Beberapa Perkataan Ulama Tentang Mu’âwiyah Radhiyallahu Anhuma

BEBERAPA PERKATAAN ULAMA TENTANG MU’AWIYAH RADHIYALLAHU ANHUMA

Oleh
Syaikh Abdul Muhsin Abbad al-Badr[1]

Berikut ini beberapa perkataan orang-orang yang bersikap netral tentang Muawiyah bin Abi Sofyan:

1. Al-Muwaffaq bin Qudâmah al-Makdisi berkata dalam kitab Lum’atul I’tiqâd, “Muawiyah adalah pamannya kaum Mu’min, penulis wahyu Allâh, dan salah seorang pemimpin Muslimin.”

2. Pensyarah kitab Aqîdah Thahâwiyah berkata, “Muawiyah adalah raja yang pertama kaum Muslimin, dan dia sebaik-baik raja kaum Muslimin.”

3. Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan dalam Siyar A’lâmin Nubâlâ, “Beliau adalah Amirul Mu’minin, rajanya Islam”

4. Al-Baihaqi meriwayatkan dari Imam Ahmad, bahwa beliau rahimahullah berkata, “Para khalîfah adalah Abu Bakr, Umar, Utsmân dan Ali Radhiyallahu anhum.” Kemudian ditanyakan kepada beliau rahimahullah , “Bagaimana dengan Mu’âwiyah?” Beliau menjawab, “Tidak ada seorang pun yang lebih berhak untuk menjadi khalîfah pada zaman Ali Radhiyallahu anhu dibandingkan Ali Radhiyallahu anhu , dan semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan rahmat-Nya kepada Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu .”

5. Ibnu Abi Dunya rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai ke Umar bin Abdil Aziz, beliau rahimahullah berkata, “Saya melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mimpi, sementara Abu Bakr Radhiyallahu anhu dan Umar Radhiyallahu anhu duduk disamping beliau, maka aku mengucapkan salam kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kemudian duduk. Tatkala aku duduk, Ali Radhiyallahu anhu dan Mu’âwiyah, mereka masuk kesebuah rumah dan pintunya ditutup, sedangkan aku melihat hal tersebut, tidak lama kemudian Ali Radhiyallahu anhu keluar seraya berkata, “Demi Rabb Ka’bah urusanku telah tuntas!” Tidak lama berselang, Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu keluar seraya berkata, “Demi Rabb Ka’bah aku telah diampuni.”

6. Ibnu Asâkir meriwayatkan dari Abi zur’ah ar-Râzi, seseorang berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku membenci Mu’âwiyah !” Abu Zur’ah rahimahullah mengatakan, “Kenapa ?” Lelaki itu menjawab, “Karena dia memerangi Ali. ” (Mendengar jawaban ini-red) Abu Zur’ah rahimahullah mengatakan kepada lelaki tersebut, “Celaka kamu ! Sesungguhnya Rabb Mu’âwiyah maha penyayang, dan lawannya (Ali Radhiyallahu anhu –red) adalah lawan yang murah hati, lantas apa urusanmu dengan keduanya ? Semoga Allâh Azza wa Jalla mengampuni mereka berdua.”

7. Imam Ahmad pernah ditanya tentang prahara yang terjadi antara Ali Radhiyallahu anhu dan Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu , beliau rahimahullah berkata :

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۖ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ ۖ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Itu adalah umat yang lalu, baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. [al-Baqarah/2:134]

Banyak Ulama salaf yang mengatakan seperti ini.

8. Ibnul Mubârak pernah ditanya tentang Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu, beliau rahimahullah menjawab, “Apa yang akan aku katakan pada seorang laki-laki yang tatkala Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan sami’allâhu liman hamidah, Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu dibelakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Rabbanâ wa Lakal Hamdu.”

Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa kata ‘sami’a’ (dalam konteks di atas-red) berarti Allah Azza wa Jalla mengabulkan. Dengan uraian ini, maka Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu mendapatkan keutamaan ini, yaitu kemulian shalat di belakang Rasulullâh n , tatkala rasul membaca, “sami’allâhu liman hamidah” Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu yang saat itu termasuk diantara salah seorang yang shalat di belakang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Rabbanâ lakalhamdu.”

Ibnu Mubârak rahimahullah juga pernah ditanya, “Siapakah yang lebih mulia, Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu ataukan Umar bin Abdil azîz ?” Beliau rahimahullah menjawab, “Debu yang berada dilubang hidung Mu’âwiyah saat bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih baik daripada Umar bin Abdil Azîz.

9. Al-Mu’âfâ bin ‘Amrân pernah ditanya, “Manakah yang lebih mulia, Mu’âwiyah atau Umar bin Abdil Azîz ?” Beliau rahimahullah marah seraya berkata kepada si penanya, “Apakah kamu akan menyamakan kedudukan salah seorang shahabat dengan salah seorang tâbi’in ? Mu’âwiyah adalah shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ipar beliau, penulis wahyu, dan orang yang beliau percayai atas wahyu Allâh.

