Ashlu As-Sunnah Wa I’tiqadu Ad-Din, Pokok-Pokok Sunnah Dan I’tiqad Agama

ASHLU AS-SUNNAH WA I’TIQADU AD-DIN
Pokok-pokok Sunnah dan I’tikad Agama,
Dikumpulkan oleh Ibnu Abi Hatim Ar Razi (240-327 H)

Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur’ah radhiyallahu ‘anhuma tentang madzhab Ahlus Sunnah dalam masalah ushuluddin (pokok-pokok agama) juga tentang pemahaman para ulama di berbagai kota yang mereka berdua ketahui, serta apa saja yang mereka berdua yakini. Maka, keduanya berkata: Kami telah berjumpa dengan para ulama di seluruh kota baik di Hijaz, Irak, Mesir, Syam, maupun Yaman, maka di antara madzhab yang mereka anut adalah,[1]

1) Imam itu berupa perkataan dan perbuatan[2], bertambah dan berkurang.[3]

2) Al-Qur’an adalah kalam Allah dan bukan makhluk, dalam segala aspeknya.[4]

3) Takdir yang baik maupun yang buruk adalah dari Allah ‘Azza wa Jalla.[5]

4) Di kalangan ummat ini, sebaik-baik orang setelah nabi mereka adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, kemudian Umar bin Al-Khaththab, lalu Utsman bin Affan, lalu Ali bin Abi Thalib -semoga Allah meridhai mereka semua-. Mereka Khulafaur Rasyidun Al-Mahdiyun para khalifah yang berpegang teguh kepada agama dan mengikuti kebenaran.[6]

5) Bahwa sepuluh sahabat yang disebut dan dinyatakan oleh Rasulullah -semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepadanya-, masuk jannah, mereka itu sesuai dengan pernyataan beliau [7] dan perkataan beliau itu benar.

6) Memintakan rahmat [8] bagi seluruh sahabat serta keluarga nabi Muhammad -semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepadanya-, serta menahan pembicaraan dari perselisihan yang terjadi di antara mereka.

7) Bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berada di atas ‘Arsy-Nya [9], terpisah dari seluruh makhluk-Nya, sebagaimana sifat yang diinformasikan-Nya dalam kitab-Nya melalui lisan Rasul-Nya – semoga allah mebmerikan shalawat dan salam kepadanya-, tanpa diketahui kaif (bagaimana) nya. IlmuNya meliputi segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

8) Allah Tabaraka wa Ta’ala akan dapat dilihat di akhirat [10]. Segenap penduduk jannah akan melihat-Nya dnegan mata kepala mereka. Allah berbicara, sebagaimana Dia berkehendak.

9) Jannah adalah benar dan neraka adalah benar (adanya). Keduanya adalah makhluk yang kekal abadi.[11] Jannah adalah balasan bagi para wali-Nya sedangkan neraka adalah hukuman bagi orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya, kecuali yang mendapatkan rahmat-Nya.

10) Shirath adalah benar.[12]

11) Mizan (timbangan), yang memiliki dua sisi timbangan untuk menimbang amalan para hamba, yang baik maupun yang buruk adalah benar.[13]

12) Haudh (telaga) yang dijadikan sebagai penghormatan bagi Nabi -semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepadanya-dan segenap keluarganya adalah benar. [14]

13) Syafa’at adalah benar. Dan bahwa sebagaian ahli tauhid keluar dari neraka berkat adanya syafa’at adalah benar.[15]

14) Adzab kubur adalah benar.[16]

15) Munkar dan Nakir adalah benar.[17]

16) Malaikat mulia yang mencatat amal perbuatan manusia adalah benar.[18]

17) Kebangkitan setelah mati adalah benar.[19]

18) Para pelaku dosa besar berada dalam masyi’ah (kehendak) Allah subhana wa ta’ala. Kita tidak mengkafirkan ahli kiblah disebabkan dosa mereka. Kita menyerahkan urusan batin mereka kepada allah subhana wa ta’ala.

19) Kita melaksanakan kewajiban jihad dan haji bersama imam- imam kaum muslimin, di setiap masa.

20) Kita tidak boleh melakukan pembelotan terhadap para imam atau peperangan di masa fitnah.

21) Kita mendengar dan mentaati siapa saja yang dijadikan oleh Allah sebagai pemimpin kita. Kita tidak akan melepaskan diri dari ketaatan.

22) Kita mengikuti sunnah dan jamaah serta menghindari sikap menyimpang, perselisihan, dan perpecahan.

