Keistimewaan Abu Bakar Radhiyallahu Anhu Dalam Al-Qur’an Dan Al-Hadits

KEISTIMEWAAN ABU BAKAR RADHIYALLAHU ANHU DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADITS

Oleh
Ustadz Emha Ayatullah

Seseorang yang masih berstatus sebagai pelajar atau mahasiwa, namun sudah mendapatkan jaminan akan suatu pekerjaan dengan gaji di atas rata-rata setelah menyelesaikan studinya adalah dambaan banyak orang, bahkan tidak tidak berlebihan jika sebagian dari masyarakat akan menyematkan gelar “orang yang sukses”, baik dalam belajar maupun pekerjaannya. Kondisi ini pasti membanggakan dan membahagiakan, padahal ini baru urusan dunia dan memberikan janji juga manusia yang bisa saja berubah sesuai kondisi.

Lalu bagaimanakah jika hal itu berkait dengan kehidupan akhirat? Adakah ketenangan, kebahagiaan, bahkan kesuksesan seseorang yang melebihi ketenangan, kebahagiaan dan kesuksesan orang yang telah dijanjikan untuk masuk ke dalam surga Allâh Azza wa Jalla setelah kematiannya? Sangatlah pantas jika orang yang telah mendapatkan janji tersebut akan semakin rindu untuk bertemu dengan Rabb yang menciptakannya, serta menganggap dunia ini hanya tempat yang bersifat sementara.

Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa sahabat Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu bercerita, beliau pernah berwudlu di rumahnya, kemudian keluar sambil berkata: “Aku akan melewatkan hari ini untuk menemani Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam “, beliau pun bergegas pergi ke masjid dan menanyakan keberadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , orang-orang menjawab, “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ke arah sana.” Abu Musa Radhiyallahu anhu mengatakan,”Maka aku pun berjalan ke arah tersebut hingga beliau masuk ke dalam sumur di kebun Aris, aku pun duduk di pintu yang terbuat dari pelepah kurma, hingga Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan buang hajatnya kemudian berwudhu. Aku menghampiri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk pada tepi sumur tersebut sambil menyingkap dua betisnya serta menjuntaikannya ke dalam sumur, aku memberi salam kepada beliau kemudian aku kembali lagi ke pintu, aku mengatakan: sungguh hari ini aku akan menjadi penjaga pintu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Lalu datanglah Abu Bakar mendorong pintu itu, aku bertanya, ‘Siapa ini?’ Ia menjawab, ‘Abu Bakar.’ Aku mengatakan kepada beliau, ‘Tunggu sebentar!’ Kemudian aku mendatangi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sambil memberitahu, ‘Wahai Rasûlullâh, Abu Bakar datang meminta izin (untuk masuk).’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :

ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ

Biarkan dia masuk dan berikan kabar gembira kepadanya bahwa dia akan masuk surga.

Aku beranjak kepadanya kemudian aku katakana, ‘Silahkan masuk! Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberimu kabar gembira bahwa engkau akan masuk surga.’

Lalu Abu Bakar masuk kemudian duduk di sebelah kanan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tepi sumur tersebut sambil memasukkan kedua kakinya ke arah sumur seperti yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil menyingkap kedua betisnya, maka aku kembali duduk di pintu sementara aku tadi (di rumah) sedang meninggalkan saudaraku berwudhu untuk kemudian menyusulku, maka aku bergumam: Kalau Allâh menghendaki kebaikan kepada saudaraku, maka ia akan membuatnya datang ke tempat ini.

Tiba-tiba ada seseorang yang mendorong pintu, aku pun bertanya, ‘Siapa di luar?’ Orang tersebut menjawab, ‘Umar bin Khattab.’ Aku mengatakan, ‘Tunggulah sebentar!’ Maka aku memberi salam kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil memberi tahu bahwa Umar bin Khatab datang meminta izin (untuk masuk, beliaupun menjawab :

ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ

Biarkan dia masuk dan berilah kabar gembira bahwa dia akan masuk surga.

