Keluargaku Selalu Mencelaku Dan Suamiku, Apa Yang Mesti Kuperbuat ?

KELUARGAKU SELALU MENCELAKU DAN SUAMIKU. APA YANG MESTI KUPERBUAT ?

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Saya seorang terhormat di sebuah negeri yang kacau dan dalam keluarga besar yang tidak berpegang pada ajaran agama Islam, kecuali hanya shaum, bahkan mereka semuanya tidak ada yang shalat. Sebelum menikah, saya berkenalan dengan beberapa orang pemudi yang diberikan karunia petunjuk oleh Allah. Merkapun mengenakan hijab. Dan dengan keutamaan yang diberikan oleh Allah, saya pun ikut mengenakan hijab, dan mulai mekasanakan shalat, membaca dan menghapal Al-Qur’an. Saya juga banyak mempelajari fikih dan hukum-hukum agama Islam. Keluarga saya selalu mengejek saya dan bahkan menyerang saya, terutama bila saya menasihati mereka. Kemudian Allah memberikan karunia kepada saya dengan adanya seorang lelaki yang taat beragama yang menikahiku, dengan kerelaan keluargaku. Meski demikian mereka tetap selalu mengejek kami dan menghina kami dengan berbagai macam cara dan upaya. Mereka seringkali memintaku untuk melepaskan hijab dan menghina suamiku karena dia miskin.

Alhamdulillah, Allah memberikan karunia kepada kami, saya dan suami saya, untuk bekerja di Saudi Arabia ini. Namun keluarga saya masih mengejar kami dengan menghina dan melecehkan kami melalui surat dan sejenisnya. Mereka meminta saya agar menuntut suami saya itu menceraikan saya. Mereka terus menekankan hal itu dan membenci saya karena kondisi saya ini, bahkan sempat mendoakan agar saya tidak dikarunia anak.

Itulah problem saya. Saya meminta anda memberikan petunjuk, apa yang harus saya perbuat ?

Jawaban
Kalau masalahnya seperti yang saudari ungkapkan, pujilah Allah dan banyak-banyaklah bersyukur kepadaNya terhadap hidayah yang Allah berikan kepada saudari untuk mengenal dan melaksanakan Islam, bahkan memudahkan saudari untuk mendapatkan suami yang shalih yang dapat menolong saudari menjalankan ketaatan kepada Allah. Tidak diragukan lagi, bahwa keutamaan itu adalah karunia Allah kepada kalian berdua. Kalian harus mensyukurinya dan mengingat Allah agar Allah menambahkan keutamaanNya dan meneguhkan kalian dalam kebenaran, sebagaimana firman Allah.

“Artinya : Dan (ingatlah juga), tatkala Rabb-mu memaklumkan : ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu..”. [Ibrahim : 7]

Allah juga berfirman.

“Artinya : Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”. [Al-Baqarah : 102]

Kami pesankan kepada kalian berdua agar bertakwa kepada Allah dan mendalami ajaran Islam, tetap setia kepada suami, selalu mendengar dan mentaati suami dalam kebaikan, serta tidak mentaati keluarga saudari untuk bercerai dengan suami saudari atau dalam melakukan maksiat lainnya.

Kami berpesan kepada kalian berdua agar saling bekerjasama melaksanakan kebajikan dan ketakwaan serta tetap berbuat baik kepada keluarga saudari, mendoakan mereka agar mendapatkan hidayah dan menjadi orang-orang shalih, kemudian menanggapi semua pebuatan buruk mereka dengan tetap bersikap baik, bahkan memberikan sedekah kepada mereka selain zakat. Karena orang miskin yang tidak shalat, tidak boleh mendapatkan hak zakat. Karena tidak menunaikan shalat adalah kekufuran besar, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Pemisah antara kita dengan orang-orang kafir adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkan shalat, berarti dia kafir”. [Dikeluarkan oleh Ahmad dan Ahlus Sunnan dengan sanad yang shahih]

Demikianlah. Kami memohon kepada Allah untuk kebaikan anda dan suami anda agar tetap teguh dalam kebenaran, serta mendapatkan taufiq untuk mendalami ajaran Islam, serta mendapatkan keselamatan dari berbagai bencana yang menyesatkan. Sesungguhnya Allah itu Maha Mendengar Lagi Maha Dekat.

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Juz Awwal, edisi Indonesa Fatawa bin Baz, Penulis Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Penerjemah Abu Umar Abdillah, Penerbit At-Tibyan – Solo]

——

Sumber: www.almanhaj.or.id | 24 Oktober 2005

Print Friendly