23) Jihad berlaku semenjak Allah mengutus nabiNya –semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepadanya- hingga terjadinya hari kiamat, bermasa imam-imam kaum muslimin, tanpa ada sesuatupun yang menghapuskannya.

24) Demikian pula haji.

25) Begitu pula pembayaran zakat saimah [20] kepada imam kaum muslimin yang menjadi pemimpin bagi kita.

26) Pada aslinya manusia secara umum digolongkan mukmin berdasarkan hukum-hukum dan pewarisan, adapun hakekat keimanan maka di sisi Allah tidaklah diketahui. Barangsiapa yang berkata bahwa ia seorang mukmin sejati, maka ia adalah orang

yang berbuat bid’ah. Barangsiapa yang berkata bahwa ia adalah orang yang mukmin di sisi Allah, maka ia termasuk pendusta. Sedangkan orang yang mengatakan “saya beriman kepada Allah”, maka yang dilakukannya itu benar.[21]

27) Kaum murji’ah adalah kaum yang berbuat bid’ah dan tersesat.

28) Kaum qadariah adalah kaum yang berbuat bid’ah dan tersesat. Barangsiapa di antara mereka yang menyatakan bahwa Allah Ta’ala tidak mengetahui apa yang akan terjadi sebelum terjadinya, maka ia kafir.

29) Kaum Jahmiyah adalah kafir.[22]

30) Kaum rafidhah adalah kaum yang menolak Islam.

31) Kaum khawarij adalah kaum yang meluncur keluar dari agama.[23]

32) Barangsiapa menyatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk, maka ia orang yang kafir kepada Allah Yang Maha Agung; dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari millah. Barangsiapa yang faham tetapi meragukan kekafirannya, maka ia kafir.

33) Barangsiapa yang ragu terhadap kalam Allah ‘Azza wa Jalla, bimbang mengenainya dan mengatakan, “saya tidak tahu apakah makhluk ataukah bukan makhluk”, maka ia orang yang berfaham jahmiyah.

34) Orang yang bimbang mengenai Al-Qur’an dikarenakan kebodohan, maka musti diajari dan dibid’ahkan, tetapi tidak dikafirkan.

35) Barangsiapa yang mengatakan “Bacaan Al-Qur’an-ku adalah makhluk” atau “Al-Qur’an dengan bacaanku adalah makhluk” maka ia adalah orang yang berfaham jahmiyah.

Syaikh Abu Thalib berkata: Ibrahim bin Umar berkata: ali bin Abdul Aziz berkata: Abu Muhammad berkata:

Saya mendengar ayahku -semoga Allah meridhainya- berkata:

36) Tanda-tanda ahli bid’ah adalah mengumpat ahlul atsar (orang-orang yang berpegang teguh kepada sunnah. Pent)

37) Tanda-tanda orang zindiq adalah mereka mennyebut ahlul atsar sebagai kaum hasywiyah, karena ingin mengpuskan sunnah.

38) Tanda-tanda kaum jahmiyah adlah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum musyabbihah.

39) Tandak-tanda kaum qadariyah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum yang berfaham jabriyah.

40) Tanda-tanda kaum murji’ah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum mukhalifah (yang suka mempertentangkan) atau nuqshaniyah (yang suka mengurangi).

41) Tanda-tanda kaum rafidhah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum tsaniyah.

42) Dalam perkara in telah tersesat banyak kelompok (dalam memahami ahlus sunnah), padahal ahlus sunnah hanya menyandang satu nama dan nama-nama ini semua tidak mungkin menyatu (ada) pada mereka.

43) Abu Muhammad bercerita kepada kami, katanya: Dan saya mendengar ayahku dan Abu Zur’ah mengisolasi orang yang memiliki pemahaman yang menyimpang dan melakukan bid’ah, menyalahkan pendapat mereka dengan keras, menolak penulisan buku-buku dengan pendapat tanpa berdasarkan atsar, melarang berteman dengan ahli kalam atau membaca buku-buku mutakallimin, serta berkata: “Penganut ilmu kalam tidak akan beruntung selamanya.”

Telah saya sampaikan semuanya, dan segala puji bagi Allah Rabb semua alam, semoga allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad -shalallahu ‘alaihi wasallam- dan para keluarganya. Akhir Kitab I’tiqaduddin.