Aku pun menghampirinya sambil mengatakan, ‘Silahkan masuk! Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberimu kabar gembira bahwa engkau akan masuk surga.’ Kemudian ia pun masuk dan duduk di sebelah kiri Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallamdi mulut sumur, menjuntaikan kedua kaki ke dalamnya. Maka aku kembali dan duduk di tempatku.

Kembali aku bergumam: Jika Allâh menghendaki kebaikan pada saudaraku, maka Ia akan membuatnya datang ke tempat ini, tiba-tiba datanglah seseorang yang mendorong pintu, aku bertanya, ‘Siapa di luar?’ Ia menjawab, ‘Utsman bin Affan.’ Aku katakana, ‘Tunggulah sebentar!’ Lalu aku menghampiri Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil memberitahu kedatangannya, maka beliau mengatakan :

ائْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ عَلَى بَلْوَى تُصِيبُهُ

Biarkan dia masuk dan berilah kabar gembira bahwa dia akan masuk surga melalui sebuah musibah yang menimpanya.

Maka aku menghampirinya sambil mengatakan: Silahkan masuk, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberimu kabar gembira bahwa engkau akan masuk surga melalui sebuah musibah yang akan menimpamu. Maka ia pun masuk dan mendapati tepi sumur telah penuh, maka ia pun duduk menghadap kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sisi yang lain.

Sa’id bin Musayyib (yang meriwaytkan hadits ini) mengatakan: Aku mentafsiri kejadian itu dengan posisi kuburan mereka nantinya. [HR. al-Bukhâri, no. 3674]

Kalaulah tidak ada keistimewaan seseorang selain jaminan masa depan dengan dipesankan tempat di surga, maka sungguh itu merupakan kehormatan yang luar biasa tingginya. Kabar gembira tersebut merupakan hal yang telah didapatkan oleh sahabat Abu Bakar Radhiyallahu anhu beserta dua orang sahabat lainnya. Banyak para sahabat yang telah mendapatkannya secara individu, akan tetapi terlihat secara jelas kelebihan sahabat ini, bahwa beliau Radhiyallahu anhu selalu menjadi orang pertama yang mandapatkan kemuliaan disisi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan dalam sebuah kitab karyanya: Kita harus mengetahui bahwa sifat “lebih istimewa” hanyalah diberikan kepada seseorang jika ia memiliki kelebihan-kelebihan khusus yang tidak dimiliki oleh orang yang sedang diperbandingkan dengannya. Jika keduanya sama dalam salah satu sebab, namun seorang diantara keduanya memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh satu orang lainnya, maka pantas jika ia dikatakan “lebih istimewa”. Lebih jelas beliau rahimahullah menyebutkan: Jika demikian, maka kelebihan-kelebihan yang dimiliki Abu Bakar adalah keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki oleh sahabat yang lain. Kemudian beliau rahimahullah menyebutkan banyak nash yang menjelaskan keistimewaan sahabat Abu Bakar. [Lihat kitab Fadhlu Abi Bakar Ash-Shiddiq, diterbitkan dalam majalah ilmiyah Universitas Ummul Qura, hlm. 1231]

Berikut ini merupakan keistimewaan yang dimiliki oleh sahabat Abu Bakar Radhiyallahu anhu yang tercantum dalam al-Qur’ân maupun Hadits Nabi yang shahîh, kami hanya menyebutkan sebagian riwayat yang ada dalam Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim agar tidak terlalu panjang, karena keutamaan sahabat yang mulia ini teramat banyak.

