Beradzan, Tetapi Shalat Di Tempat Lain, Pembatas Shaf Pria Dan Wanita, Menyentuh Wanita

BERADZAN, TETAPI SHALAT DI TEMPAT LAIN

Pertanyaan.
Masjid di sebelah rumah saya pada waktu Dhuhur dan ‘Ashar sepi tidak ada yang shalat. Akan tetapi di mushala sekitar jarak sepuluh rumah dari masjid, shalat berjamaahnya hidup. Pertanyaanya, bolehkah saya adzan di masjid yang sepi itu, tetapi saya shalatnya di mushala yang jamaahnya ditegakan? Jazakumullahu khair. 0856500xxxx

Jawaban.
Shalat berjama’ah merupakan ibadah yang agung, semakin banyak jama’ahnya semakin baik. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِنَّ صَلَاةَ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ وَصَلَاتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ وَمَا كَثُرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى

Sesungguhnya shalat satu orang bersama satu orang yang lain lebih suci,[1] daripada shalat sendirian. Dan shalatnya bersama dua orang yang lain lebih suci daripada shalatnya bersama satu orang. Dan yang banyak (jama’ahnya) lebih disukai oleh Allah. [HR Abu Dawud, no. 554, dihasankan oleh Syaikh al Albani].

Dengan demikian, jika Anda shalat di mushala tersebut, mudah-mudahan tidak mengapa, bahkan menambah pahala.

Adapun dalam pertanyaan Anda terdapat masalah yang seharusnya kita perhatikan, bahwa walaupun membangun masjid atau mushala dengan niat ikhlas, memiliki pahala yang besar, sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا قَالَ بُكَيْرٌ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ

Barangsiapa membangun sebuah masjid, (Bukair, seorang perawi, berkata: Aku menyangka dia -’Ashim bin Umar bin Qatadah/perawi di atas Bukair- mengatakan: “Dia mencari wajah Allah dengannya”), niscaya Allah akan membangunkan untuknya semisalnya di dalam surga”. [HR Bukhari, no. 450; Muslim, no. 533].

Akan tetapi umat Islam tidak boleh membangun sebuah masjid di suatu tempat yang di dekatnya sudah ada masjid. Karena hal itu akan memecah-belah kaum Muslimin. Sebagaimana ketika orang-orang munafik membangun masjid dhirar pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Allah berfirman:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ ۚ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَىٰ ۖ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا ۚ لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan mesjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu`min), untuk kekafiran dan untuk memecah-belah antara orang-orang mu`min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan RasulNya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan”. Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu shalat dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih. [at Taubah/ 9 :107-108].

Imam al Qurthubi rahimahullah berkata: “Para ulama kita mengatakan,’Tidak boleh membangun sebuah masjid di dekat masjid yang lain, dan (masjid yang baru dibangun itu) wajib merobohkannya, dan wajib mencegah pembangunannya, agar penghuni (jama’ah) masjid yang pertama tidak berpindah (menuju masjid yang baru), sehingga masjid itu menjadi kosong; kecuali suatu daerah itu luas, sehingga satu masjid tidak mencukupinya, maka dalam keadaan seperti itu dibangun (masjid yang lain)”. [2]

Dari penjelasan ini, maka umat Islam di daerah saudara hendaklah memusyawarahkan keadaan tersebut, agar menggunakan satu masjid saja, sehingga persatuan umat Islam dapat ditegakkan. Selain itu perlu disampaikan tentang urgensi shalat berjama’ah di masjid, sehingga masjid tersebut berfungsi sebagaimana mestinya. Wallahul Musta’an.

PEMBATAS SHAF PRIA DAN WANITA

Pertanyaan.
Bagaimana menurut sunnah, bahwa shalat berjama’ah di masjid atau tempat lainnya, antara shaf laki-laki dan wanita tidak dibutuhkan hijab atau pembatas karena tidak adanya dalill yang menjelaskan tentang hal itu secara khusus?

Imran, Jelujur, Rulung Helok, Kec. Natar, Lampung Selatan, Lampung

Jawaban.
Memang pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , tidak ada hijab atau pembatas antara shaf laki-laki dengan wanita di dalam masjid. Hal ini ditunjukkan oleh banyak hadits, antara lain:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ كَانَ رِجَالٌ يُصَلُّونَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَاقِدِي أُزْرِهِمْ عَلَى أَعْنَاقِهِمْ كَهَيْئَةِ الصِّبْيَانِ وَيُقَالُ لِلنِّسَاءِ لَا تَرْفَعْنَ رُءُوسَكُنَّ حَتَّى يَسْتَوِيَ الرِّجَالُ جُلُوسًا

Dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu anhu, dia berkata: “Dahulu orang-orang laki-laki shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengikatkan sarung-sarung mereka pada leher-leher mereka (yakni karena sempitnya sarung-sarung mereka, Red) seperti keadaan anak-anak kecil. Dan dikatakan kepada wanita-wanita,’Janganlah kalian mengangkat kepala-kepala kalian sampai orang-orang laki-laki duduk’.” [HR Bukhari, no. 362; Muslim, no. 441].

