50-51. Mengharapkan Kematian Karena Beratnya Cobaan. Banyaknya Jumlah Bangsa Romawi

TANDA-TANDA KECIL KIAMAT

Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil

50. MENGHARAPKAN KEMATIAN KARENA BERATNYA COBAAN
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ.

“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga seseorang melewati kubur seseorang, lalu dia berkata, ‘Andaikata aku ada di tempatnya.’” [1]

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ عَلَى الْقَبْرِ فَيَتَمَرَّغُ عَلَيْهِ، وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَكَانَ صَاحِبِ هَذَا الْقَبْرِ وَلَيْسَ بِهِ الدِّيْنُ إِلاَّ الْبَلاَءُ.

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, dunia ini tidak akan lenyap hingga seseorang melewati kuburan, lalu ia berhenti padanya, dan berkata, ‘Andaikata aku berada di tempat penghuni kuburan ini,’ (dia mengatakannya) bukan karena agama tetapi karena dahsyatnya cobaan.”[2]

Mengharapkan kematian terjadi ketika banyaknya fitnah, berubahnya keadaan dan ketika ajaran-ajaran syari’at banyak diselewengkan. Hal ini jika memang belum terjadi, maka pasti terjadi.

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Akan datang kepada kalian suatu zaman, di mana jika salah seorang di antara kalian mendapati, seandainya kematian bisa dijual, niscaya dia akan membelinya, sebagaimana dikatakan:

وَهذَا الْعَيْشُ مَا لاَ خَيْرَ فِيْهِ أَلاَ مَوْتٌ يُبَاعُ فَأَشْتَرِيْهِ.

Tidak ada kebaikan pada kehidupan ini,
adakah kematian yang dijual sehingga aku dapat membelinya.[3]

Al-Hafizh al-‘Iraqi rahimahullah [4] berkata, “Hal itu tidak mesti terjadi pada setiap negeri, tidak juga pada segenap zaman, atau pada setiap manusia, bahkan bisa saja terjadi untuk sebagian orang di sebagian negeri pada sebagian zaman. Menggantungkan harapan untuk mati dengan melewati kuburan mengandung isyarat akan besarnya kerusakan manusia saat itu. Karena terkadang seseorang mengharapkan kematian ketika dia tidak membayangkan kematian tersebut. Jika dia menyaksikan orang mati dan melihat kuburan, maka secara otomatis tabiatnya akan lari dari mengharapkan kematian. Akan tetapi, karena besarnya malapetaka (yang dirasakan saat itu), maka segala hal yang ia saksikan berupa seramnya keadaan kuburan tidak menjadikan dirinya berpaling darinya. Hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan larangan mengharapkan kematian. Karena, makna hadits ini hanya sebagai kabar terhadap sesuatu yang akan terjadi, di dalamnya sama sekali tidak ada pertentangan dengan hukum syar’i mengenai (larangan ini).”[5]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan akan terjadi kesengsaraan dan kepedihan yang menimpa manusia, sehingga mereka mengharapkan kedatangan Dajjal. Dijelaskan dalam sebuah hadits dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَتَمَنَّوْنَ فِيْهِ الدَّجَّالَ، قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! بِأَبِيْ وَأُمِّيْ مِمَّ ذَاكَ؟ قَالَ: مِمَّا يَلْقَوْنَ مِنَ الْعَنَاءِ وَالْعَنَاءِ.