KEUTAMAAN ABU BAKAR RADHIYALLAHU ANHU SECARA UMUM
Disebutkan dalam firman Allâh Azza wa Jalla :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhâjirin dan Anshâr serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allâh ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allâh, dan Allâh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. [at-Taubah/9:100]

Ibnu Katsir rahimahullah menegaskan dalam tafsirnya bahwa Abu Bakar Radhiyallahu anhu termasuk orang yang mendapatkan kemuliaan yang disebutkan dalam ayat di atas, bahkan beliau rahimahulllah mengecam orang-orang yang mencela Abu Bakar Radhiyallahu anhu setelah Allâh ridha kepadanya. Beliau rahimahullah mengatakan, “Allâh yang Maha Agung telah mengabarkan bahwa Ia telah ridha kepada orang-orang yang pertama-tama masuk Islam dari kaum Muhâjirin dan Anshâr, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Maka alangkah celaka orang yang membenci maupun mencela mereka, atau sebagian dari mereka, terlebih pemimpin para sahabat setelah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , orang terbaik dan paling utama diantara mereka, yaitu orang yang paling besar pembenarannya, khalifah yang mulia, Abu Bakar bin Abi Quhâfah, semoga Allâh meridhainya. Sesungguhnya kelompok Syi’ah Râfidhah yang terhina telah memusuhi para sahabat, membenci dan mencela mereka. Kita berlindung kepada Allâh dari sifat itu. Ini menunjukkan bahwa akal mereka telah terbalik, hati mereka tertutup. Dimanakah keimanan mereka terhadap al-Qur’ân ketika mereka mencela orang-orang yang telah diridhai Allâh? Adapun Ahlussunnah, mereka selalu mendo’akan keridhaan Allâh bagi orang-orang yang telah Allâh ridhai, dan mencela orang yang telah dicela Allâh dan Rasul-Nya. [Tafsir Ibnu Katsir, 4/203]

Termasuk setiap hadits yang menyebutkan tentang larangan untuk mencela sahabat, maka larangan tersebut juga berlaku pada larangan mencerca Abu Bakar Radhiyallahu anhu , diantaranya adalah hadits :

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْأَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلَا نَصِيفَهُ

Janganlah kalian mencela para sahabatku, janganlah kalian mencela para sahabatku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika salah seorang dari kalian berinfak dengan emas sebesar gunung Uhud, niscaya (hasilnya) tidak akan menyamai infak mereka yang hanya satu genggam atau setengahnya. [HR. al-Bukhâri, no. 3673, Muslim, no.1967]

KEUTAMAAN ABU BAKAR RADHIYALLAHU ANHU SECARA KHUSUS
1. Penilaian bahwa beliau Radhiyalllahu anhu adalah orang terbaik setelah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup.

Disebutkan dalam riwayat sahabat Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma , bahwa beliau Radhiyallahu anhu mengatakan :

كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنُخَيِّرُ أَبَابَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ، ثُمَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

Kami (para sahabat) pernah menilai orang terbaik di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka kami dapatkan yang terbaik adalah Abu Bakar Radhiyallahu anhu , kemudian Umar bin Khattâb Radhiyallahu anhu , kemudian Utsmân bin Affân, mudah-mudahan Allâh meridhai mereka semua”. [HR. al-Bukhâri, no. 3655]

Bahkan penilaian tersebut di sampaikan oleh sahabat Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu ketika di tanya oleh putranya Muhammad bin al-Hanafiyyah yang mengatakan :

قُلْتُ لِأَبِي أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَ : أَبُو بَكْرٍ،قُلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ : ثُمَّ عُمَرُ،وَخَشِيتُ أَنْ يَقُولَ عُثْمَانُ، قُلْتُ: ثُمَّ أَنْتَ؟ قَالَ: مَا أَنَا إِلَّا رَجُلٌ مِنَ المُسْلِمِينَ.

