Hukum Mendahului Salam Kepada Yahudi Dan Nashrani, Dan Cara Menghimpit Mereka Ke Pinggir Jalan

HUKUM MENDAHULUI SALAM KEPADA YAHUDI DAN NASHRANI, DAN BAGAIMANA CARA MENGHIMPIT MEREKA KE PINGGIR JALAN

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Musliim dalam kitab Shahihnya, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memulai kaum Yahudi dan jangan pula kaum Nashrani dengan ucapan salam. Jika kalian menjumpai salah seorang mereka di suatu jalan, himpitlah ia ke pinggir.”[Hadits Riwayat Muslim dalam As-Salam no. 2167]

Bukankah hal ini akan membuat mereka enggan memeluk Islam?

Jawaban:
Harus kita diketahui, bahwa singa dakwah adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sebaik-baik pembimbing ke jalan Allah adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika kita mengetahui itu, maka pemahaman apa pun yang kita pahami dari ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ternyata bertentangan dengan hikmah, harus kita akui bahwa pemahaman kita itu patut dikoreksi, dan hendaknya kita ketahui, bahwa pemahaman kita tentang ucapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini keliru; artinya kita tidak boleh mengkiaskan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan pengertian akal dan pemahaman kita, karena akal dan pemahaman kita terbatas. Namun ada kaidah-kaidah syar’iyah yang bersifat umum yang bisa dijadikan rujukan dalam masalah-masalah pribadi.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ

“Janganlah kalian memulai kaum Yahudi dan jangan pula kaum Nashrani dengan ucapan salam. Jika kalian menjumpai salah seorang mereka di suatu jalan, himpitlah ia ke pinggir. ”

Artinya janganlah kalian berlapang-lapangan untuk mereka saat berjumpa dengan mereka sehingga mereka mendapat lahan lebih luas dan kalian lebih sempit, tapi teruskanlah perjalanan dan arah kalian, dan biarkanlah kesempitan terjadi jika memang ada kesempitan pada mereka. Dan sebagaimana diketahui petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, bukan berarti bila melihat orang kafir langsung memepetkannya ke dinding hingga menyentuhnya, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan hal ini terhadap kaum Yahudi di Madinah, begitu pula para shahabat beliau tidak pernah melakukannya setelah penaklukan berbagai wilayah.

Jadi pengertiannya, bahwa kalian tidak boleh memulai mereka dengan ucapan salam dan tidak boleh lebih melapangkan bagi mereka. Jika kalian berjumpa dengan mereka, janganlah kalian berpencar sehingga mereka menerobos, tapi tetapkan kalian pada jalur yang tengah ditempuh, biarkan kesempitan menimpa mereka jika jalannya itu memang sempit. Hadits ini tidak berarti membuat mereka lari dari Islam (enggan memeluk Islam), tapi justru ini menunjukkan kemuliaan seorang muslim, dan bahwa seorang muslim tidak menghinakan dirinya kepada orang lain kecuali kepada Rabbnya.

[Majmu’ah Fatawa wa Rasa’il, Syaikh Ibnu Utsaimin, juz 3, hal. 38-39]

[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 13 Maret 2005

Print Friendly