Hukum Rekreasi Ke Candi, Tidak Ada Anggapan Sial Dalam Islam

HUKUM REKREASI KE CANDI

Pertanyaan.
Bagaimana hukum rekreasi ke candi misalnya? Mohon penjelasan

Jawaban
Pada asalnya, hukum rekreasi adalah mubah (boleh dilakukan). Akan tetapi, rekreasi tidak boleh menuju tempat-tempat maksiat. Karena umat Islam berkewajiban merubah kemungkaran jika melihatnya, dan menjauhi para pelaku maksiat. Jika umat Islam justru bergabung dengan para pelaku kemungkaran, dikhawatirkan tertimpa adzab yang Allah Azza wa Jalla turunkan kepada mereka.

Rekreasi ke candi termasuk mendatangi kemungkaran. Karena di sana ada patung-patung yang disembah dan gambar-gambar makhluk bernyawa, pengunjung pun dibuat terkagum-kagum dengan tempat-tempat peribadahan orang-orang musyrik. Tempat semacam ini tidak pantas untuk didatangi dan dilestarikan. Sebab, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengusahakan supaya sarana-sarana (simbol-simbol) kemungkaran, terutama syirik lenyap. Pernah, beliau enggan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat gambar atau patung makhluk bernyawa, sebagaimana para malaikat juga tidak mau memasukinya.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا اشْتَرَتْ نُمْرُقَةً فِيهَا تَصَاوِيرُ فَلَمَّا رَآهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ عَلَى الْبَابِ فَلَمْ يَدْخُلْ فَعَرَفَتْ فِي وَجْهِهِ الْكَرَاهِيَةَ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَإِلَى رَسُولِهِ مَاذَا أَذْنَبْتُ قَالَ مَا بَالُ هَذِهِ النُّمْرُقَةِ فَقَالَتْ اشْتَرَيْتُهَا لِتَقْعُدَ عَلَيْهَا وَتَوَسَّدَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ وَقَالَ إِنَّ الْبَيْتَ الَّذِي فِيهِ الصُّوَرُ لاَ تَدْخُلُهُ الْمَلاَئِكَةُ

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau memberitakan bahwa beliau Radhiyallahu anhuma membeli bantal duduk yang terdapat gambar-gambar (makhluk bernyawa-pen). Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di depan pintu saja, tidak masuk. ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma pun melihat ketidaksukaan pada wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma bekata: “Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , aku bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya, dosa apakah yang telah aku lakukan?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apa pentingnya bantal duduk ini?” ‘Aisyah menjawab: “Aku membelinya agar engkau bisa duduk dan menggunakannya sebagai bantal”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya para pembuat gambar ini akan disiksa pada hari Kiamat. Dan akan dikatakan kepada mereka: Hidupkan apa yang telah ciptakan“. Dan beliau bersabda: “Sesungguhnya rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar (patung-patung) tidak akan dimasuki oleh para malaikat”. [HR.Al-Bukhâri, no: 5957]

Oleh karena itu, di antara kewajiban pemerintah muslim adalah membersihkan wilayahnya dari kemungkaran-kemungkaran, termasuk menghancurkan patung-patung dan menghapus gambar-gambar bernyawa. Sebagaimana ditunjukkan hadits di bawah ini:

عَنْ أَبِي الْهَيَّاجِ الاََسَدِيِّ قَالَ قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ أَلاَّ أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إلاَّ سَوَّيْتَهُ (وَلاَ صُورَةً إِلاَّ طَمَسْتَهَا)

Dari Abul Hayyâj al-Asadî, dia berkata: ‘Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu berkata kepadaku: “Maukah engkau aku utus kamu untuk melakukan tugas yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutusku dengannya ; yaitu janganlah kamu membiarkan patung/gambar itu melainkan kamu hancurkan; dan janganlah kamu membiarkan kubur itu ditinggikan melainkan harus kamu ratakan”. (Pada lafazh lain: dan tidak pula gambar melainkan kamu hilangkan). [HR.Muslim: 969]

Adapun bagi masyarakat, kewajiban mereka hanyalah memberikan nasehat dan peringatan, karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk merubah kemungkaran dengan kekuatan, dan jika masyarakat bertindak tanpa izin pemerintah, kemungkinan akan timbul kemungkaran yang lebih besar. Wallâhu a’lam.

TIDAK ADA ANGGAPAN SIAL DALAM ISLAM

Pertanyaan.
Saya seorang wanita. Sebentar lagi akan menikah dengan seorang lelaki. Mudah-mudahan menjadi pemimpin saya yang baik. Kebetulan hari lahir lelaki itu sama dengan bapak dan saya. Karena itu, keluarga saya tidak setuju. Sebab menurut para orang tua kalau di Jawa termasuk pantangan. Baik percaya apa tidak, akan muncul kesialan bila pernikahan itu diteruskan. Mohon penjelasan mengenai permasalahan di atas.
Fulanah di bumi Allah 0856xxxxx

Jawaban
Keyakinan di atas dan keyakinan-keyakinan serupa lainnya merupakan bentuk khurafat (tahayul). Islam yang bertumpu pada tauhid, tidak membenarkannya. Dalam keyakinan itu terkandung kepercayaan yang sama sekali tidak berdasar. Yakni, munculnya kesialan dari kesamaan hari lahir pihak-pihak yang berhubungan erat dengan pernikahan.

Sebuah budaya, kepercayaan, warisan leluhur yang dinisbatkan kepada kepercayaan suatu ras tertentu, bila bertentangan dengan Islam, hukumnya tidak boleh diyakini dan dijalankan, apalagi dikembangkan. Meyakininya tidak boleh, apalagi ‘mendakwahkannya’ kepada orang lain (anak-anak) , seperti dalam kasus di atas.

Di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah terjadi banyak pernikahan. Begitu juga di zaman Sahabat. Dan kemungkinan terjadinya persamaan hari antara bapak, calon mempelai lelaki dan perempuan adalah terbuka. Dan ternyata, tidak terdapat satu keterangan dalam masalah ini.

Pada hakikatnya, kesialan muncul dari maksiat yang dilakukan oleh seorang hamba, baik kepada Rabbnya maupun sesama. Itulah pantangan yang wajib dijauhi oleh setiap insan Muslim. Bukan dari hal-hal yang dipantang menurut suku tertentu. Bila ini dibenarkan, maka akan ada sekian banyak pantangan bagi seorang Muslim, karena setiap ras dan suku memiliki pantangan-pantangan yang berbeda-beda.

Apabila kepercayaan semacam itu sedikit banyak menciutkan hati, maka seseorang diperintahkan untuk menanamkan tawakal kepada Allah Azza wa Jalla, Dzat Yang Berkuasa atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang lolos dari ketentuan dan takdir Allah Azza wa Jalla. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلاَثًا وَمَا مِنَّا إلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ

“Tathayyur (menganggap sesuatu sebagai sumber kesialan) adalah syirik. Tathayyur adalah syirik. Tiada seorang pun dari kita kecuali akan terpengaruh dengan tathayur. Namun Allah k melenyapkannya dengan tawakal “. [HR.Abû Dâwud]

Kesimpulannya, kepercayaan semacam itu salah dan terlarang dalam Islam. Teruskanlah pernikahan tersebut. Pahamkan kepada kerabat dengan cara yang baik. Tawakal kepada Allah Azza wa Jalla akan menguatkan hati dan menghilangkan kekhawatiran dari kesialan yang didengung-dengungkan. Semoga Allah Azza wa Jalla memudahkan urusan pernikahan Saudari.

Wallâhul Hâdi

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XII/1429/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 1 Agustus 2005

Print Friendly