“Aku bertanya kepada ayahku, siapa orang terbaik setelah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka ia menjawab: Abu Bakar, aku pun bertanya lagi :Kemudian siapa setelah itu? Ia menjawab: Kemudian Umar, maka aku khawatir ia akan menjawab Utsman setelah itu, aku pun segera memotongnya: kemudian engkau? Ia menjawab: Aku hanyalah seseorang dari kaum muslimin”. [HR. al-Bukhâri, no. 3671]

2. Abu Bakar selalu menjadi orang kedua setelah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kesempatan-kesempatan khusus
Kisah yang tertera dalam hadits pertama bukan satu-satunya yang menunjukkan kedekatan beliau Radhiyallahu anhu dengan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahkan kebersamaan khalifah pertama tersebut bagaikan sudah menjadi rutinitas yang tidak terpisahkan dari kehidupan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu mengatakan ketika hadir pada wafatnya Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu :

إِنْ كُنْتُ لَأَرْجُو أَنْ يَجْعَلَكَ اللَّهُ مَعَ صَاحِبَيْكَ، لِأَنِّي كَثِيرًا مَاكُنْتُ أَسْمَعُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : كُنْتُ وَأَبُوبَكْرٍ وَعُمَرُ، وَفَعَلْتُ وَأَبُوبَكْرٍ وَعُمَرُ، وَانْطَلَقْتُ وَأَبُوبَكْرٍ وَعُمَرُ

Aku sangat berharap Allâh akan mengumpulkanmu bersama dua sahabatmu (Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar), sungguh sangat sering aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan, ‘Aku pernah bersama Abu Bakar dan Umar, Aku telah mengerjakan bersama Abu Bakar dan Umar, Aku telah pergi bersama Abu Bakar dan Umar.” [HR. al-Bukhâri, no. 3677]

Saat terpenting lagi tergenting adalah kebersamaan beliau Radhiyallahu anhu ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah ke Madinah, hingga kesempatan ini terukir indah dalam al-Qur’ân dengan menyematkan kepadanya gelar sahabat. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allâh telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allâh beserta kita. [at-Taubah/9:40].

Kejadian ini juga diceritakan sendiri oleh Abu Bakar Radhiyallahu anhu dalam hadits yang shahîh :

نَظَرْتُ إِلَى أَقْدَامِ الْمُشْرِكِينَ عَلَى رُءُوسِنَا وَنَحْنُ فِي الْغَارِ، فَقُلْتُ : يَارَسُولَ اللهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ نَظَرَ إِلَى قَدَمَيْهِ أَبْصَرَنَا تَحْتَ قَدَمَيْهِ، فَقَالَ : يَا أَبَابَكْرٍ مَاظَنُّكَ بِاثْنَيْنِ اللهُ ثَالِثُهُمَا

Aku melihat kaki-kaki kaum musyrikin berada di atas kepala kami ketika kami di dalam gua, maka aku katakana, ‘Wahai Rasûlullâh, seandainya seorang dari mereka melihat ke arah kakinya, niscaya dia akan melihat kita di bawah kedua kakinya.’ Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Wahai Abu Bakar, apalah yang kau perkirakan terhadap dua orang yang Allâh menjadi pihak ketiganya. Bagaimana pendapatmu tentang dua orang yang ditolong oleh Allâh Azza wa Jalla sebagai pihak ketiga’ [HR. al-Bukhâri, no. 3653, Muslim, no. 2381]

3. Abu Bakar adalah orang yang paling dicintai oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Suatu ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menugaskan sahabat ‘Amru bin ‘Ash Radhiyallahu anhu untuk memimpin pasukan Dzatus Salasil, maka ia pun menghampiri Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya :

أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ قَالَ : عَائِشَةُ، فَقُلْتُ : مِنَ الرِّجَالِ؟ فَقَالَ : أَبُوهَا، قُلْتُ : ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ عُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ, فَعَدَّ رِجَالًا

Siapakah orang yang paling engkau cintai? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Aisyah.’ Aku bertanya, ‘(Maksudku) dari kaum laki-laki?’ Beliaupun menjawab, ‘Ayahnya (yaitu Abu Bakar)’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Umar bin Khattab.’ Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa orang yang dicintainya. [HR. al-Bukhâri, no. 3662, Muslim, no. 2384]

Lebih dari itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai berangan-angan seandainya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diizinkan oleh Allâh Azza wa Jalla untuk menjadikan seseorang sebagai Khalîl (kekasih) nya, niscaya Abu Bakar lah yang pantas menyandang gelar tersebut.

