Jangan Durhaka Kepada Orang Tua

Khutbah Jum’at 7 Muharram 1436 / 31 Oktober 2014 di Masjid Nabawi
Oleh:  Asy-Syaikh Ali Al-Hudzaifi hafizohullah

Khutbah Pertama :

          Segala puji bagi Allah yang telah memberi karunia kepada hamba-hambaNya, lalu merinci kepada mereka tentang hak-hak dan kewajiban-kewajiban, Yang Rido bagi mereka amalan-amalan sholeh, Menjadikan mereka benci kepada perbuatan-perbuatan buruk, dan telah menjanjikan bagi kaum sholihin kebaikan-kebaikan. Aku bersaksi bahwasanya tidak sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah, tidak ada sekutu bagiNya. Yang Maha mengabulkan doa. Serta aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan Pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya yang telah diperkuat dengan mukjizat-mukjizat. Ya Allah curahkanlah sholawat, salam, dan berkah kepada hambaMu dan utusanMu Muhammad dan keluarganya serta para sahabatnya yang telah menolong agama Allah dengan jihad, hujjah, dan penjelasan-penjelasan.

Amma ba’du ; hendaknya kalian bertakwa kepada Allah dan janganlah kalian tinggalkan kewajiban-kewajiban kalian, janganlah kalian melanggar larangan-larangan Allah, sungguh beruntung orang yang bertakwa dan merugi orang yang mengikuti hawa nafsunya.

Para hamba Allah, ketahuilah bahwasanya amalan-amalan hamba adalah untuk kebaikan mereka atau menjadi bumerang bagi mereka. Ketaaan mereka sama sekali tidak memberikan kemanfaatan bagi Allah, dan kemaksiatan mereka sama sekali tidak memberi kemudhorotan bagi Allah. Allah berfirman

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ (١٥)

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, Maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, Maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. (QS Al-Jaatsiyah : 15)

Allah berfirman :

مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلا يُجْزَى إِلا مِثْلَهَا وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ (٤٠)

Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka Dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. dan Barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam Keadaan beriman, Maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab. (QS Ghoofir : 40)

Allah berfirman dalam hadits qudsi :

يَا عِبَادِى، إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّى فَتَضُرُّونِى، وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِى فَتَنْفَعُونِى… يَا عِبَادِى، إِنَّمَا هِىَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ، ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا، فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدْ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ

“Wahai hamba-hambaKu, kalian tidak akan bisa memberikan kemudhorotan kepadaKu dan tidak juga kemanfaatkan… Wahai hamba-hambaKu, perkaranya hanyalah amalan-amalan kalian Aku catat untuk kalian lalu Aku memberi balasan atasnya, maka barang siapa yang mendapatkan kebaikan maka hendaknya ia memuji Allah, dan barang siapa yang mendapati selainnya maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri” (HR Muslim dari sahabat Abu Dzar)

          Penunaian hak-hak yang wajib oleh seorang hamba, maka penghujungnya manfaatnya akan kembali kepada sang hamba itu sendiri dengan meraih pahala di dunia dan akhirat, sebagaimana firman Allah :

فَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ (٩٤)

Maka barang siapa yang mengerjakan amal saleh, sedang ia beriman, Maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan Sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya. (QS Al-Anbiyaa’ : 94)

Allah berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلا (٣٠)

Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. (QS Al-Kahfi : 30)

Kurang dalam menunaikan kewajiban, atau melalaikannya, atau meninggalkannya sama sekali mengakibatkan kemudhorotan dan hukuman yang kembali kepada sang hamba yang melalaikan hak-hak yang disayari’atkan dalam agama, karena jika ia melalaikan hak-haknya Robul ‘alamin maka ia tidak memberi kemudorotan kecuali kepada dirinya sendiri, baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman :

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

Jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhoi kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhoi bagimu kesyukuranmu itu (QS Az-Zumar : 7)

Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (١٥)

Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. (QS Fathir : 15)

هَا أَنْتُمْ هَؤُلاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنْكُمْ مَنْ يَبْخَلُ وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِنْ تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ (٣٨)

Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir Sesungguhnya Dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini. (QS Muhammad : 38)

وَمَنْ يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ عَلَى نَفْسِهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا (١١١)

Barangsiapa yang mengerjakan dosa, Maka Sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudhoratan) dirinya sendiri. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS An-Nisaa’ : 111)

          Hak Allah yang harus dijaga adalah tauhid. Allah telah menjanjikan ganjaran yang besar atasnya.  Allah berfirman :

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ (٣١)هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (٣٢)

Dan didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada Setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya) (QS Qoof : 31-32)