[Disalin dari Kitabu Ashlussunnah wa Itiqadudien, Penulis Ibnu Abi Hatim Ar-Razi (240-234H), Penerbit Darusy Syarif Linnasyri wat Tauzi, Edisi IndonesiaKitab Ashlussunnah, Penerjemah Hawin Murtadla, Penerbit Darussunnah – Solo]
_________
Foote Note
[1]. Periwayatan hadits diatas dapat dilihat pada text asli dalam bahasa arabnya
[2]. Perkataan (ucapan) dengan lisan, keyakinan dengan hati dan perbuatan dengan anggota badan
[3]. Banyak dalil mengenai hal itu, diantaranya adalah firman Allah Ta’ala : “Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya” [Muhammad : 12]. Allah Ta’ala juga berfriman : “ Dan supaya orang-orang yang beriman bertambah imannya” [Al-Muddatstsir : 31]. Dia juga berfirman pula : “Dan apabila kepada mereka dibacakan ayat-ayatNya, maka bertambahlah iman mereka” [Al-Anfal : 2]
[4]. Ia dihafap di dalam dada, diucapkan dengan lidah, dan ditulis di berbagai mushaf. Barangsiapa yang berkeyakinan bahwa al-Qur’an itu makhluk, maka ia adalah seorang penganut faham Jahmiyah yang sesat. Ahlus Sunnah wal Jama’ah bersepakat bahwa al-Qur’an adalah kalam Allah dan bukan makhluk.