‘Akan datang kepada manusia satu zaman di mana mereka mengharapkan (kedatangan) Dajjal.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku sebagai tebusan, (karena apa) hal itu terjadi?” Beliau menjawab, “Karena kepedihan dan kepedihan yang mereka rasakan.”[6]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan (XIII/81-82, al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XVIII/34, Syarh an-Nawawi).
[2]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraatus Saa’ah (XVIII/34, Syarh an-Nawawi).
[3]. Faidhul Qadiir (VI/418).
[4]. Beliau adalah Zainuddin ‘Abdurrahman bin al-Hasan bin ‘Abdirrahman al-‘Iraqi al-Kurdi asy-Syafi’i. Lahir pada tahun 725 H. Beliau termasuk al-Huffazh (penghafal hadits), beliau safar untuk mencari hadits ke Dimasyqa, Haleb, Hijaz, dan Iskandariah. Beliau mengambil hadits dari ulama-ulama besar. Beliau memiliki banyak karya tulis dalam bidang hadits, di antaranya: al-Mughni ‘an Hamlil Asfaari fil Asfaari fii Takhriiji maa fil Ihyaa’ minal Akhbaari, Taq-riibul Asaaniid dan syaratnya Tharhut Tatsriib. Beliau wafat pada tahun 806 H.
Lihat biografi beliau dalam Syadzaraatudz Dzahab (VIII/55-56) dan Muqaddimah kitab Tharhut Tatsriib (I/2-9) karya Syaikh Mahmud Hasan Rabi’.
[5]. Faidhul Qadiir (VI/418), lihat Fat-hul Baari (XIII/75-76).
[6]. HR. Ath-Thabrani di dalam al-Ausath, dan al-Bazzar dengan yang semisalnya, perawi keduanya adalah tsiqah, lihat Majma’uz Zawaadi (VII/284-285).

51. BANYAKNYA JUMLAH BANGSA ROMAWI[1] DAN PEPERANGAN MEREKA DENGAN KAUM MUSLIMIN
Al-Mustaurid al-Qurasy berkata di hadapan ‘Amr bin al-‘As Radhiyallahu anhuma, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَقُومُ السَّاعَةُ وَالرُّومُ أَكْثَرُ النَّاسِ فَقَالَ لَهُ عَمْرٌو: أَبْصِرْ مَا تَقُولُ. قَالَ: أَقُولُ مَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

‘Kiamat akan tegak sementara bangsa Romawi adalah yang paling banyak jumlahnya.’” Lalu ‘Amr berkata (kepada al-Mustaurid), “Jelaskan apa yang engkau ucapkan itu!” Dia berkata, “Aku mengatakan apa yang aku dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [2]

Dijelaskan dalam hadits ‘Auf bin Malik al-Asyja’i Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اُعْدُدْ سِتًّا بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ … (فذكر منها) ثُمَّ هُدْنَةٌ تَكُونُ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ بَنِي الأَصْفَرِ فَيَغْدِرُونَ فَيَأْتُونَكُمْ تَحْتَ ثَمَانِينَ غَايَةً تَحْتَ كُلِّ غَايَةٍ اثْنَا عَشَرَ أَلْفًا.

‘Ingatlah tanda-tanda menjelang datangnya Kiamat (lalu beliau menyebutkan, di antaranya:) … kemudian perdamaian di antara kalian dan Bani Ashfar [3] , lalu mereka berkhianat. Mereka mendatangi kalian dengan membawa 80 panji perang, untuk setiap panji ada 12.000 (pasukan).”[4]

Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah dari Nafi’ bin ‘Utbah, beliau berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu kami hafal darinya empat hal yang aku hitung dengan tanganku, beliau bersabda:

تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللهُ، ثُمَّ فَارِسَ فَيَفْتَحُهَا اللهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللهُ، ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ فَيَفْتَحُهُ اللهُ، قَالَ: فَقَالَ نَافِعٌ: يَا جَابِرُ لاَ نَرَى الدَّجَّالَ يَخْرُجُ حَتَّى تُفْتَحَ الرُّومُ.

“Kalian akan memerangi Jazirah Arab lalu Allah menaklukkannya, kemudian Persia lalu Allah menaklukkannya, kemudian kalian akan memerangi Romawi lalu Allah menaklukkannya, kemudian kalian akan memerangi Dajjal lalu Allah menaklukkannya.” Dia (Jabir) berkata, selanjutnya Nafi’ berkata, “Wahai Jabir, kita tidak akan melihat Dajjal keluar hingga bangsa Romawi ditaklukkan.” [5]

Telah diriwayatkan penjelasan mengenai peperangan yang akan terjadi antara kaum muslimin dengan bangsa Romawi. Dijelaskan dalam hadits Yusair bin Jabir, beliau berkata:

