Buah Keimanan Kepada Qadha’ Dan Qadar : Kesabaran Dan Ketabahan, Memerangi Keputusasaan, Ridha

BUAH KEIMANAN KEPADA QADHA DAN QADHAR

Oleh
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

7. Kuat Harapan Dan Berprasangka Baik Kepada Allah.
Orang yang beriman kepada qadar akan berprasangka baik kepada Allah dan sangat berharap kepada-Nya, karena dia mengetahui bahwa Allah tidak menetapkan suatu ketentuan pun melainkan di dalamnya berisikan kesempurnaan keadilan, kasih sayang, dan kebijaksanaan.

Ia tidak menghujat Rabb-nya mengenai berbagai qadha’ dan qadar yang ditentukan atasnya, dan hal itu mengharuskannya untuk konsisten di sisi-Nya dan ridha kepada apa yang dipilihkan Rabb-nya untuknya, sebagaimana mengharuskan untuknya menunggu kelapangan. Hal itu dapat meringankan beban yang berat, terutama bila disertai harapan yang kuat atau yakin dengan adanya kelapangan. Ia mencium dalam bencana itu udara kelapangan dan jalan keluar, baik berupa kebaikan yang tersembunyi dan baik berupa kelapangan yang disegerakan. [1]

8. Kesabaran Dan Ketabahan.
Iman kepada qadar membuahkan bagi pelakunya ibadah (dalam bentuk) kesabaran terhadap takdir yang menyakitkan. Kesabaran merupakan sifat yang indah dan sifat yang terpuji, yang mempunyai faidah-faidah yang banyak, berbagai manfaat yang mulia, berbagai akibat yang baik, dan berbagai dampak yang terpuji. Setiap manusia harus memiliki kesabaran atas sebagian perkara yang tidak disukainya, baik dengan kesadaran maupun terpaksa. Orang yang mulia akan bersabar dengan kesadarannya, karena dia mengetahui akibat baik dari kesabaran. Dia akan memuji karena adanya musibah itu, dan mencela kegelisahan. Seandainya pun dia tidak bersabar, maka kesedihan itu tidak kembali kepadanya, dan tidak melepaskan diri darinya dengan kebencian. Barangsiapa yang tidak bersabar dengan kesabaran orang-orang yang mulia, maka dia tidak ubahnya dengan binatang ternak. [2]

Amirul Mukminin, ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

وَجَدْنَا خَيْرَ عَيْشِنَا بِالصَّبْرِ.

“Kami mendapati, bahwa sebaik-baik kehidupan kami (yang kami jalani) adalah dengan kesabaran.” [3]

Amirul Mukminin, ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu berkata,

اَلصَّبْرُ، مَطِيَّةٌ لاَ تَكْبُوْ

“Kesabaran adalah tunggangan yang tidak pernah terjatuh.” [4]

Al-Hasan rahimahullahu berkata, “Kesabaran adalah salah satu dari perbendaharaan kebaikan, yang tidak diberikan Allah, kecuali kepada hamba yang mulia di sisi-Nya.” [5]

Benarlah apa yang disebutkan oleh seorang penya’ir:

وَالصَّبْرُ مِثْلُ اسْمِهِ مُرٌّ مَذَاقَتُهُ لَكِنْ عَوَاقِبُهُ أَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ

Kesabaran, seperti namanya, adalah pahit rasanya
tetapi akibatnya lebih manis dari madu

Karenanya, Anda melihat orang yang beriman kepada qadar memiliki kesabaran yang membaja, tabah terhadap beban berat, dan kuat menanggung penderitaan.

Berbeda dengan orang yang lemah keimanannya kepada qadar, yang tidak kuat untuk bersabar dan tidak bersabar terdapat suatu masalah yang paling kecil pun yang dihadapinya, karena kelemahan imannya, kelembekan jiwanya, dan kecemasannya yang besar terhadap sesuatu yang kecil. Ketika dia tertimpa sesuatu yang remeh, Anda melihatnya sempit dadanya, sedih hatinya, murung wajahnya, tertunduk penglihatannya, kesedihan menghimpit dadanya, lalu semua hal itu membuatnya tidak bisa tidur dan memeluhkan keningnya. Musibah itu -bahkan yang lebih besar darinya- sekiranya menimpa orang yang lebih kuat keimanan dan ketabahan musibah itu daripadanya, maka dia tidak akan menghiraukannya, hal itu tidak mengusik jiwanya, kelopak matanya masih bisa terpejam, hatinya ridha, dan dirinya pun tetap tenang.