10. Fadl bin Ziyâd rahimahullah mengatakan, “Saya pernah mendengar Abu Abdillâh (Imam ahmad raimahullah) ditanya tentang seorang laki-laki yang mencela Mu’âwiyah dan Amru bin ‘Âsh bisakah disebut Râfidi (Syi’ah Rafidhah) ?” Beliau rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya dia tidak akan nekat melakukannya kecuali karena ada maksud jelek yang terselubung. Tidaklah seseorang mencela salah seorang shahabat kecuali dia memiliki maksud buruk.”

11. Ibnul Mubârak rahimahullah dari Muhammad bin Muslim, dari Ibrâhîm bin Maisarah, mengatakan, “Saya tidak pernah melihat Umar bin Abdul Azîz memukul seseorang, kecuali orang yang mencela Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu , beliau memukulnya beberapa kali cambukan.

12. Abu Taubah bin ar-Rabî’ bin Nâfi’ al-Halabi mengatakan,”Mu’âwiyah adalah penutup untuk para shahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila ada orang yang berani membuka penutup ini, berarti dia akan berbuat lancang kepada selain Mu’âwiyah.

Kebanyakan dari perkataan-perkataan di atas diambil dari kitab al-Bidâyah wan Nihâyah karya Ibnu Katsîr rahimahullah tentang biografi Mu’âwiyah.

Al-Imam al-Bukhâri rahimahullah dalam shahihnya membuat sebuab bab dalam kitab Fadhâilis Shahâbah. Beliau menyebut bab itu dengan Bab Zikri Mu’âwiyah Radhiyallahu anhu . Dalm bab ini, beliau rahimahullah membawakan tiga hadist.

Hadits pertama, dari Abi Mulaikah, beliau berkata, “Mu’âwiyah melakukan shalat witir satu rekaat setelah shalat Isya’. Kemudian hal itu disampaikanlah kepada Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu , maka beliau Radhiyallahu anhu mengatakan, “Biarkanlah dia, karena dia telah menemani Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ”

Hadits kedua, dari Ibn Abi Mulaikah, pernah ditanyakan kepada Ibnu Abbâs, “Bagaimana pendapatmu tentang Amîrul Mu’minin Mu’âwiyah ? Sesungguhnya beliau tidak melakukan shalat Witir kecuali hanya atu rekaat.” Ibnu Abbâs menjawab, “Sesungguhnya dia itu faqîh (orang yang berilmu).

Hadits ketiga, dari Mu’âwiyah, beliau Radhiyallahu anhu berkata, “Sesungguhnyak kalian melakukan sebuah shalat yang kami tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya selama kami menemani beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dan sungguh Rasûlullâh melarang shalat tersebut, yaitu dua rekaat setelah shalat Ashar.”

Al-Hâfiz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan dalam sarahnya, “Al-Bukhâri dalam biografi Mu’âwiyah menggunakan kata dzikru (penyebutan) dan tidak menggunakan kata fadhîlah (keutamaan) atau manqabah (kemuliaan). Karena keutamaan Mu’awiyah tidak bisa disimpulkan berdasarkan hadits-hadits dalam bab ini, akan tetapi zahir dari persaksian Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhu terhadap kefaqihan Mu’âwiyah dan kesempatan menemani Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah cukup sebagai bukti keutamaannya yang agung.

Ibnu Abi ‘Âshim mengarang sebuah bab dalam Manakibnya, begitu pula Abu Amr budaknya Tsa’lab, dan Abu Bakr an-Niqasyi. Ibnu al-Jauzi rahimahullah membawakan beberapa hadist yang mereka sebutkan dalam kitab-kitab itu didalam kitab Maudû’ât beliau, kemudian beliau rahimahullah menyebutkan perkataan dari Ishâq bin Rahawaih (salah satu guru Imam Bukhari) yang mengatakan, “Tidak ada hadist yang shahih tentang fadhîlah Mu’âwiyah”. Ini poin yang menyebabkan Imam al-Bukhâri tidak menggunakan kalimat fadhîlah atau manqabah (keutmaan) secara terang-terangan, karna beliau rahimahullah berpegangan pada perkataan gurunya, akan tetapi dengan kejeliannya, beliau rahimahullah bisa mengambil kesimpulan yang bisa dipergunakan membantah tokoh tokoh Rafidhah[2].

Itulah beberapa diantara perkataan para Ulama’ tentang Shahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bernama Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Kalau para Ulama itu tetap menjaga lisan mereka dan menjaga nama baik para shahabat, padahal mereka jelas lebih alim dan lebih banyak ilmunya daripada kita, lalu kenapa kita terkadang lancing menghina dan mencela Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Mu’awiyah Radhiyallahu anhu.

Semoga dengan tulisan ringkas ini, Allâh Azza wa Jalla menyadarkan kita akan kesalahan-kesalahan yang selama kita lakukan.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVI/1434H/2013. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Diterjemahkan oleh Khalil dari Min Aqwâlil Munshifîn Fis Shahâbiy al-Khalîfah Mu’âwiyah, Lihat, Kutub wa Rasa’il Abdil Muhsin bin Hamad al-Abbad al-Badr, 6/411
[2]. Lihat al-Fath, 7/103-104

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 5 Desember 2015

Print Friendly