Khullah sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Atsir dan lainnya, adalah kasih sayang yang meresap dalam lubuk hati yang paling dalam. Oleh karenanya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak dapat memberikannya kepada selain Allâh Azza wa Jalla , tidak ada kesempatan bagi seorang hamba manapun untuk meraihnya sekalipun dengan kesungguhan luar biasa. Ia adalah kedudukan yang hanya Allâh berikan kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki, diantaranya adalah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . [lihat kitab an-Nihâyah fî Gharîbil Hadîts wal Atsâr: 2/72, cetakan al-Maktabah al-Ilmiyyah].

Hal itu ditegaskan dalam hadits yang sangat populer dikalangan kaum Muslimin:

لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَابَكْرٍ خَلِيلًا، وَلَكِنَّهُ أَخِي وَصَاحِبِي، وَقَدِ اتَّخَذَاللهُ ﻷصَاحِبَكُمْ خَلِيلًا

Sekiranya aku diizinkan oleh Allâh untuk menjadikan seseorang sebagai khalîl, niscaya aku jadikan Abu Bakar sebagai khalîlku, akan tetapi ia adalah saudara dan sahabatku, sedangkan Allâh Azza wa Jalla telah menjadikan sahabat kalian ini (diriku) sebagai khalîlnya [HR. al-Bukhâri, no. 3656, Muslim, no. 2383]

4. Abu Bakar adalah orang yang paling bersemangat dalam beramal
Allâh Azza wa Jalla berfirman dalam hal sedekah :

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali, jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. [al-Baqarah/2:271]

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dari jalan ‘Amir asy-Sya’bi rahimahullah, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan Umar Radhiyallahu anhu ketika mereka berdua berlomba-lomba untuk bersedekah. Umar Radhiyallahu anhu memberikan setengah hartanya, tiba-tiba Abu Bakar Radhiyallahu anhu memberikan seluruh kekayaannya dengan mengatakan,”Aku tinggalkan untuk mereka Allâh dan RasulNya.” Maka Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu mengatakan :

لاَ أَسْبِقُهُ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا

Selamanya, aku tidak akan dapat mengalahkannya dalam hal apapun [HR Tirmidzi, no. 3675, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albâni rahimahullah. Lihat juga Tafsîr Ibnu Katsîr 1/702]
.
Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu meriwayatkan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي مَالِهِ وَصُحْبَتِهِ أَبُوبَكْر

Sungguh orang yang paling banyak berkorban untukku dalam harta maupun persahabatan adalah Abu Bakar [HR. al-Bukhâri, no. 3654 dan Muslim, no. 2382]

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu menceritakan bahwa suatu hari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabatnya :

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟ قَالَ أَبُوبَكْرٍ : أَنَا، قَالَ : فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟ قَالَ أَبُوبَكْرٍ : أَنَا، قَالَ : فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُوبَكْرٍ : أَنَا، قَالَ : فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُوبَكْرٍ : أَنَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَااجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّادَخَلَ الْجَنَّةَ

‘Siapakah diantara kalian yang berpuasa hari ini?’ Abu Bakar menjawab,’Saya.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Siapakah diantara kalian yang telah mengantar jenazah hari ini?’ Abu Bakar pun menjawab, ‘Saya.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, ‘Siapakah diantara kalian yang telah memberi makan orang miskin hari ini?’ Abu Bakar menjawab lagi, ‘Saya.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih bertanya lagi, ‘Siapakah diantara kalian yang telah menjenguk orang sakit hari ini?’ Abu Bakar pun menjawab lagi, ‘Saya.’ Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah amal-amal yang telah disebutkan tadi berkumpul pada satu orang, melainkan ia akan masuk surga.’. [HR. Muslim, no. 1028]

Inilah ibadah seorang sahabat yang paling mulia, seorang calon penghuni surga, ternyata beliau Radhiyallahu anhu bukanlah orang yang merasa bebas dalam ibadah, bahkan keseharian beliau betul-betul mencerminkan seorang figur yang sangat pantas diteladani dalam ketaatan.

