Hidayah Lewat Jilbab Bekas

Kami ingin torehkan kisah ini secara singkat guna mengambil pelajaran di dalamnya.

Pada tanggal 24 Rabi’ul Awal 1436 H (bertepatan dengan 15 Januari 2015) lalu, kami mengumumkan akan kebutuhan jilbab dan gamis untuk jama’ah Pesantren Darush Sholihin, Warak, Girisekar, Panggang, Gunungkidul. Pesantren ini adalah pesantren yang membina masyarakat sekitar (tanpa sarana pondok dan tanpa menerima santri luar daerah) yang saat ini pengajian rutin Malam Kamisnya telah diikuti oleh hampir 400 jama’ah sekitar Panggang, walhamdulillah. TPA saat ini pun mengalami peningkatan hingga 600 santri yang pelajarannya diadakan dari Senin-Jumat setiap sorenya, terbagi menjadi dua kloter di hari Senin dan Kamis, serta Selasa, Rabu dan Jum’at.

Maksud permintaan jilbab dan gamis yang layak pakai di atas adalah untuk diberikan pada jama’ah yang belum biasa mengenakan jilbab yang berada di dusun-dusun terpencil. Akhirnya dalam kurun waktu satu minggu saja setelah pengumuman sudah hampir 1 ton paket yang datang baik lewat JNE, Tiki, atau Kantor Pos. Setelah sampai di Pesantren DS, lalu disortir oleh ibu-ibu dan dipilihlah pakaian yang layak pakai untuk pria maupun wanita. Terutama untuk wanita dipilih yang benar-benar memenuhi syarat menutupi aurat. Ternyata sisa dari penyortiran, ada yang berupa pakaian atasan, celana, gamis, dan jilbab bekas. Itu pun masuk dalam paket yang siap dibagikan ke tiap masjid, dusun dan jama’ah pengajian. Alhamdulillah, respon masyarakat yang menerima paket pakaian layak pakai dari pesantren sangat baik sekali.

# Ada ibu-ibu yang dulunya benci dengan pesantren, saat anak-anak SD mulai pakai jilbab, ia mengeluarkan statement yang tak mengenakkan. Alhamdulillah malah saat ini, ia sendiri menutup aurat. Bahkan mencari sendiri jilbab-jilbab bekas yang bisa ia kenakan di rumah. Benar-benar hidayah Allah dari pakaian bekas.

# Dusun Warak memang terkenal dengan preman dan kenakalannya. Namun sejak berdiri pesantren banyak perubahan di dusun ini. Istri para preman dan para preman sendiri mulai sadar akan agama. Berawal pula dari bantuan seperti ini. Walhamdulillah, walau bekas, Allah beri hidayah lewat perantaraan tersebut.

# Ada satu dusun yang terletak di sebelah utara pesantren, awalnya sangat sengit sekali kebenciannya pada pesantren. Sampai ada di antara mereka pernah mengeluarkan komentar tak enak pada pesantren dengan gelaran ‘tuku wong’ (artinya: ‘beli orang’) atau statement ‘agama ditukar beras’ karena pesantren sering memberikan bantuan uang maupun sembako pada masyarakat. Alhamdulillah, kemarin ada ibu-ibu yang mengantarkan bantuan ke dusun tersebut karena punya kerabat di sana. Respon penerimaan mereka luar biasa. Yang namanya hati ternyata begitu mudah dibolak-balikkan oleh Allah.

Tiga pelajaran yang bisa kami ambil dari pembagian jilbab dan gamis bekas di atas:

– Hidayah itu kuasa Allah, Allah-lah yang membolak-balikkan hati.

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al Kahfi: 17).

Ayat di atas membicarakan tentang pemuda Al Kahfi yang tertidur dalam gua selama 309 tahun lamanya untuk menyelamatkan diri dari kaumnya. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah-lah yang memberi petunjuk pada pemuda tersebut kepada hidayah dari kaum mereka yang ada. Jika Allah menghendaki petunjuk pada seseorang, maka ia akan meraih petunjuk. Jika Allah menginginkannya sesat, maka mustahil mendapatkan petunjuk.”

Intinya, hidayah itu kuasa Allah. Lewat perantaraan jilbab dan gamis bekas, memang orang-orang bisa kenakan. Namun patut diingat, semuanya adalah mutlak hidayah Allah. Tanpa petunjuk dari Allah, tak mungkin mereka bisa berubah seperti saat ini.

– Jangan anggap remeh perkara kecil

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Jabir bin Sulaim,

وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ

Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih).

Walau dengan pakaian bekas, itu bisa jadi jalan orang mendapatkan hidayah.

– Pemberian selalu mendatangkan cinta

Saling memberi hadiah dan pertolongan akan membuat orang lain tertarik pada dakwah. Benarlah sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَهَادَوْا تَحَابُّوا

Salinglah memberi hadiah, maka kalian akan saling mencintai.” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrod no. 594. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan sebagaimana dalam Irwaul Gholil no. 1601). Silakan buktikan bagaimana dengan pemberian seperti itu akan berpengaruh pada mudahnya penerimaan dakwah.

Semoga sedikit kisah lika-liku dakwah di desa di atas bermanfaat.

Get a PDF version of this webpagePDF

———-

Sumber: www.rumahsyo.com (Muhammad Abduh Tuasikal, MSc) | Feb 24, 2015

Print Friendly