Orang-orang yang tidak beriman kepada takdir akan cemas karena sebab-sebab yang remeh, bahkan mungkin kecemasan tersebut bisa membawa mereka kepada kegilaan, waswas, mengkonsumsi obat-obatan terlarang, dan bahkan bunuh diri.

Karena itu, banyak terjadi kasus bunuh diri di negeri-negeri yang tidak beriman kepada qadha’ dan qadar, seperti Amerika, Swedia, Norwegia, dan yang lainnya, bahkan beberapa negara telah sampai kepada keadaan, di mana mereka membuka beberapa rumah sakit untuk bunuh diri.

Seandainya kita membahas sebab-sebab mereka melakukan bunuh diri, niscaya kita melihatnya remeh sekali, yang menyebab-kan tidak ingin melihatnya dan menutup mata darinya. Sebagian mereka bunuh diri karena pinangannya meninggalkannya, sebagian lainnya karena sebab kegagalannya dalam ujian, dan sebagian mereka bunuh diri karena sebab kematian pemusik yang disukainya atau seseorang yang dikaguminya, atau karena sebab kekalahan tim yang didukungnya, dan seterusnya.

Adakalanya bunuh diri dilakukan secara kolektif. Anehnya, bahwa mayoritas kaum yang melakukan bunuh diri bukanlah dari golongan orang miskin, sehingga bisa dikatakan, “Mereka bunuh diri karena penghidupan mereka yang sempit”.

Bahkan, mereka adalah berasal dari kalangan elit yang dikenal dengan kekayaannya, orang-orang yang terkenal, bahkan dilakukan para psikiater, yang dianggap bisa memberikan kebahagiaan dan dapat menyelesaikan berbagai problem.

9. Memerangi Keputusasaan.
Orang yang tidak beriman kepada qadar akan tertimpa keputus-asaan, dan keputusasaan tersebut akan terus berlangsung hingga puncaknya. Jika dia tertimpa suatu musibah, maka dia menyangka bahwa hal itu akan memecahkan punggungnya. Jika malapetaka turun kepadanya, maka dia menyangka bahwa hal itu adalah musibah yang terus-menerus yang tidak akan berakhir.

Demikian pula jika dia melihat kekuasaan dan kekuatan kebathilan, sedangkan pengikut kebenaran terlihat lemah dan tidak berdaya, maka dia menyangka bahwa kebathilan akan terus berlangsung dan kebenaran akan sirna.

Putus asa adalah racun yang mematikan dan penjara yang gelap, yang akan memasamkan wajah dan menghalangi jiwa dari kebajikan. Tidak henti-hentinya keputusasaan itu menyertai manusia sehingga menghancurkannya atau menenggelamkan kehidupannya.

Adapun orang yang beriman kepada qadar, maka dia tidak mengenal putus asa, dan engkau tidak melihatnya selain optimis dalam segala keadaannya, menunggu kelapangan dari Rabb-nya, mengetahui bahwa kemenangan itu menyertai kesabaran, dan bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan.

Engkau melihatnya yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa akibat yang terbaik itu bagi ketakwaan dan orang-orang yang bertakwa, dan ketentuan Allah mengenai hal itu pasti berlaku. Oleh karena itu, dia tidak berputus asa, meskipun kegelapan kebathilan amat mencekam. Sebab, hati yang bersandar kepada kekuasaan Allah serta kelembutan dan kemurahan-Nya, akan membersihkan noda-noda keputusasaan dan pohon-pohon kemalasan dan menguat-kan “punggung” harapan, yang dengannyalah orang yang berusaha akan masuk menyelami lautan yang dalam dan dengannya akan mampu menghalau binatang buas yang membahayakan dalam perjalanannya.

10. Ridha.
Orang yang beriman kepada qadar, keimanannya tersebut dapat meninggikannya, sehingga menghantarkannya kepada tingkatan ridha. Barangsiapa yang ridha kepada Allah, maka Allah ridha kepadanya, bahkan ridha hamba kepada Allah adalah hasil dari ridha Allah kepadanya. Jadi, ia diliputi dengan dua jenis keridhaan-Nya kepada hamba-Nya: keridhaan sebelumnya, yang mengharuskan ia ridha kepada-Nya dan keridhaan sesudahnya, yang merupakan buah ridhanya kepada-Nya.