هَاجَتْ رِيحٌ حَمْرَاءُ بِالْكُوفَةِ، فَجَاءَ رَجُلٌ لَيْسَ لَهُ هِجِّيرَى إِلاَّ يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ مَسْعُودٍ! جَاءَتِ السَّاعَةُ. قَالَ: فَقَعَدَ -وَكَانَ مُتَّكِئًا- فَقَالَ إِنَّ السَّاعَةَ لاَ تَقُومُ حَتَّى لاَ يُقْسَمَ مِيْرَاثٌ، وَلاَ يُفْرَحَ بِغَنِيمَةٍ. ثُمَّ قَالَ بِيَدِهِ هَكَذَا، وَنَحَّاهَا نَحْوَ الشَّامِ، فَقَالَ: عَدُوٌّ يَجْمَعُونَ ِلأَهْلِ اْلإِسْلاَمِ وَيَجْمَعُ لَهُمْ أَهْلُ اْلإِسْلاَمِ قُلْتُ الرُّومَ تَعْنِي؟ قَالَ: نَعَمْ وَتَكُونُ عِنْدَ ذَاكُمْ الْقِتَالِ رَدَّةٌ شَدِيدَةٌ، فَيَشْتَرِطُ الْمُسْلِمُونَ شُرْطَةً لِلْمَوْتِ لاَ تَرْجِعُ إِلاَّ غَالِبَةً، فَيَقْتَتِلُونَ حَتَّـى يَحْجُزَ بَيْنَهُمُ اللَّيْلُ، فَيَفِيءُ هَؤُلاَءِ وَ هَؤُلاَءِ كُلٌّ غَيْرُ غَالِبٍ. وَتَفْنَى الشُّرْطَةُ ثُمَّ يَشْتَرِطُ الْمُسْلِمُونَ شُرْطَةً لِلْمَوْتِ، لاَ تَرْجِعُ إِلاَّ غَالِبَةً فَيَقْتَتِلُونَ حَتَّى يَحْجُزَ بَيْنَهُمُ اللَّيْلُ، فَيَفِيءُ هَؤُلاَءِ وَهَؤُلاَءِ كُلٌّ غَيْرُ غَالِبٍ وَتَفْنَى الشُّرْطَةُ ثُمَّ يَشْتَرِطُ الْمُسْلِمُونَ شُرْطَةً لِلْمَوْتِ، لاَ تَرْجِعُ إِلاَّ غَالِبَةً فَيَقْتَتِلُونَ حَتَّى يُمْسُوا، فَيَفِيءُ هَؤُلاَءِ وَهَؤُلاَءِ كُلٌّ غَيْرُ غَالِبٍ، وَتَفْنَـى الشُّرْطَةُ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الرَّابِعِ نَهَدَ إِلَيْهِمْ بَقِيَّةُ أَهْلِ اْلإِسْلاَمِ، فَيَجْعَلُ اللهُ الدَّبْرَةَ عَلَيْهِمْ، فَيَقْتُلُونَ مَقْتَلَةً، إِمَّا قَالَ: لاَ يُرَى مِثْلُهَا، وَإِمَّا قَالَ: لَمْ يُرَ مِثْلُهَا حَتَّـى إِنَّ الطَّائِرَ لَيَمُرُّ بِجَنَبَاتِهِمْ، فَمَا يُخَلِّفُهُمْ حَتَّـى يَخِرَّ مَيْتًا، فَيَتَعَادُّ بَنُو اْلأَبِ كَانُوا مِائَةً، فَلاَ يَجِدُونَهُ بَقِيَ مِنْهُمْ إِلاَّ الرَّجُلُ الْوَاحِدُ فَبِأَيِّ غَنِيمَةٍ يُفْرَحُ أَوْ أَيُّ مِيرَاثٍ يُقَاسَمُ؟ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ، إِذْ سَمِعُوا بِبَأْسٍ هُوَ أَكْبَـرُ مِنْ ذَلِكَ، فَجَاءَهُمُ الصَّرِيخُ، إِنَّ الدَّجَّالَ قَدْ خَلَفَهُمْ فِي ذَرَارِيِّهِمْ فَيَرْفُضُونَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ وَيُقْبِلُونَ فَيَبْعَثُونَ عَشَرَةَ فَوَارِسَ طَلِيعَةً قَالَ رَسُـولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّـي لأَعْرِفُ أَسْمَاءَهُمْ وَأَسْمَاءَ آبَائِهِمْ وَأَلْوَانَ خُيُولِهِمْ هُمْ خَيْـرُ فَوَارِسَ عَلَى ظَهْرِ اْلأَرْضِ يَوْمَئِذٍ أَوْ مِنْ خَيْرِ فَوَارِسَ عَلَى ظَهْرِ اْلأَرْضِ يَوْمَئِذٍ.

