan bahasanya. Terjemahan dipengaruhi oleh ilmu si penerjemah, semakin tinggi ilmunya, semakin baik dalam menerjemahkan. Juga dipengaruhi oleh pemikiran si penerjemah. Sebagian penerjemah menerjemahkan ayat sesuai dengan pemikiran yang dicenderunginya. Misal jika penerjemah adalah seorang Syi’ah, maka dia akan menerjemahkan ayat sehingga seolah-olah mendukung pemikiran syi’ah. Oleh karena itu memilih terjemahan Al Qur’an pun harus selektif dan hendaknya kita ambil yang terpercaya terjemahannya. Al Lajnah Ad Daimah menjelaskan:

أما الترجمات المختلفة لمعاني القرآن فهي تفسير لمعانيه ، ومن اليسير على أئمة المسلمين وعلمائهم أن يقابلوا الترجمة على الأصل العربي المنزل ، فيقبل الموافق للنص ، وينبذ المخالف

“Adapun berbagai terjemahan terhadap Al Qur’an yang menjelaskan makna-makna Al Qur’an, cukup mudah bagi para pemimpin dan para ulama kaum Muslimin untuk membandingkan terjemahan-terjemahan tersebut dengan teks asal Al Qur’an yang berbahasa Arab. Jika terjemahannya cocok, maka diterima. Jika terjemahannya menyimpang maka ditolak” (Majalah Buhuts Al Islamiyah, 12/314-315)

Intinya, tidak mungkin menggali kandungan Al Qur’an dengan sempurna hanya dengan mengandalkan terjemahan. Bahkan terkadang memahami Al Qur’an sekedar dari terjemahannya saja lalu dipahami dengan opini semata tanpa merujuk pada penjelasan ahli tafsir dan kaidah-kaidah tafsir, merupakan hal yang berbahaya. Maka seseorang yang ingin serius mempelajari agama dan ingin memahami Al Qur’an dengan baik harus menguasai bahasa Arab dan disempurnakan lagi dengan menghafal Al Qur’an. Imam Asy Syafi’i mengatakan:

مَا جَهِلَ النَّاسُ وَلاَ اخْتَلَفُوا، إِلاَّ لِتَرْكِهِم لِسَانَ العَرَبِ، وَمِيلِهِمْ إِلَى لِسَانِ أَرْسطَاطَالِيْسَ

“tidaklah orang-orang itu menjadi bodoh dan banyak berselisih (dalam masalah agama) kecuali disebabkan mereka meninggalkan bahasa Arab dan lebih condong kepada perkataan Aristoteles” (Siyar A’lamin Nubala, 10/74)

Bagaimana Menafsirkan Al Qur’an?

Perlu diperhatikan juga, bahwa seseorang yang menguasai bahasa Arab belum tentu bisa memahami Al Qur’an dengan benar. Dan juga ia tidak bisa menggali kandungan makna-makna Al Qur’an sekedar dengan paham bahasa Arab. Namun diperlukan manhaj (metode) yang benar untuk menafsirkan Al Qur’an, atau disebut dengan ilmu tafsir. Maka apatah lagi orang yang tidak bisa bahasa Arab dan hanya membaca terjemahan??

Secara ringkas, metode yang benar dalam menafsirkan Al Qur’an adalah sebagai berikut:

  1. Menafsirkan ayat Al Qur’an dengan ayat Al Qur’an yang lain. Para ulama mengatakan bahwa ayat-ayat Al Qur’an itu saling menafsirkan satu sama lainnya
  2. Menafsirkan ayat Al Qur’an dengan As Sunnah, yaitu hadits-hadits Nabi yang shahihah. Karena As Sunnah adalah penjelas Al Qur’an.
  3. Menafsirkan ayat Al Qur’an dengan penjelasan para sahabat Nabi radhiallahu’anhum. Karena Al Qur’an diturunkan di masa mereka hidup, mereka yang lebih tahu bagaimana Rasulullah memahami setiap ayat yang turun dan bagaimana prakteknya. Mereka juga sebaik-baik manusia dalam mempelajari dan mengamalkan Al Qur’an.
  4. Menafsirkan ayat Al Qur’an dengan penjelasan para tabi’in yang dikenal serius dalam mempelajari tafsir Al Qur’an kepada para sahabat Nabi
  5. Menafsirkan ayat Al Qur’an sesuai dengan makna-makna Syar’i dan kaidah-kaidah bahasa Arab

(diringkas dari Ushul fit Tafsir karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, 26-27)

Inilah mengapa kita mempelajari Al Qur’an dan bukan mempelajari terjemahan Al Qur’an, dan kita menghafal Al Qur’an dan bukan menghafal terjemahan Al Qur’an.

Terjemahan Al Qur’an Tetap Bermanfaat

Namun demikian, bukan berarti terjemahan Al Qur’an tidak bermanfaat. Terjemahan Al Qur’an bermanfaat bagi kaum Muslimin yang belum menguasai bahasa Arab. Terjemahan Al Qur’an yang sudah diverifikasi dengan benar oleh pemerintah dan para ulama terpercaya membantu kaum Muslimin memahami kandungan Al Qur’an secara garis besar.

Juga membantu kaum Muslimin untuk men-tadabburi Al Qur’an. Tadabbur berbeda dengan tafsir. Tadabbur adalah merenungi ayat Al Qur’an untuk dipertanyakan kepada diri sendiri apakah sudah sesuai dengan ayat tersebut atau sudah melaksanakan ayat tersebut ataukah belum. Karena kata para ulama, semua orang bisa ber-tadabbur, dan tadabbur tidak disyaratkan menguasai bahasa Arab. Karena inti tadabbur adalah merenungkan keadaan dari untuk dibandingkan dengan ayat yang dibaca. Namun kemampuan bahasa arab dan ilmu tentu tafsir membantu seseorang untuk ber-tadabbur lebih dalam lagi.

Demikian, semoga bermanfaat. Wabillahi at taufiq was sadaad.

Penulis: Yulian Purnama

Artikel Muslimah.Or.Id

———–

Sumber: www.muslimah.or.id | Rabu,20 Agustus 2014

Print Friendly