Khawarij Merekalah Murji’ah, Kebenaran Tidak Terorganisir Dikalakahkan Kebatilan Yang Terorganisir?

GOLONGAN KHAWARIJ MEREKALAH MURJI’AH DAN BAGAIMANA MEMBANTAH PERKATAAN JAMA’AH TABLIGH

Oleh
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Al-Halaby Al-Atsary

Pertanyaan.
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali Al-Halaby Al-Atsary ditanya : Kami memiliki dua pertanyaan, Pertama : Apa maksud dari perkataan Imam Ahmad bahwa golongan khawarij merekalah kelompok murjiah?. Kedua : Bagaimana membantah perkataan Jamaah Tabligh yang datang dari kerajaan Saudi Arabia : “Anda mengatakan bahwa Jamaah Tabligh tidak menghiraukan dakwah kepada aqidah dan tauhid uluhiyyah, padahal kami datang kemari dan mangajak orang kepada tauhid tersebut” Bagaimana menjawab syubhat yang dilontarkan mereka ini ya Syaikh karena mereka banyak berdalih dengan ini.

Jawaban
Alhamdulillah wassalatu wassalmu ‘ala Rasuluillah wa ba’du, untuk menjawab point pertama yang anda tanyakan saya menyarankan anda untuk membaca kitab at ta’rif wa at-tanbi’ah dengan judul “al-Murjiah wa hum Al-khawarij” Dalam buku ini telah saya nukil dari Imam Ahmad dan imam lainnya penjelasan, tentang kalimat ini, maknanya dan hal-hal lain yang berhubungan dengan itu, silahkan anda merujuk kepadanya! berhubung keterbatasan waktu untuk menjawabnya secara luas.

Adapun pertanyaan tentang jamaah yang anda sebutkan (Jama’ah Tablig-peny), maka dapat dibantah dengan dua hal :

Pertama
Jika memang ada Jamaah Tabligh yang datang dari sebagian negeri tertentu mengemukakan hal ini (bahwa mereka peduli terhadap dakwah kepada aqidah dan tauhid rububiyyah, -red) sebenarnya perkara ini tidak termasuk di dalam manhaj Jamaah Tabligh. Sebab pada prinsipnya manhaj Jamaah Tabligh adalah berdiam diri terhadap masalah aqidah, masalah bid’ah, dan perkara-perkara yang menyangkut hal ini. Esensi dari manhaj mereka intinya adalah dakwah terhadap fadhail a’mal tanpa menyinggung masail (permasalahan-permasalahan khilaf.red).

Kedua
Perkataan perkataan mereka (bahwa mereka juga turut berdakwah kepada aqidah dan tauhid uluhiyyah,-red) hanyalah sekedar ucapan dibibir tanpa realisasi. Hakikat dilapangan jika anda mengikuti halaqah-halaqah mereka niscaya anda tidak akan dapati mereka berdakwah kepada hal ini walaupun hanya sepersepuluhnya dalam hal aqidah, dan sembilan persepuluhnya selain aqidah, karena nizam ataupun manhaj Jamaah Tabligh sebenarnya dibangun diatas pemahaman yang kacau balau dan tebalik, sebagaimana mereka berdalih dengan sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wa Sallam :

“Kesempurnaan Islam seseorang jika dia dapat meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagainya”.

Dalam menginterpretasikan hadis ini mereka berkata: “adalah hal-hal yang tidak bermanfaat bagi kami untuk menyinggung aqidah manusia dan bid’ah-bid’ah yang mereka lakukan”. Dengan demikian tidak boleh menyinggung ataupun membantah bid’ah-bid’ah mereka, cukup kami ajarkan mereka fadhail a’mal , zikir-zikir, wiridan, dan prinsip dasar manhaj berupa al-khuruj, musyawarah, patuh terhadap amir, bagaimana jalan, berbaring, makan, dan berpakain sesuai dengan Sunnah. Inilah batas dakwah Jamaah Tabligh tidak boleh lebih dari hal ini.