Karena itu, ridha adalah pintu Allah yang terbesar, Surga dunia, peristirahatan para ahli ibadah, dan pelipur orang-orang yang rindu. [6]

Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, “Barangsiapa yang memenuhi hatinya dengan ridha kepada takdir, maka Allah memenuhi dadanya dengan kecukupan, rasa aman, dan qana’ah, serta mengosongkan hatinya untuk mencintai-Nya, kembali, dan bertawakkal kepada-Nya.

Barangsiapa yang tidak memiliki keridhaan, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan hal yang sebaliknya, dan lalai terhadap perkara yang di dalamnya terdapat kebahagiaan dan keberuntungannya.” [7]

Ditanyakan kepada Yahya bin Mu’adz, “Kapankah hamba akan mencapai kedudukan ridha?” Ia menjawab, “Jika ia memposisikan dirinya di atas empat landasan dalam interaksinya dengan Rabb-nya, sehingga ia berucap, ‘Jika Engkau memberikan kepadaku, maka aku menerimanya, jika Engkau menghalangiku, maka aku tetap ridha, jika Engkau meninggalkanku, maka aku tetap beribadah kepada-Mu, dan jika Engkau memerintahkanku, maka aku memenuhi panggilan-Mu.” [8]

Sebagian mereka mengatakan, “Ridhalah kepada Allah dalam segala apa yang Dia perbuat terhadapmu. Sebab, Dia tidak meng-halangimu melainkan untuk memberimu, tidak mengujimu melainkan untuk memberi keselamatan kepadamu, tidak menjadikanmu sakit melainkan untuk memberi kesembuhan kepadamu, dan tidak mematikanmu melainkan untuk menghidupkanmu. Oleh karena itu, janganlah engkau meninggalkan keridhaan kepada-Nya sekejap mata pun, sehingga engkau pun jatuh dalam pandangan-Nya.” [9]

Di antara hal yang semestinya diketahui adalah, bahwa bukan merupakan syarat keridhaan, (yaitu dengan) seorang hamba tidak merasakan kepedihan dan ketidaksenangan, tetapi (yang merupakan syarat adalah apabila) dia tidak menolak ketentuan itu dan tidak pula membencinya. [10]

Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi berkata:
Jika malapetaka sangat keras, maka ringankanlah dengan ridha kepada Allah
maka beruntunglah orang yang ridha lagi merasa diawasi Allah

Betapa banyak kenikmatan yang diiringi dengan ujian kepada manusia
ia tersembunyi, dan ujian itu (sebenarnya adalah) anugrah [11]

Meskipun demikian, hamba tidak dapat keluar dari apa yang telah ditentukan Allah atasnya. Seandainya dia ridha dengan pilihan Allah, maka takdir tetap menimpanya sedangkan ia berada dalam keadaan terpuji, dihargai, dan dilindungi. Jika tidak, maka takdir pun tetap menimpanya, dalam keadaan dia tercela serta tidak dilindungi.

Selama kepasrahan dan ridhanya benar, maka penjagaan dan perlindungan terhadapnya akan menaunginya dalam apa yang ditakdirkan, sehingga dia berada di antara penjagaan dan perlindungan-Nya.

[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Madaarijus Saalikiin, (II/166-199).
[2]. Lihat, ‘Iddatush Shaabiriin, Ibnul Qayyim, hal. 124 dan Tasliyyah Ahlil Mashaa-ib, al-Munbaji, hal. 135-151.
[3]. ‘Iddatush Shaabiriin, hal. 124.
[4]. Ibid.
[5]. Ibid, hal. 124.
[6]. Lihat, Madaarijus Saalikiin, (II/172).
[7]. Madaarijus Saalikiin, (II/202).
[8]. Madaarijus Saalikiin, (II/172).
[9]. Madaarijus Saalikiin, (II/216).
[10]. Lihat, Madaarijus Saalikiin, (II/169-232), di dalamnya berisikan pembicaraan yang mendetail tentang ridha.
[11]. Bardul Akbaad ‘inda Faqdil Aulaad, Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi, hal. 37.

——

Sumber: www.almanhaj.or.id | 26 Juli 2007

Print Friendly