Buah Keimanan Kepada Qadha’ Dan Qadar : Syukur, Kegembiraan, Rendah Hati, Kemurahan Dan Kedermawanan

BUAH KEIMANAN KEPADA QADHA DAN QADHAR

Oleh
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd

11. Syukur.
Orang yang beriman kepada qadar mengetahui bahwa segala kenikmatan yang dimilikinya berasal dari Allah semata dan bahwa Allah-lah yang menolak segala hal yang dibenci dan penderitaan, lalu hal itu mendorongnya untuk mengesakan Allah dengan bersyukur.

Jika datang kepadanya sesuatu yang disukainya, maka dia ber-syukur kepada Allah karenanya, karena Dia-lah Yang memberi nikmat dan karunia. Jika datang kepadanya sesuatu yang tidak disenanginya, dia bersyukur kepada Allah atas apa yang telah ditakdirkan kepadanya, dengan menahan amarah, tidak mengeluh, memelihara adab, dan menempuh jalan ilmu. Sebab, mengenal Allah dan beradab kepada-Nya akan mendorong untuk bersyukur kepada Allah atas segala yang disenangi dan yang tidak disenangi, meskipun bersyukur atas hal-hal yang tidak disenangi itu lebih berat dan lebih sulit. Karena itu, kedudukan syukur lebih tinggi daripada ridha.

Jika manusia senantiasa bersyukur, maka kenikmatannya men-jadi langgeng dan melimpah, karena syukur adalah pengikat kenikmatan-kenikmatan yang masih ada dan pemburu kenikmatan-kenikmatan yang hilang. Allah Tabaaraka wa Ta’aala berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu… . ” [Ibrahim/14 : 7]

Apabila engkau tidak melihat keadaanmu bertambah, maka hadapilah ia dengan syukur. [1]

Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi berkata:

يَجْرِي الْقَضَاءُ وَفِيْهِ الْخَيْرُ نَافِلَةٌ لِمُؤْمِِنٍ وَاثِـقٍ بِاللهِ لاَ لاَهِيْ
إِنْ جَاءَهُ فَرَحٌ أَوْ نَابَهُ تَرَحٌ فِي الْحَالَتَيْنِ يَقُوْلُ: الْحَمْدُ ِللهِ

Qadha’ berjalan dan di dalamnya berisi kebaikan sebagai tambahan
untuk orang mukmin yang percaya kepada Allah, bukan untuk orang yang lalai
Jika datang kegembiraan kepadanya atau mendapatkan kesusahan
pada dua keadaan tersebut dia mengucapkan: “Alhamdulillaah” [2]

12. Kegembiraan.
Orang yang beriman kepada qadar akan bergembira dengan keimanan ini, yang kebanyakan manusia tidak mendapatkannya. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’” [ Yunus : 58]

Kemudian orang yang beriman kepada qadar memungkinkan keadaannya untuk meningkat dari ridha kepada ketentuan Allah dan bersyukur kepadanya, kepada derajat kegembiraan. Di mana ia bergembira dengan segala yang ditakdirkan dan ditentukan Allah kepadanya.

Ibnul Qayyim rahimahullahu berkata, “Kegembiraan adalah kenikmatan, kelezatan dan kesenangan hati yang paling tinggi, maka kegembiraan adalah kenikmatannya sedangkan kesedihan adalah adzabnya.

Gembira kepada sesuatu adalah melebihi ridha kepadanya, karena ridha adalah ketentraman, ketenangan, dan lapang dada, sedangkan kegembiraan adalah kelezatan, kesenangan, dan suka cita. Setiap orang yang gembira adalah orang yang ridha, tapi tidak semua orang yang ridha adalah orang yang bergembira. Karenanya, kegembiraan lawannya adalah kesedihan, sedangkan ridha lawannya adalah kebencian. Kesedihan menyakitkan orangnya, sedangkan kebencian tidak menyakitkannya, kecuali bila disertai kelemahan untuk membalas. Wallaahu a’lam.” [3]

13. Tawadhu’ (Rendah Hati).
Iman kepada qadar membawa pelakunya kepada ketawadhu’an, meskipun dia diberi harta, kedudukan, ilmu, popularitas, atau selainnya, karena dia mengetahui bahwa segala yang diberikan kepadanya hanyalah dengan takdir Allah. Sekiranya Allah menghendaki, Dia dapat mencabut semua itu darinya.

Karena itulah, dia bertawadhu’ kepada Allah Azza wa Jalla dan kepada sesamanya, serta mengenyahkan kesombongan dan kecongkakan dari dirinya.