Peringatan.
Sebagian ahlul ahwa dan orang-orang yang hatinya sakit, menyatakan bahwa Al-Imam Al-Bukhari berkata : “Bacaan al-Qur’anku adalah makhluk”. Pernyataan ini merupakan kebohongan dan kedustaan yang diatasnamakan Al-Bukhari Abu Abdillah “ Sang Matahari Agama dan Dunia” rahimahullah. Itu tidak lain merupakan perkataan orang-orang yang memusuhi dan dengki. Muhammad bin Nashr berkata : Saya pernah mendengar Muhammad bin Ismail Al-Bukhari berkata : “Barangsiapa menyatakan aku pernah mengatakan : ‘Bacaan al-Qur’anku adalaha makhluk maka sesungguhnya ia adalah seorang pendusta. Sungguh aku tidak pernah mengatakannya”. Maka, saya bertanya kepadanya : “Wahai Abu Abdillah, orang-orang banyak sekali memperbincangkan hal ini. “Ia menjawab : “Yang benar hanyalah apa yang kukatakan ini. “Lihat Hadyus Sari Muqaddimah Fathul Bari 492, Thabaqat Al-Hanabilah 1/277, Siyar A’lam An-Nubala XII/457, Mukhtashar Ash-Shawa’iq, Ibnul Qayyim
[5]. Allah Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya, segala sesuatu Kami ciptakan dengan takdir” [Al-Qamar : 49]. Takdir adalah rahasia Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barangsiapa yang tidak menerima ketentuan dan takdir Allah dengan ridha, maka hidupnya tidak akan tenang.
[6]. Mengenai hal itu terdapat beberapa hadits shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda : “Hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyin sesudahku”. Riwayat ini melalui jalur Al-Irbadh bin Sariyah. Adapula riwayat dari Ibnu Umar yang berkata : Kami berkata sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup : Sebaik-baik ummat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman”. Muttafaqun Alaih.
[7]. Ada beberapa atsar yang diriwayatkan mengenai hal itu. Dari Sa’id bin Zaid yang berkata : Saya bersaksi atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa saya pernah mendengar beliau bersabda : “Sepuluh orang ada di Jannah : Nabi di Jannah, Abu Bakar di Jannah, Umar di Jannah, Utsman di Jannah, Ali di Jannah, Thalhah di Jannah, Sa’ad bin Malik di Jannah, Abdurrahman bin Auf di Jannah. Bila aku mau, akan kusebutkan yang kesepuluh”, Para sahabat bertanya : “Siapakah dia ?”. Beliau bersabda : “Sa’id bin Zaid”. Hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ashabus Sunah selain An-Nasa’i. Ada pula riwayat yang menyebutkan kesepuluh orang itu, dari jalur Abdurrahman bin Auf pada riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad shahih. Di situ yang kesepuluh adalah Az-Zubair bin Al-Awwam Radhiyallahu ‘anhu.
[8]. Memintakan kasih sayang dan ridha untuk para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan salah satu sifat hamba-hamba Allah yang beriman dan bertakwa, yang di dalam hati mereka tidak terdapat kebencian, kemunafikan dan kedengkian. Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak memintakan rahmat dan ridho Allah untuk para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan mereka semua berada di Jannah berdasarkan keterangan dari nash al-Qur’an. “Dan Allah menjanjikan, untuk masing-masing al-husna (kebaikan). Al-husna (kebaikan) disini aartinya Jannah. Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri tyelah menyatakan keridhaanNya kepada mereka. “Allah meridahi mereka, dan merekapun ridha kelada Allah”
[9]. Bersemayamnya Allah diatas Arsy-Nya disebutkan dalam tujuh tempat di al-Qur’an : Al-A’raf : 56, Yunus : 3, Ar-Ra’d : 2, Thaha : 5, Al-Furqon : 59, As-Sajdah : 4, Al-Hadid : 4
[10]. Allah Ta’ala berfirman :”Wajah0wajah mu’min pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnya mereka melihat” [Al-Qiyamah : 22-23]. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :”Sungguh kalian akan melihat Rabb kalian seperti kalian melihat bulan pada malam purnama …” Hadits ini terdapat dalam kitab-kitab shahih.
[11]. Dalam syarah Aqidah Thahawiyah hal. 476-477, Imam Ath-Thahawi berkata : “Ahlus Sunnah bersepakat bahwa Jannah dan Neraka adalah dua makhluk Allah yang sekarang telah ada…” Kemudian beliau menyebutkan banyak dalil, diantaranya Allah Ta’ala berfirman : “Telah disediakan (Jannah itu) bagi orang-orang yang bertakwa” [Ali-Imran : 133]. Dia Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman : “Yang telah dsiediakan (Jahannam itu) bagi orang-orang kjafir” [Ali-Imran : 131]. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menceritakan kisah Isra dan Mi’raj : “Kemudian, saya memasuki Jannah, ternyata ia berupa bukit-bukit permata” Diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Peringatan penting:
Salah satu kesalahan yang banyak menimpa para tokoh adalah penisbatan pendapat mengenai ketidak kekalan Neraka, kepada Al-Hafizh Ibnul Qayyim Rahimahullah hal itu telah diinformasikan kepada kita oleh DR Bakr Abu Zaid dalam bukunya, “At-Ta’alum Wa Atsaruha ‘Ala Al-Fikr wal Kitab”, hal. 100-101.
[12]. Shirat adalah jembatan di atas Jahannam. Kita memohon kesentosaan dan keselamatan kepada Allah. Mengenai itu terdapat banyak hadits yang diriwayatkan dalam kitab-kitab shahih, sunan, musnad dan mu’jam. Lihat buku kami : “Asy-Syafa’ah wa Bayaanul Ladzina Yasyfa’un”.
[13]. Allah Ta’ala berfirman : “Kami memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat” [Al-Anbiya : 47]. Ayat-ayat atau hadits-hadits mengenai hal ini telah diketahui.
[14]. Hadits-hadits mengenai telaga ini mencapai derajat mutawatir, diriwayatkan oleh lebih dari tigapuluh sahabat. Lihat “Al-Hidayah wan Nihayah” Ibnu Katsir, As-Sunnah, Ibnu Abu Syaibah, dan Ma’arij Al-Qabul, Al-Hakamiy. Dari Anas bin Malik yang berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Periuk di telagaku besarnya antara Ailah hingga Shan’a di Yaman. Di siana terdapat tempat air sebanyak jumlah bintang-bintang di langit”, Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.
[15] Lihat buku kami, “Asy-Syafa’ah wa Bayanul Ladzina Yasyfa’un kama Warad fil Qur’an was Sunnah Ash-Shahihah”
[16]. Terdapat hadits-hadits yang diriwayatkan secara mutawatir dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal itu. Barangsiapa menyangka bahwa hadits-hadits tersebut tergolong hadits ahad, maka ia keliru.
[17]. Namanya disebut dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dengan sanad hasan, dari Abu Hurairah.
[18]. Allah Ta’ala berfirman : “Dan sesungguhnya bagi kamu ada malaikat-malaikat yang mengawasi. Yang mulia dan mencatat” [Al-Infuthar : 10-11]
[19]. Penyebutan tentang kebangkitan ini banyak sekali terdapat dalam Al-Kitab Al-Aziz, khususnya dalam surat-surat Makiyah, demikian pula dalam sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
[20]. Saimah adalah binatang-binatang ternak baik itu unta, sapi maupun kambing, yang digembalakan di padang maupun tanah kosong selam satu tahun atau lebih.
[21] Barangsiapa yang ingin lebih mendalami kajian masalah ini, hendaklah ia membaca Aqidah Thahawiyah hal. 390-395
[22]. Jahmiyah adalah nama yang dinisbahkan kepada Jahm bin Shofwan. Dialah orang yang menyatakan peniadaan dan penolakan sifat-sifat Allah.
[23]. Dan mereka adalah anjing penduduk neraka, sebagai mana yang disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari.

——

Sumber: www.almanhaj.or.id | 16 Juni 2004

Print Friendly