“Angin merah berhembus di Kufah. Lalu datang seorang laki-laki, ti-dak ada yang ia ucapkan berulang-ulang kecuali, ‘Wahai ‘Abdullah bin Mas’ud, Kiamat telah tiba.’ Dia (Yasir) berkata, “Lalu orang itu duduk -sebelumnya menyandar-, kemudian berkata, ‘Sesungguhnya Kiamat tidak akan tiba sehingga harta waris tidak dibagikan dan (seseorang) tidak merasa senang dengan harta rampasan perang.’ Kemudian dia memberikan isyarat dengan tangannya seperti ini, dan mengarahkannya ke arah Syam. Dia berkata, ‘Ada musuh yang mengumpulkan (pasukan) untuk (menyerang) orang Islam, dan orang Islam mengumpulkan (pasukan) untuk (menyerang) mereka.’ Aku bertanya, ‘Apakah bangsa Romawi yang kau maksud?’ Dia menjawab, ‘Betul, dan pada peperangan tersebut akan terjadi perlawanan yang sangat sengit. Kaum muslimin menyiapkan satu pasukan pertama yang berani mati ke garis depan yang tidak akan kembali kecuali dengan kemenangan. Kemudian mereka saling berperang hingga malam menghalangi mereka. Akhirnya masing-masing pasukan kembali tanpa mendapatkan kemenangan, tetapi pasukan berani mati telah binasa, kemudian kaum muslimin menyiapkan kembali satu pasukan berani mati ke garis depan yang tidak akan kembali kecuali dengan kemenangan. Kemudian mereka saling berperang hingga malam meng-halangi mereka. Akhirnya masing-masing pasukan kembali tanpa mendapatkan kemenangan, tetapi pasukan berani mati telah binasa. Kemudian kaum muslimin menyiapkan satu pasukan berani mati di garis depan yang tidak akan kembali kecuali dengan membawa kemenangan. Kemudian mereka saling berperang sampai datang waktu sore. Akhirnya masing-masing pasukan kembali tanpa mendapatkan kemenangan, tetapi pasukan berani mati telah binasa. Selanjutnya pada hari keempat pasukan kaum muslimin yang masih tersisa maju melawan mereka, sehingga Allah menjadikan mereka (musuh) ada dalam kekalahan. Kemudian mereka melakukan peperangan yang tidak pernah disaksikan (peperangan) semisalnya, sehingga burung yang ada di sekeliling mereka tidak melewatinya melainkan tersungkur mati. Satu keturunan yang sebelumnya berjumlah seratus orang tidak tersisa lagi dari mereka kecuali hanya satu orang, maka dengan harta rampasan yang mana ia akan bersenang-senang dan dengan harta warisan yang mana ia akan dibagi? Ketika keadaan mereka seperti itu, tiba-tiba dia mendengar peperangan yang lebih dahsyat dari itu, kemudian datang seseorang yang berteriak meminta pertolongan, ‘Sesungguhnya Dajjal telah telah menggantikan mereka (musuh terdahulu, dia) telah masuk kepada wanita-wanita juga anak-anak mereka,’ lalu mereka meninggalkan apa-apa yang ada di tangan mereka, maju (untuk menghadapi Dajjal), dan mengutus sepuluh orang pasukan berkuda yang hebat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sungguh aku mengetahui nama-nama mereka dan orang tua mereka, juga warna kuda-kuda mereka, mereka adalah pasukan berkuda yang paling hebat di muka bumi saat itu, atau mereka pasukan berkuda yang paling baik di muka bumi saat itu.” [6]