Barangsiapa yang melalaikan tauhid dengan melakukan kesyirikan atau mengambil perantara selain Allah dan berdoa kepada mereka untuk menghilangkan kesulitan dan kegentingan serta memenuhi kebutuhan, demikian juga bertawakkal kepada mereka, maka ia telah merugi , berbuat syirik dan telah sia-sia amalannya, tidak akan diterima amalannya sama sekali oleh Allah. Lalu dikatakan kepadanya : “Masuklah ke neraka bersama penghuni yang lainnya”, kecuali jika ia bertaubat dari kesyirikan. Dalam hadits :

يجاء بالكافر يوم القيامة فيقال له أرأيت لو كان لك ملء الأرض ذهبا أكنت تفتدي به فيقول نعم فيقال له قد كنت سئلت ما هو أيسر من ذلك

“Dikatakan kepada seseorang dari penghuni neraka, “Jika engkau memiliki seluruh yang ada di bumi, maka apakah engkau akan menebus dirimu dengannya untuk keluar dari neraka?”. Ia berkata, “Iya”, maka dikatakan kepadanya, “Sungguh engkau telah diperintahkan dengan yang lebih ringan dari ini, yaitu janganlah sekali-kali engkau menyekutukan Allah dengan sesuatupun” (HR Al-Bukhari)

          Jika seorang hamba melalaikan dan meninggalkan hak-hak makhuk yang wajib maka ia telah menghalangi dirinya dari pahala di dunia maupun di akhirat.

Jika ia kurang dalam menunaikan sebagian hak-hak tersebut maka ia telah menghalangi dirinya dari kebaikan sesuai dengan kadar kurangnya dia dalam menunaikan hak-hak makhluk.

Dan kehidupan terus berjalan, dalam kemudahan dan kesulitan, memperoleh haknya ataupun terhalangi dari haknya, kehidupan tetaplah berjalan meskipun hak-hak seorang hamba tidak terpenuhi. Nanti di sisi Allah orang-orang yang bersengketa akan berkumpul, maka Allah akan memberikan orang yang terzolimi haknya dari orang yang menzoliminya dan melalaikan haknya.

Dari Abu Huroiroh –semoga Allah meridoinya- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau berkata :

لتؤدن الحقوق إلى أهلها يوم القيامة حتى يقاد للشاة الجلحاء من الشاة القرناء

“Hak-hak akan ditunaikan kepada pemiliknya, sampai kambaing yang tidak bertanduk akan diberikan qisosnya dari kambing yang bertanduk” (HR Muslim).

          Dan hak yang paling agung setelah hak Allah adalah hak kedua orang tua. Karena agungnya hak keduanya maka Allah menggandengkan hakNya dengan hak keduanya, sebagaimana firman Allah :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا (٢٣)وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (٢٤)

dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS Al-Isroo’ : 23-24)

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (١٤)

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS Luqman : 14)

Allah mengagungkan hak kedua orang tua, karena Allah menciptakan engkau dengan sebab mereka berdua. Di masa mengandung seorang ibu mendapati kesulitan yang sangat berat, dan tatkala melahirkan bertarung dengan kematian. Allah berfirman :

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). (QS Al-Ahqoof : 15)

Adapun ayah maka ia telah bekerja keras mencari rizki, mendidik dan merawat sang anak, keduanya menghadapi kesulitan dan rela untuk tidak tidur bergadang agar sang anak bisa tidur…, mereka berdua letih agar sang anak bisa beristirahat…, keduanya menyulitkan diri mereka agar memudahkan sang anak…, keduanya bersabar membersihkan kotoran sang anak agar sang anak bisa bahagia, keduanya mendidik sang anak agar sang anak menjadi sempurna dan baik, keduanya ingin agar sang anak lebih baik daripada mereka berdua.

Maka wahai sang anak, janganlah engkau heran jika banyak sekali wasiat Allah agar engkau berbakti kepadanya…

Janganlah engkau heran jika banyak sekali ancaman bagi anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya.

Seorang anak –bagaiamanapun ia berusaha dan berkorban- maka ia tidak akan mampu mencapai kesempurnaan dalam berbakti kepada kedua orang tuanya, kecuali dalam satu kondisi.

Dari Abu Huroiroh –semoga Allah meridhoinya- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau berkata :

لا يجزى ولد والده إلا أن يجده مملوكا فيشتريه فيعتقه

“Seorang anak tidak akan bisa membalas jasa orang tuanya kecuali jika ia mendapati orang tuanya dalam kondisi seorang budak, lalu ia beli budak tersebut dan membebaskannya” (HR Muslim, Abu Dawud, dan At-Tirmidzi)

          Kedua orang tua adalah dua pintu dari pintu-pintu surga, barangsiapa yang berbakti kepada keduanya maka ia masuk surga. Dari Abu Huroiroh –semoga Allah meridhoinya- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda :

رغم أنف ثم رغم أنف ثم رغم أنف قيل من يا رسول الله قال من أدرك أبويه عند الكبر أحدهما أو كليهما فلم يدخل الجنة

“Celaka, celaka, dan celaka”. Dikatakan kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, siapakah yang celaka?”. Nabi berkata, “Siapa yang menemui kedua orang tuanya di masa tua, salah satunya atau keduanya, lalu ia tidak masuk surga” (HR Muslim)

