Kitab Tauhid – 10 Wasiat Alloh Ta’aala

قل تعالوا أتل ما حرم ربكم عليكم ألا تشركوا به شيئا وبالوالدين إحسانا ولا تقتلوا أولادكم من إملاق نحن نرزقكم وإياهم ولا تقربوا الفواحش ما ظهر منها وما بطن ولا تقتلوا النفس التي حرم الله إلا بالحق ذلكم وصاكم به لعلكم تعقلون. ولا تقربوا مال اليتيم إلا بالتي هي أحسن حتى يبلغ أشده وأوفوا الكيل والميزان بالقسط لا نكلف نفسا إلا وسعها وإذا قلتم فاعدلوا ولو كان ذا قربى وبعهد الله أوفوا ذلكم وصاكم به لعلكم تذكرون. وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله ذلكم وصاكم به لعلكم تتقون.

Artinya : Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendati pun dia adalah kerabat (mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat, dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa (Al-An’aam : 151-153).

Inilah sepuluh wasiat tersebut :

Pertama : Larangan untuk menyekutukan Allah.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar (An-Nisaa’ : 48).

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya (An-Nisaa : 116)

Bahkan jaminan luar biasa diberikan kepada orang yang tidak menyekutukan Allah bahwa dia akan masuk surga walaupun menanggung dosa-dosa. Dalam Bukhari dan Muslim dari Abu Dzar disebutkan :

: “أتاني جبريل فبشرني أنه من مات لا يشرك بالله شيئًا من أمتك، دخل الجنة. قلت: وإن زنا وإن سرق؟ قال: وإن زنا وإن سرق. قلت: وإن زنا وإن سرق؟ قال: وإن زنا وإن سرق. قلت: وإن زنا وإن سرق؟ قال: وإن زنا وإن سرق، وإن شرب الخمر”

Jibril datang menemuiku dengan memberi kabar gembira bahwa sesungguhnya barang siapa yang meninggal dari ummatmu dan tidak menyekutukan sesuatupun dengan Allah, maka dia akan masuk surga! Aku (Rasulullah) katakan sekalipun dua berzina dan mencuri? Dia berkata : Sekalipun dia berzina dan mencuri! Aku (Rasulullah) katakan sekalipun dua berzina dan mencuri? Dia berkata : Sekalipun dia berzina dan mencuri! Aku (Rasulullah) katakan sekalipun dua berzina dan mencuri? Dia berkata : Sekalipun dia berzina dan mencuri! Walaupun dia minum minuman keras!

Kedua : Berbuat baik kepada kedua orang tua.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (Luqman : 14).

Ketiga : Allah melarang keras membunuh anak-anak kita.

Dengan alasan karena khawatir dengan anak banyak maka kemiskinan akan mengiringi kita. Dengan anak banyak maka kesusahan akan menimpa kita, dengan anak banyak maka kesulitan akan mengepung kita. Orang-orang yang membunuh anak-anaknya itu telah membangun ketakutan dalam dirinya, merancang kecemasan dalam diri mereka sendiri. Sehingga benih-benih pikiran pesimistik ini membuat mereka mati langkah dan sekaligus membunuh daya kreativitas mencari jalan terbaik bagi kehidupan anak-anak mereka ke depan.

Keempat : Allah melarang kita semua itu melakukan tindakan-tindakan keji baik yang lahir dan tampak maupun yang bathin tersembunyi.

Yang lahir adalah perbuatan yang dilakukan dengan terang-terangan dimana pelakunya tidak takut lagi mendapatkan cela, sementara yang bathin adalah perbuatan yang dilakukan secara sembunyi dan pelakunya khawatir mendapatkan celaan dari orang-orang yang melihatnya. Seperti perzinahan, perselingkuhan, korupsi dan lainnya.

Kelima : Larangan membunuh manusia tanpa alasan yang diperkenankan oleh agama.

Tidak ada alasan apapun membunuh orang lain kecuali dengan tiga alasan yang Rasulullah sebutkan :

“لا يحل دم امرئ مسلم يشهد أن لا إله إلا الله، وأني رسول الله إلا بإحدى ثلاث: الثيب الزاني، والنفس بالنفس، والتارك لدينه المفارق للجماعة”

Tidaklah halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku sebagai utusan Allah kecuali dengan salah satu dari tiga alasan berikut : Seorang duda yang berzina, karena membunuh orang lain dan orang yang meninggalkan agama ini dan memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin (HR. Bukhari- Muslim).

Terorisme dengan membunuh sesama muslim atau juga non-muslim yang tidak berdosa termasuk yang Allah larang.

Keenam : Tidak boleh makan harta anak yatim dengan cara menkonsumsi harta anak yatim itu hingga tidak tersisa.

Tugas orang yang mendapat titipan anak yatim yang belum sampai usia matang adalah menjaganya sebaik-baiknya, kalau mungkin mengembangkannya sehingga harta mereka bertambah tatkala berada di tangan kita. Kemudian kita serahkan manakala usia anak itu telah sampai pada usia matang. Dan kita lepas dari tanggung jawab.

Ketujuh : Sempurnakan takaran dan timbangan dengan adil.

Wasiat ini sangat perlu diungkap karena kebanyakan manusia cenderung untuk melakukan kecurangan-kecurangan apalagi dalam masalah takaran dan timbangan. Kerusakan ummat-ummat terdahulu juga berkisar pada tipu menipu dalam takaran ini, sebagaimana dilakukan oleh kaum Nabi Syu’aib.

Kedelapan : Oleh sebab itulah Allah melanjutkan dengan menekankan agar setiap kita senantiasa berkata jujur dan apa adanya jangan ada dusta yang disenganya, jangan ada kebohongan sistimatis yang dibangun, jangan ada culas yang dijustifikasi.

Baik Karena alasan budaya, kultur, tradisi, politik, apalagi dengan berdusta atas nama agama. Kejujuran adalah sebuah barang mahal yang hendaknya senantiasa ditebus dengan rasa dan dibeli dengan jiwa. Tidak banyak yang mampu melakukan kejujuran itu, tidak banyak orang yang memperjuangkannya, tidak banyak orang yang berminat menyebarkannya. Padahal bagi seorang beriman tak ada pilihan lain kecuali jujur saat bicara, jujur saat bersaksi, jujur kala berttansaksi, jujur kala berjanji. Jujur menjadi mahkota yang senantiasa menempel di kepala seorang mukmin.

Kesembilan : Janji adalah hutang yang senantiasa harus kita penuhi.

Janji adalah ikatan yang senantiasa harus kita jaga dan junjung tinggi. Jangan sampai kita yang berjanji kita pula yang mengingkari. Jangan sampai kita yang berjanji, kita pula yang memungkiri.

Kesepuluh : Ikutilah jalan Allah yang lurus dan jangan mengikuti jalan lain selain jalan Allah.

Jalan Islam, jalan kebenaran yang mengantarkan manusia pada kedamaian. Jalan yang mengantarkan manusia pada kekokohan dan kekukuhan. Jangan yang senantiasa terang karena senantiasa bertaburan cahaya, bermandikan nur yang memancar dari keimanan yang kuat, ibadah yang lurus dan ihsan yang terus menanjak.

Semoga kita mampu mengemban 10 wasiat Allah ini dengan sebaik-baiknya agar kita kembali kepada Allah dengan penuh suka cita. Amien.

Ikuti Kajiannya:

———-

Sumber: www.assunnah-qatar.com – Minggu, 6 Desember 2015 @16:40

Print Friendly