Syaiikhul Islam Ibnul Qayyim rahimahullah mengomentari sikap keteladanan yang ditampilkan Abu Bakar Radhiyallahu anhu dengan mengatakan, “Demikianlah semua sahabat yang telah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam janjikan masuk surga, ataupun orang yang diberitahu bahwa ia telah diampuni, ia maupun sahabat yang lain tidak kemudian memahami bebasnya mereka dalam berbuat dosa maupun ma’siat, ataupun merasa terbebas untuk meninggalkan segala kewajiban, justru mereka lebih bersungguh-sungguh dalam ibadah serta semakin takut kepada-Nya daripada sebelum mereka mendapatkan kabar gembira itu, sebagaimana yang dicerminkan oleh sepuluh orang sahabat yang dijanjikan masuk surga, Abu Bakar Radhiyallahu anhu adalah sosok yang sangat berhati-hati dan takut kepada Allâh.” [Kitab al-Fawâ’id, hlm. 17, cetakan Darul Kutub al-Ilmiyyah].

5. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjamin ketangguhan iman beliau
Abu Hurairah z menceritakan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

بَيْنَمَا رَاعٍ فِي غَنَمِهِ عَدَا عَلَيْهِ الذِّئْبُ، فَأَخَذَ مِنْهَا شَاةً فَطَلَبَهُ الرَّاعِي، فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ الذِّئْبُ فَقَالَ : مَنْ لَهَا يَوْمَ السَّبُعِ، يَوْمَ لَيْسَ لَهَا رَاعٍ غَيْرِي؟ وَبَيْنَمَا رَجُلٌ يَسُوقُ بَقَرَةً قَدْ حَمَلَ عَلَيْهَا، فَالْتَفَتَتْ إِلَيْهِ فَكَلَّمَتْهُ، فَقَالَتْ : إِنِّي لَمْ أُخْلَقْ لِهَذَا وَلَكِنِّي خُلِقْتُ لِلْحَرْثِ. قَالَ النَّاسُ : سُبْحَانَ اللَّهِ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَإِنِّي أُومِنُ بِذَلِكَ، وَأَبُوبَكْرٍ، وَعُمَرُ بْنُ الخَطَّابِ

Ketika suatu hari seorang penggembala (dari Bani Israil) sedang bersama kambing gembalaannya, tiba-tiba seekor serigala datang memangsa seekor kambing, kemudian si penggembala berhasil merebutnya kembali, maka serigala tersebut menoleh sambil mengatakan, ‘Punya siapakah kambing-kambing itu nanti pada hari Sabu’, hari ketika tidak ada yang menggembalakan selainku?’ (Kisah lain) ketika seseorang sedang menuntun seekor sapi yang telah ia pikulkan beban berat diatas punggungnya, maka sapi tersebut menoleh dan memprotesnya, ‘Aku tidak diciptakan untuk pekerjaan ini, aku hanya diciptakan untuk membajak tanah. Maka orang-orang (yang mendengar kisah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam terheran-heran sambil mengatakan), ‘Subhânallâh, beliaupun bersabda,’Adapun aku, Abu Bakar dan Umar, maka kami percaya dengan kisah ini.’[HR. al-Bukhâri, no. 3663 dan Muslim, no. 2388]

Sebagaimana diketahui pula bahwa beliau Radhiyallahu anhu tidak pernah ragu sedikitpun dalam membela da’wah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sejak awal perjalanan da’wah tersebut. Beliau Radhiyallahu anhu bahkan menjadi orang yang pertama-tama menyatakan keislamannya. ‘Ammâr bin Yâsir Radhiyallahu anhu mengatakan :