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Para wanita dilarang dari hal itu agar ketika mengangkat kepala mereka dari sujud, mereka tidak melihat sesuatu dari aurat-aurat laki-laki ketika mereka bangkit”. [Fathul Bari, syarh hadits no. 362].

Walaupun demikian, adanya hijab atau pembatas antara shaf laki-laki di sebelah depan, dengan shaf wanita di sebelah belakang tidak termasuk bid’ah atau perkara yang menyelisihi syari’at. Karena hal itu termasuk saddudz dzari’ah (mencegah sarana atau sebab kemaksiatan).

Perlu diketahui, agama menganjurkan jauhnya wanita dari laki-laki, termasuk di tempat-tempat shalat. Sehingga shaf terbaik laki-laki adalah yang terdepan, sedangkan shaf terbaik wanita adalah yang paling akhir. Karena memang ujian bagi laki-laki yang paling berat adalah tentang wanita. Demikian juga, adab wanita yang melakukan shalat berjama’ah pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , mereka segera bangkit dan pulang setelah imam mengucapkan salam, sehingga tidak ikhtilath (berdesak-desakan) dengan laki-laki di jalan. Adapun sekarang –bahkan semenjak lama- keadaan wanita sudah berubah.

Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al ‘Abbad membantah seorang penulis dari Kuwait yang bernama Yusuf Hasyim ar Rifa’i, ketika dia menganggap pembatas antara laki-laki dengan wanita di masjid Nabawi merupakan bid’ah yang buruk. Syaikh Abdul Muhsin menyanggahnya, dengan menyatakan: “Termasuk perkara yang mengherankan dari perkara penulis ini, yaitu pendapatnya bahwa perbuatan ini (yakni membuat pembatas itu) merupakan bid’ah. Padahal pembatas tersebut menutupi wanita-wanita dan melindungi mereka dari pandangan laki-laki kepada mereka, dan (menutupi) pandangan wanita-wanita kepada laki-laki”.

Syaikh Abdul Muhsin juga mengatakan: “Pada zaman ini keadaan para wanita sudah banyak berubah. Terjadi pada mereka tabarruj (memperlihatkan keindahan wanita), menampakan aurat (atau menampakkan wajah), dan mudah untuk mencapai kota Makkah dan Madinah bagi laki-laki atau wanita. Demikian juga telah terjadi pelebaran yang luas pada kedua masjid yang mulia. Wanita datang menuju kedua masjid itu dari berbagai arah, dan dikhususkan bagi mereka tempat-tempat tertentu, serta dibuatkan pembatas-pembatas, agar para wanita tidak bercampur dengan laki-laki. Maka apakah yang menghalangi dari (pembatas) ini? Bahkan bagaimana boleh penulis itu menyatakannya sebagai bid’ah yang buruk?”. [3]

Wallahu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XI/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Yakni lebih banyak pahalanya, atau lebih aman dari godaan setan. Lihat ‘Aunul Ma’bud Syarh Abu Dawud.
[2]. Tafsir al Jami’ li Ahkamil Qur`an, surat at Taubah, ayat 107.
[3]. Ar Raddu ‘ala ar Rifa’i wal Buuthi, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al ‘Abbad, Penerbit Dar Ibnil Atsir; Cetakan I, Tahun 1421H/2000M, hlm. 52-53.

SEMUA WANITA SAMA (MENYENTUH ATAU TERSENTUH WANITA)

Pertanyaan.
Bârakallâhu fîkum. Menyentuh atau tersentuh wanita, tidak membatalkan wudhu. Apakah ini umum pada semua wanita, baik yang muslimah atau yang kafir, mahram atau bukan mahram ? 0852786XXXX

Jawaban
Ya, umum mencakup semua wanita. Karena memang tidak ada dalil yang shahih dan sharih (yang secara gamblang menjelaskan) bahwa bersentuhan kulit antara lelaki dan wanita itu membatalkan wudhu’. Yang ada dalam riwayat justru yang mengisyaratkan bahwa bersentuhan itu tidak membatalkan wudhu’, sebagaimana kisah ‘Aisyah Radhiyallahu anuhma yang memegang tumit Rasulullah ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang shalat. Seandainya bersentuhan itu menyebabkan batal, tentu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghentikan shalatnya dan berwudhu’ kembali. Tetapi bukan berarti menyentuh wanita yang bukan mahram itu boleh. Ini permasalahan yang lain. Hukum menyentuh wanita yang bukan mahramnya adalah haram.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمُسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ

Sungguh kepala seseorang dari kamu ditusuk dengan jarum yang terbuat dari besi lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya [1]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIV/1431H/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. HR. Thabarani dan Baihaqi. Syaikh al-Albâni mengatakan, “Hasan Shahîh”. Lihat Shahîhut Targhîb, 2/191, no. 1910 dan Silsilatush Shahîhah, 1/225, no. 226)

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 27 Februari 2010

Print Friendly