Jika manusia bertawadhu’ kepada Allah Azza wa Jalla, maka kemuliaannya sempurna, nilainya tinggi, keutamaannya mencapai puncaknya, kewibawaannya tinggi di hati manusia, dan Allah menambahkan kemuliaan serta derajat besar kepadanya. Karena barangsiapa yang bertawadhu’ kepada Allah, maka Dia meninggikannya. Dan jika Allah telah meninggikan derajat seorang hamba, maka siapakah yang dapat merendahkannya?
Sebaik-baik akhlak pemuda dan yang paling sempurna
ialah ketawadhu’annya kepada manusia padahal derajatnya tinggi [4]

14. Kemurahan Dan Kedermawanan.
Sebab, orang yang beriman kepada qadar mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah-lah Yang memberi rizki dan menentukan penghidupan di antara para makhluk, sehingga masing-masing mendapatkan bagiannya. Tidaklah mati suatu jiwa pun sehingga sempurna rizki dan ajalnya, dan tidaklah seseorang menjadi fakir, kecuali dengan takdir Allah Azza wa Jalla

Iman ini akan melapangkan dada pelakunya untuk berinfak dalam berbagai aspek kebaikan, sehingga dia pun lebih mendahulu-kannya dengan hartanya walaupun dia sangat membutuhkannya, disebabkan percaya kepada Allah dan memenuhi perintah-Nya untuk berinfak, serta merasa bahwa untuk mendapatkan kehidupan yang mulia itu terdapat tuntutan untuk mengorbankan harta di jalan kebaikan tersebut tanpa berpikir panjang, dan karena dia tahu bahwa harta itu adalah harta Allah. Akhirnya, dia memilih untuk meletakkan harta tersebut di tempat di mana Allah memerintahkan untuk meletakkannya.

Kemudian iman kepada qadar pun akan memadamkan kerakusan dari hati orang yang beriman, sehingga dia tidak rakus terhadap dunia dan tidak mengejarnya kecuali sekedar kebutuhan. Ia tidak membuang rasa malunya untuk mencarinya, bahkan dia menahan diri dari apa yang ada di tangan manusia, karena di antara jenis kedermawanan ialah menahan diri dari apa yang ada di tangan manusia. Hal ini akan membuahkan kemuliaan jiwa dan keberanian baginya.

Hal yang menyebabkan manusia tidak memiliki keberanian dan kemuliaan jiwa ialah karena kerakusannya yang berlebihan terhadap kenikmatan dunia.

15. Keberanian Dan Mengenyahkan Kelemahan Serta Sifat Pengecut.
Iman kepada qadar akan memenuhi hati pelakunya dengan keberanian serta mengosongkannya dari segala kelemahan dan sifat pengecut. Karena orang yang beriman kepada qadar mengetahui bahwa dia tidak akan mati sebelum hari kematiannya dan tidak ada yang akan menimpanya kecuali apa yang telah dituliskan untuknya. Seandainya umat berkumpul untuk memberi kemudharatan kepadanya, maka mereka tidak dapat memberi kemudharatan kepadanya kecuali sesuatu yang telah ditentukan Allah untuknya.

Di antara yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin, ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, ialah sya’irnya:

Pada hariku yang manakah
aku dapat lari dari kematian
Apakah pada hari yang belum ditakdirkan
ataukah pada hari yang telah ditakdirkan
Apabila pada hari yang tidak ditakdirkan
maka aku tidak akan takut darinya
Tapi apabila kematian telah ditakdirkan
maka hati-hati dan menghindar darinya tidaklah menyelamatkanku

Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu memiliki juga sya’ir yang semisal dengannya:

Orang penakut itu merasa dirinya akan terbunuh
sebelum kematian datang menghabisinya
Terkadang beberapa bahaya menimpa orang penakut
sedang orang yang berani selamat darinya

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullahu “Hal yang dapat memutuskan rasa takut adalah berserah diri kepada Allah. Maka, barangsiapa yang menyerahkan diri dan tunduk kepada Allah, mengetahui bahwa apa pun yang menimpanya tidak akan luput darinya, sedangkan apa pun yang luput darinya tidak akan pernah menimpanya, dan juga mengetahui bahwa tidak akan menimpanya, kecuali apa yang telah dituliskan baginya, maka tidak akan tersisa tempat pada hatinya untuk takut kepada para makhluk. Sesungguhnya, jiwanya yang ia khawatirkan keselamatanya, sebenarnya telah berserah diri kepada Pelindungnya, dan mengetahui bahwa tidak akan menimpa jiwa itu, kecuali yang telah dituliskan, dan bahwa apa pun yang telah dituliskan baginya pasti menimpanya. Jadi pada hakikatnya, tidak pantas ada rasa takut kepada selain Allah itu.”

“Selain itu, di dalam ketundukkan kepada Allah itu terdapat manfaat yang tersembunyi, yaitu apabila ia menyerahkan jiwanya kepada Allah, pada hakikatnya ia telah menitipkannya pada-Nya dan melindunginya (dengan menjadikannya) dalam lindungan-Nya. Sehingga tidak akan bisa menyentuhnya tangan musuh dan kezhaliman orang yang zhalim.”

[Disalin dari kitab Al-Iimaan bil Qadhaa wal Qadar, Edisi Indoensia Kupas Tuntas Masalah Takdir, Penulis Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, Penerjemah Ahmad Syaikhu, Sag. Penerbit Pustaka Ibntu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Lihat, Madaarijus Saalikiin, (II/199, 235, 243).
[2]. Bardul Akbaad, hal. 9.
[3]. Madaarijus Saalikiin, (III/150).
[4]. Ghadzaa-ul Albaab, as-Safarini, (II/223).

——

Sumber: www.almanhaj.or.id | 25 Agustus 2007

Print Friendly