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَا مَعَهُ إِلَّ اخَمْسَةُ أَعْبُدٍ،وَامْرَأَتَانِ وَأَبُو بَكْرٍ

Aku melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada awal da’wah beliau) hanya bersama lima orang budak, dua orang wanita dan Abu Bakar [HR. al-Bukhâri, no. 3660]

Hal ini tidak akan pernah terlupakan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ كَذَبْتَ، وَقَالَ أَبُوبَكْرٍ صَدَقَ، وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَهَلْ أَنْتُمْ تَارِكُوا لِي صَاحِبِي

Sesungguhnya Allâh mengutusku kepada kalian, akan tetapi kalian justru (dahulu) mengatakan, ‘Engkau telah berdusta.’ Sementara Abu Bakar Radhiyallahu anhu mengatakan, ‘Dia (Muhammad n ) telah jujur. Abu Bakar pun banyak membantuku dengan jiwa dan hartanya, apakah kalian akan meninggalkan sahabatku itu?’ [HR. al-Bukhâri, no. 3661]

6. Abu Bakar Radhiyallahu anhu memiliki sifat lemah lembut dan pemaaf
Kisah terfitnahnya ibu kaum beriman ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma putri Abu Bakar Radhiyallahu anhu adalah bukti hasadnya (kedengkian) orang-orang munâfiq terhadap Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikutnya. Namun merupakan kebesaran Allâh Azza wa Jalla , Dia akan memuliakan orang-orang yang menjadi hamba-Nya, hingga turunlah ayat pensucian ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma dari tuduhan tersebut (Surat an-Nûr/24:11-20), sehingga jikalau terjadi penuduhan dari seseorang setelah turun ayat tersebut, niscaya kekufurannya terhadap al-Qur’ân semakin jelas.

Ketika terjadi penuduhan, Mishthoh bin Utsatsah adalah seorang yang terlibat dalam fitnah tersebut, padahal Abu Bakar Radhiyallahu anhu selama ini yang memberinya nafkah, maka beliau z marah dan bersumpah untuk tidak memberikan nafkah kembali, hingga turunlah firman Allâh Azza wa Jalla :

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allâh, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allâh mengampunimu? Dan Allâh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang? [an-Nûr/24:22].

Maka Abu Bakar Radhiyallahu anhu segera mengatakan :

بَلَى وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِي، فَرَجَعَ إِلَى مِسْطَحٍ الَّذِي كَانَ يُجْرِي عَلَيْهِ

“Ya, demi Allâh, sungguh aku lebih suka Allâh mengampuni dosaku.” Kemudian Beliau Radhiyallahu anhu kembali memberikan nafkah kepada Mishthah. [HR. al-Bukhâri, no. 2661 dan Muslim, no. 2770. Lihat pula Tafsir Ibnu Katsir, 6/20]

Ketika perang Badar telah usai, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam merundingkan para tawanan dengan para sahabatnya. Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu menganjurkan untuk membunuh semuanya, sedangkan Abu Bakar Radhiyallahu anhu justru mengatakan :

يَا نَبِيَّ اللهِ، هُمْ بَنُو الْعَمِّ وَالْعَشِيرَةِ، أَرَى أَنْ تَأْخُذَ مِنْهُمْ فِدْيَةً فَتَكُونُ لَنَا قُوَّةً عَلَى الْكُفَّارِ، فَعَسَى اللهُ أَنْ يَهْدِيَهُمْ لِلْإِسْلَامِ

Wahai Nabi Allâh, mereka adalah anak dari paman dan keluarga kita, aku memandang jikalah engkau mengambil denda dari mereka sehingga dapat memperkuat kita dalam menghadapi orang kafir, mudah-mudahan Allâh memberi hidayah mereka agar masuk Islam. [HR. Muslim, no. 1763]