Peperangan ini terjadi di Syam pada akhir zaman sebelum kedatangan Dajjal, sebagaimana difahami dari berbagai hadits. Dan kemenangan kaum muslimin atas bangsa Romawi merupakan pintu pembuka atas penaklukan Konstantinopel (yang kedua). Dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَنْزِلَ الرُّومُ بِاْلأَعْمَاقِ أَوْ بِدَابِقٍ، فَيَخْرُجُ إِلَيْهِمْ جَيْشٌ مِنَ الْمَدِينَةِ، مِنْ خِيَارِ أَهْلِ اْلأَرْضِ يَوْمَئِذٍ، فَإِذَا تَصَافُّوا، قَالَتِ الرُّومُ: خَلُّوا بَيْنَنَا وَبَيْنَ الَّذِينَ سَبَوْا مِنَّا نُقَاتِلْهُمْ. فَيَقُولُ الْمُسْلِمُونَ: لاَ وَاللهِ لاَ نُخَلِّي بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ إِخْوَانِنَا، فَيُقَاتِلُونَهُمْ، فَيَهْزُمُ ثُلُثٌ لاَ يَتُوبُ اللهُ عَلَيْهِمْ أَبَدًا، وَيُقْتَلُ ثُلُثُهُمْ أَفْضَلُ الشُّهَدَاءِ عِنْدَ اللهِ، وَيَفْتَتِحُ الثُّلُثُ لاَ يُفْتَنُونَ أَبَدًا، فَيَفْتَتِحُونَ قُسْطَنْطِينِيَّةَ، فَبَيْنَمَا هُمْ يَقْتَسِمُونَ الْغَنَائِمَ، قَدْ عَلَّقُوا سُيُوفَهُمْ بِالزَّيْتُونِ، إِذْ صَاحَ فِيهِمُ الشَّيْطَانُ: إِنَّ الْمَسِيحَ قَدْ خَلَفَكُمْ فِـي أَهْلِيكُمْ، فَيَخْرُجُونَ، وَذَلِكَ بَاطِلٌ، فَإِذَا جَاءُوا الشَّأْمَ، خَرَجَ فَبَيْنَمَا هُمْ يُعِدُّونَ لِلْقِتَالِ يُسَوُّونَ الصُّفُوفَ، إِذْ أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَيَنْزِلُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ.

“Tidak akan tiba hari Kiamat hingga bangsa Romawi datang ke A’maq [7] dan Dabiq,[8] lalu pasukan dari Madinah datang menghadang mereka. Mereka termasuk penduduk bumi yang terbaik waktu itu. Ketika mereka telah berbaris, bangsa Romawi berkata, “Biarkanlah antara kami dan orang yang tertawan dari kalangan kami sehingga kami dapat membunuh mereka.” Kemudian kaum muslimin berkata, “Demi Allah, kami tidak akan membiarkan antara kalian dengan saudara-saudara kami (tawan dari bangsa Romawi yang telah masuk Islam),” lalu (kaum muslimin) memerangi mereka. Sepertiga dari mereka kalah dan lari kocar-kacir, Allah tidak menerima taubat mereka selamanya, sepertiga dari mereka terbunuh, mereka adalah sebaik-baiknya syuhada di sisi Allah, sepertiga-nya melakukan penaklukan, mereka tidak akan terkena fitnah untuk selamanya. Akhirnya mereka dapat menaklukkan Konstantinopel. Ketika mereka sedang membagikan harta rampasan perang dan menggantung-kan pedang-pedang mereka di atas pohon zaitun, tiba-tiba saja syaitan berteriak, ‘Sesungguhnnya al-Masih (ad-Dajjal) telah mendatangi keluarga kalian,’ kemudian mereka keluar, akan tetapi hal itu tidak benar. Selanjut-nya mereka datang ke Syam, ternyata dia (Dajjal) keluar. Ketika mereka sedang mempersiapkan diri untuk perang, mereka meluruskan barisan, tiba-tiba iqamat untuk shalat dikumandangkan, saat itulah ‘Isa bin Maryam Alaihissallam turun.”[9]

