Adakah Do’a Setelah Shalat

ADAKAH DOA SETELAH SELESAI SHALAT?

Pertanyaan.
Setelah ana membaca rubrik Tajuk As-Sunnah edisi no. 11/Thn. XIV ada kalimat, “Renungilah do’a … agar dibaca setiap selesai shalat. Yang saya tanyakan, apakah ada hadits shahih tentang do’a setelah selesai shalat ? Yang saya ketahui bunyi hadits tersebut “fî duburi kulli shalat”, yang maknanya adalah akhir shalat, bukan setelah shalat. Barakallahu fiikum. 0815677xxxxx

Jawaban.
Memang sebagian orang beranggapan bahwa setelah shalat wajib tidak ada do’a, yang ada adalah dzikir. Sedangkan do’a, posisinya di dalam shalat, seperti dalam tasyahhud sebelum salam dan lainnya. Anggapan seperti ini tidak benar, karena sesungguhnya ada hadits-hadits shahih yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a setelah salam. Diantara hadits-hadits tersebut adalah :

عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُونَ عَنْ يَمِينِهِ يُقْبِلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ قَالَ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ رَبِّ قِنِي عَذَابَكَ يَوْمَ تَبْعَثُ أَوْ تَجْمَعُ عِبَادَكَ

Dari al-Bara’ Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Jika kami shalat di belakang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kami senang berada di sebelah kanan beliau. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menghadapkan wajahnya kepada kami. Aku pernah mendengar beliau berdo’a, “Wahai Rabbku, jagalah aku dari siksa-Mu pada hari (kiamat) yang Engkau akan membangkitkan atau mengumpulkan hamba-hambaMu”. [HR.Muslim, no. 709]

Di dalam hadits lain disebutkan :

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ مِنَ الصَّلَاةِ قَالَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَسْرَفْتُ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Kebiasaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika telah mengucapkan salam (selesai) shalat, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a, “Wahai Allâh Azza wa Jalla ampunilah dosaku yang telah aku lakukan dan (dosa akibat dari kewajiban) yang telah aku tinggalkan, (dosa) yang aku rahasiakan dan yang aku lakukan dengan terang-terangan, yang aku telah melakukan dengan berlebihan dan segala dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripadaku. Engkau adalah Muqaddim (Dzat Yang memajukan orang yang Engkau kehendaki dengan sebab mentaatiMu atau sebab lainnya) dan Muakh-khir (Yang memundurkan orang yang Engkau kehendaki). Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Engkau”. [HR. Abu Dâwud, no. 1509; dishahihkan syaikh Al-Albâni rahimahullah]

Hadits ini dimuat oleh imam Abu Dâwud rahimahullah dalam kitab Sunannya dalam bab: Mâ yaqûlur rajulu idza sallama (Apa yang diucapkan oleh seseorang jika telah selasai salam)

Doa-doa ini diucapkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendirian, tidak berjamâ’ah. Oleh karena itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan kata ganti tunggal, bukan jama’.

Dalam hadits yang pertama, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Wahai Rabbku, jagalah aku dari siksaMu…”, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan “Wahai Rabb kami, jagalah kami dari siksaMu…”.

Dalam hadits yang kedua beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan “Wahai Allâh ampunilah aku, (dosa) yang telah aku lakukan dan (kewajiban) yang telah aku tinggalkan…”.
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan, “Wahai Allâh ampunilah kami, (dosa) yang telah kami lakukan dan (kewajiban) yang telah kami tinggalkan…”.

Ini menunjukkan bahwa do’a ini diucapkan seorang diri. Adapun kebiasaan yang dilakukan di berbagai masjid yaitu imam dan makmum selalu melakukan do’a dengan berjamâ’ah setelah selesai shalat wajib, maka itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, wallahu a’lam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Hadits-hadits yang dikenal dalam (kitab-kitab) Shahih, Sunan, dan Musnad, menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a di akhir shalat sebelum keluar dari shalat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan dan mengajarkan hal itu kepada para sahabatnya. Dan tidak ada seorangpun yang meriwayatkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a setelah selesai (mengimami) shalat dengan banyak orang, begitu juga dengan para ma’mum, tidak (setelah) shalat Shubuh, Ashar atau shalat lainnya”. [Majmû’ Fatâwâ 22/492]

Adapun kalimat “fî duburi kulli shala” yang terdapat dalam banyak hadits, yang maknanya di akhir sholat, mencakup dua pengertian yaitu bagian akhir dalam shalat dan setelah shalat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Lafazh “dubur shalat”, terkadang maksudnya adalah bagian akhir dari shalat (ini berarti masih dalam sholat; sebelum salam-red), terkadang maksudnya adalah yang ada setelah bagian terakhir itu (sehingga ini setelah salam dari shalat-red)”. [Majmû’ Fatâwâ, 22/499]

Walaupun do’a-do’a shalat banyak dianjurkan dibaca dalam shalat atau dengan kata lain ketika shalat, dan itu lebih utama, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Inilah sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah berjalan (berdoa dalam shalat dan berdzikir setelah shalat-red), dan ini sesuai (dengan keadaan-red), karena orang yang sedang shalat itu berbisik kepada Rabbnya, maka do’anya dan permintaannya kepada Rabb ketika dia sedang berbisik kepada-Nya lebih utama daripada permintaannya dan doanya setelah berpaling dariNya”. [Majmû’ Fatâwâ, 22/499]

Namun demikian tidak berarti tidak ada do’a setelah salam, berdasarkan hadits-hadits yang telah kami sampaikan. Wallahu a’lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIV/1432H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

———

Sumber: www.almanhaj.or.id | 27 September 2009

Print Friendly