7. Terdapat banyak isyarat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberikan kekhilafahan kepada beliau Radhiyallahu anhu
Diantara hadits-hadits tersebut adalah perintah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memimpin shalat lima waktu ketika beliau sakit keras diakhir hayatnya, bahkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam enggan untuk mewakilkan kepada selain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma menceritakan saat-saat terakhir sebelum ajal Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjemput :

فَأَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَبِي بَكْرٍ بِأَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ, وِفِيْهِ : فَصَلَّى أَبُوبَكْرٍ تِلْكَ الأَيَّامَ

Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang agar menyuruh Abu Bakar Radhiyallahu anhu memimpin shalat, dalam riwayat tersebut dikatakan: maka Abu Bakar menjadi imam pada hari-hari itu.[HR. al-Bukhâri, no. 687 dan Muslim, no. 418]

al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa hadits tersebut mengisyaratkan tentang kedudukan Abu Bakar Radhiyallahu anhu yang paling berhak untuk menjadi khalifah.[Lihat kitab Fathul Bâri: 11/60, cetakan Daarul ma’rifah]

Bahkan didalam hadits yang dihasankan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah (Fathul baari: 12/153), ketika terjadi sedikit perbedaan pendapat dalam menentukan khalifah setelah wafatnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu menjadikan alasan tersebut sebagai sebab kuat bahwa Abu Bakar Radhiyallahu anhu yang paling berhak. Beliau Radhiyallahu anhu mengatakan :

يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ، أَلَسْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ n قَدْ أَمَرَ أَبَا بَكْرٍ أَنْ يَؤُمَّ النَّاسَ؟ فَأَيُّكُمْ تَطِيبُ نَفْسُهُ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَبَابَكْرٍ؟ فَقَالَتِ الْأَنْصَارُ : نَعُوذُ بِاللهِ أَنْ نَتَقَدَّمَ أَبَابَكْرٍ

Wahai kaum Anshar, bukankah kalian tau bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan Abu Bakar untuk memimpin sholat kaum Muslimin, maka siapakah diantara kalian yang rela untuk melangkahi Abu Bakar? Maka orang-orang Anshar pun menjawab: Kita berlindung kepada Allâh dari melangkahi Abu Bakar”.[HR. Ahmad: 1/282, cetakan Mu’assasah ar-risalah].

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan berangan-angan untuk menuliskan wasiat sekalipun akhirnya tidak terlaksana, ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ادْعِي لِي أَبَا بَكْرٍ، أَبَاكِ، وَأَخَاكِ، حَتَّى أَكْتُبَ كِتَابًا، فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ يَتَمَنَّى مُتَمَنٍّ وَيَقُولُ قَائِلٌ : أَنَا أَوْلَى، وَيَأْبَى اللهُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَّ اأَبَابَكْرٍ

Panggilkan Abu Bakar ayahmu, dan juga saudaramu agar aku tuliskan sebuah wasiat, karena sungguh aku khawatir akan ada orang yang bercita-cita, atau ada yang mengatkan, ‘Aku lebih berhak,’ sementara Allâh dan orang-orang yang beriman merasa enggan kecuali hanya kepada Abu Bakar”. [HR. Muslim, no. 2387]

Imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa hadits tersebut secara jelas menjelaskan bahwa Abu Bakar lah yang paling berhak untuk mendapatkan posisi khalifah. [Lihat kitab al-Minhâj Syarah Muslim Ibnul Hajjaj: 15/155 cetakan daar ihya’ut turots].

Demikianlah apa yang dapat kami kumpulkan tentang keutamaan Abu Bakar Radhiyallahu anhu , tentu keutamaan beliau Radhiyallahu anhu sangatlah banyak, akan tetapi apa yang disebutkan cukuplah menjadi isyarat tentang banyaknya keistimewaan yang lain, wallahu ta’ala a’lam bis shawab.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XVII/1435H/2014M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 21 Agustus 2015

Print Friendly