Diriwayatkan dari Abud Darda Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ فُسْطَاطَ الْمُسْلِمِينَ يَوْمَ الْمَلْحَمَةِ فِـي أَرْضٍ بِالْغُوطَةِ إِلَى جَانِبِ مَدِينَةٍ يُقَالُ لَهَا دِمَشْقُ مِنْ خَيْرِ مَدَائِنِ الشَّامِ.

“Sesungguhnya benteng kaum muslimin di hari peperangan besar adalah di Ghuthah [10] sampai berada di sisi kota yang bernama Damaskus, ia adalah sebaik-baiknya kota di Syam.” [11]

Ibnul Munir [12] berkata, “Adapun kisah bangsa Romawi, maka hal itu belum terjadi sampai sekarang dan belum ada riwayat yang sampai kepada kita bahwa mereka berperang di darat dengan jumlah sebanyak ini. Ini termasuk peristiwa yang belum terjadi, di dalamnya terdapat kabar gembira sekaligus peringatan. Kisah itu menunjukkan bahwa peristiwa tersebut berakhir dengan kemenangan kaum muslimin bersamaan dengan banyaknya pasukan itu dan kabar gembira bahwa jumlah pasukan kaum muslimin akan lebih banyak lagi dengan jumlah yang berlipat-lipat (dengan masuk Islamnya tawanan bangsa Romawi).”[13]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Bangsa Romawi adalah keturunan al-‘Ish bin Ishaq bin Ibrahim e. Lihat an-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (hal. 58) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[2]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XVIII/22, Syarh an-Nawawi).
[3]. Bani Ashfar adalah bangsa Romawi, lihat Fat-hul Baari (VI/678).
[4]. HR. Al-Bukhari. Telah disebutkan takhrijnya.
[5]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XVIII/26, Syarh an-Nawawi).
[6]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XVIII/24-25, dalam Syarh an-Nawawi).
[7]. أَعْمَاقُ: Yakut al-Hamawi berkata, “Yaitu sebuah desa dekat dengan kota Dabiq, antara kota Halb dan Anthaqiyyah, semuanya berada di Syam. Mu’jamul Buldaan (I/222).”
[8]. دَابِقُ: Dengan huruf ba dikasrahkan, ada yang membolehkan difat-hahkan huruf akhirnya qaf, sebuah desa dekat dengan Hala, termasuk kawasan ‘Azzar berjarak 4 farsakh dari Halb. Mu’jamul Buldaan (II/416).
[9]. Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah (XVIII/21-22, Syarh an-Nawawi).
[10]. الْغُوطَةُ dengan huruf ghin, kemudian wawu yang disukunkan dan tha, diambil dari kata (اَلْغَائِطُ) yang maknanya adalah bagian tanah yang rendah. Ia adalah sebuah tempat di Syam yang dikelilingi oleh pegunungan tinggi, di dalamnya ada sungai-sungai juga pepohonan yang saling menyambung, dan di sanalah terletak kota Damaskus. Lihat kitab Mu’jamul Buldaan (IV/219).
[11]. Sunan Abi Dawud, kitab al-Malaahim, bab fii Ma’qal minal Malaahim (XI/109, ‘Aunul Ma’buud). Hadits ini shahih, lihat Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir (II/218) (no. 2112).
[12]. Beliau adalah al-Hafizh Zainuddin ‘Abdullathif bin Taqiyuddin Muhammad bin Munir al-Halabi, kemudian pindah ke Mesir (al-Mishry), wafat tahun 804 H. Lihat Syadzaraatudz Dzahab (VII/44).
[13]. Fat-hul Baari (VI/278).

——

Sumber: www.almanhaj.or.id | 19 Mei 2004

Print Friendly