Adapun jika mereka mengaku berdakwah kepada hal-hal lain diluar ini, sebenarnya hanyalah sekedar omong kosong untuk menarik orang kepada jamaah mereka. Jawaban-jawaban seperti ini (bahwa da’wah mereka lebih dari hal-hal yang disebutkan tadi) selalu mereka katakan secara khusus kepada orang-orang yang tahu tentang rahasia yang mereka sembunyikan, jika mereka benar mendakwahkan hal-hal selain ini pastilah mereka tidak ngomong seperti ini, wallahu a’lam

APA YANG DIMAKSUD DENGAN AT-TAMYI DAN BAGAIMANA KRITERIANYA

Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied Al-Hilaly

Pertanyaan
Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied Al-Hilaly ditanya : Apa yang dimaksud dengan At-Tamyi’ bagaimana kriteria-kriteriannya, dan apakah perbedaannya dengan al-mudarah?

Jawaban
Maksud tamyi’ disini adalah keterikatan dalam hal wala dan baro’, yaitu sikap sebagian orang yang mengaku Islam yang menggambarkan seolah-olah boleh berwala dan bara’ terhadap orang-orang kafir. Sikap toleransi kebablasan ini terkadang membuat mereka mengganggap sama antara agama Yahudi, Nasarani dan Islam. Misi mereka adalah menyeru orang kepada wihdatu al-adyan (penyatuan agama). Inilah sikap tamyi’ terhadap Islam. Terkadang mereka mengajak untuk mempersatukan agama, terkadang dengan cara mengajak dialoq antar agama.

Sikap kedua adalah sikap toleransi kebablasan yang seolah-olah menggambarkan bahwa alwala dan albara’ itu berlaku untuk seluruh umat Islam, baik antara yang Sunni dengan bukan Sunni, sebab keseluruhannya mengaku sebagai Islam dan mengaku sebagai pengikut Muhammad, maka tiada beda antara Ahlu Sunnah dengan Ahlu Bid’ah, antara Salafi dan Sufi, antara Ikhwanul Muslimin dan Hizbu Tahrir. Jenis tamyi’ dalam berdakwah seperti ini merupakan tamyi’ dalam berda’wah dan didalam manhaj.

Adapun Mudarah yaitu metode taliful qulub (membujuk)orang-orang yang kita anggap mau masuk ke dalam Islam ataupun masuk kedalam salafiyyah.

KEBENARAN YANG TIDAK TERORGANISIR DIKALAHKAN OLEH KEBATILAN YANG TERORGANISIR

Pertanyaan
Syaikh Aabu Usamah Salim bin Ied Al-Hilaly ditanya : Benarkah ungkapan “Kebenaran yang tidak teroganisir akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir rapi” bersumber dari Ali ibn Abi Thalib? Jika benar apa maksudnya? dan bolehkah ini dijadikan sebagai dasar membuat tanzim ataupun jamaah?

Jawaban
Ungkapan ini tidak benar dari Ali, sebab dasarnya ini merupakan ungkapan yang dibuat oleh orang-orang haraki yang masih baru. Agama kita telah tersusun apik tanpa harus ditambah dengan membuat tanzim-tanzim, agama kita telah baku dalam bingkainya tampa harus membuat bingkai baru, agama kita berdiri tegak di atas tanzim. Jika Islam kita terapkan dengan benar sebagaimana yang terjadi pada zaman Rasul, maka secara otomatis kita akan terorganisir rapi.

Jika kita masih menyibukkan diri dengan membuat bingkai-bingkai dan tanzim-tanzim baru ; berwala dan bara di atas dasar ini, dan dengan membuat baiat-baiat bid’ah, hal-hal ini seluruhnya pada dasarnya bukanlah dari agama Allah sedikitpun.

Sebab kita telah tersusun dan terorganisir langsung dengan Islam, dibawah tanzim rabbani, tanzim Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pelopornya. Kita tidak butuh kepada tanzim yang dibuat orang-orang haraki yang memecah belah umat dan mengadu domba antar duat yang menyeru kejalan Allah

[Seri Soal Jawab DaurAh Syar’iyah Surabaya 17-21 Maret 2002. Dengan Masyayaikh Murid-murid Syaikh Muhammad Nashirudiin Al-Albani Hafidzahumullahu diterjemahkan oleh Ustadz Ahmad Ridwan , Lc]

———-

Sumber: www.almanhaj.or.id | 29 Juni 2006

Print Friendly