Cara Bersedekap, Turun Sujud, Duduk Tawarruk Dalam Shalat

CARA BERSEDEKAP, TURUN SUJUD, DUDUK TAWARRUK DALAM SHALAT

Pertanyaan.

  1. Bagaimana cara bersedekap dalam shalat?
  2. Manakah dalil yang lebih kuat dalam masalah turun ke sujud, menggunakan tangan ataukah lutut?
  3. Bagaimana hukum duduk tawarruk dalam shalat sunnah dua raka’at?

Jawaban.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kita untuk mencontoh gerak-gerik dan bacaan beliau dalam shalat, sebagaimana tersebut dalam hadits :

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّي

(Shalatlah kalian, seperti kalian telah melihatku shalat –HR al Bukhari). Untuk itu, kita sangat perlu melihat cara Rasulullah dalam permasalahan yang saudara tanyakan ini.

  1. Cara Bersedekap

Dalam bersedekap, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan telapak tangan kanannya pada tulang hasta kiri dan diletakkan di dadanya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat g berbuat demikian, sebagaimana dijelaskan dalam hadits :

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ كَانَ النَّاسُ يُؤْمَرُونَ أَنْ يَضَعَ الرَّجُلُ الْيَدَ الْيُمْنَى عَلَى ذِرَاعِهِ الْيُسْرَى فِي الصَّلَاةِ قَالَ أَبُو حَازِمٍ لَا أَعْلَمُهُ إِلَّا يَنْمِي ذَلِكَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata: “Orang-orang diperintahkan untuk meletakkan tangan kanannya pada hasta kirinya dalam shalat”. Abu Haazim (seorang perawi) mengatakan: “Saya tidak tahu, kecuali diisyaratkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam“. [HR al Bukhari no. 740].

Juga dinyatakan dalam hadits lainnya, dari Wa’il bin Hujr, ia berkata :

لَأَنْظُرَنَّ إِلَى صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّي قَالَ فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ فَكَبَّرَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى حَاذَتَا أُذُنَيْهِ ….ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى ظَهْرِ كَفِّهِ الْيُسْرَى وَالرُّسْغِ وَالسَّاعِدِ

“Sungguh aku akan melihat shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bagaimana cara beliau shalat.” Dia berkata : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan menghadap kiblat, lalu bertakbir dan mengangkat kedua tangannya sampai sejajar kedua telinganya … kemudian meletakkan tangan kanannya pada punggung telapak tangan kiri, pergelangan dan hastanya. [HR Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah, dan dinilai oleh al Albani bahwa sanadnya shahih atas syarat Muslim. Lihat Irwa’ 2/68-69].

Juga hadits darinya yang berbunyi:

صَلَيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى الصَدْرِ

Aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan beliau meletakkan tangan kanannya pada tangan kirinya di dadanya. [HR Ibnu Khuzaimah, no. 479; dan al Albani menilainya shahih dalam al Irwa’ al Ghalil, no. 352. Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/344].

Demikian juga terdapat riwayat lain disampaikan Syaikh al Albani yang berbunyi:

كَانَ أَحيَانًا يَقْبِضُ بِاليُمنَى عَلَى اليُسْرَى

Beliau terkadang menggenggamkan tangan kanannya ke tangan kirinya.

Lalu Syaikh al Albani menyatakan: “Dalam hadits riwayat an Nasaa-i dan ad Daraquthni dengan sanad yang shahih ini terdapat keterangan sunnahnya menggenggam (memegang), sedangkan dalam hadits lain disebutkan meletakkan. Semua itu adalah sunnah”.

Kesimpulannya, tata cara bersedekap dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, meletakkan telapak tangan kanan pada punggung telapak, pergelangan dan hasta tangan kiri. Kedua, memegang (menggenggam) tangan kiri dengan telapak tangan kanan.

Sedangkan tempat meletakkannya adalah di dada atau di bawahnya, sebagaimana ada dalam riwayat Abu Dawud yang berbunyi :

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضَعُ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan kanannya pada tangan kirinya di atas dadanya, dan beliau dalam keadaan shalat. [HR Abu Dawud, dan al Albani menghasankannya di dalam Ahkam al Janaiz, hlm. 150 dan Shifat Shalat Nabi, hlm. 88].

Imam Ishaaq bin Rahuyah –imam ahli Khurasan- mengamalkan hadits ini, yaitu dengan meletakkan kedua tangannya pada dada atau di bawahnya, sebagaimana diriwayatkan al Marwazi : “Beliau meletakkan kedua tangannya di dadanya (kedua susunya) atau di bawahnya”. Lihat Shifat Shalat Nabi, hlm. 88.

  1. Turun Saat Sujud.

Dalam permasalahan ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Namun, yang rajih (kuat) –insya Allah- adalah pendapat yang mendahulukan kedua tangannya daripada kedua lututnya. Demikian ini berdasarkan hadits Abu Hurairah , ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيرُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ

Apabila salah seorang kalian sujud, maka janganlah menderum sebagaimana onta menderum, dan letakkanlah kedua tangannya sebelum kedua lututnya. [HR Abu Dawud, dan dinilai shahih oleh Syaikh al Al Albani di dalam Irwa’ al Ghalil, 2/78 dan dalam Shifat Shalat Nabi, hlm. 140].

Juga diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan dinilai shahih oleh Syaikh al Albani dalam Shifat Shalat Nabi, hlm 140, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammeletakkan kedua tangannya ke tanah sebelum kedua lututnya. Hal ini dikuatkan juga oleh pernyataan al Auza’i : “Saya mendapati orang-orang meletakkan kedua tangan mereka sebelum kedua lutut mereka”.

Dengan demikian, sudah jelas kerajihan pendapat di atas. Wallahu a’lam.

  1. Hukum Duduk Tawarruk Dalam Shalat Sunnah Dua Raka’at.

Pendapat yang kuat dari pendapat para ulama dalam masalah duduk tawarruk dalam shalat sunnah adalah, apabila shalatnya hanya dua raka’at, dalam pengertian hanya ada satu tasyahud, maka duduknya adalah iftirasy, sebagaimana dinyatakan ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma :

وَكَانَ يَقُولُ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan dalam setiap dua raka’at at tahiyyat, dan beliau duduk iftirasy. [HR Muslim].

Syaikh al Albani menyatakan: “Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk untuk tasyahud setelah selesai dari raka’at kedua; apabila dalam shalat dua raka’at seperti Subuh, (maka) Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk iftirasy” -HR an Nasaa-i, 1/173 dengan sanad shahih- sebagaimana duduk di antara dua sujud.

Dengan demikian, setiap shalat yang hanya dua raka’at, baik yang wajib atau yang sunnah, sebaiknya duduk iftirasy. Namun seseorang yang duduk tawarruk padanya, insya Allah tidak membatalkan shalatnya dan tidak berdosa. Sebab, hukum iftirasy disini adalah sunnah.

Wallahu a’lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun X/1427H/2006M . Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
________
Footnote

Shifat Shalat Nabi, halaman 88.

Shifat Shalat Nabi, halaman 156.

 

 

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 25 Mei 2016

Print Friendly