          Kaum Muslimin sekalian, jika kedua orang tuamu ridho kepadamu maka Allah akan ridho kepadamu. Dari Abdullah bin Umar –semoga Allah meridhoinya- dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau berkata:

“Keridhoan Allah berada di keridhoan orang tua, dan kemurkaan Allah berada di kemurkaan orang tua” (HR At-Tirmidzi, Al-Haakim dalam Al-Mustadrok, dan ia berkata : Hadits Shahih)

          Berbakti kepada kedua orang tua yaitu taatk kepada keduanya pada selain kemaksiatan, menjalankan perintah dan washiat keduanya, lembut kepada mereka, memberikan kesenangan kepada mereka, memberikan kepada mereka nafkah yang banyak, mengorbankan harta untuk mereka, sayang dan kasih kepada mereka, ikut bersedih jika mereka bersedih, menyambung silaturahmi dengan kerabat mereka, berbuat baik kepada sahabat dekat mereka, tidak menyakiti mereka, ingin agar mereka panjang umur, perbanyak istighfar untuk mereka berdua tatkala masih hidup atau setelah meninggal dunia.

Adapun durhaka adalah lawan dari ini semua. Dan banyaknya sikap durhaka merupakan tanda-tanda hari kiamat. Dalam hadits :

“Diantara tanda-tanda hari kiamat adalah terhalangnya hujan, anak-anak suka marah-marah, banyaknya orang-orang yang buruk…” (Hadits Dho’if)

          Diantara bentuk durhaka yang besar adalah menitipkan kedua orang tua atau salah satunya dip anti jompo, mengeluarkan keduanya dari perhatian dan perawatan sang anak –wal’iyaadzu billah-. Ini bukanlah termasuk akhlak Islam apalagi akhlak yang mulia. Diantara durhaka yang besar adalah sombong dihadapan kedua orang tua, apalagi memukul keduanya, menghina mereka, mencaci mereka. Sungguh merugi anak yang demikian. Dari Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

 إن الجنة يوجد ريحها من مسيرة خمسمائة عام ولا يجد ريحها عاق ولا قاطع رحم

“Sesungguhnya wangi surga tercium dari jarak 500 tahun, dan anak yang durhaka tidak akan mencium wangi surga” (Hadits dinilai dho’if oleh Al-‘Irooqi)

Allah berfirman :

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا (٣٦)

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri (QS An-Nisaa : 36)

 

Khutbah Kedua

          Segala puji adalah untuk Robbul ‘Aalamiin, aku bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, milikNya lah kekuatan yang sangat kokoh. Aku bersaksi bahwasanya Nabi kita dan pemimpin kita Muhammad adalah hamba dan utusanNya, yang jujur lagi terpercaya, Ya Allah curahkanlah sholawat, salam, dan berkah kepada hambaMu dan utusanMu Muhammad, dan keluarganya serta para sahabatnya seluruhnya.

Amma ba’du,

          Bertakwalah kalian dengan sebenar-benar takwa dan berpeganglah dengan tali Islam yang kuat. Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya menunaikan hak kedua orang tua, selain akan mendapatkan ganjaran yang sangat besar dan keberkahan, ia juga merupakan akhlak yang mulia, perangai yang indah yang dilakukan oleh orang yang hatinya baik, aslinya mulia, dan akhlaknya suci. Dan balasan bagi kebaikan adalah kebaikan pula, dan kebaikan hendaknya dijaga dan ditunaikan. Keindahan dibalas dengan keindahan, tidak ada yang melupakan kebaikan dan kebaikan kecuali yang bejat akhlaknya, jatuh harga dirinya, dan busuk isi hatinya. Allah berfirman :

وَلا تَنْسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (٢٣٧)

Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha melihat segala apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Baqoroh : 237)

Allah berfirman tentang perkataan Nabi Isa ‘alaihis salaam :

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا (٣٢)

Dan aku berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. (QS Maryam : 32)

Tentang Nabi Yahya ‘alaihis salaam

وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا (١٤)

Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka. (QS Maryam : 14)

Allah berfirman tentang anak yang celaka :

وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَذَا إِلا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ (١٧)

Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu keduanya, Apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, Padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. lalu Dia berkata: “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”. (QS Al-Ahqoof : 17)

Dari Abu Huroiroh –semoga Allah meridhoinya- ada seseorang datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya :

“Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak untuk aku bersikap baik?, Nabi berkata,

أُمَّكَ ثُمَّ أُمَّكَ ثُمَّ أَبَاكَ ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ

“Ibumu lalu ibumu lalu ayahmu, lalu yang kerabat terdekat dan terdekat”

Penerjemah: Abu Abdil Muhsin Firanda

– – – – – – – – – –

Sumber: Firanda Andirja – www.firanda.com | Jumat,31 Oktober 2014

Print Friendly